Arfan tampak duduk di depan fakultasnya. Pemuda itu termangu. Tak ada semangat hidup sama sekali. Seperti bukan Arfan yang biasanya.
Pandangannya menerawang. Jauh saat dirinya masih duduk di kelas 11.
“Diem terus.”
Suara Arfan menginterupsi beragam pertanyaan yang ada di kepala Maya. Pemuda tampan itu duduk di sisi kiri meja guru. Sementara Maya berada di sisi kanan lainnya dari meja. Keduanya terhalang oleh meja guru yang menjadi saksi perbincangan mereka.
Kelas kosong. Dan kelas jadi sangat ramai. Tapi tetap tak seramai hati mereka berdua.
Arfan menatap Maya dalam. Dan parahnya, gadis itu masih saja blushing ditatap si buaya satu ini.
“Suka-suka dong,” jawabnya sambil memalingkan muka.
“Aku ada salah ya?” Arfan bertanya polos. Pandangannya lurus menatap Maya.
Maya memandang Arfan sekilas, “banyak lah,” lalu membuang muka kembali.
“Ya kalo aku ada salah, kamu ngomong dong, May. Kalo kamu diem terus, aku mana ngerti.”
“Gak usah dibahas.” Maya sudah ingin beranjak dan menyandarkan kepalanya di mejanya sendiri kalau saja tak mendengar decakan Arfan yang kelewat kesas.
Arfan mendecak. “Gitu aja terus, May. Gak usah ngomong. Pendem aja semuanya sendirian.” Ia menarik napas sejenak. “Kita temenan berapa tahun sih? Sampai waktu kita pacaran pun, kamu gak pernah nyeritain masalah dan perasaan kamu. Apa susahnya sih tinggal ngomong, kamu kenapa?” Arfan terlihat sangat frustasi menghadapi Maya.
Maya tersenyum miring. Gadis itu menutup bukunya lalu menatap Arfan lamat-lamat. “Apa susahnya kamu bilang? Kamu gampang banget ya ngomong gitu.”
“Ya makanya ngomong, kamu kenapa, Sayang?” tanya Arfan dengan nada hiperbolis. Pemuda ini menatap Maya gemas sambil mengangkat tangan seperti tengah mencakar udara kosong.
“Terus menurut kamu, aku harus bilang, ‘Arfan jangan tarik ulur anak orang dong’ gitu? Iya?”
Arfan tersentak. Maya sudah memutar tubuhnya ke kiri hingga benar-benar menghadap pemuda ini. Ia sudah akan membuka mulut tapi Maya kembali bersuara.
“Berapa kali sih kamu kayak gini, hah? Gak cuma sekali loh. Kamu kasih perhatian. Kasih harapan. Terus tiba-tiba jalan sama cewek lain." Sejenak, Maya berhenti.
“Apa? Kamu mau bilang kalo yang kemarin itu anak pilihan abi kamu lagi, iya? Atau yang sekarang anak pilihan umi kamu, gitu? Atau pilihan Bang Adhan sekalian.” Maya mencerca Arfan dengan beragam kalimat yang selama ini bergemuruh di pikiran dan hati Maya. Seperti luka dalam itu telah tertoreh di hatinya, hingga menimbulkan trauma pada diri gadis ini.
Arfan berdehem sambil melirik ke depan membuat Maya tanpa sadar mengikuti pandangannya.
Dirga. Dengan polosnya pemuda ini berdiri di depan meja guru -tepat di hadapan mereka sambil nyengir kuda.
“Hehe. Gue mau ambil absensi. Ada panggilan ketua kelas,” katanya sambil meringis. Tanpa banyak kata lagi, pemuda itu segera kabur setelah meraih absensi yang diletakkan di meja guru.
Keheningan kembali tercipta. Maya sudah tak mengoceh lagi. Gadis itu sudah tertunduk dalam dengan bahu yang sesekali bergetar. Membuat Arfan jadi menghela napasnya pelan.
Arfan tidak bisa melihat gadisnya menangis.
Pemuda itu mendorong pelan meja guru beserta kursinya yang memisahkan mereka berdua. Ia menyelinap masuk ke ruang yang Ia ciptakan sendiri, mendekati gadis di sebelahnya.
“Terus mau kamu gimana?” tanya Arfan lebih kalem.
Maya diam.
“Balikan mau? Biar aku gak main-main sama yang lain.”
