Faktanya memang ada pria yang selalu ramah dan murah senyum saat di luar sana, tapi cuek ke istri sendiri. Reno adalah salah satunya. Mulanya hubungan mereka baik-baik saja, meski tidak semesra pasangan pengantin baru pada umumnya. Kirana paham itu dan tidak mempermasalahkan. Toh, dia orangnya juga biasa bicara seperlunya. Ditambah lagi mereka berdua sama-sama sibuk. Berangkat pagi, pulang malam dalam keadaan capek.
Sekalinya ngobrol, justru berujung debat. Akar masalahnya pun selalu sama. Kalau bukan soal anak, pasti tuntutan Kirana berhenti kerja. Fokus menjalani tugasnya sebagai istri dan menantu di rumah. Tidak terbayang akan makin sepedas apa mulut mereka, jika Kirana benar-benar jadi wanita tanpa penghasilan sendiri.
Panas menjalar di wajah kaku Kirana, membalas tatapan nanar suaminya. Saat dia setengah mati mengusahakan anak yang Reno inginkan, justru disuguhi pemandangan memuakkan sikap manis suami sialannya itu ke perempuan lain. Duduk satu meja, menikmati makan siang hanya berdua di restoran mewah sambil mengobrol hangat. Kurang ajarnya lagi Reno bahkan tidak jujur menjawab pertanyaannya. Bagaimana Kirana tidak sakit hati!
“Cih, ketahuan ngibul malah melotot! Pasti nanti dia juga yang sewot! Terus bilang kamu ngawur sembarangan cemburu dan bikin malu!” tebak Mia terdengar jelas oleh Reno, karena sambungan telepon dengan Kirana masih menyala.
“Pantas saja kamu rajin lembur. Ternyata seenak itu kerja di Purewell. Dibayar berapa kamu, sampai menemani anak boss makan di restoran mewah begini pun jadi tugasmu?!” lontar Kirana seolah membalas mulut sialan suaminya dulu.
Hanya deru nafas kasar terdengar di telepon dan sorot mata nyalang, sebelum Reno mematikan sambungan. Dia menoleh ke atasannya yang sudah menyadari keberadaan Kirana di sana. Lusi tersenyum melambaikan tangan. Mengundang Kirana datang ke mejanya.
“Rubah ngepet! Bisa-bisanya malah ngece gitu kedapatan ngajak suami orang keluar makan!” umpat Mia geram.
Tadinya Kirana tidak berniat meladeni panggilan Lusi. Perutnya masih mual. Ingin ke toilet dulu, tapi ternyata Reno melangkah menghampirinya. Kalau bukan karena sedang di tengah keramaian, pasti pria itu langsung menghardiknya atas hinaan Kirana barusan.
“Kamu kok di sini?” tanya Reno sembari meraih tangan istrinya. Mungkin takut Kirana akan mengajaknya bertengkar di situ.
“Sama sepertimu, kerja!” jawab Kirana datar. Jelas terdengar mengejek. “Bedanya aku tidak akan berbohong, kalau tadi kamu yang menelpon tanya aku dimana!”
Cekalan tangan Reno mengerat. Bibirnya gemetar. Mati-matian mengontrol emosinya. Alih-alih gentar, Kirana malah menatap menantang, lalu menepis kasar cekalan yang membuat tangannya berdenyut sakit.
“Kami baru selesai bertemu klien di sini. Jadi sekalian makan, sebelum balik ke kantor!” sanggah Reno melirik ke Lusi yang bertopang dagu menonton di mejanya sana.
“Kenapa bohong?! Kamu bahkan mengabaikan panggilan teleponku tadi!” cecar Kirana.
“Ya karena tidak ingin kamu tahu, dia lagi makan siang di luar sama si rubah lah!” sahut Mia sinis.
“Jangan asal mangap! Kirana makin kurang ajar, gara-gara hasutanmu dan kakak sialanmu itu!” Mata Reno mendelik galak.
“Kata suami yang panik setelah ketahuan ngibul!” Mia menyeringai puas berhasil membuat Reno meradang.
Tidak ingin malu, Reno merangkul pinggang istrinya diajak menyapa atasannya. Kirana terpaksa menurut. Sementara Mia buru-buru pergi memberitahu papa dan abangnya.
“Maaf, tadi Kirana tidak langsung menyapa karena sungkan ke Bu Lusi,” ucap Reno mendadak formal dan canggung. Padahal tadi keduanya tertawa dan mengobrol akrab.
