Akhirnya kelas selesai juga. Maya keluar kelas dengan tergesa. Gadis itu senang sekali. Entahlah. Bertemu dengan Fathan sudah menjadi penyemangat nya.
Meskipun Maya terlihat biasa saja. Dia jarang cemburuan. Juga jarang posesif. Dia terlihat biasa pada suaminya ini. Kalau orang lihat mungkin seperti cintanya Fathan ini bertepuk sebelah tangan. Namun sebetulnya dia sangat menyukai Fathan. Jantungnya selalu saja berdegup kencang tiap bersama Fathan. Tentu saja. Kalau tidak, dia tak akan mau menikah di usia semuda ini.
"Maya!“
Sesaat, panggilan itu membuat Maya oleng. Maya berbalik. Gadis itu mendapati seseorang lelaki yang sudah berdiri di belakangnya sembari tersenyum.
Perkenalkan, dia Arfan. Dia adalah satu-satunya mantan yang Maya punya. Arfan pernah menduduki tempat teristimewa di hati Maya. Selain berpacaran, mereka juga bersahabat sejak kecil. Sehingga, bahkan meskipun sudah putus pun dulu, hubungan keduanya masih sangat dekat.
Arfan menempeli Maya seperti perangko. Arfan juga sangat perhatian dan posesif pada Maya. Arfan tau segalanya tentang Maya. Hanya saja, kesalahan yang tak bisa Maya maafkan, Arfan punya banyak perempuan.
Arfan sangat menyukai Maya. Serius. Namun Ia tak mampu menjadikan Maya satu-satunya. Karena Ia masih sibuk dengan para wanitanya.
Namun tetap saja, Arfan selalu mengikuti Maya ke mana-mana. Ini yang membuat Fathan geram.
Fathan yang perlahan menyukai Maya, jadi merasa terganggu karena gadis ini selalu bersama seorang lelaki. Fathan tidak suka. Sangat tidak suka.
Sejak saat itu, barulah Fathan menyadari perasaannya. Fathan berjanji akan memperjuangkan Maya bagaimanapun caranya. Ia tak akan rela jika Maya terus jatuh ke tangan lelaki yang bahkan tidak bisa menjadikan dia perempuan satu-satunya.
Sementara Maya, sebenarnya dia sangat menyukai Arfan. Sekali lagi, Arfan adalah dunianya saat itu. Tapi perlakuan Fathan padanya membuatnya bergetar. Segalanya tentang Fathan membuat jantungnya sering tak karuan. Maya tidak bisa mengabaikan Fathan. Karenanya, gadis itu mencoba membuka hati, dan menerima Fathan menjadi suaminya.
Tapi kini semuanya berbeda. Fathan adalah dunianya sekarang. Fathan adalah segalanya bagi Maya.
Maya tidak pernah merasa terpaksa menerima Fathan. Justru gadis ini bersyukur telah menemukan Fathan dalam hidupnya.
"Mau pulang, May?"
Seharusnya begitu kan? Semoga saja begitu ya.
"May?"
Eh?
Maya mengerjap. Gadis itu kembali memandang Arfan yang tengah menunggu jawabannya.
"Iya. Kok kamu disini?"
Maya menatap sekeliling. Ini masih area Fakultas Kedokteran. Lalu untuk apa Arfan disini? Jurusan Arfan kan di FISIP. Dia bukannya sengaja mau menemui Maya kan?
"Oh, tadi nganterin cewekku. Dia fakultas ini. Eh lihat kamu."
Arfan tersenyum. Mungkin kalau dulu, Arfan tak akan berbicara seperti ini. Dia akan menutupi kalau dia punya pacar - bahkan meskipun statusnya dengan Maya juga sudah putus. Dia akan banyak alasan. Ini dan itu yang menunjukkan bahwa dia tak memiliki kekasih dan hanya mengejar Maya. Dan tak lupa juga memberikan sentuhan seperti menyentuh kepala Maya atau hal lain yang bikin Maya susah move on.
Tapi sekarang, mana berani dia begitu. Meskipun berat, dia akan menghargai pernikahan Maya.
"Oh, jurusan apa?" Maya bertanya.
Kalau Maya kan jurusan Farmasi. Kalau Arfan rata-rata yang dia incar biasanya dokter ya?
"Ilmu kedokteran."
Bingo. Sesuai dugaan. Maya jadi manggut-manggut.
"Mau pulang ya? Mau aku anter?" Arfan menawarkan yang langsung dibalas dengan lirikan tajam dari Maya. Cari masalah kalau gitu mah.
