Indahnya Cinta dirasakan Diana dan Firman. Tiap hari bersama, pergi jalan jalan, hingga makan bersama. Firman sangat nyaman dalam menjalani hubungan yang telah direstui. Dia tidak sungkan untuk datang kerumah Diana.
Hampir setiap hari Firman ke rumah Diana. Dia sudah terbiasa makan bersama keluarga Diana, berkumpul di ruang keluarga. Bercanda tawa, dan membicarakan hal hal yang menarik.
Keluarga Diana ialah keluarga yang hangat dan harmonis. Di rumah Diana hanya ada ayah, ibu dan Diana selaku anak tunggal. Orang tua Diana sangat mencintai dan menyayangi Diana.
Mereka senang dengan kehadiran Firman meskipun hanya sekedar pacar Diana. Mereka sudah menganggap seperti anak sendiri.
Siang ini, Firman bermaksud mengajak Diana pergi jalan jalan ke mall. Tak lupa Firman meminta izin kepada orang tua Diana.
"Yah, saya ajak Diana pergi dulu ya" pamit Firman.
Firman mulai terbiasa memanggil ayah Diana dengan sebutan ayah. Karena mereka sudah merasa dekat.
"Mau kemana kamu? Diana masih mandi sini temenin ayah dulu" ayah menata meja catur yang ingin dimainkan.
"Kalau menang dapat hadiah apa ini yah?" tanya Firman menggoda.
"Wong kamu yang selalu kalah kok minta hadiah ke ayah, seharusnya ayah yang ngomong ke kamu kalau ayah menang kamu kasih apa?" ayah balik tanya.
"Hehehe" Firman cengar cengir"Ya udah ayah minta apa sekalian nanti Firman mau ke mall sama Diana?" ucap Firman.
"Bakmi jogja enak tuh" ujar ayah.
"Siap boss!!" jawab Firman semangat.
Tak lama kemudian, Diana keluar dari kamarnya.
"Fir jadi keluar apa enggak?" tanya Diana.
Firman yang keasyikan main catur tidak merespon ucapan Diana.
"FIRMAN SUBANDI" teriak Diana"Kamu jadi ngajak aku keluar apa gak?"
Dengan ekspersi terkejut Firman menanggapi "Diana kamu tuh ngapain teriak teriak segala?"
"Kamunya gak ndengerin aku" kesal Diana
"Ya udah gak usah manyun gitu, Cepat kalian berangkat sana. Ingat gak boleh pulang malam sebelum magrib harus sudah dirumah biar bisa makan bareng bareng. Dan kamu Firman jangan lupa pesan ayah" sahut ayah.
"Ya ayah, Firman berangkat ya"pamit Firman sambil mencium tangan ayah Diana disusul oleh Diana yang juga mencium tangan ayahnya.
********
Di mall, mereka pergi menonton film terbaru di bioskop. Berbelanja keperluan Diana, makan bersama di restoran favorit mereka. Dan tak lupa membelikan pesanan ayah.
"Sayang, aku seneng banget kamu bisa dekat dengan keluarga aku" ucap Diana.
"Aku tambah bahagia bisa mengenal keluarga kamu" ujar Firman tersenyum hangat.
"Dulu aku takut bila ayah sama ibu marah sama aku karena punya pacar tapi ternyata mereka malah setuju sama hubungan kita" kata Diana.
"Kamunya aja yang mikir aneh aneh, ibu sama ayah kamu itu orang yang baik. Mudah menerima orang tanpa memikirkan latar belakangnya. Aku bersyukur punya mereka, yang sangat perhatian sama kamu sayang. Terimakasih sudah ngasih izin aku dekat sama keluarga kamu" kata Firman.
"Sayang kamu jangan sampai ngecewain mereka ya, aku takut mereka sampai sakit hati karena perbuatan kamu. Selama ini aku selalu menjaga perasaan mereka. Karena hanya ayah dan ibu yang aku punya di dunia ini" pinta Diana.
"Ya sayang aku janji, semoga hubungan kita sampai kita bisa bersatu di hadapan Tuhan" harapan Firman.
"Kamu kalau mikir jangan kejauhan, aku masih mau kuliah. Aku aja ujian masih dua bulan lagi. Udah ngomong ngajak nikah. Aku gak mau ya nikah muda, aku masih pengen ngejar cita cita aku" sahut Diana kesal.
