Firman masuk ke rumahnya yang terlihat seperti istana dari luar. Bagaimana tidak, rumah keluarga Subandi ini berdiri ditanah hampir 1 hektare. Dan memiliki berbagai fasilitas, mulai dari halaman yang luas, kolam renang, tempat gym pribadi, tempat karaoke pribadi serta beberapa kamar dan juga ruangan yang memiliki desain klasik dan juga mewah tak lupa rumah ini juga dilengkapi dengan lift.
Jangan ditanya tentang keamanan di rumah ini, setiap sudut rumah di pasang cctv yang canggih dan ada beberapa security yang bertugas di gerbang maupun di depan rumah.
Meskipun Firman memiliki fasilitas yang sangat mewah, dia tidak merasa senang. Setiap kali dia pulang kerumah, Firman hanya mendapati beberapa asisten rumah tangga yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Sedang papa, mama dan kakaknya sibuk diluar sana dengan pekerjaan mereka.
Firman merasa sendiri di rumah, dia memutuskan menghabiskan waktunya di ruang karaoke keluarga. Menikmati alunan lagu, sembari ditemani beberapa snack dapat membuat Firman sedikit menikmati kehidupannya dirumah.
Tak terasa Firman tertidur di ruang karaoke, keesokan harinya salah satu asisten rumahnya mencoba membangunkan tidur Firman.
"Tuan, bangun nyonya dan tuan sudah menunggu anda di meja makan" ucap asisten itu.
Firman membuka mata dan mulai bangun dari tidurnya.
"Sudah jam berapa ini?" tanya Firman pada asisten rumahnya.
"Sudah jam setengah 7 tuan" ucap asistennya.
"Ya sudah saya mandi dan bersiap dulu" Firman melangkah menuju kamarnya dan menyiapkan diri untuk berangkat ke kantor.
"Pagi anak ku" sambut papa Firman melihat Firman keluar dari lift.
"Pagi juga ayah" Firman duduk bergabung di meja makan.
"Papa dengar dari manager di perusahaan papa, pekerjaan kamu sangat memuaskan dan papa bangga mendengarnya" puji Papa Firman.
"Terimakasih pa, Firman cuma melakukan pekerjaan sesuai dengan kemampuan yang Firman miliki" tanggapan Firman sembari memakan hidangan di piringnya.
"Mama juga bangga dengan kamu nak, maaf sikap mama yang selalu membandingkan kamu ya" Mama tersenyum ke arah Firman. Sungguh ucapan mamanya membuat Firman sangat senang dan bangga atas pencapaiannya.
"Jadi setelah kamu kuliah kamu mau langsung mengambil alih berusahaan papa atau mungkin kamu masih mau berkuliah di luar negri" tawar Papanya.
"Mungkin Firman mau mencari pengalaman dan juga memperdalam ilmu Firman dulu pa, jadi kalau ada kesepatan Firman akan kuliah di luar negri di universitas yang sudah aku inginkan dari dulu" ungkap Firman.
"Baguslah kalau seperti itu, Papa akan selalu mendukung semua keputusan kamu".
Apa yang harus aku ucapkan kepada Diana, apa dia mau berjauhan dengan ku lagi, semoga nanti dia mau menerima semua keputusanku batin Firman dalam hati.
Kegiatan Firman di kantor sangat sibuk, dia harus menyiapkan beberapa file untuk presentasinya. Hingga ia lupa tidak menghubungi Diana.
"Manyun aja, lagi nunggu kabar dari pangeran kamu ya" goda Hendra yang memperhatikan Diana yang kelihatan gelisah memainkan ponselnya.
"Sudah ini makan dulu" Gisna datang membawa nampan berisi 3 porsi bakso berserta 3 es jeruk.
"Susi kemana ya kok belum nongol" Gisna bicara di sela makannya.
"Katanya tadi ke perpustakaan, nyari buku buat jadi referensi buat makalah tugas sastra" ucap Hendra.
"Kan Susi murid telanda, jadi dia selalu berusaha supaya beasiswanya tidak hangus" Diana mulai berbicara.
"Iya kalau kita cuma ngandelin orang tua aja" cela Gisna "Tapi kayaknya dulu kamu juga dapat beasiswa ya kan Di".
"Iya tapi cuma sampai semester 3, nilai aku jelek jadi beasiswanya di cabut deh" Diana pasrah dengan nasibnya.
"Ya jadi otak kamu sama aku sama, sama sama pas pasan" tawa Gisna mengungkapkan dirinya sendiri.
Diana ikut tertawa riang, bersama Hendra dan juga Gisna melupakan sejenak tentang kabar dari Firman.
Kring.... kring...
Satu panggilan masuk ke ponsel Diana, dan ternyata Firman menghubunginya. Diana pun mengangkat telepon dari Firman.
"Siang sayang" sapa Diana dengan senyum indah.