“GAK MAU LAH.”
Maya menggerutu dalam hatinya. Tapi lalu membuka mulutnya kembali, “ya gak usah perhatiin aku. Pacaran aja sama cewek-cewekmu yang lain. Beres.”
“Mana bisa gitu sih? Aku...”
"Heh, ngelamun aja lo."
Mana bisa sih Arfan mengabaikan Maya? Mana bisa sih Arfan nggak perhatian ke Maya?
"Haloooo."
Mau Arfan punya seribu cewek pun, Maya tetap satu-satunya yang ada di hati Arfan.
"HEH ARFAN!“
Mendengar ada yang berteriak di sebelahnya, Arfan menoleh ke arah sumber suara.
Itu Dinda. Dinda adalah satu satu sahabat Maya. Bahkan gadis itu juga sebangku dengan Maya selama tiga tahun di SMA.
Saat kelas 11, Arfan pindah ke sekolah Maya, bahkan di kelas yang sama dengan gadis itu. Sejak saat itu Arfan, Maya, Dinda dan beberapa anak lain ini jadi satu squad. Sering bersama gitu. Bahkan Fathan juga sering diajak untuk sekedar makan bareng atau nongki-nongki cantik.
Di saat inilah, terjadi perebutan kekuasaan untuk menunjukkan siapa yang lebih berhak atas Maya. Padahal, sebenarnya yang paling berhak kan Maya sendiri ya?
"Hey, Din." Arfan membalas sekenanya.
"Kenapa sih? Kepikiran Maya?" Dinda bertanya asal tapi dirinya jadi mengerutkan kening melihat Arfan yang tak bereaksi.
Beneran kepikiran Maya?
"Beneran kepikiran Maya ya?" Dinda bertanya dramatis. Arfan justru malah mengangguk lemah membuat gadis itu jadi ingin menjitaknya.
"Ya ampun, dia udah jadi istri orang loh. Udah bahagia dia." Ia kini duduk di sebelah Arfan. "Move on dong, Fan. Masa diantara cewek-cewek lo nggak ada yang bisa lo sayang beneran?" Gadis itu mengomel.
Dinda memang tau banget bagaimana hubungan mereka dulu. Sempat juga mendukung hubungan Maya Arfan ini. Melihat Arfan yang selalu mengikuti Maya kemana-mana, juga bagaimana Arfan memperlakukan Maya, sebagai seorang sahabat, tentu Dinda sangat mendukung.
Bisa dibilang Dinda ini shipper Maya Arfan garis keras.
Tapi mengetahui Arfan yang ternyata punya banyak wanita, Dinda jadi ikutan gemas. Batal sudah dukungannya selama ini.
"Ngomong doang mah gampang, Din." Arfan menggerutu. Ia mengerucutkan bibirnya. Namun berubah jadi manis kembali saat ada seorang gadis yang lewat depan mereka.
Buaya mah beda.
"Ya iya lah. Kalo ngomong aja udah susah, apalagi ngelakuinnya." Dinda mencibir. "Cari cewek yang bisa lo ajak serius, Arfan. Jangan main-main terus."
Melihat Arfan yang tak tertarik dengan apa yang Dinda katakan, dan malah sibuk tebar pesona ke para adik tingkat yang lewat, membuat Dinda benar-benar menggeplak pemuda ini.
"Jangan cengengesan aja kerjaan lo. Cari cewek yang bener!“ Dinda benar-benar gemas sekarang.
Arfan jadi kembali ke mode serius lagi.
"Cari yang kayak Maya dimana sih?" Ia mengacak rambutnya.
Melihat Arfan yang seperti ini, Dinda jadi nggak tega. Sepertinya pemuda ini beneran frustasi.
"Jangan nyari yang kayak Maya, anjir. Dia limited edition.“ Dinda menipiskan bibirnya.
Heran juga sebenarnya sama buaya satu ini. Setia nggak bisa, giliran ditinggal malah galau. Kemarin kemarin kemana aja coba?
Terus kok bisa gitu di saat galau begini masih sempat tepe tepe ya teman-teman?
"Terus gue harus nyari yang kayak siapa, Din? Elo?" Arfan sangat dramatis saat mengatakan ini.
Mata Dinda membulat sempurna. "Sinting!"
Dan selanjutnya hanya tawa Arfan yang terdengar.
Memang dasar buaya sinting.
***