Kaki jenjang itu menuruni satu persatu anak tangga mansion mewah yang dipenuhi pernak-pernik mewah. Seorang wanita dengan pakaian super sexy dan make up tebalnya berjalan menuju meja makan seorang diri. Wanita itu memang cantik, namun cantiknya justru tertutup oleh make up yang ia gunakan.
Semua pelayan dirumah itu menunduk hormat padanya dan dibalas dengan senyuman manis. Meskipun berpenampilan layaknya seorang jalang, namun wanita tadi bukanlah wanita jahat, ia justru memiliki hati yang lembut dan ramah kepada siapa saja tanpa memandang status sosial.
"Mari nyonya silahkan." Ujar seorang pelayan sambil menarik kursi untuk wanita tadi.
Mata hitam wanita itu menyusuri setiap sudut ruangan makan itu. Hanya para pelayan yang ada disana, meja makan yang sangat lebar hanya di isi olehnya seorang. Ia menghembuskan nafasnya pelan, "Kalian!" Serunya sambil menatap para pelayan satu persatu.
"Mohon maaf Nyonya Ana, apa ada yang perlu kami lakukan untuk nyonya?"
Ana, ia menggelengkan kepalanya, "Aku hanya ingin kalian makan bersamaku, duduk di sini."
Para pelayan disana menundukkan kepala mereka takut, "Mohon maaf Nyonya saya lancang, seorang pelayan tidak pantas duduk satu meja dengan majikannya, kami dari status sosial rendah sedangkan nyonya berstatus sosial tinggi."
Ana terdiam, ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang-orang itu. Bukankah manusia diciptakan dengan porsi yang sama, lalu mengapa harus mementingkan status sosial.
"Aku tidak peduli, kalian makan denganku sekarang atau aku akan memecat kalian!?" Ana berseru tegas, tidak masalah bukan memberikan sedikit ancaman kepada para pelayannya itu.
"Tap----"
"Tidak ada tapi-tapian, panggil semuanya dan makanlah bersamaku, meja ini cukup luas, rasanya tidak nyaman makan seorang diri."
Para pelayan tadi dengan cepat duduk diposisi mereka masing-masing, dan yang lainnya memanggil yang lain. Mendengar ucapan Ana tadi membuat mereka menurut, mereka tidak ingin kehilangan pekerjaan hanya karena tidak menuruti keinginan Ana. Ana terseyum, sesekali ia mengajak para pelayannya bercanda, benar-benar suasana yang sangat ia dambakan. Meskipun hatinya sedih karena suaminya tidak ada suaminya di sana.
Melihat Ana terdiam, kepala pelayan memandangi Ana dengan pandangan miris. Ia kasihan dengan Ana yang selalu diabaikan oleh suaminya.
"Nyonya, apa anda tidak apa-apa?"
Ana menoleh kearah wanita paruh baya yang berada di sampingnya. "Aku tidak apa-apa. Aku sudah selesai, aku akan beristirahat dikamarku."
Pelayan disana melihat punggung Ana yang sudah menjauh hanya bisa memandanginya. Mereka sangat menyayangi Ana, jadi kadangkala melihat Ana bersedih membuat mereka juga sedih.
Ana berjalan menapaki satu persatu anak tangga menuju lantai paling atas. Wanita itu menuju kamar utama yang di tempati oleh suaminya. Ketika telah sampai di depan pintu itu, Ana ingin sekali rasanya mendorongnya, namun ia tidak berani. Akhirnya Ana memutuskan untuk melewati pintu tersebut dan berjalan menuju kamarnya. Baru selangkah, suara pintu di buka membuat Ana menolehkan kepalanya. Senyuman yang seharusnya ia gunakan untuk menyambut sang suami mendadak menjadi pudar. Tatapan wanita itu beralih kearah samping suaminya, seorang wanita yang lebih tua darinya beberapa tahun berdiri dengan memeluk lengan suaminya itu.
"A-Axel, kau sudah bangun?"
Axel, lelaki itu menatap Ana dengan pandangan datar. Lelaki berumur 27 tahun itu tidak berbicara sedikitpun.
"Axel, aku akan menyiapkan makanan untukmu. Tunggulah sebentar." Ana bergegas ingin menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk suaminya.
"Tidak usah! Aku tidak membutuhkannya, biarkan Sherly yang menyiapkan makanan untukku."
