Tangan Kirana gemetar mencengkram ponsel. Meski tak menunjukkan wajah, tapi dia sudah bisa menebak siapa perempuan itu. Luar biasa jahatnya. Tahu betul bagaimana menghancurkan Kirana, hingga sengaja memilih momen perayaan ulang tahun pernikahan mereka malam ini, untuk membongkar perselingkuhannya dengan Reno. Mengacaukan rencana makan malam. Hadiah kalung yang tidak ada harganya, dibanding cincin berlian selingkuhan suaminya. Juga …. perut buncit!
Setelah sempat linglung berdiri di pinggir jalan depan kantor, Kirana akhirnya menerima tantangan perempuan itu pergi ke Evening Eve. Dia tidak semenyedihkan itu, sampai harus diam saat tahu suaminya berkhianat. Kesalahan Reno mana yang tidak dia maafkan? Selalu diabaikan pun, masih Kirana maklumi. Tapi, tidak dengan perselingkuhan!
Sepanjang perjalanan dia bungkam dengan tatapan menerawang. Mengelus perut penuh rasa bersalah ke calon anaknya. Setelah berjuang sejauh ini demi memberi apa yang mereka tuntut darinya, dia justru dikhianati saat dalam keadaan hamil. Air matanya meleleh tanpa suara tangisan. Sopir taksi beberapa kali melirik iba dari kaca spion, tapi tidak berani bertanya.
Ponselnya berdering pelan. Nama Jonas sampai buram, karena matanya tergenang basah.
“Halo …” angkatnya.
“Suaramu kenapa? Kamu nangis?” Jonas yang menelpon karena khawatir, semakin panik mendengar suara serak Kirana.
“Nggak, barusan ketiduran.” sangkalnya, padahal sambil mengusap air mata.
“Beneran?!” Jonas masih tidak yakin.
“Hm …” gumamnya menahan tangis, sampai tercekat sakit tenggorokannya. Mendengar suara khawatir Jonas, air mata Kirana justru makin deras mengalir.
“Kamu dimana? Sudah sampai rumah mamamu?”
“Aku tidak jadi kesana. Ini masih di taksi. Mau langsung pulang dan tidur,” jawabnya lagi-lagi terpaksa berbohong.
Keduanya terdiam. Yakin, di seberang sana Jonas pasti khawatir setengah mati. Suara serak Kirana tidak bisa membohongi telinganya. Terlebih sekarang sedang hamil.
“Jangan terluka untuk orang yang tidak pantas mendapat ketulusanmu, Kirana! Kalau tidak bisa diubah, maka ubahlah perasaanmu! Jangan menyakiti diri sendiri, dengan bertahan bersama orang yang tidak bisa menghargaimu! Ingat, mulai sekarang kamu juga bertanggung jawab pada calon anakmu!” ucap Johan lembut.
“Hm …”
“Rumahmu boleh rusak, tapi rumah anakmu jangan! Anakmu harus punya rumah yang nyaman. Yang bahagia, tanpa celah sedikitpun. Kamu tahu rumah yang rusak itu menyakitkan. Jadi usahakan anakmu tidak merasakan itu! Kamu paham maksudku, kan?”
“Paham,” jawab Kirana tidak bisa lagi menyembunyikan tangisnya. Di saat dia hancur dan kesakitan, perhatian Jonas membuatnya merasakan sosok hangat seperti papanya.
“Jangan menangis, Kiran! Itu menyakitiku!” ucap Jonas putus asa. “Kamu sudah sampai mana? Berhentilah, biar aku susul ke situ kalau kamu butuh teman bicara!”
“Tidak usah! Ini aku sudah sampai rumah.”
Bukan rumah, tapi taksi berhenti di depan Evening Eve. Restoran mewah tempat suaminya baru saja melamar selingkuhannya yang mengaku hamil.
“Kamu sudah makan? Aku pesankan makanan ya?” tanya Jonas lagi.
“Nggak lapar! Mual, dipaksa makan nanti malah muntah.”
“Ok! Kalau gitu masuk dan tidur! Besok aku bawakan bubur ayam kesukaanmu dan Mia!” pamit Jonas, lalu mengakhiri sambungan.
Menghela nafas panjang, Kirana mengusap air matanya tanpa sisa. Cukup! Dia tidak akan lagi menangisi suami bangsatnya. Kesini hanya untuk menyerahkan pria sampah itu ke perempuan yang sama kotornya! Justru Kirana bersyukur, rubah bodoh itu menunjukkan sendiri bukti perselingkuhan mereka, sebelum dia memberitahukan kehamilannya ke Reno!
