Dinda tersenyum geli membaca pesan balasan Maya yang baru Ia terima 2 jam kemudian. Untungnya, dia memang tak berharap banyak tadi. Ia bisa maklum.
Namanya juga sudah menikah, apalagi masih baru, jadi pasti bawaannya ingin bersama-sama. Berduaan di apartemen, sudah sah sebagai suami istri, wah pasti bawaannya ingin ehem-ehem. Bercinta menikmati kenikmatan duniawi.
Aduh, malah pikiran Dinda ikut terkontaminasi nih.
Sebenarnya, tadi Dinda ada kelas, namun dosennya tidak masuk. Lalu Dinda masih ada kelas lagi sore. Jadi, rencananya Ia akan menunggu kelas sore di rumah Maya aja, lumayan bisa ngadem. Sembari update cerita kehidupan bersama sahabatnya ini.
Tapi, karena sepertinya Maya sedang sibuk, maka disinilah Dinda, di gazebo pojok fakultasnya. Untungnya tidak terlalu ramai. Kalau ramai kan males banget ya bun.
"Din, cemilan."
Tiba-tiba, ada sekotak brownies yang mendarat di meja tempatnya bernaung. Tanpa menoleh, Dinda tau itu siapa. Segera Ia buka dan dilahap nya satu. Enak sekali.
"Dari cewek yang mana nih?" Dinda masih sibuk mengunyah.
Kalau dipikir-pikir, punya temen yang punya banyak cewek enak juga ya. Dinda jadi sering kebanjiran rejeki. Arfan memang loyal sih. Jadi setiap pacar atau gebetannya mengirimkan makanan, Ia selalu membaginya pada Dinda. Kadang Dinda bisa mendapatkan sekotak makanan full kalau pas Arfan tidak tertarik dengan makanan itu.
Arfan duduk di kursi tepat di depan Dinda. "Ada, FILKOM sana. Fakultasnya Intan sama Nadya."
Dinda manggut-manggut. Intan sama Nadya ini juga adalah teman sekelas mereka saat SMA. Satu squad juga. Dulu bahkan pernah mengincar Arfan juga. Ya sebenarnya, siapa sih yang nggak pernah mengincar Arfan?
Kecuali Dinda ya.
"Eh, btw gue tadi di FILKOM juga lihat ada cewek cantik, seksi banget lagi. Sekelas sama anak-anak." Arfan bercerita dengan semangat. Yang dimaksud anak-anak ini maksudnya ya Intan sama Nadya.
"Lo naksir?" Dinda santai sekali menanyakan ini. Tidak heran, setiap waktu selalu saja ada yang baru. Bahkan dalam satu minggu, Dinda bisa mendapatkan informasi tentang lebih dari 10 gadis cantik, dari fakultas dan angkatan yang berbeda-beda. Bahkan kadang juga ada yang dari kampus sebelah.
Memang Arfan si pecinta wanita.
"Hmm, tapi sayang, dia ceweknya Aksa."
Alis Dinda berkerut. "Aksa siapa?"
"Lo nggak tau? Ada, anak angkatan atas, FEB."
Dinda manggut-manggut. Kalau Arfan mah memang jaringannya luas, jadi wajar kalau kenal banyak orang. Dinda sih nggak segitunya. Meskipun dia juga bukan anak pendiam, bahkan bisa dibilang berisik, tapi dia nggak nemplok sana-sini. Sibuk paling sama sahabat dekatnya aja.
"Terus lo nyerah gitu? Tumben." Dinda mencibir.
Bukan tanpa alasan memang dia mengatakan ini. Arfan sudah beberapa kali bikin cewek berpaling dari pacarnya. Entahlah. Apa pesona Arfan yang terlalu kuat, atau ceweknya yang terlalu bodoh? Kenapa meninggalkan pacarnya demi Arfan? Padahal sama Arfan ini juga nggak jelas. Ujung-ujungnya juga diselingkuhi. Dinda benar-benar tak habis pikir dengan ini.
"Lah masalahnya ini Aksa loh. Casanovanya kampus. Gue mah jauh, Din." Aksa geleng-geleng kepala.
"Apaan tuh Casanova?" Dinda bertanya polos. Membuat Arfan hampir menyemburkan tawanya. Baru sadar kalau Dinda dengan Maya ini sebelas dua belas, sama-sama polos.