"Aku kan cuma berharap sayang, aku juga udah bilang bakal dukung kamu selama itu hal yang baik. Aku juga masih semester lima sayang masih tiga atau empat semester lagi baru bisa lulus. Baru gitu cari kerja buat cari modal buat nikahi kamu" goda Firman sambil memeluk pundak Diana.
"Terserah kamu" kesal Diana.
Mereka berdua menikmati lampu lampu jalanan didekat mall, sambil duduk berdua di balkon mall.
Walaupun Firman sudah dekat dengan keluarga Diana. Namun Firman masih belum siap memperkenalkan Diana ke keluarganya. Karena keluarga Firman termasuk keluarga yang berada memiliki berbagai kemewahan dan juga kehidupan yang high class.
Keluarga Firman terkenal keluarga yang sombong, yang hanya memandang seseorang dari status sosial. Papa, mama dan kakak laki lakinya Abi selalu sibuk dengan urusan pekerjaan mereka. Jarang sekali waktu berkumpul, hanya sekedar menyapapun sangat amat jarang. Papa Firman selalu bekerja di luar negri, sedangkan mamanya memiliki beberapa swalayan di beberapa kota. Sedangkan Abi sibuk dengan jadwal prakteknya karena dia seorang dokter. Meski begitu, Diana tidak pernah keberatan. Diana berfikir hubungan mereka masih terlalu dini untuk mendapatkan restu dari kedua pihak keluarga. Walau begitu sekarang Firman sudah di terima di keluarganya. Selama ini Diana tidak mengetahui latar belakang keluarga Firman, karena Diana hanya mencintai Firman dengan tulus.
Kedekatan Firman dengan keluarga Diana, membuat Firman tau apa yang dinamakan kehangatan keluarga. Tertawa, berbincang bincang, bercanda itu hal yang hampir tidak pernah dilakukan oleh keluarga Firman.
Sepulang dari mall Firman pun makan bersama dengan keluarga Diana.
"Makan yang banyak Fir, biar kamu gemuk" suruh ibu sambil menambahkan nasi ke piring Firman.
"Kalau Firman gemuk nanti kayak badut bu, nanti Diana gak suka lagi" sahut Firman memegangi perutnya yang kekenyangan.
"Udah bu, anaknya udah kenyang nanti kalau perutnya sakit kasihan" bela ayah.
"Biar gemukan dikit yah, lihat Firman itu anak laki masak tubuhnya kurus kayak gitu" sindir ibu menunjuk badan Firman.
"Tapi perut Firman sudah kenyang bu" ucap Firman manja.
Diana hanya diam melihat tingkah laku mereka, dia berfikir ayah ibunya sangat memperhatikan Firman sampai lupa dengan anak sendiri. Tapi Diana juga senang dengan kedekatan mereka. Adanya Firman di tengah tengah keluarga menambah keramaian keluarga mereka.
********
"Dari mana saja kamu?" tanya mama Firman yang melihat Firman baru pulang hampir jam 10 malam.
"Main ke rumah teman, Ma" jawab Firman datar dan berjalan masuk ke kamar.
"Dasar anak gak sopan ditanya malah pergi aja" kesal Mama Firman.
Firman kesal kepada orangtuanya, mereka selalu membandingkan dia dengn kakaknya. Dalam segala hal, mulai dari pendidikan, hobi, tingkah laku sampai ke kebiasaan yang menurut mereka kakak Firmanlah yang terbaik. Hal itu membuat Firman menjadi anak yang pembakang, jarang pulang dan selalu melakukan sesuatu sesuai kehendaknya.
"Pa, mama heran sama tingkah laku Firman akhir akhir ini. Dia selalu tidak menganggap mama. Dia juga suka pulang lebih awal dari biasanya. Apa dia melakukan hal yang tidak tidak di luar sana?" tanya mama Firman.
"Mama aja yang gak peka sama anak, papa lihat Firman belakangan ini lebih sopan dari sebelumnya. Dan gak pernah pulang malam apa lagi sampai gak pulang. Dia juga kelihatan bahagia, entah apa yang dilakukan diluar. Yang penting dia sudah gak pernah pulang dengan keadaan mabuk" ujar papa Firman.