Sebelum ke situ tadi, Kirana sudah menelpon restoran. Memastikan apakah bisa datang tanpa reservasi. Untung saja bisa, karena malam ini meja tidak penuh. Masuk ke dalam, dia diantar pegawai ke mejanya. Sengaja tidak langsung mencari keberadaan Reno. Kirana ingin lihat, sejauh mana rubah murahan itu akan mempertontonkan kelakuan menjijikkan mereka.
“Silahkan!” pegawai itu dengan sopan mempersilahkan Kirana duduk.
Dan semua dipermudah, karena dari tempatnya Kirana langsung mendapati orang yang dicarinya. Dan iya, gundik simpanan suaminya itu tentu Lusi orangnya! Meski sudah menyiapkan hati, tetap saja luar biasa sakit melihat suaminya tersenyum lebar menyuapi selingkuhannya.
Lembur, katanya! Lembur yang selama ini membuat Reno pulang malam, ternyata meniduri anak bosnya. Serendah itu harga dirinya. Demi mendongkrak karir dan memuluskan jalan mendapat jabatan, Reno selingkuh dengan anak pimpinan perusahan.
Tak lagi gemetar. Tanpa air mata, bahkan setenang itu Kirana mengambil bukti. Dia pastikan, mereka akan membayar semuanya. Pesanannya belum satupun yang datang, tapi Kirana justru beranjak bangun dan melangkah memenuhi undangan pelakor yang ingin melihatnya hancur itu.
“Kiii …. Kiii …. Kiiraaann!” Reno yang melihat istrinya tiba-tiba sudah berdiri di samping mejanya, seketika blingsatan pucat pasi seperti didatangi malaikat pencabut nyawa.
Lusi mengernyit. Mungkin tidak mengira Kirana benar-benar datang ke situ. Atau … justru dia bingung, karena Kirana masih setenang itu memergoki suaminya selingkuh.
“Selamat ulang tahun pernikahan kita yang ketiga, suamiku! Terima kasih untuk kejutannya yang sangat luar biasa!” ucap Kirana menyambar gelas minum di depannya, lalu mengguyurkan anggur merah ke muka suaminya.
Byuuurrr
“Heeiii ….” Lusi berteriak marah menggebrak meja.
Mereka mendadak jadi pusat perhatian di sana. Kirana tersenyum melihat suaminya gelagapan basah kuyup.
“Apa?!” Kirana menoleh ke Lusi.
“Harusnya kamu senang, aku datang memenuhi undanganmu. Inikan yang kamu tunggu?! Sengaja menunjukkan perselingkuhan kalian, supaya pernikahan kami hancur dan cerai. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan ayah untuk bayi di perutmu!”
“Diam!” bentak Lusi celingukan panik. Takut, aibnya didengar orang.
“Kenapa?! Malu, aib menjijikkan kalian jadi tontonan di sini?!” Suara Kirana justru makin menggelegar keras.
“Sekelas anak boss Purewell Grup, ternyata murahan dan selera rendah lebih suka jadi selingkuhan suami orang! Orang tuamu pasti bangga, anak perempuannya hamil dengan pria beristri!”
“Kirana!” bentak Reno mendelik marah, istrinya mengorek aibnya di depan umum. Terlebih menghina boss dan perusahaannya.
Menunduk dengan tangan menyangga di atas meja, Kirana membalas tatapan nyalang suaminya.
“Jadi ini yang selalu kamu bilang lembur? Lembur kencan dan meniduri atasanmu, supaya kamu bisa mendapat posisi bagus di perusahaan. Menukar harga dirimu, dengan menjadi boneka pemuasnya!” hina Kirana ke bajiingan yang sudah mengkhianatinya ini.
“Mulut sialan!” Emosi Reno meledak. Dia berdiri dengan tangan melayang, tapi kalah cepat dari Kirana yang lebih dulu menampar sekuat tenaga.
Plaaakk
“Kenapa marah?! Aku hanya mengulang apa yang kamu katakan. Kamu bilang kalau tidak lembur dan mati-matian kerja, bagaimana bisa mendapat posisi bagus di perusahaan! Iya, kan?!”
Pantas saja tangan Kirana sampai kebas panas. Reno saja sampai syok dan meringis kesakitan. Pipinya yang kena gampar sampai merah kebiruan. Pasti tidak menyangka istrinya yang biasanya sabar mengalah akan sebengis ini.
“Kita selesaikan di rumah! Jangan bikin malu di depan banyak orang. Apalagi menghina Lusi dan membawa-bawa nama Purewell juga bosku! Kamu pasti paham dampaknya bagi perusahaan!” Reno medesis penuh peringatan.
