Maya sedang memakan cemilan kesukaannya saat handphonenya tiba-tiba bergetar. Ia melirik nya sekilas. Ada nama Dinda disana.
Adinda Naila
Maya lagi dimana?
Wah tumben Dinda nanyain. Dinda adalah sahabat Maya semenjak sekolah.
Azkayra Maya A.
Lagi di apart aja, Din. Kenapa?
Adinda Naila
Oalah, ada Fathan?
Maya menoleh pada Fathan yang tampak sibuk membaca buku. Mereka duduk bersebelahan di sofa, dengan Maya yang bersandar pada suaminya, sesekali menyuapi Fathan dengan cemilannya.
Fathan tak dekat dengan Dinda. Fathan dari kelas IPA 3, sementara Maya, Dinda dan Arfan, ada di kelas IPA 1.
Tapi kenapa Dinda nanyain Fathan?
Azkayra Maya A.
Ada sih. Ada apa emang?
Adinda Naila
Yaah, yaudah deh hehe
Azkayra Maya A.
Lah, kenapa Din?
Adinda Naila
Mau main sih hehe. Tapi ga deh nanti ganggu qtime kalian. Lain kali aja kalau lo lagi sendiri di apart ya
Oalah, mau main toh? Kebetulan, Maya sudah lama tak bertemu dengan sahabatnya ini.
Azkayra Maya
Oalah, ya nggak papa lah Din, main aja. Lagi santai kok ini. Nanti kalau kamu nggak nyaman, dia ku umpetin dulu deh.
Adinda Naila
Njir, ya nggak sampe segitunya kali May.
Beneran nih gapapa?
Maya kembali menoleh pada Fathan. Meraih tangannya seakan meminta perhatian.
"Mas, Dinda mau main sini, nggak papa?" tanyanya separuh memohon.
Fathan yang sedari tadi sibuk membaca, kini menoleh, menatap istrinya yang begitu teduh.
"Ya nggak papa, Dinda kan sering nemenin kamu pas nggak ada aku kan?" Fathan balik bertanya.
Memang benar, sebelum Maya Fathan menikah, dan sebelum Fathan tinggal disini. Dinda sering sekali menginap disini. Selain menemani Maya yang sendirian, tempat tinggal Dinda juga lumayan jauh. Dinda tinggal di rumah neneknya, bisa dibilang agak jauh meskipun masih bisa ditempuh kurang dari satu jam perjalanan. Ketika ada jeda lama saat kuliah, Dinda sering mampir ke tempat ini, sekedar bersantai dan menunggu waktu kuliah berikutnya. Terkadang malah Maya Dinda ini masak bareng untuk menghemat pengeluaran.
Maya memang sangat cocok dengan Dinda. Saat SMP, mereka tak pernah sekelas, namun sudah akrab. Saat SMA, mereka sekelas dan bahkan sebangku selama tiga tahun. Saat kuliah, mereka beda fakultas, namun masih sering bertemu.
Terbaik memang si Dinda ini.
"Mas nggak terganggu kan?" Maya bertanya sekali lagi.
Fathan menggeleng. "Nggak, Sayang." Ia mengusap pipi istrinya. "Kalau gitu aku ke ruang kerja aja ya? Biar kalian nyaman ngobrolnya."
"Terima kasih, Suamiku."
Sebagai tanda terima kasih, Maya mencium pipi suaminya membuat Fathan terdiam beberapa saat. Ia malah menatap Maya dengan pandangan horor.
"Kalau kayak gini malah jadinya pingin nggak ngijinin aja ya." Ia menarik tubuh istrinya, mengendus aroma tubuh Maya yang selalu saja wangi.
Maya tersenyum menggoda. Namun Ia malah menggeleng. "Belum waktunya." Mengatakan ini malah dengan cara berbisik di telinga Fathan.
Wah. Apa nggak bahaya?
Fathan menarik tengkuk Maya lebih mendekat lagi. Mencium bibir manis istrinya yang langsung dibalas oleh Maya ini. Seperti memang istrinya menunggu untuk dicium.
Pagutan demi pagutan semakin meningkatkan suhu tubuh keduanya. Fathan lelaki dingin yang sangat sopan, namun kenapa Ia sangat mahir berciuman? Membuat Maya mabuk kepayang begini.
"Kapan waktunya, Sayang?" Bertanya seperti ini. Namun tak mengizinkan Maya menjawab, karena Fathan menciumnya lagi dan lagi. Bahkan Fathan telah mengangkat istrinya agar duduk di pangkuannya. Menarik tubuh Maya agar semakin dan semakin dekat.
Ia menjelajah seluruh wajah Maya. Bahkan hingga ke ceruk lehernya. Menggigit bagian bahu Maya membuat gadis itu menjerit.