"Firman itu anak yang menyusahkan beda sama Abi yang bisa membuat kita senang" kesal mamanya.
"Mama seharusnya coba mengerti kebutuhan Firman, semua anak punya kepribadian tersendiri ma. Apa lagi pemikiran dan keinginan mereka. Kita selaku orang tua seharusnya mendukung apa yang mereka inginkan selagi itu positif dan tidak merugikan mereka" jawab papa bersikap dewasa.
"Terserah papa, mama gak suka sama sikap Firman yang selalu cuek dan gak menganggap mama. Dan mama sudah bahagia punya anak seperti Abi" ucap mama sambil berlalu.
Terserah mama, papa bahagia lihat Firman bahagia. Firman juga anak papa yang perlu papa banggakan, mungkin suatu hari nanti Firman bisa menunjukan pada mamanya batin Papa Firman.
*********
Braaak.....
Suara mobil menghantam pengemudi motor didepannya.
Kring... kring....
"Fir, ayah kecelakaan di jalan. Sekarang ayah sudah di bawa kerumah sakit. Tolong kamu kesini dampingi aku. Aku bingung harus minta tolong ke siapa?" ucap Diana menangis sesegukan.
"Tenang sayang, sebentar lagi aku berangkat ke sana" ucap Firman di telepon bergegas keluar rumah.
"Firman kamu mau kemana, ini masih pagi. Kamu gak mau makan bareng sama mama?" tanya mamanya namun tak dihiraukan Firman.
"Dasar anak gak punya sopan santun, diperhatikan sama orangtua tambah gak di anggap" ujar mama Firman sebal.
Firman mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi berharap dapat cepat sampai di rumah sakit.
"Di dimana ayah sekarang?" tanya Firman setelah melihat keberadaan ibu dan Diana di depan ruang UGD.
"Masih di dalam, Fir" jawab Diana khawatir.
"Ibu sabar ya, di sini ada aku dan Diana yang nemenin ibu" ucap Firman dan memeluk ibu menenangkan, karena melihat ibu hanya menangis.
Beberapa menit kemudian keluar seorang dokter.
"Keluarga bapak Handoko" kata dokter tersebut.
"Ya kami dok" jawab Diana berjalan mendekati dokter itu.
"Saya dokter yang menangani bapak Handoko, bisa anda ikut saya. Saya mau menjelaskan beberapa hal tentang kondisi bapak Handoko saat ini" ujar dokter spesialis dalam itu.
"Baik dok" Diana mengikuti jalan dokter itu menuju ruangannya.
Sedangkan Firman duduk mendampingi ibu Diana di depan ruang UGD.
"Sebelumnya perkenalkan nama saya dokter Abi Subandi, biasa dipanggil dokter Abi. Disini saya selaku dokter spesialis dalam mendiagnosa bahwa bapak Handoko mengalami benturan kepala yang cukup keras mengharuskan beliau harus segera melakukan tindakan operasi" penjelasan dari dokter Abi.
"Baik dok, semua hal yang terbaik untuk ayah saya tolong dokter lakukan" ujar Diana pasrah.
"Sebelumnya silahkan anda mengisi dan memenuhi persyaratan di pihak administrasi, dan menyelesaikan biaya operasi bapak Handoko" suruh dokter Abi.
Diana berjalan tergesa menuju administrasi. Dan mengetahui biaya yang diperlukan untuk menjalankan operasi ayahnya.
"Apa 50 juta, sus" Diana terkejut dengan nominal biaya operasi ayahnya.
"Benar itu hanya biaya operasi bapak belum biaya perawatan dan kamar bapak, biaya tersebut harus dilunasi paling lambat besuk. Dikarenakan kondisi bapak yang kritis" ujar suster menjelaskan.
Seketika tubuh Diana lemas, dia bingung harus mencari uang sebegitu banyaknya dimana. Air matapun jatuh, Diana sedih harus melakukan apa. Nyawa ayahnya sangat penting. Dari kejauhan Firman memandangi Diana yang terlihat lemas dan sedih.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Firman.
"Ayah butuh biaya yang cukup banyak untuk operasi. Dan harus ada paling lambat besuk?" jawab Diana.
"Berapa biaya yang dibutuhkan?" tanya Firman.
"50 juta, itupun masih belum biaya lainnya" jelas Diana sambil menangis.
