Kehidupan Firman terasa sepi, tanpa kehadiran Diana. Kebiasaan yang biasa dilakukan bersama Diana kini hanya jadi kenangan. Firman tak tau kenapa Diana sulit sekali dihubungi, apalagi untuk sekedar bertemu.
Meski Diana terkesan cuek dalam hubungan mereka. Namun Firman sangat mencintai Diana. Entah apa yang dipikirkan Firman, dia terlihat frustasi.
Firman : Sayang kamu kenapa? aku kangen sama kamu. Pless angkat telepon aku ya!
Entah sudah berapa banyak pesan yang dikirim oleh Firman, namun tidak ada satupun jawaban dari Diana.
Hingga suatu hari Firman berinisiatif untuk menemui Diana. Dia menunggu Diana di depan sekolah. Waktu pulang sekolahpun tiba, Firman berharap bertemu kekasihnya. Tak di sangka Firman melihat Diana sedang berjalan bersama dengan seorang cowok. Hal itu membuat Firman marah dan pergi dari sekolah Diana.
Kurang ajar, sebenarnya apa yang kamu mau Diana. Kenapa kamu ngekhianati aku seperti ini batin Firman kesal sambil mempercepat laju motornya.
Disisi lain, Diana sedang berjalan bersama Adrian. Diana senang bisa dekat dengan cinta pertamanya itu. Dalam pikiran Diana, Adrian adalah lelaki yang sempurna. Dan Adrian juga bukan lelaki yang suka mempermainkan cewek.
"Di kamu mau pulang sama siapa?" tanya Adrian.
"Aku pulang bareng Seva, kak" jawab Diana malu malu.
"Kayaknya akhir akhir ini kamu jarang di jemput sama pangeran kamu?" tanya Adrian menggoda.
"Apaan sih kak! Firman itu cuma teman buat aku gak lebih" jawab Diana.
"Beneran temen, gak percaya" sahut Adrian "Akhir akhir ini gak pernah ngeliat Tanti. Kemana tuh anak?".
"Tanti sakit kak! jadi gak pernah masuk sekolah. Aku sama Seva mau kesana mastiin dia udah sembuh apa belum" kata Diana memandang ke arah Seva yang mendekat.
"Ya udah hati hati aku duluan, salam ya ke Tanti semoga cepat sembuh" ujar Adrian meninggalkan mereka. Tanpa disadari pembicaraan mereka berdua direkam oleh Rosa yang berdiri disamping gerbang sekolah. Ini bakalan jadi bukti biar gue bisa ngehancurin hubungan cewek murahan itu sama Firman. Gue gak rela kalau tuh anak bisa bahagia sama pangeran gue batin Rosa.
"Kamu kok dekat sama Adrian sih? gak takut ketahuan sama Firman?" tanya Seva.
"Aku sama Adrian cuma jalan bareng keluar sekolah, apa salahnya sih? iya kalau aku berduaan sama dia. Gak usah lebay napa" jawab Diana jengkel "lagian aku juga pernah ngomongkan aku ragu sama hubungan aku, setelah kejadian yang menimpa Tanti. Aku ingin pergi menjauh dari Firman. Aku takut dipermainkan sama Firman".
"Tapi Di, walau gimanapun kamu gak boleh memutuskan seperti itu. Kamu harus memastikan ke Firman, apa dia beneran sayang sama kamu? selama ini aku lihat dia tulus sama kamu" ucap Seva.
"Aku gak yakin soal itu, temannya aja seperti itu. Mungkin mereka sama saja" ujar Diana.
"Terserah kamulah, yang penting sekarang kita pergi ke rumah Tanti dulu. Yuk berangkat" ajak Seva.
Mereka pun beranjak pergi dari sekolah menuju rumah Tanti.
********
Rosa pergi menemui Firman membawa rekaman video itu. Dia berharap video ini dapat menghancurkan hubungan Firman dengan Diana.
"Kak Firman" teriak Rosa.
Firman menoleh "Kamu siapa?".
"Aku kakak kelas Diana, aku penggemar kakak" ucap Rosa "Iya kak aku kesini, mau ngasih tau video ini ke kakak. Ini video Diana sama Adrian, mereka kayak mesra gitu deh kak".
Firman kesal mendengar ucapan Rosa. Dia pun melihat isi video tersebut. Firman marah sekaligus kesal terhadap Diana.
"Bisa bisanya dia cuma menganggap aku teman" gumam Firman pelan.
"Gimana kak, apa kakak masih mau sama Diana. Udah kak tinggalin aja, aku mau kok jadi pacar kakak" bujuk Rosa.
"Kamu ini kenapa? Aku aja gak kenal sama kamu. Sudah aku mau pergi" bentak Firman berlalu.
Kak firman jahat, enak banget nyuekin aku kayak gitu. Aku udah usaha buat cari cara misahin mereka. Tapi aku malah di cuekin kesel batin Rosa.
Diana dan Seva berada di depan rumah Tanti. Tapi rumah Tanti terlihat sangat sepi. Dan mereka memutuskan untuk pulang.
"Kita pulang aja yuk, kayaknya gak ada orang didalam" ajak Seva.
"Oke lah" pasrah Diana.
Kriiing.. kriing.. satu panggilan masuk di hp Seva dari nomer yang tak dikenal.
"Halo, ini siapa ya?" tanya Seva.
"Sev ini aku Firman, kamu sama Diana sekarang?" ucap Firman di telepon.