Ana memandang Axel dengan pandangan sulit diartikan. Kemudian ia kembali beralih menatap wanita yang berstatus sebagai pacar Axel. Wanita itu tersenyum sinis, Ana hanya bisa menunduk, bukan takut dengan wanita itu, tapi rasanya melihat lelaki yang merupakan suami kita bersama dengan wanita lain di hadapan kita benar-benar sangat menyakitkan.
"Kau lebih baik masuk ke kamarmu dan jangan menggangguku dan kekasihku." Ujar Axel, kemudian menggandeng Sherly untuk beranjak dari sana meninggalkan Ana seorang diri.
Ana hanya bisa diam, lagi dan lagi ia sama sekali tidak bisa melakukan apapun. Ana memandangi punggung Axel yang telah menjauh bersama Sherly. Wanita itu tersenyum miris, dadanya terasa sakit melihat kemesraan antara Axel suaminya dan Sherly.
"Apa tidak ada sedikitpun perasaan di hatimu untukku." Gumam Ana pelan, wanita itu kemudian memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintu dan menguncinya, lalu menumpahkan semua tangisannya di sana. Untung saja kamar di mansion milik Axel itu semua kamar di desain kedap suara, sehingga menangis sekeras apapun tidak akan ada yang mendengarnya.
Ana berulang kali memukul dadanya yang sesak, sudah hampir setahun pernikahan yang ia jalani dengan Axel, namun lelaki itu sedikitpun tidak pernah tertarik padanya. Padahal Ana sudah sangat mencintainya meskipun pernikahan mereka karena sebuah perjodohan. Bagi Ana, pernikahan adalah hal sakral yang di lakukan sekali seumur hidup. Jadi sampai kapanpun ia akan memperjuangkannya.
Air mata Ana terus berjatuhan, wanita itu mengusapnya pelan. Wanita itu berjalan kearah meja riasnya dan berkaca di sana. Mengambil tisu basah dan menghapus make up-nya. Wajah putih bersih tanpa cacat sedikitpun terpampang jelas di sana. Wajah yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan kepada siapapun. Ana tersenyum miris, berpikir apakah tidak ada orang yang mau mencintainya dengan tulus, entah itu keluarga, teman, bahkan suaminya, mereka semua membenci Ana.
Suara dering telepon berbunyi, Ana mengambil ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Menghembuskan nafasnya pelan, ia menggeser tombol hijau di layarnya.
"Ana, aku membutuhkan uang 200 juta, segeralah kau transfer ke rekeningku."
Ana sudah menduga hal itu, yang meneleponnya itu adalah kakak perempuannya. Begitulah keluarga Ana, hanya uang dan uang tanpa memikirkan bagaimana Ana.
"Aku tidak memiliki uang sebanyak itu kak." Ujarnya.
"Cih, kau ini, apa suami kaya rayamu itu sudah bangkrut!? Kau kenapa pelit sekali pada kakakmu sendiri."
Ana tidak habis pikir dengan kakaknya ini, padahal kakak Ana sudah bekerja, namun mengapa terus menerus minta uang kepada Ana.
"Kak, bukankah kau bekerja? Lalu mengapa selalu meminta uang padaku."
"Kau jangan mengalihkan pembicaraan, sebaiknya segera transfer uang 200 juta padaku, atau aku akan melaporkanmu kepada ayah dan ibu karena kau tidak mau menolong kakakmu yang sedang kesulitan."
"Ka--"
Belum sempat Ana menyelesaikan pembicaraannya, kakak perempuan Ana itu langsung mematikan panggilannya. Ana hanya bisa memandangi ponselnya, semua orang tidak ada yang berpihak padanya. Ia hanya seorang diri di dunia ini, kadang kala Ana berpikir apakah hidupnya ini memang ditakdirkan semalang ini.
Ana meletakkan ponselnya kembali, mendudukkan dirinya di depan meja rias dan mulai memasang riasan bermake-up tebal, tidak lupa wanita itu mengganti pakaiannya dengan yang lebih sexy. Setelah di rasa cukup, Ana keluar dari kamarnya, berjalan pelan menuruni tangga menuju ruang santai di belakang mansion mewah itu.
Pandangannya selalu lurus ke depan. Samar-samar Ana mendengar seseorang berbicara dan sesekali tertawa. Beberapa pelayan yang berpas-pasan dengannya menyapa Ana ramah, menatap wanita itu dengan kagum, meskipun ada beberapa yang menatap kasihan.