“Bikin malu?! Memangnya binatang seperti kalian masih punya malu?!”
“Kurang ajar! Beraninya kamu menghinaku!” jerit Lusi mencoba menjambak rambut Kirana.
Kali ini giliran dia yang dapat bagian. Kirana menyambar mangkuk di situ, lalu menumpahkan sup ke muka Lusi.
Byuuurr
“Argghhhhh …. mukaku!” pekik rubah betina itu histeris menutupi mukanya. Padahal supnya tidak panas.
“Cukup, Kirana!” Gertak Reno menarik tangan istrinya.
“Belum!” teriak Kirana menepis cekalan suaminya.
“Reno, mukaku perih!” Lusi menjerit.
Pria itu buru-buru menghampiri Lusi, lalu mengelap wajahnya dengan tisu basah. Kirana menyeringai. Puas aib mereka jadi tontonan, bahkan manajer restoran pun tergopoh datang. Berusaha menengahi gaduh di tempatnya.
“Ada masalah apa? Kalau bisa, mari ikut saya ke dalam! Kita selesaikan di dalam, supaya tidak mengganggu pengunjung lain!” pinta manajer restoran.
“Tidak perlu! Usir saja dia yang datang bikin gaduh!” Lusi menuding ke Kirana.
“Kamu yang menyuruhku datang. Mau pamer dinner romantis, setelah dilamar suamiku barusan! Kalau tidak, aku mana tahu suamiku yang membatalkan makan malam merayakan ulang tahun pernikahan kami, bilangnya lembur tapi ternyata melamar atasannya yang jalang di sini!”
“Bohong! Aku tidak segila itu menyuruhmu kesini!” sanggah Lusi.
Kirana merogoh ponselnya. Lusi panik mencoba menyembunyikan ponselnya, tapi sudah terlanjur berdering oleh panggilan nomor Kirana. Reno melotot. Tidak menyangka beneran Lusi sendiri yang cepu, membocorkan semua ke istrinya.
“Hm!” Kirana menunjukkan foto dan chat dari perempuan itu.
“Sialan kamu, Kirana!” Lagi-lagi si rubah menjerit.
Orang-orang menggeleng dan saling bisik. Pasti banyak yang tahu Purewell. Makanya gedek disuguhi drama borok anak bossnya yang selingkuh sampai hamil dengan bawahannya. Mana sudah beristri dan sekarang dipermalukan di tempat umum.
“Pelakor jaman sekarang memang tidak tahu malunya kebangetan. Lebih galak dari istri sah. Kayak sudah nggak laku saja, sampai merebut suami orang! Mana hamil lagi!”
“Takut nggak dinikahi, makanya sengaja memancing istri sah biar tahu kalau suaminya selingkuh!”
“Makanya, punya apem jangan diobral! Giliran bunting, bingung gimana kasih bapak buat anaknya!”
Cemoohan para wanita setengah baya di meja sebelah itu terdengar jelas. Sama-sama wanita, mereka kasihan ke Kirana. Ikut emosi melihat sikap licik dan tidak tahu malu Lusi.
“Kamu tadi melamarnya?” Kirana menatap nyalang ke suaminya.
Reno bingung harus menjawab apa. Mengelak, Lusi ngamuk. Mengaku, pasti dia akan makin dihujat.
“Jawab!” bentak Lusi jengah, Reno tidak berani mengakuinya.
“Iya, aku melamar Lusi tadi!” angguknya.
Taarrrr
“Renoooo ….” jerit Lusi melihat pelipis Reno dihantam gelas oleh Kirana.
“Pecundang! b******k! Kamu melamar selingkuhanmu di hari ulang tahun pernikahan kita!” umpat Kirana sakit hati banget, dikhianati dengan cara sekejam ini.
“Kalau mau menikahi gundikmu, bilang! Aku akan dengan senang hati menyerahkan sampah menjijikkan sepertimu ke dia! Bukan malah seperti pengecut, selingkuh sembunyi-sembunyi begini! Kamu tidak seberharga itu bagiku, sialan!”
Reno yang meringis kesakitan berusaha menyambar tangan istrinya. namun, Kirana mana mungkin diam saja. Keduanya saling jontok, sampai manajernya bingung menengahi.
“Cukup, Kirana! Kita pulang dulu dan selesaikan di rumah!” Reno berusaha menyeret istrinya pergi.
“Lepas!”