Pemuda itu langsung nyengir. "Hehe. Kamu dijemput ya?"
"Iya, Arfan."
Dasar rubah hitam. Untung Maya sudah ada pawang. Kalau belum mah, bisa terjerat pesonanya lagi, kalau dia sesenyum itu.
"Ehem."
Nah itu pawangnya datang.
Maya menoleh. Mendapati Fathan yang kini menatap tajam pada mereka berdua. Waduh gawat juga kalau begini. Bisa-bisa Maya juga kena marah.
"Ada apa ini?" Fathan segera menarik Maya, menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
"Woo, santai bro. Gue nggak sengaja lihat Maya, terus gue sapa. Gitu doang."
Arfan sebenarnya, pada akhirnya pernah memperjuangkan Maya setengah mati, saat menyadari ada yang mulai menggantikan posisinya. Namun tetap saja, sudah terlambat bagi Maya. Bahkan hingga kini, Arfan masih berharap, bahwa dia pemenangnya, bukan orang lain.
Tapi keputusan Maya menerima Fathan menjadi suaminya tidak bisa diganggu gugat. Arfan tidak bisa menggeser posisi se sakral itu.
Fathan menoleh pada Maya, yang langsung dibalas anggukan brutal dari wanitanya ini. Berharap tidak ada yang salah paham.
"Oke." Lalu Fathan menggandeng Maya. "Ayo, Sayang." Ia beranjak, tak peduli dengan Arfan lagi.
Sementara Maya, hanya tersenyum kecut ke arah Arfan. Ia lalu mulai mengikuti suaminya.
Arfan hanya mampu menipiskan bibir. Hatinya masih nyeri. Namun Ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Ini murni kesalahannya. Andai saja Arfan bisa berubah, mungkin sampai sekarang Maya masih menjadi miliknya. Tapi dia juga tak bisa mengubah keadaan. Dia hanya bisa berharap Maya bahagia dengan suami kaku dan posesif nya itu.
Ia juga berharap, Ia bisa memandang Maya dengan biasa saja. Tanpa perasaan cinta lagi yang membuat dadanya nyeri.
Andai saja dia bisa mencintai salah satu wanitanya, seperti dia mencintai Maya.
***
“Ngapain dia di Fakultas kamu? Sengaja mau nemuin kamu ya?"
Fathan mengatakan ini saat Ia membonceng Maya dengan motornya, menuju apartemen mereka. Masih kesal banget dia sebenarnya tiba-tiba ketemu Arfan lagi.
"Ngapain coba nemuin aku? Katanya sih abis nganterin ceweknya, Mas." Maya berusaha tenang. Takut banget dia sebenarnya.
Kalau Fathan marah gimana ya? Marahnya orang pendiam kan seram.
"Masa?"
"Ya mana aku tau, Mas. Orang dia bilangnya gitu."
Tapi Maya jadi keki juga. Kok malah jadi dia yang dicurigai?
Mendengar balasan Maya yang agak ngegas, Fathan berhenti mendebat. Lelaki ini menarik tangan Maya yang sedari tadi tak melingkar di perutnya. Ia menggenggam jemari tangan Maya.
"Kalau bisa, jangan nemuin dia lagi ya, apalagi kalau pas nggak ada aku."
"Aku nggak nemuin dia, Mas. Itu nggak sengaja ketemu. Ih." Maya mencubit perut Fathan karena gemas. Lagian kenapa juga tidak percaya banget sama istri sendiri.
"Baiklah, Sayang. Aku minta maaf." Fathan mengusap punggung tangan Maya.
"Yaudah, jangan tiba-tiba marah gitu. Aku takut. Dengerin penjelasan aku dulu makanya." Maya mengomel.
Fathan hanya mengangguk-angguk tak berani lagi membantah. Meskipun Maya ini penurut, tapi kalau sudah terlanjur mengomel atau bahkan sampai ngambek, suram sekali. Fathan jelas tak ingin itu terjadi.
Melihat Fathan yang tak lagi mendebat nya, Maya senang. Ia bersandar pada punggung Fathan. Kini tangannya melingkar sepenuhnya pada perut Fathan.
"Aku sayang banget sama kamu loh." Maya menggerutu.
"Aku tau, Sayang."
Kini keduanya tampak tersenyum dalam diam. Suasana sore yang menyenangkan, tampak mendukung bahagianya mereka.
Semoga saja, selalu bahagia ya?
***