Nasib Kirana benar-benar malang. Sekalinya salah langkah menikah dengan Reno, menyeretnya dalam derita tak berujung. Tiga tahun bersabar jadi istri diabaikan, juga menantu yang selalu diremehkan. Sekarang masih harus menerima pengkhianatan suaminya. Dia memang tidak selemah itu. Mentalnya sudah terasah dari perjalanan pahit saat kehilangan papanya dulu, juga tekanan pernikahannya yang seperti neraka. Namun, kali ini dia ketakutan! Takut calon anak di perutnya akan jadi korban.
Siapa sangka sejak dia diseret oleh suaminya, lalu didorong dan dimaki di luar restoran, ada sepasang mata tak sengaja ikut menonton dari dalam mobilnya. Arjuna sedang menunggu asistennya membeli minum di kafe sebelah. Tadinya dia tidak berminat kepo. Paling juga pelakor kena labrak. Hanya saja makin dilihat, dia merasa tak asing dengan wajah perempuan itu. Terlebih Kirana masih mengenakan baju yang sama, saat mereka bertemu di lift rumah sakit tadi siang.
Dua kali bertemu selalu ketiban sial. Bahkan, sejak kedapatan bonyok karena nyosor orang malam itu, dia selalu jadi bahan bullian para sepupu laknatnya sampai sekarang. Jadi Juna pun pilih tetap anteng di situ. Toh, mereka tidak saling kenal. Belum tentu juga itu Kirana Larasati. Baju siapapun kan bisa saja kembaran. Dia sudah diwanti-wanti sepupunya sebisa mungkin menjauh. Mungkin karena Kirana istri orang.
Sayangnya mata dan hati Juna berkhianat. Dia melirik ke luar. Mendecak kesal, tidak tega melihat gorila galak itu melangkah terseok setelah ditinggal begitu saja. Juna yang dasarnya tidak tegaan pun makin serba salah. Siapapun itu, dia merasa jahat hanya diam begini. Sampai kemudian perempuan itu tersungkur.
“Ehhh .…” Kirana yang jatuh, Juna yang berteriak panik.
“Haish!” geramnya buru-buru turun dari mobil.
Setengah berlari dia menghampiri tubuh perempuan yang bersimpuh di tanah itu. Sumpah, jantungnya berdebar kencang. Benarkah itu Kirana? Siapa pria yang menyeret dan mendorongnya tadi? Apa suaminya ketahuan selingkuh, karena pria itu pergi membopong wanita satunya lagi? Kalau suaminya, kenapa malah sejahat ini ke istrinya yang sedang hamil? Hamil?!
“Sial!”
Juna menghampiri perempuan itu. Tubuhnya gemetar, nyaris luruh. Suara erang kesakitannya membuat Juna iba. Jongkok, dia menunduk berusaha melihat dengan jelas wajahnya yang tertutup rambut. Begitu perempuan itu mendongak, Juna terkesiap kaget.
“Kamuuu ….!” matanya sampai melotot. Belum-belum ikut gemetar, saking panik melihat kondisinya yang mengenaskan.
“Ehh, gorila galak! Kamu kenapa?!”
Tak salah Kirana mengatai Juna bocah tengil. Bisa-bisanya segugup itu, sampai memanggil dengan sebutan gorila galak. Panggilan dari para sepupunya, untuk perempuan yang menggampar Juna karena kurang ajar asal nyosor.
Hanya beberapa dari mereka yang tahu wajah Kirana dari rekaman CCTV hotel. Itu kenapa saat bertemu di lift, hanya pria bule dan istrinya yang mengenali Kirana.
“Tolong …. Tolong, anakku!”
Tangan Kirana yang tremor mencengkram tangan Juna sekuat tenaga. Tersiksa sakit, hingga sekujur tubuh gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi dan berderai keringat. Tersengal menatap Juna memohon.
“Anak?!” Saking gugup, otak Juna mendadak ngelag. Lupa kalau Kirana hamil.
“Aku hamil. Perutkuuu …. sakiiit …” gumam Kirana tersendat.
“Ohhh …. iya! Hamil ….!” Kayak orang bego, Juna mengangguk.
“Hamill!” Juna lagi-lagi gelagapan, begitu otaknya berhenti loading.
“Rumah sakit! Iya, rumah sakit!” ucapnya seperti orang bingung, lalu membopong tubuh Kirana.
“Sakiiit …. Tolong anakku!” erang Kirana.
“Tahan dulu! Aku antar ke rumah sakit!” Juna akhirnya mulai sedikit tenang.
Baru mau berdiri, Juna mengernyit tangannya yang menopang paha Kirana terasa basah.
“Darah! Ehh …. kamu berdarah!” serunya panik.
“Rumah sakit!” gumam Kirana menahan tangis.