"Apa yang harus kita lakukan Diana, bila kita mengadaikan sertifikat rumah itu pun membutuhkan waktu. Apa ibu bicara ke keluarga ibu yang dikampung, mencari pinjaman di sana?" tanya ibu panik.
"Sudah ibu gak perlu panik seperti itu. Firman bantu biaya operasi ayah, biar nanti Firman yang urus" jawab Firman mantap.
"Kamu punya uang dari mana? Aku gak mau ngerepotin kamu" Diana bertanya memastikan.
"Tenang sayang, nanti biar aku carikan pinjaman. Nanti kalau kalian punya uang bisa lunasi hutangnya" ujar Firman berbohong. Biaya operasi ayah Diana bukanlah hal yang sulit di urus oleh Firman. Karena Firman selalu mendapatkan uang jajan dari keluarganya hampir 50juta perbulan. Dan selama berpacaran dengan Diana, Firman sangat hemat maka dari itu uang di tabungannya sangat cukup untuk melunasi semua biaya rumah sakit ayah Diana.
"Terima kasih sayang kamu sudah membantu keluarga aku" ucap Diana bersandar di pundak Firman.
"Sama sama sayang, ayah sudah seperti ayahku sendiri" jawab Firman tersenyum "kata suster tadi, ayah sudah bisa di operasi nanti sore dan sebentar lagi ayah akan di bawa keruang ICU".
Tak lama kemudian dokter Abi menghampiri Diana dan keluarga. Abi terkejut melihat sosok Firman di antara keluarga Diana.
"Firman, sedang apa kamu disini?" tanya Abi curiga.
"Kakak, aku nganter pacarku sama keluarganya nunggu ayahnya yang habis kecelakaan" jawab Firman.
"Jadi ini cewek yang bisa ngerubah adik kakak jadi anak baik" ujar Abi sambil tersenyum menggoda.
"Apa apaan sih kakak" kata Firman memalingkan muka.
"Kakak seneng kamu bisa berubah Fir" ucap Abi tulus, walaupun mama mereka selalu membanding bandingkan namun Abi selalu menyayangi Firman selayaknya adik dan kakak.
"Baiklah saya kesini hanya ingin memberitahukan bahwa operasi pak Handoko akan segera dilakukan, mohon untuk menuju ke ruang operasi" sambung Abi.
"Terimakasih kak, aku minta tolong lakukan yang terbaik untuk ayah" pinta Firman.
"Ayah? sudah dekat sekali ya hubungan kalian" ucap Abi sambil berlalu menuju ruang operasi.
Dengan perasaan cemas, takut, Diana dan keluarga menunggu proses operasi di depan ruang operasi.
"Ya tuhan semoga ayah bisa tertolong dan operasinya berjalan dengan lancar" doa Diana dalam hati.
Beberapa jam berlalu, dan operasipun selesai di lakukan.
"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar. Dan kita masih harus menunggu bapak Handoko sadar dan memastikan kondisinya. Beliau masih harus di bawa ke ruang pemulihan harap keluarga bisa menunggu dikamar yang sudah disiapkan" ucap dokter Abi "Dan kamu Firman, sebenarnya sudah seberapa dekat kamu sama keluarga pacarmu? Dan kakak bingung kenapa kamu tidak memperkenalkan dia ke keluarga kita?" tanya Abi pada Firman.
"Masih terlalu dini kak, memberitahu hubunganku sama Diana ke papa mama. Dan mungkin sebaiknya kakak dulu yang memperkenalkan calon istri kakak ke papa sama mama" goda Firman cengar cengir.
"Dasar kamu, ditanya malah mojokin kakak. Kamu taukan kakak masih mau memperdalam ilmu kakak dan masih banyak tugas kakak yang belum selesai" ungkap Abi lalu pergi meninggalkan Firman dan keluarga Diana.
"Dasar kakak gila ilmu" umpat Firman.
Diana hanya memandangi Firman, "Fir tadi beneran kakak kamu?" tanya Diana tak percaya.
"Bener sayang, itu kakak aku yang paling pintar suka belajar sampai lupa kalau sudah tua gak nikah nikah" jawab Firman tertawa " sekarang kita ke kamar ayah sambil mempersiapkan keperluan ayah" ajak Firman.
bersambung......