Bugh
Kirana seperti orang kesetanan mendorong Reno sampai jatuh tersungkur. Dia masih terengah, ketika tiba-tiba Lusi menggunakan kesempatan itu untuk menamparnya.
Plaakk
“Kalau bukan kasihan, sudah sejak dulu kamu diceraikan karena mandul! Orang tua Reno sudah berbaik hati menolong keluargamu. Kalau bukan Reno, siapa yang sudi menikahi anak kriminal sepertimu?!” teriak Lusi ke Karina yang berdiri mematung.
Darahnya mendidih papanya dihina oleh orang yang tidak tahu apa-apa. Dengan tangan gemetar, Kirana menyeringai melangkah mendekati Lusi.
“Jangan bawa-bawa papaku, untuk menjatuhkanku dan membenarkan perselingkuhan kalian! Buktinya apa aku mandul? Sedang hasil pemeriksaanku normal, ha?!”
“Buktinya aku langsung hamil!” jawab Lusi tidak tahu malu.
“Kalau begitu cek kandungmu! Atau kalau perlu tes DNA. Berani?!” tantang Kirana berdiri di depan Lusi.
“Itu anakku, Kirana! Jangan coba-coba menghina Lusi dan bayi kami!” Reno mendorong istrinya mundur. Takut Lusi dan anaknya celaka.
“Kasihan! Sudah mandul, mau dilepeh lagi. Coba rayu bosmu. Siapa tahu dia mau menjadikanmu simpanannya! Dia kayaknya juga minat ke kamu!” oceh Lusi ngelantur soal Jonas.
Habis sudah kesabaran Kirana menghadapi mulut Lusi yang makin kelewatan. Dia maju, lalu mendorong perempuan itu hingga jatuh terduduk di lantai. Reno panik menolong Lusi yang merintih memegangi perutnya.
“Sakit, No! Nanti kalau anakmu kenapa-napa gimana? Dia sengaja banget mau membunuhnya!”
Siapa sangka Reno tiba-tiba berbalik dan balas mendorong istrinya sekuat tenaga. Tidak sempat menghindar, Kirana terjungkal tanpa ampun. Perutnya menghantam meja di belakangnya, hingga dia menjerit menahan nyeri.
Lusi menyeringai. Orang-orang berusaha menolong, tapi Reno yang kesetanan mengira Kirana sengaja mau mencelakai bayi di perut Lusi malah menyeretnya keluar. Lusi berlari menyusul dengan senyum lebar. Puas melihat Kirana meronta diperlakukan kasar dan dipermalukan.
“Lepas! Sakit, Reno!” Kirana mendekap perutnya. Menangis, takut anaknya kenapa-napa.
“Diam! Jangan memaksaku berbuat kasar untuk membungkam mulut sialanmu, Kirana!” bentak Reno tanpa peduli istrinya meringis kesakitan.
Bugh
Sampai luar restoran Reno kembali menghempas tubuh istrinya hingga menabrak tiang di belakangnya. Kirana meringkuk merasakan kram di perutnya, tapi suaminya malah berdiri dan menuding galak.
“Sialan kamu, Kirana! Kamu tahu tidak apa yang sudah kamu lakukan, goblookk!”
“No, perutku sakit!” Padahal tadi cengengesan mengekor di belakang Reno. Sekarang Lusi kembali meringis memegangi perut.
“Kita ke rumah sakit!” Reno membopong Lusi membawanya ke mobil.
Saking khawatir ke bayi di perut Lusi, dia bahkan tak menoleh. Pergi begitu saja tanpa peduli ke istrinya yang gemetar dan mengerang kesakitan. salah satu security di situ mendekat menawarkan bantuan, tapi Kirana menggeleng. Dia melangkah terseok dengan nafas tersengal dan keringat dingin bercucuran.
“Bertahan ya, Nak! Kita ke rumah sakit!” gumamnya dengan suara tersendat.
Sakitnya bukan main. Perut Kirana terasa sakit melilit. Kepalanya makin kliyengan, lalu terhuyung dan jatuh tersungkur. Air matanya meleleh menangisi nasib anaknya. Tenaganya sudah terkuras, lemas. Berusaha merogoh ponsel di saku, tangannya yang tremor bahkan tak sanggup lagi.
Dalam keputusasaannya, tiba-tiba ada yang datang mendekat. Pria itu jongkok dan menatap Kirana lekat.
“Kamuuuu ….” serunya kaget saat mengenali Kirana. “Ehhh, gorila galak! Kamu kenapa?!”
“Tolong …. tolong, anakku!” Kirana mencengkram tangan bocah tengil yang masih melongo syok itu.