Ya namanya juga manten anyar ya. Baru mencium aroma nya saja rasanya sudah ingin tancap gas. Namun memang nasibnya Fathan yang datang di saat istrinya halangan begini. Jadi semua yang mereka lakukan serasa nanggung dan justru membuat hasrat keduanya semakin menggebu setiap saat.
"Besok."
Maya bahkan tak sempat meneruskan kalimatnya, karena Fathan sudah keburu membungkamnya dengan ciuman.
"Pas banget, besok aku libur." Fathan menghujani Maya dengan ciuman-ciuman kecil yang menggoda saat mengatakan ini.
"Aku juga. Kan emang tanggal merah." Maya terkikik geli. Namun tak bertahan lama karena Fathan kembali menghujaninya dengan ciuman membuat Maya semakin kewalahan. Kabut nafsu itu terasa sangat tebal menyelimuti Fathan.
Kini ciuman-ciuman kecil itu, berubah menjadi ciuman yang panjang dan menuntut.
Ya ampun, lelaki pendiam kalau sudah bernafsu ternyata horor sekali ya. Seperti tak ada waktu lagi.
Maya tiba-tiba ingat jika Ia belum membalas pesan Dinda yang terakhir, karena memang Maya ingin memastikannya terlebih dahulu dengan Fathan. Tapi kalau sudah begini, bagaimana?
Maya saja tak tau, sampai kapan mereka saling mencumbu begini.
"Besok pagi sudah boleh?" Fathan bertanya di sela-sela ciumannya. Ia semakin merangkul Maya membuat si kembar yang begitu menonjol itu menempel sempurna pada d**a bidang Fathan.
Fathan mendesis. Pertanda Ia semakin mengingini gadis ini.
"Insya Allah besok subuh-subuh aku sudah suci."
Fathan semakin semangat saja mendengar ini. Ia meremas p****t Maya membuat gadis itu mendesah pelan.
Bukannya Maya bilang besok ya?
"Sayang, besok." Maya sedikit memohon. Tangannya berpegang erat pada punggung Fathan karena lelaki ini kini telah menggerakkan pinggulnya, membuat Maya juga otomatis bergerak naik turun.
"Latihan dulu kan nggak papa." Fathan tersenyum. Kini, Ia merebahkan tubuh Maya di sofa. "Bilang maaf ke Dinda ya, mainnya kapan-kapan aja."
Lalu percintaan panas di siang hari ini pun kembali dimulai. Tentu saja, Fathan tak sampai hati memasukkannya di kala kondisi Maya yang seperti itu. Namun Ia tetap bisa mendapat pelepasan karena kuluman dan hisapan Maya yang amatir, namun serupa vacuum cleaner membuat Fathan kalang kabut dibuatnya.
"Mas."
Padahal Fathan telah mendapatkan kenikmatan. Namun pria ini masih saja menggigit dan memijat si kembar milik Maya membuat wanita ini juga terus mendesis di bawah kendalinya.
"Mas, tolong."
Maya tak dapat mengatasi ini. Padahal hidangan utama baru akan dibuka besok, tapi kenapa Ia sudah dibuat tak berdaya hari ini? Rasanya seperti Ia akan meledak sekarang.
"Tolong apa, Sayang?"
Maya menatap Fathan. Ia begitu lemah sekarang. Ingin meminta sesuatu tapi kenapa malu sekali?
"Mas." Maya tak berani meminta. Ia hanya mampu berbisik lirih. Dengan matanya yang sangat sendu, Ia menatap Fathan yang kini memandangnya dengan penuh cinta.
Kini, Fathan dengan naluri nya, menghisap buah wanitanya kuat kuat serupa seorang bayi. Maya mendesis seraya memegang bahu Fathan kuat-kuat.
Bagaimana Fathan bisa tahu? Ini yang sedari tadi Maya inginkan. Gadis itu terus saja mendesis dan bergerak tak karuan. Fathan jadi makin menggerakkan mulutnya. Saking gemasnya, bahkan hingga menggigit buah itu.
Maya memekik. "Mas, jangan digigit." Ia meronta.
"Maaf, Sayang. Mas terlalu gemas."
Lalu Fathan kembali menghisap buah itu lagi. Membuat Maya melenguh nikmat tak karuan.
Gerakan Fathan yang semakin kuat, ditambah dengan pijatan Fathan di sisi satunya, memberikan gelinjang aneh seperti saat Fathan pertama kali menyentuhnya. Semakin kuat dan semakin kuat.
"Mas… " Gadis itu memekik tertahan. Saat Ia mengalami getaran hebat hingga puncak kenikmatan itu datang. Ia mengejang. Lalu mulai merasakan lemas seluruh tubuhnya.
Bagaimana ini?
Yang seperti ini katanya baru latihan. Lalu bagaimana Ia akan melewati hari esok?
***