Diana sangat bersyukur memiliki Firman disisinya. Firman bagaikan malaikat penolong bagi keluarganya. Berkat bantuan dari Firman, kini pak Handoko sudah berangsur membaik.
"Ayah apa masih sakit?" tanya ibu.
"Sudah agak mendingan, bu" jawab ayah "Ayah bersyukur dikondisi seperti ini, ada Firman yang mau menolong kita, memang tak salah bu. Kalau Diana memilih pasangan yang baik hati dan sopan seperti Firman".
"Iya yah, ibu sangat berterima kasih kepada Firman yang telah membantu kita dan selalu menemani ibu dan Diana di masa sulit saat ayah harus dirawat" sahut ibu meneteskan air mata terharu.
"Kemana Diana sama Firman kok belum kesini, bu?" tanya ayah.
"Diana kan sudah kelas 3 yah, dia masih banyak tugas sekolah jadi nunggu selesai sekolah dan ada les tambahan. Kalau Firman tadi ke sini ngasih bungkusan makanan ke ibu lalu pamit katanya mau ada kelas lagi" jawab ibu menjelaskan.
"Firman memang anak baik ya bu, dia perhatian sekali dengan kita" ujar ayah.
Diana mempercepat jalannya keluar sekolah, diseberang jalan Firman sudah menunggu.
"Maaf sayang nunggu lama, tadi masih ngumpulin tugas dulu" kata Diana.
"Gak apa apa, cepet naik. Kita pulang kerumah kamu dulu, kamu bersih bersih sama bawain baju ganti buat ibu" ajak Firman.
"Tapi kita makan dulu aku sudah laper sayang" manja Diana mengelus elus perutnya.
"Aduh aduh sayangku sekarang manja banget sih, ya sudah kita ke restoran dulu habis itu pulang" ucap Firman mencubit pipi mulus Diana.
"Terima kasih sayang" Diana tersenyum senang.
Kenyamanan yang dirasakan Diana setiap berada disisi Firman. Karena Firman, cowok yang bisa menjaganya, menolongnya, dan memberikan banyak kebahagiaan dalam hari hari yang di lalui bersama.
********
"Abi..." sambut mamanya dengan pelukan "Kamu capek ya sayang, kamu harus kurangi jadwal praktek kamu biar ada waktu buat mama di rumah" pinta mamanya.
"Enggak bisa ma, ini sudah cita cita Abi dari dulu. Abi ingin jadi dokter yang bisa membantu banyak orang. Abi senang dengan pekerjaan Abi sekarang ma" jawab Abi dengan sopan.
"Ya sudah terserah kamu sayang, mama juga senang dengan pekerjaan kamu. Mama bangga punya anak seperti kamu, bisa membahagiakan orang tuanya" ucap Mamanya senang.
"Iya ma, kemarin Abi ketemu sama Firman dirumah sakit" kata Abi melepas jas yang dikenakannya.
"Sedang apa anak itu kerumah sakit, apa dia habis ngeroyok anak orang? apa jangan jangan dia sudah ngehamilin anak orang?" tanya mama menahan emosi.
"Enggak ma, Firman kesana menemani keluarga pacarnya yang habis kecelakaan dan kebetulan Abi yang menangani ayah pacar Firman. Firman kelihatan peduli sama keluarga pacarnya. Abi senang sama sifat Firman yang sudah berubah" ucap Abi tersenyum senang.
"Apanya yang berubah si Abi, anak itu gak ngerti sopan santun, urakan. Enggak pernah hormat ke orang yang lebih tua. Apa lagi ke mama, dia kayak benci setengah mati. Dasar anak berandal" sahut mamanya sinis.
"Mama mungkin yang belum mengerti sifat Firman, coba mama ngomong baik baik dekatin Firman. Selama ini kan mama sama papa selalu sibuk dengan pekerjaan kalian. Dari kecilkan Firman jarang bertemu mama sama papa, beda sama Abi yang masa kecil Abi selalu ditemanin kalian. Dan saat mama sama papa sibuk, Abi kan sudah dewasa jadi bisa mengerti dengan pekerjaan kalian. Beda sama Firman ma, yang tiap harinya hanya ditemani pembantu dan pengasuhnya saja" ucap Abi membela.
"Terserah kamu, sekarang kamu bersih bersih dulu mama sudah siapkan makan di meja makan. Mama sudah masakin sop kesukaan kamu" suruh mama dengan manis.
Abi hanya mengangguk dan pergi menuju kamarnya.
apa yang dikatakan Abi itu memang benar, apa aku terlalu jahat kepada Firman selama ini? Dan tidak mau mengerti dengan sifat Firman batin mama.
Diana tersenyum senang, menatap ayah, ibu dan Firman. Mereka bercanda ria bersama, walaupun masih berada di kamar perawatan.
"Terima kasih Tuhan atas kebahagiaan dan kebaikan yang telah engkau berikan pada keluarga kami semoga kebahagiaan ini selalu menyertai kelurga kami" doa Diana di dalam hati.
