Tak terasa 1 tahun pun berlalu, kini Diana sudah naik kelas 3 SMA. Hari hari Diana dilalui dengan berbagai rutinitas belajar yang padat karena harus mempersiapkan untuk ujian akhir. Diana selalu berangkat sekolah tepat waktu, itu karna Firman yang selalu mengantar Diana. Namun itu dulu, sekarang Diana selalu berangkat bersama sahabatnya Seva.
"Di nanti pulang mau gak nganter aku ke mall, buat cari buku?" ajak Seva.
"Boleh, sekalian aku juga mau cari beberapa barang disana" jawab Diana.
Plaza mall, mereka pergi untuk mencari beberapa kebutuhan. Usai mendapatkan barang yang diinginkan Diana dan Seva makan di resto dalam mall. Tanpa sengaja Diana melihat sosok Firman yang sedang makan bersama teman temannya. Firman terlihat bahagia, bercanda bersama temannya. Diana hanya tersenyum melihatnya. Firman memeluk seorang cewek disampingnya, dan tertawa bersama. Diana merasa sakit, namun entah apa dia harus marah kepada Firman.
"Di, kamu lagi lihatin apaan sih serius banget?" tanya Seva.
"Aku ngelihat Firman deh, tapi dia bahagia banget sama cewek lain" jawab Diana sambil menunjukkan letak keberadaan Firman.
"Mana sih? kamu salah faham mungkin, lihat Firman kan di sana bareng sama banyak teman temannya gak cuma berduaan aja" bela Seva.
"Udahlah gak penting, mungkin sekarang dia udah bahagia. Aku seneng kok lihat dia seperti sekarang ini" senyum Diana terlihat terpaksa.
"Kamu jangan bohongi perasaan kamu, apa perlu aku ke sana ngomong ke Firman kalau kamu masih sayang sama dia?" tanya Seva.
"Gak gak, jangan Sev. Aku yang salah udah biarin dia pergi. Aku gak mau ngehancurin kebahagiaannya sekarang, kamu udah selesai makannya ayo kita pulang" ajak Diana.
Berat hati Diana pergi, setelah apa yang dilihatnya. Kekasih hatinya sekarang sudah bersama tambatan hati yang baru. Mungkin ini saatnya Diana mengikhlaskan Firman. Bahagia bersama yang lain, mesti di hati sakit namun Diana harus memutuskan.
********
Tanpa sengaja, Firman melihat kepergian Diana. Firman tidak percaya bisa bertemu Diana, Firman berajak dari tempat duduknya.
"Fir kamu mau kemana?" tanya Sinta cewek disebelah Firman.
"Sebentar aku ada urusan" jawab Firman berlalu pergi mengejar Diana.
Firman keluar dari restoran, menyebar pandangan mencari sosok Diana. Namun entah kemana perginya, dia tidak menemukan Diana lagi.
Apa aku terlalu merindukannya, sampai aku berhalusinasi melihat Diana. Sungguh aku masih sangat mencintainya. Dan kapan Diana akan memberi kabar bahwa dia sudah mencintaiku batin Firman pasrah.
Masa SMA memang masa dimana cinta hanya sekedar ucapan tanpa ada perasaan cinta sebenarnya. Mungkin karena usia yang masih terlalu muda. Diana dan Firman salah satu pasangan yang cukup serius dengan hubungan mereka meski banyak keraguan, dan pertikaian.
Keegoisan diantara mereka membuat hubungan meregang, sampai kapan mereka dapat menyembunyikan perasaan masing masing. Mungkin Dewi Cinta belum menginginkan mereka bersama.
******
"Aku kangen kamu Fir, tapi apa kita masih bersama. Apa kamu masih menunggu aku sampai sekarang?" tanya Diana melihat foto Firman di hpnya.
"Aku takut kalau kamu sudah memiliki kekasih lain, dan menyerah dengan diriku. Meski aku disini masih menunggu kamu" tanpa disadari Diana meneteskan air mata.
"Apa yang harus aku lakukan, hati ini masih ingin bersama kamu. Tapi mungkin kamu sekarang sudah dengan yang lain".
Kegalauan menghantui kehidupan Diana, namun dia tetap egois dengan pendiriannya.
Di sisi lain, Firman termenung. Rindu yang begitu besar kepada Diana membuat dia merasa bimbang. "Cinta yang menyiksa", Firman teringat ucapan Brian.
Benar cinta yang selama ini di jalani hanya menyiksa pikiran dan hatinya. Diana, bagaimana caraku untuk melupakanmu. Aku telah menunggu terlalu lama hingga ku rasa cintaku kepadamu hanya menyiksa hatiku batin Firman.
Dengan langkah pasti Firman pergi ke rumah Diana, berharap cinta yang ditunggu dapat ia miliki kembali.
Tok.. tok.. tok..
"Permisi, Diana apa kamu dirumah?" tanya Firman.
"Siapa ya itu?" tanya ibu Diana sembari membukakan pintu "Kamu siapa? dan perlu apa mencari Diana?"
"Saya teman Diana bu, apa saya bisa bertemu dengan Diana?" tanya Firman sopan.
"Baik tunggu sebentarnya, kamu silahkan masuk saya panggilkan Diana di dalam" suruh ibu Diana lalu memanggil Diana.
"Terima kasih bu" ujar Firman.
