Firman tidak percaya dengan apa yang dilakukan temannya itu. Mudahnya dia meniduri cewek yang baru saja dia kenal. Tanpa sadar Firman membentak Brian "Lo tuh gila, ini anak orang jangan buat mainan. Lo gak kasian sama nyokapnya nyariin, Lo kan baru kenal sama cewek ini. Bayangi kalau cewek ini adik lo. Apa lo gak cemas?".
"Lo gak tau rasanya cinta yang indah, yang lo tau cinta yang nyiksa" ujar Brian dengan mabuk.
"Brian, lo gak kasian sama nyokap lo kalau tau anaknya kayak gini. Lo sama aja ngerendahin ibu lo." tegas Firman menyadarkan.
"Gue suka cinta yang nunjukin kayak gini, rasa hangat pelukan dan ciuman. Gak kayak lo basa basi" jelas Brian.
"Gak kayak gini Yan, udah lo suruh cewek itu pulang kasian temen temennya. Biar aku anter" pinta Firman.
"Terserah lo" jawab Brian tak peduli.
Mendengar jawaban Brian, Tanti merasa tak percaya. Bisa bisanya cowok yang semalaman tidur bersamanya hanya menganggapnya angin lalu.
"Brian kamu gak nahan aku di sini, kita kan habis menikmati malam bersama?" tanya Tanti.
"Terus yang lo minta kita nempel trus kayak prangko?" jawab Brian cuek.
"Semudah itu ya kamu menyampakkan aku" ucap Tanti sambil menangis.
"Gak usah kayak sinetron, lo tidur ama gue. Lo juga nikmatin, aku juga gak maksa. Lo minta dikasih kehangatan kasih sayang. Gue minta tunjukin cinta lo. Lo ngasih tubuh lo. Cowok mana yang gak mau. Dasar cewek murahan" ejek Brian.
Ucapan Brian sangat menyakitkan, Tanti tak percaya apa yang didengar. Dengan sakit hati, Tanti meninggalkan Brian. Dan di susul oleh sahabatnya Diana dan Seva yang daritadi melihat pertengkarannya.
Firman tak habis pikir apa yang dilakukan oleh temannya itu. Tanpa mengucapkan satu katapun, Firman pergi mengikuti Diana.
"Tan kita pulang yuk" ajak Diana "Kamu gak pantes nangisin cowok b******k kayak gitu".
"Tapi aku harus gimana Di? Aku gak tau harus ngomong apa ke orangtua aku? Aku udah ngecewain mereka hanya gara gara aku pengen punya cowok keren kayak Brian" jawab Tanti menanggis seseguk an.
"Kamu gak butuh cowok kayak gitu Tan, kamu punya aku sama Diana" jawab Seva menenangkan.
"Kita pulang ya! Tapi ke rumah Seva dulu habis itu kita kerumah kamu. Kamu bersihin badan kamu disana" ajak Diana.
"Aku gak pantes nerima kebaikan dari kalian, aku tadi udah bentak kalian demi cowok b******k itu!" ujar Tanti sedih.
"Kita sahabat sampai kapanpun kita harus selalu tolong menolong, kamu punya kita. Dan apapun masalahnya nanti kita akan bantu kamu" ucap Seva.
Mereka beranjak menuju rumah Seva. Diana tau rumah Seva dalam keadaan sepi karena orangtua Seva sedang berkerja di luar kota. Agar Tanti bisa menenangkan diri di rumah Seva.
"Tan apa kamu sudah baikan?" tanya Diana.
"Sudah agak baik, makasih Di Sev. Udah ada didekat aku walaupun keadaan aku kayak gini!" jawab Tanti memelas.
"Iya aku juga seneng ada di dekat kamu, bisa ngelindungin kamu" sahut Seva memeluk Tanti dari belakang.
"Sahabat untuk selamanya?" tanya Diana.
"Sahabat selamanya" jawab Tanti dan Seva bersama.