"Sayang sini" ajak Firman melihat Diana di ambang pintu.
"Masuk Diana kamu sedang apa di situ?" tanya ibunya
"Ini bu, Diana habis beli air mineral" Diana masuk menuju kamar rawat.
"Diana, tadi Firman habis cerita saat dia nembak kamu" kata ayah" Katanya kamu dulu selalu dipaksa biar kamu mau menerima cintanya Firman" goda ayah.
"Enggak yah, apaan sih ngomong hal yang begituan malu aku" wajah Diana memerah.
"Kata nak Firman, kamu takut kalau ibu tau soal kalian. Emang ibu seperti macan ya" ujar ibu sinis.
Diana tersenyum, "Enggak gitu bu, Diana cuma takut kalau ibu marah. Kan ibu selama ini nyuruh Diana untuk serius belajar dan gak boleh pacar pacaran" bela Diana.
"Benar juga, tapi kamu harus terbuka sama ibu dan ayah. Enggak baik pakai rahasia rahasia segala. Untung saja ibu punya banyak mata mata dekat rumah jadi tau soal kamu sama nak Firman" senyum ibu memandang Firman.
"Firman bahagia sekali mengenal keluarga ini, saya harap ibu dan ayah selalu menerima Firman dengan apa adanya" harapan Firman.
"Tentu nak, ibu dan ayah sudah menganggap kamu anak kami sendiri. Meski sekarang cuma pacarnya Diana, namun ibu selalu berdoa semoga kalian berjodoh sampai kalian bisa menikah" senyum bahagia ibu.
"Diana, Firman mau ngomong ke kamu. Tapi dia minta tolong ke ayah biar ngizinin kalian keluar berdua. Dia mau membicarakan sesuatu" kata ayah.
Diana menatap Firman,"Memang harus berdua saja ya, kan lebih enak kalau bareng bareng?"
"Sudah ayo ikut aku sebentar ada hal yang penting ingin aku sampaikan ke kamu" Firman menarik tangan Diana dan menuntunnya ikut pergi bersamanya.
Diana dan Firman pergi ke sebuah taman yang sangat indah. Dihiasi begitu banyak lampu warna warni, dan suasana yang begitu sepi dan romantis.
Diana takjub dengan keindahan taman tersebut. Dia memandangi setiap lampu yang memenuhi taman itu.
"Sayang aku mau ngomong tapi kamu jangan marah ya" seketika Diana menoleh menatap Firman.
"Tapi sebaiknya kita cari tempat duduk dulu, ayo kita duduk disana" Firman menunjukkan sebuah bangku taman.
"Kamu mau ngomong apa? Bikin aku penasaraan aja" tanya Diana memegang tangan Firman.
"Sayang aku ada tugas PKL diluar kota, dan aku di sana selama 3 bulanan" kata Firman. Diana diam tak menanggapi dia terlihat sedih.
"Kamu tidak kenapa napakan sayang, aku disana bersama teman aku yang pernah kamu temui di restoran" ucap Firman.
"Dan kamu tidak perlu cemburu, karena aku hanya mencintai kamu sayang dan bukan cewek lain".
Diana menoleh menatap wajah Firman, "Sayang kenapa setelah banyak kebahagiaan yang kamu berikan untuk hidup aku, kamu pergi meninggalkan aku?" ucap Diana membendung air mata.
"Aku cuma pergi sementara bukan meninggalkan kamu, aku harus menyelesaikan tugas kuliah disana. Kamu lucu sayang, kamu gak perlu sedih. Kan nanti kalau sudah selesai aku bakal pulang. Dan orang pertama yang aku temui pasti kamu" Firman mencoba menenangkan Diana.
"Kamu janji enggak boleh godain cewek disana, kamu harus sehat sehat terus disana, kamu harus ngabarin aku selama disana, kamu harus cepat pulang. Aku enggak mau menahan rindu yang cukup lama ke kamu. Cukup dulu saat kita memutuskan jalan masing masing" ucap Diana.
"Dulukan yang minta kamu bukan aku, jadi dulu kamu rindu ya sama aku" goda Firman mengelitiki badan Diana.
"Firman sudah geli" ucap Diana menahan rasa geli. Tubuh Diana terjatuh ke atas tubuh Firman. Kini mata mereka bertatapan cukup dekat, Diana terdiam merasa canggung dengan kondisi itu. Dengan pelan tapi pasti Firman mencium mulut manis Diana, mencium dengan rasa cinta dengan pelan penuh perasaan. Diana hanya diam menikmati ciuman Firman tanpa membalas ciumannya.
Malam indah yang ditemani lampu lampu serta bintang bintang di langit malam. Menemani dua kekasih yang tengah di mabuk cinta. Firman dan Diana, cinta yang sangat indah saat bersama. Entah bagaimana perasaan Diana setelah ditinggal oleh Firman nantinya..
bersambung.....