"Casanova tuh levelnya lebih tinggi dari playboy." Arfan melirik Dinda yang mengerutkan alisnya. "Kalau playboy biasa kan ceweknya yang sana sini. Kalau si casanova ini, bisa ngeseks sana sini juga."
"Iyuuuuh." Dinda menggeleng jijik. "Kok dia mau ya pacaran sama cowok begitu."
Arfan menghentikan bahu. Tapi lalu Ia teringat satu hal. "Tapi kabarnya, si cowoknya udah berhenti bermain, semenjak sama cewek ini. Jadi kayak dia mulai setia gitu." Ia menambahkan.
Mendengar ini, Dinda langsung seperti menemukan mutiara yang hilang. "Serius lo? Wah, maksud gue yang kayak gini loh, Fan. Cewek yang bisa bikin lo berhenti bermain. Kayak gitu harusnya." Dinda jadi manggut-manggut.
Ternyata ada juga yang seperti itu ya. Berarti harusnya Arfan bisa kan mencoba? Jadi setia gitu maksudnya.
"Ye, dia udah nggak dapet sana sini, tapi yakin gue, dia pasti dapet jatah full tiap hari dari ceweknya yang sekarang. Orang body ceweknya aja aduhai kayak gitu. Gue juga mau kali. Kalau udah dapet yang begitu, nggak bisa gue sama yang lain, maunya sama dia doang." Arfan mencibir. Membuat Dinda jadi menggeplak kepalanya karena gemas.
"Nggak boleh gitu. Ya gue nggak tau ya dia dapat jatah apa nggak dari ceweknya. Cuman maksud gue minimal kan ceweknya jadi cuma 1 doang gitu loh, Fan. Masa lo nggak nangkep sih?"
Gemas sekali mbak Dinda dengan mas Arfan ini.
Arfan terkekeh. "Gue nangkep, Din. Lah iya, gue kan juga bilang, mau aja gue kalau cewek cuma satu, asalkan bisa dapet jatah full gitu. FULL. TIAP HARI. Kalau bisa yang body gitar Spanyol gitu. Ada nggak ya yang mau?" Arfan menekankan pada dua hal itu. Ia malah kini jadi berandai-andai.
"Sinting. Nikah sana lo kalo mau jatah tiap hari." Dinda kembali menjitak temannya yang semakin gila ini. "Udah pake pilih-pilih lagi anjir. Gak paham gue."
Dinda geleng-geleng kepala. Nggak paham dia, serius. Sekarang Arfan malah menaikkan standar ceweknya jadi yang bisa ngasih jatah tiap hari juga. Sudah gitu pake ditambah body gitar Spanyol juga. Kan gila ya.
Memangnya ada cewek yang tampan dinikahin tapi ngasih jatah tiap hari begitu? Apa nggak bahaya tuh.
"Ih ya, Din, namanya juga usaha. Lo gitu banget sih."
Arfan kini mencubit pipi Dinda gemas. Untung saja teman perempuannya ini sudah seperti lelaki, jadi tidak tertarik pada dirinya.
Padahal Dinda cantik, imut, dan sebenarnya postur tubuhnya boleh juga. Tiba-tiba, Arfan jadi menyadari kalau Dinda ini bahkan lebih seksi dari Maya. Tapi kenapa ya kok bisa diantara teman-teman Maya yang lain, hanya Dinda yang tak tertarik dengan dirinya. Seleranya yang seperti apa sih?
"Btw lo ngomongin gue mulu." Arfan jadi mengalihkan perhatian. "Lo sendiri, udah punya cowok belum? Tipe cowok lo yang kayak gimana sih?"
Ini yang Arfan tak pernah tau. Padahal mereka berteman sudah lama. Bahkan semenjak kuliah, mereka jadi semakin dekat karena satu jurusan. Dinda yang selalu menemaninya ke mana-mana. Dinda anti baper jadi Arfan juga enak ngajaknya.
"Yang pasti nggak kayak elo sih." Dinda mencibir.
Arfan langsung memegang dadanya. "Ouch, sakit hati gue, Din." Ia berkata dramatis.
Dinda jadi semakin meringis geli. Temannya ini benar-benar gila. Untung saja Dinda tak suka dengan temannya ini. Kalau suka, bisa gawat, bisa makan hati tiap hari seperti Maya dulu.
***