Mereka tertawa bersama, dan berusaha menghibur Tanti.
Di ruang tamu, Firman mendengar pembicaraan ketiga sahabat tersebut. Mereka sangat tulus membantu temannya, aku jadi iri. Tapi aku harus ngasih pelajaran ke Brian. Jangan sampai hal ini terulang lagi batin Firman.
*******
Setelah Tanti merasa agak membaik, Diana dan Seva mengantar Tanti pulang. Tentunya di antar Firman. Rasa takut dan bingung harus mengatakan apa ke orangtua Tanti pun hilang. Melihat ibu Tanti memeluk Tanti dengan penuh sayang.
"Terimakasih ya nak, kalian sudah bantu ibu. Ngantar pulang Tanti dengan selamat" ucap ibu Tanti.
"Ya bu, ini udah kewajiban kami bantu Tanti pulang dengan selamat" sahut Diana.
"Baiklah kami pamit ya bu" pamit Seva.
Tanti masuk rumah dengan rasa bersalah. Namun orangtuanya tidak memarahi Tanti atas tindakannya. Karena orangtua Tanti sangat menyayangi Tanti.
Firman dengan langkah cepat, berjalan menuju studio. Disana sudah ada Agung dan Denis yang terlihat emosi.
"Apa yang lo katakan itu benar, Brian sudah tidur disini bersama cewek barunya?" tanya Agung.
"Benar Gung, gue tadi habis jemput cewek yang di ajak tidur bareng sama si Brian" jawab Firman "Kita harus ngasih pelajaran tuh anak biar gak semaunya aja, lama lama kalau band kita jelek gara gara tuh anak gimana?".
Tanpa pikir panjang Firman dan teman temannya memberi pelajaran Brian agar dia jera atas perbuatannya.
******
Masalah yang dihadapi oleh Diana terasa cukup berat, meskipun tidak menimpa dirinya. Diana merasa bigung dan ragu atas pilihannya. Melihat sahabatnya Tanti yang berujung dengan penghinaan dan sangat direndahkan.
"Apa aku sudah benar memilih Firman menjadi pasanganku? Aku takut, Firman memiliki sifat yang sama dengan temannya yang hanya mempermainkan cewek" ucap Diana menatap langit dari jendela kamarnya.
Kejadian yang menimpa sahabatnya seperti pengingat untuk Diana. Agar tidak mudah percaya kepada lelaki dengan begitu saja. Keraguan menyelimuti hati Diana.
"Bagaimana aku bicara dengan Firman? Aku ragu dengan hubungan ini. Aku gak mau dipermainkan?" Diana bernafas panjang "Apa aku menjauh saja darinya dan mulai meninggalkannya secara perlahan".
Pemikiran pemikiran itu selalu terniang di kepala Diana. Cinta sejati yang selalu ada dalam suka maupun duka, harapan Diana bila kelak menemukan cintanya. Diana ingin sekali memiliki pasangan yang bisa mendukung dia dalam segala hal.
Kriing... kring...
Satu panggilan masuk dari Firman..
"Halo, sayang?" tanya Firman.
"Iya ada apa?" jawab Diana.
"Kamu lagi apa sayang?" goda Firman.
"Lagi tiduran aja sih di kamar, ada apa kamu telepon aku?" ujar Diana tidak nyaman.
"Kamu kok jutek gitu, sayang nanti punya waktu gak? Aku mau ngajak kamu makan di restoran baru punya papa. Kamu bisakan nanti jam 7 malam?" ucap Firman berharap.
"Maaf ya, aku kayak gak enak badan. Aku gak bisa ikut sama kamu" jawab Diana malas.
"Alah sayang, padahal kamu mau aku kenalin ke papa. Mumpung papa ada di rumah, kamu sakit apa sih? sampai gak bisa ikut aku?" kata Firman memaksa.
Dasar cowok suka maksa, udah di bilang sakit masih aja ngeyel batin Diana.
