Ini adalah untuk pertama kalinya Maya kuliah diantar oleh suaminya. Tentu saja, gadis ini senang sekali. Sebenarnya, sebelum ini, Fathan juga pernah mengantar Maya kuliah. Namun hanya sesekali karena mereka belum menikah dan belum tinggal bersama.
Jadwal Fathan saat kuliah di jurusan Arsitektur bisa dibilang sangat padat. Belum lagi pemuda ini juga bekerja part time di dunia real estate. Sehingga mereka juga tidak bisa sering-sering bertemu sebelum ini. Puncaknya saat dua bulan yang lalu setelah mereka menikah, Fathan mendapat tawaran mendadak untuk belajar proyek skala nasional di luar kota selama dua bulan. Sehingga, tepat setelah menikah, Fathan justru meninggalkan istrinya ini, dan mereka baru bertemu lagi kemarin.
Akhirnya, setelah sekian lama bisa bertemu kembali. Hati siapa yang tak berbunga-bunga?
Kalau tidak ingat jadwal kuliah mereka yang padat, Maya pasti sudah meminta untuk berbulan madu. Namun sebaiknya untuk urusan itu harus ditunda dulu. Kuliah tetap nomor satu.
“Nanti selesai kuliah jam berapa?” Fathan bertanya saat Maya mencium punggung tangannya. Beberapa pasang mata bahkan tampak melirik mereka karena mereka terlihat seperti sepasang suami istri. Padahal ya memang suami istri. Cuma mungkin semua akan mengira kalau mereka hanya sepasang kekasih yang kelewat bucin saja.
“Sore, Mas. Nanti aku kabarin. Kalau Mas nggak bisa jemput nggak papa, aku bisa naik angkot juga.”
Maya memang sudah terbiasa naik angkot setiap hari. Sehingga dia tak terlalu menggantungkan diri pada Fathan. Toh suaminya ini juga pasti punya kesibukan.
Fathan menipiskan bibirnya. “Selama aku bisa jemput, ku jemput.”
Maya mengulum senyum. “Baiklah, Suamiku. Yaudah sana gih.”
“Kenapa buru-buru sekali?” Fathan memicingkan mata, menatap curiga pada Maya.
Maya jadi ikut memicingkan matanya. “Lah ya aku mau masuk loh.” Ia mencibir.
Fathan ini bisa dibilang sangat cemburuan. Ia sering takut kalau ada yang menggoda atau mendekati Maya. Padahal kalau dipikir, siapa juga yang tertarik pada Maya selain Fathan ini ya?
Berbeda dengan Fathan yang melihat Maya begitu cantik dan rupawan. Maya malah melihat dirinya sendiri seperti upik abu. Tidak ada istimewanya sama sekali. Makanya, dia tidak pernah takut akan ada yang menggodanya.
Fathan menghela napas. Sebenarnya, dia masih ingin melihat wajah istrinya. Andaikan bisa maka Fathan akan mengajak istrinya berlibur saja. “Kamu masuk dulu. Nanti kalau sudah masuk, aku pergi.”
“Hmm, oke deh.”
Lalu perlahan sepasang suami istri ini pun berpisah. Sesekali, Maya kembali menoleh ke belakang, dan Fathan masih bertahan disana.
Maya mengulum senyum. Suaminya itu, manis sekali. Bagaimana Maya tak jatuh hati?
***
Siang hari, Maya pergi ke perpustakaan sembari menunggu jadwal kuliah berikutnya yang masih sekitar 1 jam lagi. Gadis itu berjalan sembari menyembunyikan kotak bekalnya. Rencananya, Maya akan makan sebentar lalu mencari beberapa buku yang cocok untuk bacaannya. Tenang saja, Maya tak akan makan di dalam perpustakaan. Gadis itu akan memakan makan siangnya di taman rahasia dalam gedung perpustakaan.
Maya sibuk menoleh kanan kiri untuk memastikan tak ada yang memperhatikannya. Namun, Ia tak sadar jika aksinya ini mengundang perhatian seseorang.
“Ngapain celingak celinguk gitu?”
Segera saja Maya menegakkan punggungnya. Kaget sendiri. Namun menyadari bahwa itu suara yang sangat dikenalnya, gadis itu segera menoleh memastikan.
“Ya ampun, Mas, kirain siapa.” Ia memegang dadanya karena syok. Gadis itu baru ingat kalau suaminya ini adalah salah satu penghuni tetap perpustakaan.