Firman menunggu Diana dengan perasaan cemas, dia takut Diana akan marah bila tahu Firman berani datang kerumahnya.
"Firman" ucap Diana "Ada keperluan apa kamu ke sini?".
"Aku mau ketemu kamu, aku cuma butuh kepastian atas hubungan yang kita jalani" pinta Firman.
"Hubungan apa Fir? apa kamu masih menungguku seperti permintaanku waktu itu?" Diana merasa terkejut apa yang di inginkan oleh Firman.
"Tentu, karena kamu cewek yang aku cintai. Aku mencintai kamu bukan hanya sebatas ucapan namun perasaan yang timbul di dalam hati. Aku tulus kepadamu, aku sudah berjanji kepadamu untuk menunggu rasa cintamu ada untukku" ucap Firman dengan percaya.
"Tapi kamu kelihatan bahagia dengan cewek lain, aku tak sengaja melihatmu bercanda bersama cewek di sebuah restoran di mall. Kamu terlihat bahagia disisinya" kata Diana bingung.
"Jadi kemarin beneran kamu yang aku lihat? Aku tidak pernah bisa mencintai wanita lain selain kamu Diana. Dia temanku Sinta, disana aku juga bersama beberapa teman kampusku. Kami membahas soal PKL yang akan kami jalani. Kamu tidak perlu khawatir apalagi cemburu soal itu" Firman menjelaskan kejadian saat di restoran.
"Benarkah itu? apa kamu tidak membohongiku?" tanya Diana ragu.
"Aku selalu berkata jujur kepadamu, semua yang aku lakukan dan semua rasa cintaku kepadamu".
Senyum Diana mengembang mendengarkan pernyataan Firman atas cintanya. Diana senang dan bahagia. Ego Diana yang terlalu besar, membuat batin Diana tersiksa.
Aku bahagia mendengar kata cintamu, apa aku harus menerima cintamu lagi. Memberikan kepastian untuk hubungan kita batin Diana
"Senyummu sungguh indah Diana, aku merasa damai bila melihatnya" goda Firman.
"Apaan sih, malu tau" sahut Diana.
"Jadi kita bisa jalani hubungan kita seperti dulu? aku berharap akan hal itu Diana. Aku berjanji akan melindungi kamu, menyayangimu, dan mendukung semua keinginanmu. Apa kamu mau menjadi kekasihku?" pinta Firman.
Diana terdiam, dia hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
"Benarkah Diana, terimakasih sayang kamu sudah kembali ke pelukanku" sangking bahagianya Firman langsung memeluk Diana. Tanpa disadari ibu Diana berada di belakang mereka.
Hem.. hem..
"Anak muda jaman sekarang peluk peluk gak liat tempat, gak malu kalau ketahuan orang" sindir ibu Diana.
"Ibu" Diana terkejut melepaskan pelukannya "Maaf kebawa suasana bu".
Firman hanya tersenyum melihat tikah polah Diana yang terlihat malu.
"Jadi ini pacar kamu, yang ibu pernah denger dari tetangga sering jemput kamu dulu? lumayan tampan, sopan juga" kata ibu Diana.
"Memang ibu tau?" tanya Diana takut.
"Ya tau lah kan ibu sering kumpul sama tetangga, tapi ibu senang kamu punya pacar yang bisa ngerubah kamu jadi gak malas lagi" ujar ibu Diana.
"Jadi ibu gak marah kalau Diana pacaran sama Firman?"tanya Diana berharap.
"Enggak ibu malah senang, tapi ingat kalau pacaran harus tau batasan. Ibu lebih senang bila nak Firman pamit ke ibu bila mengajak Diana keluar. Dan tau waktu saat pulang, dan ibu pesan ke nak Firman jagain Diana jangan sampai dia jadi anak bandel" harapan ibu Diana.
"Baik bu, saya janji ke ibu. Akan jaga Diana dan menjauhkan dia dari hal yang dapat merusak kehidupannya. Karena saya beneran cinta ke anak ibu" jawab Firman pasti.
"Cinta monyet" gumam ibu sambil pergi ke arah dapur.
Bahagia, senang, bercampur menjadi satu. Kini bukan saja Diana yang kembali ke pelukannya serta restu dari orang tua Diana sudah Firman miliki. Kedepannya akan lebih mudah dalam menjalani hubungan mereka. Senyum bahagia tercetak di wajah mereka berdua.
"Aku senang sayang, ibu mau menerima kamu" manja Diana sambil memeluk lengan Firman.
"Aku lebih senang dari pada kamu, aku sudah memiliki kamu lagi ditambah restu dari ibumu" sambil mencubit hidung mancung Diana.
Kepastian cinta yang di nanti kini sudah mendapatka jawabannya. Sepasang kekasih yang terlihat sangat bahagia. Mereka sudah siap menjalani kisah cinta mereka berdua. Mungkin bila nanti ada masalah yang menghampiri, mereka sudah berjanji akan melalui bersama dan mulai berusaha meredakan ego masing masing.
Cinta SMA , cinta yang membingungkan. Cinta yang bila dianggap serius takut bila hanya di ucapkan. Tapi cinta yang baru dirasakan timbul didalam hati. Memang indah cinta SMA, karena tidak perlu memikirkan apa yang akan terjadi nanti, besuk atau selanjutnya. Yang penting merasa bahagia bila bersama.
bersambung.....