Kirana hanya tersenyum. Senyum palsu seperti halnya wajah sumringah dibuat-buat perempuan di hadapannya itu.
“Kenapa harus sungkan?! Duduk!” Lusi menatap Kirana yang masih berdiri di samping suaminya.
“Tidak usah! Saya masih ada urusan penting di sini!” tolaknya mengabaikan kursi yang sudah suaminya tarik mundur untuknya.
“Urusan penting apa?!” tanya Lusi meletakkan garpunya.
“Yang jelas urusan kerja, dan tidak hanya berduaan dengan boss makan siang di sini!”
“Kirana!” tegur Reno ke istrinya yang kurang ajar.
Lusi malah terkekeh menyandarkan punggung. Tangannya mengelus perut. Benar kata Mia. Perutnya terlihat agak buncit. Tapi, apa iya dia hamil?!
“Kalau begini saja kamu cemburu, ya jangan kasih suamimu kerja! Lucu, padahal kamu juga biasa kemana-mana hanya berduaan dengan bosmu!” Mata Lusi tertuju ke Jonas dan Mia yang menyusul ke situ..
Reno menoleh. Mendengus keras melihat pria yang selalu membuatnya jengah itu mendekat. Entah apa yang dia permasalahkan, sampai sebenci itu ke Jonas. Padahal tahu, jauh sebelum menikah Kirana sudah akrab dengan Mia dan keluarganya.
“Tuh perut buncit karena rakus makan atau dientup suami orang?!” cibir Mia menatap curiga ke perut Lusi.
“Jaga mulutmu! Jangan kurang ajar ke atasanku!” geram Reno menekan suaranya.
“Lho, ngapain juga kamu yang sewot?! Faktanya memang nih rubah belum kawin, tapi perutnya sudah kembung duluan!” Mia tertawa merangkul Kirana yang pilih diam.
Dia kan paling tidak suka keributan begini. Sayang, mulut Lusi justru makin keranjingan sengaja menyenggolnya.
“Berarti aku tidak mandul. Percuma cantik, kalau beranak saja tidak becus!” Lusi tersenyum pongah ke Kirana.
“Itu menurutmu. Aku sebagai pria lebih pilih punya istri mandul, daripada punya keturunan dari rahim kotor w************n!” Sekalinya mangap, mulut Jonas tajam bukan main.
Senyum pongah Lusi seketika sirna. Perempuan berambut sebahu dengan polesan lipstik merah menyala itu menatap marah ke Jonas.
“Sialan! Siapa yang kamu bilang w************n, ha?!” Reno menyambar kerah jas Jonas, hingga mengundang perhatian pengunjung di sana.
“Apa-apaan kamu, Ren! Lepas!” Kirana mencoba menarik tangan suaminya, tapi ditepis kasar.
“Mulut sialannya yang duluan kurang ajar!”
Jonas menyeringai, tanpa berusaha melepas cengkraman tangan Reno. Wajahnya meneleng. Menikmati amarah pecundang yang selalu menghinanya di depan Kirana.
“Aku hanya menanggapi ucapan rubah bawaanmu, Bro. Istrimu disindir mandul, kamu masa bodoh. Giliran dia dicibir murahan, kamu tidak terima. Harusnya sebagai suami kamu juga malu. Tahu, kenapa?!” Jonas tampak luar biasa muak. Reno tidak akan sebangsat ini, kalau tahu seberapa memalukan aibnya yang ditutupi oleh Kirana.
“Karena bisa jadi kamu lah yang mandul, tidak becus bikin istrimu hamil!”
“Bangsaattt!” Emosi Reno meluap.
Kirana dan Mia melotot nyaris menjerit, melihat kepalan tangan Reno menghantam sekuat tenaga. Namun, mendadak jotosan itu berhenti menyasar ke wajah Jonas, karena mendapati sosok pria yang berdiri tak jauh dari mereka.
Brakk
Urung menonjok, tapi malah Reno mental menghantam kursi di belakangnya kena tendang Jonas. Syok, Kirana menghampiri suaminya yang jatuh terduduk di lantai.
“Heii, apa-apan kamu, sialan?!” teriak Lusi gelagapan bangun dari kursinya.
“Lepas!” geram Reno menepis kasar tangan istrinya. Kirana sampai terhuyung. Jonas menyambar tubuh asistennya itu, sebelum menabrak meja.