“Lagian, mau ngapain sih?” Fathan ikut menoleh kanan kiri. Sepi. Tak ada orang. Ia segera menarik Maya untuk masuk ke tempatnya sedari tadi duduk. Gazebo dengan bilik-bilik yang agak tertutup. Membuat tak ada yang melihat keduanya begitu mereka masuk ke dalam bilik tersebut.
“Kebetulan, Sayang. Aku mau makan. Kamu sudah makan?”
Maya jadi senang karena dapat tempat duduk seprivasi ini. Ia duduk dengan nyaman. Mulai membuka kotak bekalnya.
Fathan mengangguk singkat. Ia memperhatikan Maya yang membuka isi bekalnya. Kenapa mendadak jadi lapar begini? Padahal 30 menit yang lalu, Fathan pun sudah melahap bekal dengan ini yang sama.
“Mas mau?”
Maya malah menyuapkan untuk dirinya sendiri. Niat pamer atau mau ngeprank ini bu istri tercinta?
“Mau nggak, Mas?” Maya bertanya sekali lagi.
Fathan berdehem. “Mau kalau disuapin.”
“Uhuk.” Maya seketika tersedak membuat Fathan panik. Pemuda itu buru-buru menepuk punggung istrinya. Begitu agak tenang, Fathan memberikan air minum dalam botol yang Ia bawa. Sebenarnya Maya bawa botol minum juga sih tapi biarlah minum Fathan saja yang berkurang.
“Maaf, Mas, kaget aku.” Maya mengatakan ini setelah benar-benar merasa lega.
Fathan jadi mengerutkan dahinya. “Kenapa kaget? Memang salah kalau disuapin istri?”
Nggak salah, Sayangku, tapi ini kan di kampus.
Maya menjawab dari dalam hatinya.
Menyadari bahwa pemuda ini tak mungkin mendengarkan suara hatinya, maka Maya hanya menggeleng sembari mengulum senyum. Lucu sekali memang si Fathan ini. Kaku kaku tapi bucinnya bikin gemas. Bikin Maya ingin cepat pulang aja biar bisa segera memeluk suaminya ini.
Baiklah, karena sepertinya tempatnya sepi dan ada yang melihat, boleh lah romantisan sama suami sendiri. Maka, Maya segera menyendokkan nasi beserta sayur dan lauknya ke mulut Fathan. Fathan menerimanya dengan suka cinta membuat Maya semakin tersenyum lebar.
“Masakan kamu enak. Aku suka,” puji Fathan di sela-sela makannya.
Mendengar ini, Maya jadi makin tak bisa berhenti tersenyum. Belajar dimana sih Fathan bikin Maya salting terus begini?
“Makasih.” Maya menjawab sembari masih tetap tersenyum.
“Jangan senyum-senyum terus.” Fathan mengatakan ini dengan begitu tenang. Berbanding terbalik dengan Maya yang langsung menipiskan bibirnya.
“Kok gitu?” Memangnya senyum Maya jelek ya?
“Nanti aku nggak kuat.”
Loading sesaat. Maya malah tak paham dengan apa yang Fathan katakan.
Nggak kuat untuk apa?
Fathan jadi menghela napas melihat istrinya yang malah jadi clueless begini. Polos polos begini malah tambah bikin nggak kuat, nggak sih?
“Ini masih siang. Kalau terus begini, bisa-bisa kamu aku bawa pulang sekarang.” Suara Fathan menjadi berat.
Hening sejenak. Maya akhirnya mengerti apa yang tengah Fathan pikirkan.
Waduh, bisa-bisa mereka malah ciuman disini. Gawat.
Menghindari hal memalukan itu terjadi, Maya segera membereskan barangnya. Untungnya Ia telah selesai makan.
“K-kalau gitu aku pergi dulu. Bentar lagi ada kelas.” Maya berkali-kali membasahi tenggorokannya hanya untuk mengatakan ini. “Kamu masih mau disini, Mas?”
Fathan mengangguk. “Ini kelas terakhir kan? Habis itu pulang?”
Maya mengecek jam tangannya. Kurang 10 menit lagi Ia masuk kelas. “Ia, Mas mau nunggu?”
Dan Fathan pun kembali mengangguk.
Hening sejenak. Entah dengan keberanian apa, Maya mengecup pipi Fathan sekilas. Namun itu cukup membuat Fathan terpaku.
“Tunggu, Sayang. Jam 3 aku selesai.” Lalu gadis itu pun tersenyum manis meninggalkan Fathan yang masih terpaku.
Apa-apaan ini? Kenapa Maya bisa semanis ini?
***