Diam bukan berarti bodoh. Kalau sampai sekarang Kirana masih mencoba mempertahankan pernikahannya, itu karena hutang budi yang terus mereka ungkit. Cinta tak lantas membuatnya buta. Perlakuan Reno selama tiga tahun hidup bersama, sudah cukup membuat Kirana paham dia telah salah menjatuhkan pilihan.
Di titik terlelah berjuang sendirian mempertahankan apa yang sudah dia mulai ini, Kirana mengambil keputusan tak mudah. Diam-diam melakukan program bayi tabung, menggunakan s****a Reno yang dibekukan setahun lalu. Gagal dan mencoba lagi. Dia berharap kali ini Tuhan berbaik hati mengabulkan harapannya.
Janji pulang lebih awal menyisakan kecewa seperti biasanya. Kirana bahkan tidak tahu jam berapa semalam suaminya sampai rumah. Pagi Reno berangkat kerja tanpa penjelasan apapun. Hanya mengingatkan tentang makan malam di restoran yang sudah dia booking, untuk merayakan ulang tahun pernikahan ketiga mereka.
“Selamat, calon janinnya tumbuh sempurna!” ucap Dokter Shinta menunjukkan makhluk kecil di layar USG.
Mata Kirana memburam panas. Terpaku menatap tanpa kedip hadiah terindah dari perjuangannya selama beberapa bulan ini. Bahagia akan hadirnya, tapi juga merasa bersalah jika nantinya menjadikan dia anak yang kurang beruntung.
“Papanya pasti senang, keinginannya benar-benar terkabul. Bu Kiran hebat, bisa melewati semua prosesnya sendirian tanpa dukungan suami. Sekali lagi selamat, Bunda!” Dokter tersenyum mengulurkan buku warna pink. Buku termahal yang pernah Kirana beli. Bukan karena nominal ratusan jutanya, tapi proses untuk mendapatkannya.
“Terima kasih, Dok!” Tangannya sampai gemetar memegang buku bertuliskan namanya itu.
“Ingat, harus berhati-hati selama trimester pertama! Tidak boleh terlalu capek, stres, dan jaga asupan nutrisi untuk tumbuh kembang janin!” pesan dokter.
Keluar dari ruang praktek, Kirana melangkah dengan perasaan campur aduk. Hamil?! Harusnya dia senang, bukan? Mulai sekarang mulut mereka berhenti ngoceh, menghinanya mandul. Reno tidak akan menuntutnya berhenti kerja, supaya bisa fokus cepat hamil. Tapi, bagaimana kalau ternyata kali ini dia juga salah mengambil keputusan? Betapa berdosanya dia, jika membuat anaknya bernasib sama sepertinya di rumah itu.
Berdiri di depan lift, mata Kirana menatap gamang buku merah muda di tangannya. Tiga tahun menikah. Akhirnya dia bisa memberikan ini sebagai kejutan untuk suaminya nanti malam. Suara lift membuyarkan berisik di kepalanya. Begitu pintu terbuka, jantung Kirana mencelos mendapati satu dari lima orang yang berdiri di dalam sana.
“Sial!” umpatnya tanpa terucap. Bisa-bisanya bertemu dia lagi!
Seperti orang bego, Kirana terpaku saling tatap dengan pria yang juga sama syoknya itu. Dia tidak pernah berusaha mencari tahu, tapi siapa tak kenal mukanya yang berseliweran di banyak iklan brand kelas atas. Arjuna Abimanyu Nugroho. Pria yang malam itu dia tampar sampai bonyok, karena kurang ajar menindih dan menciumnya di depan pintu kamar hotel! Pewaris bungsu konglomerat pemilik Graha Abimanyu Grup.
Sialnya lagi, dia tidak sendirian di situ! Kirana jelas tahu, siapa wanita paruh baya cantik yang pria itu rangkul. Pengacara kondang Sasha Dewanti, emak bocah ingusan ini.
“Ekhmm …”
Mata Kirana beralih ke pria bule di pojok lift, juga perempuan berwajah angkuh di sebelahnya. Mungkin memang beginilah mereka para konglomerat!
“Mau turun?” Pria di samping Arjuna mengedikkan dagu ke arah luar. Mungkin greget Kirana tak juga masuk, menghalangi yang lain.
Kepalang basah, Kirana terpaksa mengangguk meski risih dengan tatapan menusuk perempuan bermuka judes itu. Tidak kenal, tapi melihatnya seolah penjahat berbahaya. Lucu itu mendapati Arjuna yang tegang seperti melihat hantu.
“Buruan!” dengus salah seorang pengunjung menerobos masuk ke lift.
“Ehh … awas!” seru pria yang tadi menegur Kirana.
