Maya sedang beristirahat malam ini. Entah sudah berapa kali Ia bercinta dengan Fathan. Fathan kuat sekali hari ini. Bahkan meskipun lelaki itu bilang kakinya sudah seperti jeli, namun Ia masih kuat menggendong Maya ke ranjang. Karena terakhir kali Fathan mengajaknya bermain di dapur. Sudah seperti pro player saja Fathan ini.
Sebenarnya, kejadian di dapur itu tidak sengaja juga. Mereka kembali terbawa suasana saat menikmati cemilan yang mereka beli setelah makan malam. Menggoda sekali memang Maya-nya ini. Fathan jadi tidak tahan.
Padahal awalnya Fathan hanya ingin mengusap sudut bibir Maya yang belepotan. Tapi Ia malah menambah belepotan dengan menciumi istrinya itu yang tengah memakan coklat. Pahit manisnya coklat membawa mereka pada ciuman yang tak terkendali. Fathan tak bisa menahannya lagi. Bahkan untuk sekedar berjalan ke kamar tidur aja Fathan sudah malas.
Akhirnya, Ia melakukan penyatuan di dapur itu juga. Memojokkan Maya di kabinet dapur. Mengangkat kakinya sedikit, hingga memasukkan pusakanya membuat Maya memekik tertahan. Seperti itulah cara mereka bermain di dapur.
Berkali-kali Fathan membawanya pada kenikmatan yang teramat sangat. Padahal bagian bawah tubuhnya masih sakit, namun nikmatnya juga luar biasa.
Maya baru merasakan seperti ini. Seperti ada ribuan kepakan kupu-kupu di perutnya. Rasa sakit itu menghilang jika kenikmatan datang. Namun akan kembali lagi jika telah usai.
Kini keduanya sudah tak punya kekuatan untuk beraktivitas. Merebahkan diri, mulai memejamkan mata, itu adalah tujuan sepasang suami istri itu kali ini.
Namun, saat hendak terlelap, Maya baru menyadari satu hal. Ia mengerjap. Menoleh gusar pada Fathan yang kini memejamkan mata.
Demi memuaskan rasa penasaran nya, Maya menggoyangkan tubuh suaminya. Berharap suaminya ini akan sadar dan menjawab pertanyaannya.
"Ada apa sih, Sayang?" Fathan masih memejamkan mata. Merasakan Maya yang tak kunjung berhenti, membuat Ia memeluk Maya hingga membuat wanitanya ini agak menjauhkan diri.
"Mas, bangun sebentar." Maya masih menggoyangkan tubuh suaminya.
Meskipun berat, Fathan membuka matanya. "Ada apa? Kamu mau lagi?" Malah Ia tersenyum menggoda meskipun dengan mata yang kurang dari 5 watt.
Kenapa Fathan jadi m***m begini?
Kalau saja Maya tidak teringat satu hal yang membuatnya khawatir, Ia pasti sudah sangat gemas pada suaminya ini.
Maya berniat memegang pundak suaminya, namun Fathan malah benar-benar menariknya, membuat Maya kembali jatuh ke pelukannya.
Fathan berusaha tersenyum pada Maya meskipun Ia sebenarnya mengantuk sekali. Masih hanya mampu melek separuh. Ia memeluk Maya sembari tersenyum.
"Aku capek, Sayang. Kamu masih mau lagi?" tanya Fathan sekali lagi.
Maya menghela napas. Ia tidak tahan. Ia menjitak kepala suaminya agar sadar sedikit. Kebanyakan dapat jatah sampai teler ya gini. Tau gini Maya tidak usah ngasih jatah banyak-banyak.
Eh tapi Maya juga suka sih.
"Mas tadi nggak pake pengaman ya?"
Pertanyaan Maya ini membuat Fathan tersadar sepenuhnya. Ia menelan ludah. Mengerjap menatap Maya yang menunggu jawabannya. Dirinya kini mengingat sebentar. Menonton ulang video selama seharian ini dalam otaknya.
Sepertinya benar-benar lupa.
"Aduh, lupa, Sayang. Terlanjur keenakan banget. Nggak bisa langsung pake pengaman juga kan nanti tambah sakit." Ia beralasan.
Tapi sebenarnya memang benar. Fathan tidak sengaja soal ini. Padahal Ia juga sudah membelinya dengan berbagai macam varian dan rasa, tapi Ia benar-benar tak kepikiran sama sekali. Memang sudah terlanjur enak.