Ana menghampiri dua orang yang sedang bercengkrama di ruang santai sambil menikmati makanan ringan dan juga teh. Mendengar langkah kaki Ana yang menggunakan hak tinggi di lantai membuat keduanya mengalihkan perhatian mereka. Raut wajah keduanya langsung berubah, Axel yang tadinya tersenyum menjadi datar, dan Sherly juga sama, wanita itu merubah raut wajahnya dengan pandangan sinis.
"Axel."
Axel menatap Ana tanpa ekspresi, meskipun begitu Ana tetap ingin berbicara dengan lelaki itu. Ana mendekat, hingga ia berdiri di sebelah Axel dan berada di dapan Sherly.
"Jangan terlalu dekat dengannya." Sherly menatap tajam Ana. Sedangkan Ana tidak peduli, ia tetap mendekat kearah Axel.
"Ana hentikan!!!"
Ana menghentikannya, namun ia menatap teduh mata lelaki yang berada di hadapannya itu.
"Axel, aku ingin berbicara sesuatu." Baiknya kemudian kembali mendekat pada Axel.
Sherly yang melihat itu sangat murka, wajah wanita itu memerah. Ia berdiri dari duduknya kemudian menjambak rambut Ana.
Ana yang belum siap apapun terkejut bukan main, tidak hanya Ana, bahkan Axel pun sama terkejutnya. Meskipun sering kali hal seperti ini terjadi.
"Hei, apa yang kau lakukan!?" Tanya Ana kesal sambil menahan rambut panjangnya yang menjadi sasaran kemarahan Sherly.
Sherly semakin menarik rambut Ana, "Apa kau bodoh!? Kau telah menggoda kekasihku jalang!!!"
Ana terkekeh mendengar ucapan Sherly, lalu ia melirik kearah Axel yang tidak bereaksi apapun. Lelaki itu justru dengan santainya meminum teh dari cangkirnya.
"Kurang ajar! Kau sialan, berani sekali kau menggoda suamiku, kau selalu tidur dengannya di mansion kami, lalu panggilan apa yang pantas untuk wanita sepertimu!? Kau bahkan lebih menjijikkan dari pada seorang jalang."
Plak
Suara tamparan itu menggema di ruangan santai mansion milik Axel. Pelakunya bukan Sherly, dia Axel. Lelaki itu menampar sang istri dengan tangannya sendiri. Ana yang mematung di buatnya, wanita itu memegangi pipi kanannya yang terasa perih akibat tamparan Axel. Ia memandang Axel tidak percaya, "Ke-kenapa kau menamparku?" Tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Karena kau memang pantas mendapatkannya." Balas Axel dengan nada dingin.
Sherly yang mendengarnya tersenyum penuh kemenangan, ia menatap kutek di kukunya yang berwarna merah menyala, meniupnya seolah mengejek Ana.
Ana tersenyum miris, "Kau menamparku demi wanita jalang itu? Kau benar-benar sangat luar biasa Axel."
Axel masih memasang wajah yang sama, lelaki itu sama sekali tidak berekspresi apapun. Ia terus menatap Ana yang ada di hadapannya.
"Apa kau tidak pernah sadar jika yang menjadi istrimu aku bukan wanita jalang ini!? Apa wanita jalang ini sebegitu berharganya!?"
"Diamlah."
Ana terkekeh sinis, mengusap airmatanya yang telah jatuh. "Kau menyimpan sampah busuk sepertinya dan membuang berlian sepertiku!? Di mana otak pintarmu itu, apa kau telah bodoh karenanya!?"
"Hentikan Ana."
"Tidak, aku belum puas, gara-gara wanita jalang ini kau tidak pernah melirikku sedikitpun, aku ini istri sahmu, dan dia, dia hanya orang lain, dia tidak pantas, di---"
"CUKUP ANA, AKU MENGATAKAN PADAMU CUKUP!!!"
Ana kembali terdiam, bentakan Axel membuat hatinya meronta, terlaku sesak rasanya.
"Dia bukan jalang, dia wanita baik-baik, dan yang kau sebut wanita jalang itu kekasihku. Jadi jangan sekali-kali kau berani mengatakannya lagi atau aku akan menghukummu. Bahkan kaulah yang pantas di sebut jalang, lihat pakaian dan riasanmu itu, menjijikkan." Axel menarik Sherly dari sana, kembali meninggalkan Ana yang menangis. Sebelum benar-benar keluar dari ruangan santai itu, Sherly sempat menatap Ana dengan senyuman penuh kemenangan, lalu kemudian langsung memeluk mesra lengan Axel.
"Aku tidak boleh menyerah, Axel pasti akan mencintaiku suatu hari nanti." Tekad Ana dalam hati.
Bersambung. . .