"Ciye yang sudah ditelepon, ya sudah aku sama Hendra pergi dulu cari Susi kamu lanjut telepon sama pangeranmu" Gisna dan Hendra meninggalkan Diana sendirian duduk di kantin.
"Siang juga sayang, maaf ya baru kasih kabar" ucap Firman.
"Gak apa apa, kamu lagi sibuk ya jadi lupa sama aku" jawab Diana.
"Iya ini sayang, tapi sudah selesai kok tinggal nunggu rapat buat presentasi hasil kerja aku" bangga Firman.
"Aku senang lihat kamu tambah sukses" puji Diana.
"Sayang nanti malam kamu bisa gak ikut aku" ajak Firman.
"Kemana sayang?" tanya Diana.
"Ketemu keluarga aku, kalau kamu bisa nanti malam kita makan malam bersama keluarga aku ya" ucap Firman.
"Mau makan dimana emangnya sayang?" tanya Diana malu malu.
"Di rumah aku lah sayang masak mau di hutan" goda Firman.
"Ngeselin" kesal Diana.
"Ya sudah nanti malam aku jemput, jangan lupa dandan yang cantik kan bakal ketemu sama camer kamu" goda Firman di sela sela telponnya.
"Iya iya nanti aku bakal dandan kayak cinderela biar kamu yang jadi pangerannya" canda Diana.
"Tapi kamu jangan pakai sepatu kaca takut kepleset" ledek Firman.
"Apaan sih, nanti tak pakai sandal japit aja biar kayak cinderela kampung aja" Diana mulai kesal.
"Iya sudah nanti sore jam 5 aku jemput ya sayang, sampai jumpa nanti aku matiin ya teleponnya aku mau kerja lagi" pamit Firman.
"Iya sayang selamat bekerja" ucap Diana.
*******
Sore pun tiba, Diana sudah menyiapkan diri untuk bertemu orang tua Firman.
apa mereka mau menerimaku sebagai kekasih Firman, sungguh aku gugup sekali batin Diana membetulkan riasan di wajahnya dan menatap wajahnya di cermin.
Firman datang menjemput Diana ke rumahnya,
"Sore yah, dimana Diana yah?" tanya Firman yang tidak melihat Diana di ruang keluarga.
"Kamu ini dateng dateng yang ditanya cuma Diana aja, sini kamu duduk dulu Diana masih di dalam kamar" ayah menonton pertandingan bola di tv.
"Seru nih ya, siapa yang main yah?" Firman ikut menonton pertandingan sepak bola di tv.
Saking asyiknya ayah dan Firman kompak bersorak sorak saat salah satu pemain mencetak gol.
"GOOOLL....." teriak mereka bersamaan.
"Ada apa ini?" Diana yang keluar dari kamar terkejut dengan teriakkan mereka.
Firman dan Ayah menoleh kearah Diana, mereka takjub dengan penampilan Diana yang terlihat sangat cantik dengan balutan dress panjang bernuasa coklat muda dan mengikat rambutnya ke belakang dengan sedikit riasan di wajahnya menambah kecantikan yang dimiliki Diana.
"Diana kamu mau kemana kok cantik sekali kamu sore ini?" tanya ayah yang masih terpukau dengan penampilan puterinya itu.
"Ayah ini selalu menggoda aku, malu tau!" ujar Diana dengan wajah merah semu.
Firman tak berbicara, dia hanya diam menatap Diana betapa cantiknya kekasihnya itu.
"Mau keluar sama Firman kamu, kok pakai baju formal gitu, kayak mau ketemu sama mertua aja" ledek ayah.
"Iya yah, aku mau ketemu sama orangtuanya Firman" ayah malah terkejut dengan ucapan Diana.
"Beneran Firman kamu mau ajak Diana nemuin keluarga kamu" Firman hanya mengangguk menjawab pertanyaan Ayah.
"Jangan sampai nanti Diana di permalukan oleh keluarga kamu, aku takut karena Diana bukan anak orang berada, jadi tolong lindungi Diana bila nanti keluargamu tidak mau menerima Diana sebagai kekasihmu" pinta ayah pada Diana.
"Tenang ayah, keluargaku bukan seperti yang dikatakan orang orang diluar, meskipun kami dari keluarga berada, saya dan keluarga selalu menghormati orang lain dan tidak pernah memandang dari status sosial" Firman mencoba menyakinkan ayah.
"Baiklah kalau begitu, jangan sampai Diana merasa sedih dan terluka dengan perilaku keluargamu" ayah mewanti wanti karena takut bila keluarga Firman merendahkan Diana.
"Baik saya ajak Diana dulu ya yah, assalamu'alaikum" pamit Firman sembari mencium punggung tangan ayah.