Kaki Juna melangkah lebar membopong Kirana menuju mobilnya. Beberapa orang menatap penasaran. Gugup, saat hampir sampai mobilnya, Juna nyaris tersungkur. Kakinya gemetar. Jantungnya jumpalitan, syok tiba-tiba ketiban sial bertemu Kirana dalam keadaan pendarahan begini.
“Tenang, Jun! Tenang! Nanti kamu kena gampar!” gumamnya susah payah membuka pintu.
Ngos-ngosan, dia dengan hati-hati mendudukkan Kirana di bangku penumpang. Melihat tangannya berlumuran darah, dia yang phobia pun kliyengan dan mual.
“Tidak apa-apa! Tidak apa-apa, Jun!” Juna mengelap tangan ke kaos putihnya. Berusaha menyakinkan dirinya sendiri, dia tidak akan muntah atau pingsan meski berurusan dengan darah.
“Argghhhh ….” Kirana meringkuk mendekap perutnya.
“Sabar! Kamu dan bayimu pasti baik-baik saja!” ucap Juna memasang sabuk pengaman Kirana, lalu merendahkan sandaran supaya perempuan itu bisa berbaring.
Menutup pintu kasar, Juna berlari menuju ke bangku kemudi. Asistennya yang datang membawa dua plastik minuman dan kue, melongo melihat momongannya berlarian panik.
“Baaangg …. Bang Juna, kenapa?” seru Baim mendekat.
Juna yang sedang berpacu dengan gugupnya tidak dengar suara asistennya. Dia menyambar jaketnya di belakang, lalu menyelimutkan ke tubuh Kirana yang menggigil.
“Sakiiittt ….”
“Iya, aku tahu!” sahut Juna dengan tangan gemetar memasang sabuk pengamannya.
“Baaangg ….” Baim yang sudah berdiri di samping pintu melongo, mendapati ada perempuan berbaring di dalam. Mana Juna juga mendadak kumat plengernya, tidak mengenalinya lagi.
“Ehhhh … aku jangan ditinggal! Bang Junaaaa …..” teriak Baim berlari mengejar di belakang sambil menenteng plastik minuman.
Sementara Juna mencengkram roda kemudi. Sesekali melirik Kirana yang masih merintih dengan wajah pucatnya. Sumpah, kepalanya berisik dengan begitu banyak pertanyaan dan dugaan.
“Ketemu kamu kenapa selalu dapat masalah sih?! Aku kayak orang kurang sajen. Apes terus bawaannya!” gumamnya komat-kamit.
Ponselnya berdering. Sambil menyetir, dia memasang earpod dan menerima panggilan.
“Bang, aku kenapa ditinggal di sini sih?! Bang Juna bawa kabur siapa tadi yang di mobil?!” seru Baim mencak-mencak.
“Ehh, iya! Aku lupa tadi kan sama kamu, Im.” Juna meringis.
“Bang Juna mau kemana? Tuh cewek juga! Siapa, Bang?”
“Im, sorry! Kamu pulang naik taksi saja, ya! Aku antar teman ke rumah sakit dulu!”
“Teman? Yang mana?” cecar Baim ingin tahu, karena kadang dia yang kena introgasi emaknya Juna.
“Pokoknya teman! Awas saja kalau mulutmu ember!” Juna kemudian mematikan sambungan.
Menunggu lampu merah, dia menoleh menatap Kirana. Iba, Juna mengambil tisu mengelap keringat dan air mata perempuan yang masih meringis menahan sakit.
“Kamu kenapa sampai kayak gini? Galakmu minta ampun. Kenapa tadi tidak kamu gampar tuh pecundang sialan?!” gerutunya. Bukan minta dijawab sih! Juna hanya ngoceh biar tidak panik.
“Sakit … tolong anakku!” gumam Kirana lirih.
“Sial! Mana Om Bian juga lagi opname lagi! Nanti kalau ketahuan mereka, tamat lah aku!” Juna baru ingat, omnya juga dirawat di rumah sakit. Itu kenapa tadi keluarga besar mereka datang ke sana, lalu ketemu Kirana di lift.
Medical Centre, rumah sakit punya tantenya. Dia mencari kontak nama sepupunya, lalu menelpon.
“Halo ….” Suara perempuan mengangkat panggilan Juna.
“Rhe, kamu sama Bang Genta masih di rumah sakit?” tanyanya was-was. Rhea wakil pimpinan di sana. Sedang Genta suaminya, adalah dokter terbaik di Medical Centre.
“Masih. Kenapa?”
“Aku minta tolong, tapi jangan bilang ke siapapun.”
“Dih, si plenger sok ngajak main rahasia-rahasiaan segala! Minta tolong apa, Junjun?” Rhea malah cengengesan.
