Hari telah pagi. Fathan mencium aroma masakan yang begitu menggugah selera bahkan di waktu sepagi ini. Ia baru saja selesai sholat. Kini, Ia berjalan ke dapur. Melihat istrinya yang tampak sibuk memasak disana.
Bahkan dari belakang saja sudah cantik.
Aduh, Fathan jadi senyum-senyum sendiri menyadari kebucinannya ini. Gapapa lah ya. Bucin ke istri sendiri kan dapat pahala.
Ia mengamati masakan istrinya yang hampir selesai. Ada tumis jamur dan suwiran ayam. Ditambah dengan lauk brokoli tepung dan tempe tepung. Terlihat sederhana namun menggugah selera.
Sepertinya memang selama setahun ini istrinya belajar memasak. Mereka memang baru menikah saat semester 3 ini. Sebenarnya, Fathan ingin menikahi Maya begitu mereka lulus SMA. Namun, orang tua Maya tidak menginginkan anaknya menikah di tahun pertama mereka kuliah.
Karena Maya ini juga termasuk siswi berprestasi, jadi orang tua Maya ingin anaknya belajar dengan benar. Apalagi, namanya baru tahun pertama kuliah biasanya harus banyak penyesuaian mulai dari penyesuaian tempat tinggal, kampus, jam kuliah, hingga mata kuliah. Akan berat jika harus ditambah dengan penyesuaian awal-awal pernikahan.
Bahkan sebenarnya mereka tak mengizinkan anaknya menikah saat kuliah. Namun dengan kegigihan Fathan yang terus berusaha meyakinkan para orang tua, akhirnya izin itu berhasil didapatkan. Dengan catatan Maya dan Fathan harus tetap kuliah sampai selesai. Fathan harus punya penghasilan meskipun sedikit. Menunda dulu untuk punya anak juga lebih baik. Ya meskipun untuk keputusan yang terakhir ini tetap diserahkan ke yang bersangkutan.
Nah ini yang berat bagi Fathan. Kalau mereka belum punya anak, bagaimana jika banyak yang berpikir kalau Maya ini masih single? Apalagi di usia mereka yang terbilang sangat muda. Maya si gadis cantik, muda, dan berprestasi, siapa yang tak suka? Tentu Fathan tidak mau ada yang mendekati istrinya ini.
Selain itu, Fathan yakin dengan adanya anak di antara mereka, maka cinta itu akan terus tumbuh. Ya meskipun sebenarnya juga, sudah atau belum ada anak pun, Fathan berjanji akan selalu mencintai dan menjaga istrinya. Memang sudah seharusnya begitu kan.
"Mas, mau teh? Kopi? Atau yang lain?" Pertanyaan Maya mengembalikan Fathan ke dalam dunia nyata.
Lelaki itu tersenyum, merasa bangga akhirnya berhasil mendapatkan istrinya ini. Akhirnya, untuk pertama kali, Fathan bisa melihat Maya di pagi hari secara langsung sebagai istrinya. Ada perasaan hangat yang begitu meluap. Plus, karena ini pagi-pagi, ada sesuatu lain yang melonjak dalam dirinya. Para lelaki pasti sangat paham soal ini.
"Selamat pagi, Istriku." Fathan mencium pipi Maya. Membuat Maya mematung sejenak, tak siap dengan serangan Fathan yang tiba-tiba begini.
Kalau begini terus, bisa-bisa Maya kena serangan jantung.
"Selamat pagi, Mas." Maya mengatakan ini setelah menetralkan detak jantungnya. "Mas mau sesuatu?"
Fathan menatap Maya begitu sayu. "Mau kamu sebenarnya," jawabnya terus terang. Membuat wajah Maya semakin memerah tak karuan. "Tapi belum boleh ya?"
Lelaki ini membalik tubuh Maya hingga benar-benar menghadapnya. Ia mendekatkan wajah, membuat hidung keduanya hampir bersentuhan. Fathan menelisik ke dalam mata istrinya ini.
"Kapan kira-kira selesai?" Bisiknya dengan suara berat. Fathan kentara sekali menginginkan istrinya saat ini.
Lalu, tanpa menunggu jawaban Maya, Fathan melumat bibir istrinya. Memagutnya sebentar, memberikan efek sengatan listrik pada Maya. Hanya sebentar. Karena Fathan kembali menarik dirinya, menatapnya begitu dalam, lalu mengelus pipi istrinya dengan sayang.
