Pagi-pagi sekali, Maya sudah selesai memasak. Entahlah. Ia punya firasat untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan Ia juga telah mencuci piring dan mencuci baju.
Rajin sekali pengantin baru ini ya.
Tepat jam 5 pagi, Fathan telah selesai sholat. Segeralah Ia ke dapur untuk mencari istrinya. Tapi tidak ada pemirsa. Ternyata, Maya sedang ada di ruang tengah, sedang merapikan meja dll.
"Sayang, ngapain?" Fathan memandang Maya horor. Bagaimana tidak, bukankah ini terlalu pagi untuk melakukan semua pekerjaan itu?
"Oh, Mas. Ini lagi beresin rumah." Maya menjawab dengan polosnya.
"Lah iya, maksudku, ngapain jam segini bersih-bersih?"
"Oh, eng… nggak papa?" Maya menjawab, yang terdengar seperti pertanyaan. Mungkin dia bingung juga, kenapa ya?
"Kan bisa nanti, Sayang, aku bantu."
Fathan menarik bibirnya menjadi satu garis lurus. Maya langsung merasa tidak nyaman kala Fathan memandangnya seperti itu. Memang Maya salah ya?
"Nggak papa, Mas. Hehe." Malah jadi salting sendiri Maya. Ia menggigit bibirnya. Menundukkan kepala menatap meja yang telah rapi.
Fathan menghela napas. "Lain kali, sama-sama ya, jangan terlalu pagi juga. Apalagi ini kan libur."
"Mas marah ya? Maafin, Sayang." Maya mengerucutkan bibirnya. Ia kini tepat menghadap Fathan. Memegangi kedua tangan pria ini.
"Nggak marah, aku justru merasa bersalah. Aku takut kamu kecapekan." Fathan memandang istrinya lamat-lamat. Seperti ada yang aneh.
"Hehehe."
Kini, Maya memeluk suaminya. Jantungnya berdetak sangat kencang. Ia seperti tengah berhadapan dengan presiden. Tapi ini suaminya. Kenapa Ia gugup sekali?
"Kalo capek, pijitin ya?" Ia menatap Fathan sekilas. Lalu kembali menenggelamkan wajahnya pada d**a bidang Fathan.
Fathan membeku di tempatnya. Wangi tubuh Maya, meracuni pikirannya. Ia mengelus rambut Maya sebentar. Terasa dingin. Lalu baru tersadar bahwa rambut istrinya ini memang basah. Inikah yang Fathan rasa agak berbeda?
Maya keramas sepagi ini?
Lalu tiba-tiba Ia ingat sesuatu. Mungkinkah karena ini Maya rajin sekali di pagi hari? Karena takut nanti tak ada waktu?
Fathan mengulum senyumnya. Seketika, suasana berubah. Ia kembali menatap istrinya lamat-lamat. Mendekatkan wajah, berbisik di telinga istrinya.
"Mau pijat sekarang aja?" bisiknya membuat Maya menutup matanya sejenak.
Tak menunggu jawaban Maya, Fathan menggendong Maya ala bridal style. Maya mengalungkan tangannya erat pada leher Fathan. Mereka menuju ke kamar.
Fathan meletakkan Maya ke kamar dengan hati-hati. Serupa Ia pajangan kaca yang mudah pecah. Ia menelisik memandang istrinya. Menatap begitu dalam.
"Buka bajumu, Sayang." Fathan memerintah.
Meskipun Maya merasa aneh karena tiba-tiba saja disuruh membuka baju, namun Maya tetap melakukannya. Ia melepas bajunya, hingga menampilkan tubuh Maya yang polos. Fathan bahkan sampai menelan ludah melihat ini.
"Tengkurap, Sayang." Fathan kembali memberikan instruksi. Mau tak mau, Maya menurut meskipun Ia merasa aneh juga.
Perlahan, Fathan mengurut tubuhnya membuat Maya semakin mengerutkan keningnya.
Beneran dipijat?
Padahal maksud Maya, Ia ngode untuk sesuatu yang plus plus, tapi kenapa beneran dipijat ya? Apa Fathan tidak paham maksudnya?
Maya ingin protes namun karena pijatan suaminya enak juga maka Ia pun membiarkannya.
Beberapa menit berlalu. Gerakan tangan Fathan yang semula mengurut perlahan, kini berganti menjadi usapan lembut, yang entah kenapa terasa menggelikan. Bahkan sapuan hangat napas Fathan terasa di leher Maya.