"Sayang kamu masih di sana kan?"ujar Firman memastikan.
"Beneran sakit, badan aku panas. Kepala aku juga pusing, apa kamu mau tanggung jawab kalau aku kenapa napa?" bentak Diana kesal.
"Sakit tapi masih galak kamu sayang, aku mau aja tanggung jawab nunggu selesai kuliah dulu. Kamu mau di lamar kapan? nikahnya entaran kan gak papa?" tanya Firman sambil tertawa.
"Gak lucu, udah aku mau istirahat aku capek" jawab Diana kesal.
"Ya udah sayang ya, besuk kamu masuk sekolah apa gak? kalau gak masuk gak aku jemput" tanya Firman lembut.
"Aku gak masuk sekolah gak usah jemput ya udah ya aku capek" sahut Diana cepat. Tiiit tiit tiiit.... panggilan terputus
"Kok di mati'in sih padahal masih kangen" ucap Firman kesal "Lagi PMS kali ya kok kayak judes banget".
Firman bigung dengan sikap Diana, tapi dia tidak ambil pusing. Mungkin kekasihnya itu memang sedang sakit dan butuh istirahat.
Semoga Firman gak curiga. Mulai sekarang aku harus jaga jarak dengan dia, aku gak mau berakhir seperti sahabatku batin Diana.
******
Hari hari pun berlalu, Diana berusaha untuk menjauh dari Firman. Setiap kali Firman mengajak keluar Diana selalu mengelak dengan sejuta alasan. Dan kini setiap pagi, Firman hampir tidak pernah mengantar Diana ke sekolah. Diana beralasan berangkat bersama dengan Seva sahabatnya.
"Kenapa ya Gung? akhir akhir ini Diana kayak ngejauh dari aku" tanya Firman pada Agung "Padahal aku gak punya salah, juga gak nyakitin dia tapi kenapa ya dia kayak gak mau ketemu sama aku?".
"Lo nya kali yang super posesif sama cewek, jadinya dia takut sama elo. Lo kan tukang maksa apa apa harus diturutin. Apa lo gak nyadar udah ngelakuin hal yang enggak enggak ke Diana" tanya Agung dengan tatapan tajam.
"Apaan sih lo, nyium aja gak pernah. Pegang tangan aja aku maksa. Apa lagi sampai ngelakuin hal yang enggak enggak" jawab Firman kesal.
"Ya kalau gitu gak tau aku, memang wanita sulit dimengerti. Lo coba aja terus deketin cewek lo tau tau aja di berubah kayak dulu lagi" ucap Agung meninggalkan Firman yang duduk sendiri di cafe dekat kampus mereka.
Kejadian yang menimpa Tanti, membiat cewek itu menjadi murung. Tidak ada keceriaan yang ada di wajah manis Tanti. Hari hari hanya diliputi rasa penyesalan. Tanti memutuskan tinggal di rumah neneknya si desa untuk menenangkan diri.
"Hampir seminggu Tanti gak masuk sekolah, apa dia baik baik saja ya?" tanya Diana cemas.
"Mungkin dia butuh waktu sendiri, kejadian untuk sangat membuat Tanti kecewa Di. Tapi untungnya keluarga Tanti tidak menyalahkan dia atas perbuatannya. Kemarin aku coba menghubungi Tanti tapi tidak ada respon" jawab Seva.
"Harus apa kita sekarang? ke rumah Tanti? apa mungkin dia sudah pulang dari rumah neneknya?" tanya Diana.
"Entahlah kita tunggu saja kabar dari Tanti" jawab Seva pasrah.
Kebiasaan yang dulu dilakukan ketiga sahabat itupun berubah. Tidak ada tawa canda yang selalu menemani mereka saat bersama. Kehadiran Tanti sangat dirindukan, meskipun dia sangat cerewet dan centil. Namun Tantilah yang membawa keceriaan diantara mereka.
bersambung......