“b******k! Dia istrimu, sialan!” bentak Mia tidak terima sahabatnya diperlakukan sekasar itu. Terlebih kondisi Kirana sedang tidak baik-baik saja.
Kirana berdiri terpaku menatap suaminya yang meringis bangun dibantu Lusi. Sejauh ini, baru kali ini Reno sampai kasar dan kelewat batas begini. Ke Jonas pun biasanya hanya mulutnya yang kurang ajar. Tak disangka barusan beneran main tangan. Kalau mertuanya tahu anaknya dipermalukan dan ditendang Jonas, pasti ganti dirinya dimaki habis-habisan.
“Apa orang tuamu tidak pernah mengajarimu sopan-santun?! Seperti preman, asal main pukul!” bentak Lusi menuding ke Jonas yang masih memegangi lengan Kirana.
“Sudah!” tegur Reno lirih.
“Lihat sedekat apa istrimu dengan bosnya! Pantas saja dibela mati-matian. Jangan-jangan justru dia yang ngerusuhin istri orang!” Mulut Lusi malah makin ngelantur.
“Ehh, rubah! Jangan seenaknya ngomong kamu, ya! Tuh monyet sialan yang ketahuan bohong ke istrinya! Bilang lagi kerja, ternyata berduaan sama kamu di sini. Kirana tidak serendah kamu, bangga hamil tanpa suami!” teriak Mia sengaja, biar semua orang di situ tahu aib keduanya.
“Mulut sialan!” jerit Lusi ngamuk dihina di depan banyak orang.
Reno mencekal lengan Lusi yang hendak melabrak Mia. Kirana bukannya tidak sakit hati, hanya tidak sudi meladeni perempuan gila seperti itu. Matanya justru tertuju ke perut Lusi yang makin jelas terlihat buncit.
“Kalau mau gaduh, jangan di sini! Kami ke sini untuk menikmati makanan dengan tenang. Bukan menonton orang bertengkar dan teriak-teriak tak punya sopan!” ucap Manaf Alkaezar mengagetkan Lusi.
Seketika dia kicep. Syok melihat keberadaan bos besar Capital Group yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya itu. Reno gugup. Di setiap kesempatan bertemu Manaf Alkaezar, dia dan bosnya selalu mencoba mendekat mengambil perhatiannya. Membangun image sebaik mungkin, supaya mau diajak kerjasama. Sekarang malah semua berantakan dalam sekejap, gara-gara tontonan memalukan begini.
“Pak Manaf,” sapa Reno canggung. “Maaf, kami hanya berselisih paham.”
“Iya, Pak Manaf. Dia dulu yang main pukul!” Lusi menunjuk ke Jonas yang menyeringai.
“Kalau mau bohong, minimal pakai otak! Di sini yang punya mata bukan cuma kalian. CCTV di situ bukan hanya bisa mempertontonkan siapa duluan yang main tangan, tapi juga kemesraan kalian! Mau?!” tantang Jonas menuding ke CCTV di dinding.
Mati kutu! Keduanya gelagapan. Bingung bagaimana harus membela diri. Reno melempar pandang ke istrinya. Seperti memerintah Kirana, supaya membantunya lepas dari situasi yang membuatnya terpojok. Sayang, istrinya tetap bungkam. Ogah menggubrisnya.
“Siapa pak tua ini, sampai kalian pucat pasi gitu? Takut banget ketahuan borok kalian!” Mia pura-pura tidak kenal ke papanya sendiri.
“Pak Manaf, tolong jangan salah paham!” Reno blingsatan. Dia mendekat menghampiri Kirana, lalu menarik tangan istrinya berdiri berdampingan.
“Ini istri saya, Kirana Larasati! Tadi kami tidak sengaja bertemu di sini. Bisa sampai ribut begini, karena istri saya cemburu. Dia kadang memang kelewat overthinking. Jadi susah dikasih penjelasan.”
Kirana terkekeh menggeleng, lalu menoleh ke suaminya. Pada akhirnya dia yang dikorbankan Reno demi cari selamat. Tangan pria itu meremas pinggang Kirana penuh peringatan.
“Kamu sama tuh rubah tidak digampar oleh Kirana saja masih untung, malah menyalahkan dia! Aku kalau jadi Kiran, sudah langsung aku lempar kursi saat memergoki kalian makan berduaan. Ngapain juga bohong bilang lagi di kantor, kalau kalian tidak aneh-aneh?! Cari muka sampai segitunya!” maki Mia, karena tahu sahabatnya meski sakit hati tetap tidak akan menjatuhkan nama baik suaminya.