Dan memang benar, mana bisa langsung pakai dari awal? Sudah pasti sakit banget di Maya. Fathan juga tak ingin membuat istrinya tak nyaman begitu.
Alasan sih ini. Kenyataannya, Fathan benar-benar tak ingat sama sekali dalam sehari ini.
Mungkin karena sebenarnya dia tak ingin pakai ya? Hanya karena terpaksa demi Maya, makanya gitu.
"Berapa kali itu, Mas?" Maya bertanya ambigu, untungnya, bisa dipahami oleh Fathan.
Berapa kali ya? Sepertinya setiap kali bermain, selalu dikeluarkan di dalam. Ya meskipun pas akhir-akhir sudah pasti hanya sisa-sisa dan lebih banyak airnya daripada benihnya. Dan meskipun juga dari awal memang bukan benih yang paling bagus, karena yang utama malah sudah dikeluarkan kemarin bersama dengan kuluman Maya. Namun tetap saja apapun itu, sudah masuk ke rahim Maya semua.
Menyadari ini, Fathan kembali menelan ludah. "Hmm, kalaupun sampai hamil kan juga nggak papa, Sayang. Kita kan sudah menikah." Ia berusaha menghibur istrinya yang semakin gusar.
"Tapi kan aku belum siap, Mas. Mas kan tau itu. Maya masih ingin kuliah." Maya malah jadi mengerucutkan bibirnya. Nada suaranya bergetar. Lelah di tubuhnya jadi berkali-kali lipat terasa semua.
Melihat Maya yang seperti akan menangis, membuat Fathan panik, tapi juga merasa aneh.
"Jangan nangis dong, Sayang. Malah kesannya aku kayak habis merawanin kamu." Fathan berbicara sekenanya.
"Yah emang Mas habis merawanin aku, gimana sih?" balas Maya sewot.
Sejenak, Fathan ingin tertawa. Namun ditahannya lagi karena tak ingin Maya tersinggung dan semakin marah.
"Ya maksudnya kan kita sudah menikah, bukannya belum menikah terus aku apa-apain kamu gitu, Sayang." Ia membelai rambut Maya dengan sayang. "Lain kali aku janji deh nggak bakal lupa. Ya? Maaf ya?"
Maya semakin mengerucutkan bibirnya. "Terus gimana ini." Bibirnya mencebik. Fathan jadi gemas ingin menggigit bibir merah muda itu. Aduh, malah m***m lagi si Fathan.
"Kan belum masa subur, Sayang. Kemungkinannya kecil." Fathan kembali menghibur. Entah kenapa, dalam hati malah berharap bakalan jadi. Berharap Maya segera mengandung anaknya. Tapi di satu sisi kasihan Maya juga jika dia sampai tertekan. Meskipun Fathan sangat ingin, tapi kalau Maya belum ingin, buat apa?
Maya menghela napas. Sudahlah. "Besok aku beli postinor saja."
Lalu gadis itu pun membuka selimut nya. Masuk ke dalam selimut, tak memperhatikan Fathan lagi.
Fathan kembali menghela napas. Kini, Ia kembali memejamkan mata. Tak sadar bahwa Maya masih mencebikkan bibirnya, dari balik selimut itu.
Sebenarnya Fathan tidak tau apa postinor itu. Lalu, tetiba dia berpikir sesuatu. Apakah ini obat penggugur kandungan? Tidak mungkin kan Maya membeli obat semacam itu.
"Sayang." Ia menekuri lengan Maya.
Maya menurunkan selimutnya, memandang Fathan dengan pandangan penuh tanya.
"Postinor itu apa?" tanya Fathan polos.
Hening sejenak.
Seketika Maya menyemburkan tawanya. Ia malah kini jadi memeluk Fathan, bersandar pada tubuh pria ini. "Pil KB, Sayang. Pil darurat."
"Aman?"
"Aman mungkin." Maya mengedikkan bahu. Fathan jadi makin menatapnya gusar.
Masa seorang anak Farmasi masih ragu sebuah obat itu aman apa nggak?
Melihat Fathan yang menatapnya khawatir, Maya mengulum senyum.
Ya ampun, kalau gini mana bisa marah?
"Aman, Suamiku. Yang nggak aman kalau sering berada di dekat kamu." Maya mengecup pipi Fathan membuat pemuda itu mendelik.
"Kamu ya," Fathan pura-pura geram.
"Heh, stop stop, katanya capek ih." Maya tertawa geli saat tiba-tiba Fathan kembali menyerangnya.
Waduh, seperti tidak ada capeknya memang ya yang namanya pengantin baru itu.
***