“Arghhhhh …..” Tiba-tiba Kirana merintih dan menggeliat dengan wajah mendongak. Perutnya melilit kaku seperti kram. Darah merembes di bangku yang dia duduki.
“Ehhh, darah! Kirana!” Juna yang menyetir pun kelabakan. Sama halnya dengan Rhea yang syok di seberang sana.
“Juunnn …. itu siapa?! Darah apa?! Kamu jangan bercanda, Jun!” seru Rhea keras.
“Rhe, kamu hubungi IGD! Aku bawa wanita hamil sedang pendarahan ke situ. Dia pasien kalian juga. Namanya Kirana Larasati. Tolong Rhe, darahnya banyak banget!”
“Siapa tadi namanya? Kirana ….”
“Kirana Larasati! Dia kesakitan banget, tadi habis diseret dan didorong pria di depan restoran. Ini aku sebentar lagi sampai situ!” sahut Juna.
“Ok!”
“Ingat, jangan kasih tahu siapapun!”
“Iya, ngerti!” seru Rhea.
Juna melirik iba. Saat tangannya membetulkan jaketnya untuk menyelimuti Kirana, dia tersentak tiba-tiba malah dicengkram kuat. Tidak protes. Dia membiarkan tangan Kirana yang dingin dan gemetar mencengkramnya. Mungkin perempuan ini sudah tidak tahan akan sakitnya, juga takut memikirkan nasib anak di perutnya.
Mobil terus melaju menuju rumah sakit. Juna masih tidak habis pikir, ada urusan apa Kirana dengan mereka, sampai diperlakukan sekasar itu?! Mustahil dia pelakor! Juna tahu Kirana punya suami. Lagi pula kayaknya tidak mungkin gorila galak ini selingkuh!
“Masa iya suaminya yang selingkuh sih?! Berarti pria yang menyeret dan mendorongnya tadi, suami Kirana dong! Tuh orang otaknya isi limbah kali ya. Istri lagi hamil malah diginiin!” gumamnya komat-kamit kayak orang stres ngoceh sendiri.
Lima belas menit kemudian, Juna akhirnya sampai di depan IGD rumah sakit. Rhea sudah menunggu di sana bersama suaminya dan beberapa perawat. Melihat Juna turun, mereka bergegas mendorong brankar.
“Bang Genta … tolong, Bang! Dia pendarahan didorong sampai jatuh tadi!” Juna menatap Kirana yang dibopong dibawa ke brankar.
“Datanya sudah ketemu. Dia pasiennya Dokter Shinta. Orangnya kebetulan baru selesai menolong persalinan di atas. Rhea sudah memintanya ke sini untuk menangani pasiennya!” ucap Dokter Genta.
“Gimana ceritanya kok bisa kamu yang antar dia ke sini, Jun?!” Rhea yang bestinya Juna dari orok, jelas penasaran setengah mati.
“Ceritanya panjang! Ingat, kalian jangan bilang siapa-siapa soal ini! Aku serius!” pesan Juna wanti-wanti.
Kirana dibawa masuk ke dalam oleh perawat dan Dokter Genta. Sementara Juna diseret oleh Rhea ke ruang tunggu. Mata wanita cantik itu menatap menelisik.
“Kalau kamu tidak ada urusan apapun sama tuh orang, nggak bakal setakut ini ketahuan mereka. Ngaku dulu! Kamu punya hubungan apa sama Kirana? Dia kan sudah punya suami, Jun!” cecar Rhea.
“Dia punya suami atau tidak, memangnya apa urusannya denganku?! Sialan, dikira aku jadi selingkuhan istri orang apa!” Juna menoyor kepala Rhea.
“Terus dia siapa? Kirana dua kali ikut program bayi tabung. Yang pertama gagal. Tadi hasil program kedua juga baru dinyatakan berhasil hamil. Sekarang kenapa mendadak pendarahan begini?!”
Juna terdiam. Jadi Kirana hamil dari proses bayi tabung! Dua kali baru bisa hamil, malah langsung begini nasibnya.
“Wooii …. kamu kenal Kirana?” Rhea menyikut lengan bestinya itu.
“Nggak kenal!” geleng Juna.
“Terus kenapa takut ketahuan mereka? Om Abi dan Tante Sha nggak bakal marah, tahu kamu nolongin perempuan hamil yang hampir keguguran.”
“Bukan ayah dan bunda, Rhe!”
“Lalu siapa?! Haish, bikin darah tinggi saja ngomong sama orang plenger!” Rhea hampir hilang sabar menghadapi Juna yang terus berbelit. Tinggal jawab apa susahnya.
“Gorila galak yang gampar aku di hotel dulu itu, Kirana orangnya!”
“Haaaaaa?!” Rhea sampai melotot syok.