Gadis itu mendesis. Merasakan jemari tangan Fathan yang bermain di atas punggung dan perutnya. Bahkan, tangan nakal itu terkadang menelusup ke celah dadanya, memijat nya perlahan. Tangan Maya sampai mengepal erat merasakan daerah sensitif nya terjamah.
Ini Fathan paham maksudnya ya?
"Sudah boleh kan?" Bisikan Fathan di telinganya menjawab pertanyaan dalam hati Maya.
Wanita ini tersenyum. Ia mengangguk sekilas membuat Fathan juga ikut tersenyum. Pandangannya semakin menggelap. Tangannya kini tak lagi hanya memijat d**a Maya, namun meremasnya. Ia bahkan memilin puncak itu.
"Mas." Maya menggigit bibir. Suaminya ini benar-benar ya.
Fathan tersenyum miring. Tak sabar, Ia ikut melepaskan bajunya. Lalu membalik tubuh istrinya hingga mereka kini berhadapan. Ia menindih istrinya, merasakan seluruh tubuhnya hangat saat keduanya bersentuhan.
"Kenapa, Sayang?" bisiknya di telinga Maya. Mereka kini, berpandangan teramat lama. Mata keduanya memancarkan cinta yang sesungguhnya. Fathan apalagi, begitu memandang istrinya penuh pemujaan.
Fathan mencium kening, pipi, hidung, telinga, hingga dagu istrinya. Tak lupa, Ia berlama-lama mencium bibir merah nan ranum itu. Melumatnya membuat Maya memejamkan mata, merasakan cinta yang Fathan berikan.
Perlahan, tangan Fathan juga kembali bermain di gundukan itu. Maya mendesis, Ia menggerakkan tubuhnya menahan gejolak yang Ia rasakan.
Beberapa menit berselang. Tak perlu ditanyakan bagaimana keadaan keduanya. Ciuman yang semula lembut kini mulai menuntut. Bahkan ciuman itu turun ke leher hingga ke seluruh tubuh Maya. Fathan bahkan meninggalkan tanda ke beberapa bagian. Tentunya, bagian yang tertutup hingga tak ada orang lain tau selain dirinya.
Ia mengusap mahkota istrinya. Meraba nya yang memang sudah basah sedari tadi.
"Terima kasih, Sayang, sudah menjadi istriku." Fathan mengatakan ini sambil mulai memasukkan pusakanya. Siap membawa mereka berdua ke kenikmatan surgawi yang berpahala.
Semula, tak ada kenikmatan. Fathan berkali-kali ingin berhenti melihat Maya yang menangis kesakitan. Ia tak ingin menyakiti istrinya.
Namun Maya menahannya, meminta untuk terus melakukannya, bahkan meskipun harus sepelan mungkin.
Dan disinilah mereka, memekik tertahan, saat Maya benar-benar telah menyerahkan harta paling berharga dalam dirinya.
Perlahan tapi pasti, kesakitan dan rasa tak nyaman itu, mulai tergantikan dengan kenikmatan yang luar biasa. Maya sampai berkali-kali memekik, saat Fathan berkali-kali menghantam nya, memasukkan dirinya hingga ke bagian terdalam.
"Enak banget, Sayang."
Berkali-kali, Fathan memberikan apresiasi. Melontarkan kalimat-kalimat cinta membuat Maya benar-benar seperti terbang ke angkasa. Ia menegang, merasakan gelombang cinta yang sebentar lagi akan sampai. Menyadari ini, Fathan mempercepat temponya. Mereka seperti diburu waktu. Hingga saat itu tiba, keduanya mencapai puncak di saat yang bersamaan.
Fathan langsung ambruk di tubuh istrinya. Ia kini memandang istrinya lamat-lamat. Tersenyum begitu teduh.
"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu." Kini mencium kening Maya dengan penuh cinta.
Lalu keduanya tersenyum. Perlahan terlelap karena kelelahan.
Tapi itu tak lama, karena satu jam kemudian, keduanya terbangun. Fathan kembali menatap Maya begitu penuh cinta. Begitu penuh damba.
Maya tak mengelak. Meskipun bagian bawahnya terasa sangat sakit. Maklum, namanya juga pertama kali. Tapi nikmatnya sentuhan Fathan membuat Maya juga tak mampu menahan diri. Lagipula, prinsip Maya, selama suami ingin, maka Maya pun sama. Kejadian tadi pagi terulang kembali. Entah untuk berapa kali.
Mungkin ini yang dimaksud firasat Maya. Nanti tak akan sempat untuk melakukan pekerjaan rumah. Karena kedua insan yang sedang bucin-bucinnya ini, sedang sibuk membangun cinta.
***