"Diana berangkat yah, ayah jangan khawatir Diana bisa jaga diri" ucap Diana sambil mencium tangan ayahnya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Firman, Diana merasa tegang dan takut dengan apa yang diucapkan ayahnya perihal keluarga Firman. Melihat tingkah Diana yang terlihat gelisah Firman mencoba menenangkannya dengan memegang tangan Diana sembari mengemudikan mobil.
"Sudah gak usah tegang gitu, kamu tuh mau ketemu calon mertua bukan hantu jadi gak perlu takut" ujar Firman.
"Tapi aku takut kalau mereka gak suka dengan kedatanganku di sana, aku takut mereka merendahkanku" wajah Diana terlihat tegang dan takut.
"Tenang kan ada aku, aku bakal jaga dan belain kamu kalau sampai mereka berani menghina kamu".
Diana takjub dengan kemewahan rumah Firman tak disangka rumah Firman sangat besar dan mewah.
"Ini beneran rumah kamu" Diana memastikan pada Firman.
"Ini bukan rumah aku tapi rumah orangtua aku, nanti kalau aku sudah sukses dan kaya bakalan aku belikan satu buat kamu" Firman menjawab pertanyaan Diana dan menghentikan kendaraannya tepat di depan pintu utama rumah itu.
"Ayo keluar jangan bengong aja kamu" Firman membukakan pintu mobilnya untuk Diana,"Sini ayo masuk" Firman menggandeng tangan Diana dan membawanya masuk kedalam rumahnya.
"Selamat datang", sambut mama Firman memeluk Diana "Ini pasti Diana, Firman sudah banyak cerita tentang kamu, benar kata Firman kamu sangat cantik" puji mama melihat penampilan Diana.
"Sini gabung ke meja makan, sebentar lagi kakak Firman juga pulang" ajak papa Firman yang duduk di meja makan.
"Malam om tante" sapa Diana.
"Jangan panggil gitu, panggil saja mama sama papa kan Firman juga panggil orangtua kamu ayah dan ibu" usul mama Firman.
"Mama sangat berterimakasih sama kamu Diana semenjak kenal dengan kamu Firman banyak berubah, sudah gak urakan gak pernah mabuk mabukan dan sekarang dia sudah mau membantu papanya mengurus perusahaan" ucap mama Firman.
"Dan papa juga senang ternyata kamu gadis yang sopan dan cantik pula, memang gak salah Firman kalau cari pacar" puji papa.
"Malam semua" Abi datang bergabung ke meja makan setelah pulang dari rumah sakit.
"Kakak ganti baju dulu sana, kita ada tamu istimewa sekalian kita makan bersama" suruh mama.
"Siap bos" Abi menuju kamarnya untuk berbenah diri.
"Oh iya Diana, ayo kita makan mama sudah masakin makanan yang spesial buat kamu" mama mulai mengambilkan beberapa macam makan mulai dari ayam goreng mentega, sop, udang goreng, cumi saos padang, daging sapi lada hitam yang memenuhi piring Diana.
"Habiskan ya sayang biar kamu agak gemukan" suruh mama kepada Diana. Diana hanya mengangguk ke arah mama.
"Ma kamu itu kalau ngambilin makan anak orang kira kira dong, masak piringnya sampai gak kelihatan" ujar papa " iya kalau Diana itu manol makannya banyak" papa gak habis pikir dengan ulah istrinya itu.
Firman hanya tertawa dengan ulah mamanya, " habiskan sayang nanti mama bisa marah lo kalau gak kamu habiskan" ujar Firman.
Firman ini gak belain aku malah ikutan mama, masak aku suruh makan sebanyak ini batin Diana memandang piringnya yang penuh dengan beberapa makan.
"Abi cepat sini gabung ayo makan!" ajak mama.
"Iya ma ini Abi baru selesai" Abi mulai mengambil makanan yang disajikan.
"Diana kamu kenal Firman dimana?" tanya Mama disela makan malam mereka.
"Saya kenal, saat saya ketemu di konser Firman ma, dia pernah jadi salah satu tamu di sekolah saya" jawab Diana.
"Sekarang kamu kelas berapa Di?" tanya mama lagi.
"Saya sudah semester 4 ma, jurusan sastra" jawab Diana.
"Jadi kalian sudah pacaran lama, mesti saja Firman kok sudah akrab sekali dengan keluarga kamu sampai sampai keluarga sendiri gak diperhatikan" Mama melirik ke arah Firman.
"Apa sih mama ini, kan mama papa sama kak Abi yang jarang dirumah, lagian juga kalian sibuk sendiri sama pekerjaan kalian daripada sendirian lebih baik ke rumah Diana kumpul sama keluarga Diana" kata Firman menikmati makanan di piringnya.
Makan malam yang sedikit canggung untuk Diana, dia merasa sedikit takut dengan kehadirannya di sana. Namun dia mencoba tenang dan menikmati semua makanan yang disajikan.
semoga ini jadi awal yang baik untuk hubungan kami kedepannya ucap Diana di dalam hati.
bersambung.....