"Iya kak" jawab Seva singkat.
"Kamu jangan ngomong Diana kalau aku telepon kamu, Aku mau minta bantuan kamu boleh?" pinta Firman.
"Bantu apa?" tanya Seva.
"Aku mau ketemu sama Diana, Bagaimana kalau kamu ajak Diana ke taman kota. Aku tunggu di sana ya Sev, aku butuh kepastian dari Diana soal hubungan kita. Kamu mau bantu kan?" ujar Firman.
"Siap kakak tunggu ya" ucap Seva.
Diana hanya diam melihat Seva berbincang dengan seseorang di telepon.
"Kamu ngomong sama siapa sih?" tanya Diana.
"Sama kakak aku yang di Surabaya" ucap Seva bohong.
"Jadi pulang gak ini?" tanya Diana.
"Kita main dulu yuk, jenuh tau pengen cari pemandangan yang adem adem. Kita pergi ke taman kota aja ya!" ajak Seva.
"Ayo, aku juga kayak butuh reflesing. Suntuk mikirin Tanti trus" ucap Diana setuju.
Seva mengajak Diana ketempat dimana dia sudah janjian dengan Firman. Tanpa disadari Diana, Firman sudah menunggu di taman.
"Di maaf ya aku ke toilet dulu, kamu tunggu aku di bangku itu. Aku cuma bentar kok" kata Seva mencari alasan. Diana hanya menganggukan kepala.
Firman berjalan mendekati Diana yang duduk sendirian.
"Sayang apa kabar kamu?" sapa Firman.
Diana terkejut mendengar suara Firman "Kamu tau aku disini dari siapa?".
"Gak penting, Kamu kenapa? gak pernah hubungin aku. Aku telepon aku chat gak pernah kamu respon. Aku punya salah apa ke kamu? tolong jangan nyiksa aku seperti ini" ucap Firman.
"Aku gak bermaksud ngelukain perasaan kamu, Aku hanya...." Diana terdiam bingung apa yang harus dia ucapkan.
"Dan tadi kenapa kamu bisa jalan sama cowok saat aku mau jemput kamu di sekolah. Perasaan aku sakit Di, dan aku tau apa yang kamu omongin sama cowok itu. Kamu cuma menganggap aku teman, setelah apa yang kita lalui bersama. Aku sayang sama kamu, kenapa kamu sejahat ini sama aku?" tanya Firman menahan kesal.
"Aku ragu sama hubungan kita" kata itu yang keluar dari mulut Diana, membuat Firman emosi dan membentak Diana.
"APA ALASAN KAMU".
Diana menangis, tanpa menjelaskan apa yang difikirakan olehnya. Firman marah dan kesal.
"Kamu gak bisa jawab, aku tanya ke kamu. Apa alasan kamu sampai kamu ragu atas cinta aku kekamu" ucap Firman mencoba bersabar.
"Fir, maafin aku. Aku takut apa yang menimpa Tanti suatu saat nanti akan terjadi sama aku. Aku gak bakal sanggup bila harus menjalani hidup, aku takut mengecewakan orangtuaku" jawab Diana merasa bersalah.
"Aku gak sebrengsek Brian, Diana. Aku tulus ke kamu. Apa selama ini aku pernah ngelakuin hal yang aneh aneh. Aku tulus mencintai kamu, aku gak pernah berfikir akan m*****i kamu seperti yang terjadi kepada temanmu itu. Aku pernah ngomongkan ke kamu, mau ngenalin kamu ke papa. Itu bukti aku tulus ke kamu, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu cuma mementingkan diri kamu sendiri dan tidak memikirkan perasaanku. Sebenarnya apa yang kamu inginkan, mengakhiri hubungan ini?" tanya Firman dengan berat hati.
"Maaf.. maaf.." Diana menghirup nafas panjang "Mungkin kita harus jalan sendiri sendiri dulu sampai nanti kita punya alasan untuk bersama lagi, kalau kamu beneran tulus mencintai aku. Kamu pasti tidak keberatan bila menunggu aku sampai aku menerima cinta kamu. Aku gak bermaksud menyakiti kamu. Tapi aku masih bingung, ragu atas apa yang aku jalani. Aku sayang kamu Firman, tapi aku masih butuh waktu buat memastikan hati aku. Apa kamu sanggup?" ujar Diana.
"Aku akan menunggu kamu, tapi tolong jangan hanya memberi harapan semu. Aku butuh kepastian. Bila saatnya nanti kamu menerima aku kembali, tolong cepat kabari aku. Aku sangat mencintai Diana. I LOVE YOU" ucap Firman mengecup puncak kepala Diana dan pergi berlalu.
Sepeninggal Firman, Diana hanya menanggis. Apa yang aku lakukan sudah benar, tapi mengapa hati ini terasa sakit. Seperti ada sesuatu yang hilang dalam diriku. Firman aku juga cinta sama kamu I LOVE YOU SO MUCH batin Diana.
Rasa hampa yang kini dirasakan, Diana merasa tidak memiliki semangat hidup. Setelah petikaian di taman waktu itu, membuat hari hari Diana menjadi sepi. Kemana perginya Firman, membuat hati Diana rindu dengan kehadirannya.
Cinta terasa bila seseorang yang mencintai kita, tidak ada didekat kita. Rindu, gelisah hal itu yang menemani perasaan Diana. Apa yang harus dilakukan? Diana merasa terlalu egois dengan pemikirannya.
bersambung.....