Tubuh Kirana terdorong keras dari belakang. Hanya beberapa detik di bawah kesadarannya yang mendadak ambyar, dia melihat Arjuna menyambar ke arahnya. Kakinya terkilir. Oleng, lalu menabrak badan kekar yang terhempas menghantam dinding lift.
Brukk
Semua terjadi begitu cepat. Lift gaduh oleh suara jerit panik orang-orang yang berdesakan. Kirana meringis merasakan pergelangan kaki kirinya sakit bukan main. Kepalanya yang kliyengan makin berdenyut pusing. Mual oleh engap di sana.
“Arghh ….”
Suara erangan yang terdengar begitu dekat telinganya itu membawa kembali kesadaran Kirana. Mendongak, dia terperangah begitu sadar berada di pelukan pria ini lagi. Wangi parfum yang sama, dekapan erat, dan deru nafas memburu itu, menyedot ingatan Kirana terlempar ke kejadian memalukan malam itu.
“Juunn …” seru mama Arjuna panik melihat anaknya meringis kesakitan.
“Apa-apaan, kalian?! Keluar!” Pria bule di sebelah berteriak marah.
Semua berhenti gaduh. Kirana yang mau melepas pelukan Arjuna terhuyung oleh rasa ngilu di kakinya. Lengan yang melingkar di pinggangnya mengerat, menahan tubuhnya yang hampir merosot jatuh. Tersengal, Arjuna menggeleng memintanya untuk diam.
“Istriku hamil. Kalau sampai kenapa-napa, awas kalian! Keluar!” Pria bule itu kembali berteriak emosi melindungi istrinya yang ternyata juga hamil di belakang punggung.
Orang-orang di sana pun bergegas keluar. Kirana mencengkram lengan Arjuna yang gemetar. Sepertinya dia benar-benar kesakitan, setelah kepalanya terbentur dinding lift barusan.
“Haish, sialan! Mata nggak lihat-lihat!”
Kirana menunduk. Pria di sebelah Arjuna tadi meringis bangun, setelah terdorong jatuh terduduk di lantai. Begitu berdiri, dia melongo menatap Kirana.
“Juunn …” Sasha Dewanti lebih dulu menarik perlahan Kirana yang menindih anaknya, lalu menopangnya.
“Anda tidak apa-apa?” tanya wanita cantik itu khawatir.
Meringis menahan sakit, Kirana pun menggeleng sungkan. Malu sekaligus bingung, bagaimana mengucapkan terima kasih ke pria yang masih menatapnya panik itu.
“Tidak apa-apa. Maaf!” gumam Kirana mundur.
“Sorry, tadi ituu … ituu … aku beneran tidak sengaja!” Gelagapan, Arjuna mencoba menjelaskan. Mungkin takut dikira dia sengaja kurang ajar ke Kirana seperti waktu itu.
“Hm,” angguk Kirana mendadak kikuk. Bagaimana dia tidak risih, semua mata tertuju ke arahnya. Terlebih istri pria bule itu. Tajam menelisik.
Deg
Membalas tatapan menghujam salah satu pewaris perusahaan farmasi terbesar itu, jantung Kirana berdetak menggila. Apakah perempuan bermuka sinis ini tahu tentang kejadian malam itu?! Mengingat Abraham Hotel punya keluarga mereka. Masih satu kerabat dengan pria yang menyosornya ini. Masuk akal dari tadi tatapannya aneh, padahal tak saling kenal!
“Mana yang sakit, Jun? Kepalamu terbentur, kan?” Sasha Dewanti mengelus kepala anaknya.
“Nggak apa-apa, Bun.”
Kirana mengalihkan pandangannya. Sekarang benar-benar jelas melihat wajah bocah ini. Iya, bocah! Bukan hanya imut, tapi lihat saja dia masih diperlakukan seperti anak kecil oleh emaknya.
“Ehh … tas kamu!” Pria yang menegurnya tadi itu menunduk memungut tas dan beberapa barang Kirana yang berserakan.
Meski tidak ngeh siapa namanya, tapi Kirana tahu dia ini juga sepupu Arjuna. Sedikit lebih baik, karena tidak seangkuh satunya itu.
“Kamu hamil?” tanya pengacara yang ternyata ramah itu mendadak khawatir, melihat buku merah muda punya Kirana.
“Hm,” angguknya menerima tas dan buku dari pria yang nyegir di depannya. “Terima kasih.”
“Tadi terdorong lumayan keras. Lebih baik periksakan lagi, untuk memastikan kandunganmu tidak kenapa-napa!” saran Mama Arjuna.
