Makan malam yang sangat canggung bagi Diana, namun dia mencoba tenang dan menikmati makan malam bersama keluarga Firman.
"Diana rumah kamu dimana?" tanya mama.
"Di jalan Anggrek dekat sama alun alun kota ma" Diana gugup menjawab setiap pertanyaan orang tua Firman.
"Rumah kamu dekat sama karyawan papa pak Handoko kalau gitu" ujar papa.
"Pak Handoko itu ayahnya Diana pa, wong Abi dulu pernah ketemu Firman di rumah sakit njagain calon mertuanya" goda Abi.
"Kamu sudah kenal sama Diana, bi?" tanya papa mendengar ucapan Abi.
"Ya kenal lah pa, wong Abi itukan dokter yang menangani ayahnya Diana, Diana juga pernah Abi rawat" Abi melirik ke arah Firman.
"Memang kamu sakit apa Diana?" tanya mama Firman menatap Diana.
"Sakit......" Diana bingung harus bicara apa.
"Diana sempat pingsan ma, mungkin karena kepalanya atau apanya yang sakit jadi di bawa ke rumah sakit, Firman nungguin Diana sampai sembuh kasihan kalau lihat sayangnya aku tidur aja di ranjang" senyum Firman menatap Diana.
Diana bernafas lega dengan pembelaan Firman, karena dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia pernah sakit sebab ditinggalkan Firman.
"Ooooh jadi gitu, Diana kamu harus jaga kesehatan kalau sakit sakit kasihan Firman gak bisa jauh dari kamu" goda mama.
"Iya ma Firman memang gak bisa jauh dari Diana, meskipun dia sakit atau tidak aku selalu ingin bersamanya" kini tangan Firman mengenggam tangan Diana di bawah meja.
"Eheem, kalau mau mesra mesraan nanti kalau sudah gak ada orang kasian nih yang lagi jomblo" sindir Abi.
"Salah sendiri jomblo, cari cewek napa biar ada yang nemenin" balas Firman.
"Diana kapan kapan boleh gak mama sama papa main ke rumah kamu, sekalian biar kita lebih kenal dengan keluarga kamu" pinta mama.
"Ya Diana, papa juga kangen sama ayah kamu sudah lama papa gak pernah bertemu beliau, dulu papa sama ayah kamu teman dekat waktu sekolah ternyata sekarang kita bisa jadi besan" papa tertawa memikirkan ucapannya.
"Dengan senang hati ma pa, tapi maaf kalau rumah Diana gak sebagus rumah papa dan mama" nada suara Diana agak merendah.
"Kami dulu juga bukan siapa siapa, kami juga pernah miskin saat kak Abi masih kecil karena itu kami memiliki banyak waktu dengan kak Abi, namun setelah lahirnya Firman di keluarga kita beberapa usaha yang kami rintis mulai berjalan menjadikan kami sukses seperti sekarang dan kami tidak bisa memberikan banyak waktu serta kasih sayang seperti saat mengasuh kakaknya dulu. Mungkin karena itu, Firman menjadi anak yang sedikit pembangkang tapi papa bersyukur setelah bertemu denganmu Firman bisa berubah ke arah yang lebih baik" ucap papa Firman menatap Diana.
"Meski sebenarnya mama sudah amat kecewa dengan Firman, setelah melihat perubahan sikap Firman yang lebih baik. Mama merasa Firman juga bisa di banggakan dan mama berterimakasih sebab kamu bisa merubah sikap jelek Firman selama ini" mama memeluk Diana dengan sangat hangat.
Diana membalas pelukan mama Firman dengan senyuman, dia bersyukur ternyata keluarga Firman juga bisa menerimanya di tengah tengah mereka.
Suasana makan malam keluarga ini terasa amat sangat berbeda, dari malam malam sebelumnya. Ada canda tawa dan juga saling bercerita satu sama lain.
"Kalau setiap hari seperti ini pasti menyenangkan" harapan Firman di sela sela makan malam.
"Iya sayang, rumah kita jadi tidak sepi. Kita bisa bercerita bersama jadi kita harus sering sering makan bersama seperti ini. Dan kamu Diana kamu harus selalu ikut makan dengan kami" ucap mama sembari menatap ke arah Diana.
"Saya usahakan ma, karena Diana agak sibuk kalau hari hari biasa mungkin kalau ada waktu senggang pasti Diana akan main kesini" Diana mengucapkan dengan senyum yang sangat manis.
Firman merasa senang dengan kedekatan Diana dengan keluarganya. Meskipun mereka baru pertama kali bertemu tapi sudah begitu akrab dan saling bercanda ria.
Semoga ini awal yang baik untuk hubunganku dan Diana, karena dia adalah wanita terindah yang pernah kutemui batin Firman.
Selesainya makan malam keluarga bersama keluarga Firman, Diana pun pamit pulang. Dan tentu di antar Firman, sepanjang perjalanan Firman mengemudi dan memegangi tangan Diana. Firman selalu tersenyum ke arah Diana.
"Terimakasih sayang atas makan malam yang menyenangkan dengan kamu dan keluargaku" ucap Firman.
"Aku juga berterimakasih sudah mau mengenalkan aku kepada keluargamu dan aku bersyukur ternyata mereka mau menerima aku di sana" Diana menatap wajah Firman yang terlihat bahagia.
Sungguh malam yang menyenangkan serta membahagiakan untuk mereka berdua, karena kini keluarga mereka saling merestui hubungan yang telah mereka jalin.
bersambung....