Ini benar-benar sisi lain dari Fathan yang tak pernah Maya lihat sebelumnya. Sebelum menikah, sosok Fathan yang Maya kenal adalah lelaki yang serius, ngomongnya irit, langsung ke intinya, kaku layaknya kanebo kering. Meskipun begitu, Fathan sangat perhatian pada Maya. Bahkan tanpa banyak bicara, lelaki itu benar-benar perhatian lewat perlakuannya.
Fathan juga terbilang anti skin to skin. Ya meskipun terkadang pemuda ini tarik-tarik tangan Maya. Atau menggenggam jemari Maya. Tapi paling hanya sebatas itu dan itu pun jarang sekali terjadi.
Tapi ini apa, Fathan menempelinya seperti perangko. Bahkan lelaki itu bisa dibilang m***m juga. Ya meskipun Maya hatinya berbunga-bunga juga karena merasa Ia menjadi istri yang diinginkan. Hanya ini di luar ekspektasi saja bikin Maya agak kaget.
Tapi senang, kok. Siapa sih yang tidak senang ketika kita begitu diinginkan oleh suami sendiri?
"Kamis mungkin sudah selesai. Sekalian malam jumat." Maya ikutan berbisik. Perempuan ini tersenyum nakal membuat Fathan semakin gemas saja. Fathan jadi ingin mencubit pipi wanitanya ini.
Memang kalau Maya mah, sebenarnya tidak kaku-kaku amat. Ya meskipun dia agak pendiam. Tapi ketika kenal lumayan seru dan cerewet. Gadis itu juga sangat manja dan sensitif. Ya lumayan mengimbangi Fathan lah.
Pertama kali berdekatan dengan Maya, Fathan memang sering dibuat gonjang ganjing dengan gadis ini. Apalagi melihat kedekatan Maya dengan Arfan, mantan kekasih Maya dulu, Fathan benar-benar meradang. Maya memang membuat dunia Fathan jungkir balik.
"Oke. Kamu sudah pikirin mau KB apa? Atau nggak usah saja ya?" Fathan mencomot brokoli tepung satu. Merasakannya sejenak. "Enak ini, Sayang."
Fathan berharap, Maya tak akan mengenakan KB apapun itu. Biarlah sedikasihnya saja. Cepat atau lambat, tidak perlu diburu, namun juga tak ditunda.
"Aku belum siap kalau harus punya anak, Mas. Mas kan tau. Aku mau kuliah dulu."
Namun Maya sebaliknya. Gadis ini ingin fokus kuliah dulu sebelum memiliki anak.
"Kalau untuk KB, aku belum putusin mau pakai apa, sementara Mas pakai pengaman dulu nggak papa ya?" lanjut Maya sembari menatap mata teduh suaminya.
"Kan masih bisa tetap kuliah. Paling hanya cuti 1 atau 2 semester." Fathan masih berusaha meyakinkan Maya.
"Tapi kan nggak fokus, Mas. Lagian kita juga harus nabung nabung dulu." Maya mengambil segelas air, lalu memberikannya untuk Fathan.
Fathan menipiskan bibir. Sebenarnya dia sudah tau ini. Sudah pernah dibahas sebelumnya. Hanya Fathan yang lagi iseng-iseng berhadiah. Siapa tau istrinya bakal berubah pikiran kan.
"Baiklah." Dengan senang hati, Fathan meminum air pemberian Maya.
"Jangan marah, ya?" Maya bergelayut manja di lengan Fathan. Menatap suaminya yang seperti tanpa emosi. Ini yang selalu Maya bingungkan tiap kali bersama Fathan. Fathan ini benar-benar kaku, dan jarang menunjukkan ekspresinya. Maya jadi tak tau apa yang dirasakan suaminya ini. Marah kah? Senang kah? Sedih kah?
"Nggak marah, Istriku." Fathan mengecup kening Maya sekilas. "Aku mandi dulu ya. Kamu ke kampus jam berapa?"
Maya menoleh pada jam dinding yang menempel di dinding. Masih jam setengah 6 pagi. "Setengah 7 berangkat. Jam 7 aku kuliah. Bentar lagi aku mandi juga."
Fathan mengangguk. "Aku anter ya. Jam 8 aku baru kuliah."
Pemuda itu kembali mengelus rambut Maya singkat lalu menghilang kembali. Kini tinggal Maya yang membereskan masakannya sebelum nantinya akan dibuat sarapan untuknya juga Fathan.
***