“Hueekk … Hueekk .…” Kirana membekap mulutnya saat mual menghentak naik ke tenggorokan.
Reno kaget. Belum sempat bertanya, istrinya sudah setengah berlari pergi ke arah toilet. Mia menyusul sahabatnya. Reno kebingungan. Khawatir istrinya, tapi tidak mungkin pergi dalam situasi pimpinan Capital itu masih menatapnya curiga.
“Pak Manaf, masalahnya benar-benar tidak seperti ….”
“Aku punya mata dan telinga. Daripada repot menjelaskan apa yang bukan urusanku, lebih baik kamu khawatirkan saja istrimu!” sahut Manaf Alkaezar pergi dari sana. Dia melewati Jonas, seolah tak saling kenal.
Orang-orang di sana juga kembali menikmati makanannya. Jonas mengangkat alisnya. Reno dan rubahnya tidak tahu, ada yang lebih memalukan dari kejadian barusan.
“Sialan! Kamu sudah mengacaukan semua!” geram Lusi.
“Belum semua. Nanti akan lebih kacau lagi, kalau anakmu lahir tanpa bapak. Hebat juga didikan orang tuamu. Anak perempuannya bangga ngerusuhin suami orang dan pamer perut buncit sebelum nikah!” balas Jonas mengembalikan hinaan Lusi tadi.
“Jaga mulutmu, sialan!” Suara berat Reno bergetar serak saking emosi. “Jauh-jauh dari istriku, kalau tidak ingin aku patahkan tanganmu!” ancamnya.
“Apakah aku harus takut?!” ledek Jonas menyebalkan. “Jangan terlalu membenciku, Bro! Siapa tahu lain kali kamu yang nguber-nguber ingin bertemu denganku! Kan, malu!”
Reno urung meladeni Jonas, begitu melihat istrinya datang digandeng Mia dengan muka pucat. Dia mendekat, mengusap sisa basah di dagu Kirana yang barusan berkumur.
“Kamu kenapa pucat begini? Sakit?” tanyanya berubah lembut.
“Cih, sok perhatian! Tadi saja kamu bentak-bentak dan dorong!” dengus Mia pindah ke samping abangnya.
“Mungkin masuk angin. Tadi pagi nggak sempat sarapan,” jawab Kirana meringis menahan mual.
“Pulang saja dulu! Nanti aku panggilkan taksi. Kelewatan kalau bosmu tidak kasih ijin!” Reno menoleh ke Jonas.
“Aku tak kalah baik dari bosmu yang mengajak bawahannya makan di restoran mewah, Bro. Kalau Kirana tidak enak badan, aku dengan senang hati akan mengantar ke dokter dan pulang!” Jonas cengengesan melihat Kirana mendelik.
“Bangsatt!” umpat Reno.
“Kamu mau balik ke kantor atau ngurusin istrimu?!” ketus Lusi menyambar tasnya.
“Lho, cemburu kok ke suami orang! Situ siapa, woi?!” Mia tertawa ngakak.
Lusi melengos pergi dengan muka masam menahan jengkel. Reno melepaskan genggaman tangannya.
“Aku balik ke kantor dulu. Minta ijin ke bosmu, kalau memang tidak enak badan! Nanti aku usahakan pulang lebih cepat. Besok kita makan malam di luar!” pamit Reno.
“Hm,” angguk Kirana.
Pria itu pergi tergesa menyusul atasan. Kirana menghela nafas panjang menatap punggung suaminya menjauh. Seperti itulah Reno. Kadang hangat, kadang menyebalkan dan kelewat cuek.
“Kir, kamu nggak curiga ke mereka?” tanya Mia.
“Curiga tanpa bukti hanya akan membuatku disalahkan, karena dianggap cemburu buta. Kalau aku mempermasalahkan kedekatan mereka, Reno juga akan balas mengungkit kedekatanku dengan Bang Jonas.” Kirana tersenyum menyeret Mia kembali ke ruangan mereka tadi. Tasnya masih tertinggal di sana.
“Njir, perutnya buncit kayak beneran bunting! Mana bangga lagi dituduh hamil sama suami orang!” Mia melirik sahabatnya yang malah tertawa. Padahal Mia tahu, Kirana pasti sakit hati banget dibohongi dan melihat suaminya semanis itu ke si rubah.
“Dan aku tahu pasti, tidak mungkin itu anak suamiku!”