Firman pulang kerumahnya dengan perasaan yang bimbang, apa yang harus aku lakukan? apa aku harus kerumah sakit menemui Diana tapi aku takut kedatanganku membuat ayah semakin marah batin Firman.
Di belakang Firman, dokter Abi datang dan menepuk punggung Firman dari belakang sofa ruang tamu rumah keluarganya.
" Sedang memikirkan apa kamu? " tanya Abi.
Firman terkejut dan membuyarkan lamunanya. "Kakak bikin kaget aja" Firman mencoba menyembunyikan perasaannya dengan berpura pura memeriksa barang di tasnya.
"Sudah gak usah akting, kamu lagi mikirin pacar kamu ya" selidik Abi.
"Apaan sih kakak sok tau" jawab Firman kesal.
"Aku taulah, kan aku dokter yang nanganin pacar kamu, dia lagi keritis gara gara mikirin kamu yang udah ninggalin dia" teriak Abi niat menggoda adiknya itu.
"Apa? benar omongan kakak, apa dia baik baik saja, bagaimana keadaannya sekarang kak? tolong jawab pertanyaanku kak" teriak Firman panik mendengar kondisi Diana saat ini.
"Bisa santai sedikit gak, gak usah sok drama, kamu kan udah ninggalin dia, kamu tau kondisi dia tertekan sekali dengan hal yang dia alami sampai sampai dia mengigau nama kamu, tapi sampai sekarang dia masih belum sadar" Abi dengan santai menjawab pertanyaan adiknya.
"Apa dia akan baik baik saja? apa yang harus aku lakukan kak, agar bisa membantunya" Firman sangat panik dengar penjelasan dari Abi.
"Sekarang yang bisa kamu lakukan, coba kamu datang kerumah sakit dan menemani Diana, dan ajak bicara dia agar dia cepat sadar dari tidur panjangnya" Abi meninggalkan Firman yang terlihat sangat gelisah dan sedih.
Tanpa pikir panjang Firman pergi menuju rumah sakit,
Terserah nanti apa yang akan terjadi, sekarang aku harus menemani Diana dan membuat dia kembali ke pelukanku lagi
Firman mempercepat langkahnya sesampainya dirumah sakit, dia masuk menuju ruangan Diana.
"Ayah ibu bagaimana kondisi Diana"
dilihatnya ayah yang gelisah dan ibu yang menangis disisi Diana.
Ayah menghampiri Firman dengan ekpresi emosi, namun ibu menahannya.
"Sudah ayah, kita butuh Firman untuk menemani Diana disini ayah" ibu memelas kepada ayah.
"Baik aku harap anak ini bisa membantu Diana" ucap ayah dengan tidak suka.
Firman pun mendekati Diana dan memeluk Diana yang sedang tak sadarkan diri.
"Diana sayang, aku disini, aku sayang kamu, aku cinta sama kamu, maafkan sikap aku yang telah menyampakkanmu, aku harap kau bisa kembali denganku" tangis Firman saat melihat kondisi Diana yang terdiam dan terbujur di atas ranjang.
"Diana, bangun sayang kita mulai kembali hubungan ini, aku butuh kamu disisiku sayang, selama ini kamu penyemangatku aku melakukan semuanya hanya ingin sukses dan kelak bisa menjadi suamimu yang dapat kau banggakan" tangis Firman sambil menciumi tangan Diana yang tak bergerak sama sekali.
Tak disangka, mata Diana mulai terbuka.
"Diana" ucap Firman.
"Firman" suara Diana dengan agak serak dan pelan.
"Kamu sudah sadar sayang" Firman senang dengan apa yang dilihat.
Ibu dan ayah menghampiri Diana dan memeluknya.
"Anakku sayang, akhirnya kau sadar juga, terimakasih Tuhan kau masih menyembuhkan anakku ini" tangis bahagia ayah dan ibu setelah melihat anaknya sadar.
"Ayah ibu" sebut Diana mencoba bangkit dari tidurnya.
"Hati hati sayang kamu tidur dulu, jangan bangun sebentar ayah panggilkan dokter ya" ayah berlari menuju ruang perawat.
"Terimakasih nak Firman kamu mau ke sini dan membantu kami" ibu memeluk Diana dan menatap Firman.
"Ini semua kesalahan Firman bu, saya harap ibu tidak keberatan dengan keberadaan saya di sini" ucap Firman dengan wajah canggung.
"Tidak nak saya sangat berterimakasih karena nak Firman, Diana bisa kembali kepada kami" ibu Diana tak henti hentinya berterimakasih.
Diana masih merasa lemas, semenjak Diana sadarkan diri Firman setia menemani disisinya. Meski ayah masih marah kepada Firman tapi ayah mencoba mengalah demi kesembuhan Diana.
"Diana, apa kamu lapar? " cemas Firman menatap Diana yang terlihat tak berdaya.
"Iya aku sangat lapar" manja Diana.
Firman kemudian mendudukan Diana di kepala ranjang, dan mulai menyuapinya dengan bubur ayam.
"Ayo habiskan biar tenagamu cepat pulih, biar kita bisa jalan jalan lagi seperti dulu" bujuk Firman sembari menyuapi Diana.
Diana mengangguk dan tersenyum ke arah Firman.
Melihat puterinya terlihat bahagia ayah ikut senang, Mungkin kebahagiaan Diana hanya dengan Firman aku hanya dapat berharap semoga mereka tidak memiliki masalah kedepannya batin Ayah.
Diana sudah tertidur pulas setelah makan dan minum obat yang diberikan dokter.
"Ayah ibu Firman pamit dulu ini sudah malam, saya lihat Diana juga sudah tertidur" pamit Firman pada kedua orang tua Diana.
"Firman, sebentar ada yang ingin ayah bicarakan" ayah mengajak keluar dari ruang perawatan Diana.