Baru mau bergeser lebih dekat pintu, Kirana kembali meringis. Sial, karena kakinya luar biasa nyeri. Ditambah mual, karena panik dan rasa tidak nyaman berada diantara orang-orang yang membuatnya was-was ini.
Arjuna beberapa kali seperti ingin bicara, tapi urung ingat bagaimana dia ditampar malam itu. Niat baik tak selalu ditanggapi baik oleh orang lain. Apalagi dia yang sudah dicap b******k.
“Ehh … periksa dulu sana! Nanti kalau anakmu kenapa-napa, bisa-bisa aku yang kena gampar! Apes terus kalau ketemu kamu!”
“Junaaa!” tegur pengacara itu ke anaknya yang tiba-tiba tidak sopan ke orang. Terlebih wanita hamil sedang meringis kesakitan.
Kirana mendelik geram. Untung tadi dia tidak bilang terima kasih ke bocah tengil ini. Kurang ajar! Kenapa juga ketus gitu.
Mendengus kesal, Kirana yang tadinya mau pulang pun terseok keluar dari dalam lift. Coba kalau tidak ada emaknya, pasti sudah dia jambak,
“Butuh bantuan?” Mungkin merasa tidak enak hati dengan mulut keranjingan anaknya, Sasha Dewanti mencoba menawarkan bantuan mengantar Kirana ke ruang praktek dokter.
“Tidak,” sahut Kirana menoleh ke belakang. Dia mengangguk sopan ke pengacara yang menatapnya tidak tega itu, lalu meneruskan langkahnya pergi.
Dalam hati Kirana mengumpat. Bagaimana bisa dia sesial ini, malah bertemu lagi dengan bocah itu! Mana ternyata memang semenyebalkan itu orangnya. Satu spesies dengan sepupu perempuannya yang aneh dan angkuh.
Bukannya kembali ke ruang dokter, Kirana malah duduk di bangku tunggu dekat situ. Yang sakit hanya kakinya. Perutnya selamat karena pertolongan bocah tadi. Mau periksa, pasti harus menunggu antrian lagi. Jadi dia pilih duduk di situ, sambil memastikan tidak ada masalah dengan perutnya.
Menatap buku di pangkuannya, Kirana menghela nafas panjang. Dia sudah berpikir panjang, sebelum mengambil keputusan ikut program bayi tabung. Termasuk hal terburuk yang akan dia lakukan, jika ternyata kehadiran anak tetap tidak mengubah segalanya.
“Maaf ya, Nak! Mama janji, tidak akan membiarkanmu jadi anak yang tidak beruntung itu! Ayo, kita coba dulu! Kalau papamu masih seperti itu, Mama akan membawamu pergi dimana hadirmu disyukuri!” gumamnya lirih mengelus perut penuh sayang.
Ini kesempatan terakhir yang Kirana berikan ke suaminya. Tiga tahun, dia sudah lelah bertahan di sana. Anggaplah anak ini sebagai balas budi yang selalu mereka ungkit darinya, untuk ratusan juta yang dulu diberikan buat pengobatan mendiang papanya.
Percayalah! Kalau tahu Edgar Renandi ternyata tidak ikhlas begini, Kirana tidak akan mau menerima uluran tangan mereka. Padahal kalau dihitung-hitung, pemberian Kirana ke mertua dan iparnya selama tiga tahun ini, sudah lebih untuk mengganti uang mereka dulu.
“Kalau bukan karena bantuan kami, kalian sekeluarga sudah jadi gelandangan! Kami sudah berbaik hati menjadikanmu menantu. Kalau tidak, mana ada yang sudi menikahi anak penjahat sepertimu!”
Itu hanya sebagian dari ungkitan kejam mereka yang sampai bosan Kirana dengar. Kalau memang sahabat, harusnya Edgar Renandi tahu papanya tidak pernah berkhianat ke perusahaan tempat mereka bekerja dulu. Harusnya mertuanya itu juga lebih paham, bagaimana mendapatkan bukti dan bersaksi, untuk membela sahabatnya yang dijadikan kambing hitam! Papanya mati sia-sia, setelah bunuh diri melompat dari atas gedung kantor, hanya untuk membuktikan dia tidak bersalah.
“Sialan!” geram Kirana. Makin diingat, makin dia sakit hati. Rasanya muak ingin pergi, tapi terjebak hutang yang mereka jadikan alat membelenggunya.
Ponselnya bergetar. Pesan singkat dari Reno dibaca Kirana dengan perasaan campur aduk.
“Nanti pulang aku jemput!”
Tangan Kirana mengelus foto USG yang terselip di halaman buku. Kalau saja suaminya tahu, bayi ini satu-satunya keturunan yang bisa dia miliki! Iya, satu-satunya!