"Firman ayah berterimakasih atas kedatangan kamu kesini yang bisa membantu kesembuhan puteri saya, dan saya merestui hubungan kalian lagi, namun dengan satu syarat jangan pernah kamu menyakiti anak ayah lagi bila kamu membuat anak ayah sedih dan mempermaikan anak ayah jangan harap kamu bisa melihat anak ayah lagi, dan saya harap kamu bisa membahagiakan anak ayah" ucap ayah panjang lebar.
"Terimakasih ayah masih memeberikan kepercayaannya kepada Firman saya berjanji akan membahagiakan Diana" ucap Firman dengan mantap.
Kini hari hari yang dilewati begitu indah, Firman hampir setiap hari datang kerumah Diana.
"Sayang selamat pagi" Firman tersenyum melihat Diana yang sedang membersihkan halaman rumahnya.
"Tumben pagi pagi kesini, gak ke kantor kamu" Diana menatap ke arah Firman membawa beberapa kantung belanjaan.
"Tidak kan hari ini hari libur, iya ini aku membawa beberapa bahan masakan, hari ini kan kamu janji mau masakin aku, jadi aku kesini pagi pagi" Firman merayu Diana " Aku laper belum makan, masakin ya sayang".
"Iya sayangku sini sini aku masakin, mau makan apa kamu" ajak Diana sembari masuk kerumah.
"Pengen masakan yang istimewa pokoknya yang dibuat dengan cinta kamu ke aku" Firman mengikuti Diana menuju dapur.
"Ya sudah kamu tunggu di depan nanti aku panggil kalau sudah siap semua" Diana dengan cekatan mulai memasak dengan bahan bahan yang di bawa oleh Firman, selama satu jam Diana berkutat di dapur memasak makanan istimewa untuk sang kekasih.
"Sayang sudah siap" teriak Diana memanggil Firman yang dari tadi membereskan halaman rumah Diana.
"Kamu sedang apa sih di depan diteriaki dari tadi kok gak jawab".
"Ini nata tanaman didepan rumah biar kelihatan bagus, lihat tadi aku kedepan beli tanaman jadi kelihatan bagus depan rumah kamu" ucap Firman.
"Terimakasih sayang, ayo makanannya udah siap katanya tadi laper" Diana mengajak Firman menuju meja makan.
"Emmmmmh, kelihatannya enak nih masak apa saja kamu sayang" tanya Firman.
"Aku cuma masak ayam kecap, cap cay, sama telur balado, semoga kamu suka dengan masakan aku sayang" ujar Diana.
"Tentu aku suka kan ini masakan calon istri aku" puji Firman, Firman makan dengan lahap menghabiskan makanan di piringnya tanpa tersisa.
"Sayang kamu lapar apa doyan sih" Diana menatap Firman makan dengan lahapnya.
"Aku doyan dan lapar sayang, kamu pinter masak besuk besuk masakin aku lagi ya".
Diana senang dengan perubahan Firman, dia berharap tidak ada kesalah pahaman lagi dalam hubungan mereka.
Mereka duduk berdua di sofa ruang tengah, menonton acara tv di siang hari.
"Sayang ayah ibu kemana? dari tadi aku gak lihat mereka" tanya Firman.
"Ayah ibu lagi ke rumah saudara di kampung, tadi pagi mereka berangkat naik kereta" Diana sibuk mengganti channel tv.
"Jadi kita cuma berdua di rumah".
Diana hanya mengangguk menatap Firman.
"Sayang biasanya, kalau cuma berdua gini yang ketiga setan lo" canda Firman.
"Dirumah aku gak ada setan, kan aku sama ibu ayah sering sholat dan ngaji dirumah" jawab Diana yang tak mengerti maksud Firman.
"Kamu ini ngomong apa yang di jawab apa" Firman memanyunkan mulutnya mendengar tanggapan Diana.
"Kan kamu ngomongin setan kan, aku jawab kalau dirumah ini gak ada setan apalagi hantu" Diana menjawab tanpa merasa bersalah.
"Tau ah gelap" Firman asal bicara.
"Kayaknya ini masih siang deh sayang masak udah gelap" Diana semakin tidak mengerti dengan tingkah kekasihnya itu.
"Terserah kamu sayang" Firman pasrah dengan semua ucapan Diana.
"Sudah deh dari pada kamu ngelantur kemana mana mending ceritain kamu magang ditempat ayah bekerja, apa kamu betah magang di sana" Diana membujuk Firman dengan mengobrol topik pembicaraan yang lain.
"Oh itu, iya aku satu kantor sama ayah, pertama kali aku masuk kantor ayah seperti marah sama aku, tapi memang aku yang salah sudah mencampakkan kekasih aku yang cantik ini" Firman mencubit hidup Diana yang mancung.
"Aduh sakit tau" Diana kesal dengan sikap Firman, "Jadi kamu magang disana berapa lama? ".
"Mungkin 2 atau 3 bulan, tapi kalau pihak perusahaan mau memperkerjakan aku, aku mau kerja part time sekalian kuliah jadi aku bakal sibuk banget sayang, sayang kalau nanti aku gak bisa terus sama kamu, kamu harus ngerti ya kalau aku lagi sibuk mungkin selesai magang, aku udah mau skripsi jadi waktu aku bakal sibuk banget jadi kamu harus mengerti dan sabar sama keadaanku" Firman menatap wajah Diana "Dan satu lagi jangan pernah kamu berfikir aku akan meninggalkanmu apalagi mencari wanita lain karena hanya kamu wanita yang ada di hati aku".
"Iya sayang aku akan mencoba mengerti" Diana memegang tangan Firman, dan mereka menikmati waktu berdua dengan rasa bahagia dan tenang.
bersambung....