Seorang wanita dengan gaun sexy berwarna biru itu sedang berada di ruang santai sambil membaca majalah keluaran oagi ini ditangannya. Wanita berambut panjang dengan warna coklat keemasan dan make-up yang menghias di wajahnya tampak fokus membaca. Sesekali tangannya meraih gelas jus jeruk dingin yang ada di meja.
Tiba-tiba saja, seorang pelayan menghampiri wanita itu dengan tergesa-gesa. "Mohon maaf mengganggu waktu bersantai anda nyonya Ana."
"Ada apa Mia? Kenapa kau tampak begitu panik?" Tanya Ana, ia meletakkan majalahnya di samping jus jeruk miliknya.
Mia terlihat gugup, bahasa tubuh wanita itu terlihat tidak baik-baik saja.
"Saya ingin mel---"
"ANA, KELUAR KAU ANAK PEMBAWA SIAL!"
Ana berdiri dari duduknya, wanita itu memasang wajah datar miliknya.
"DISINI KAU RUPANYA, DASAR TIDAK TAU DIRI!"
Wanita paruh baya yang tidak lain merupakan ibu tiri dari Ana itu mendekat kearah Ana, wajah wanita itu tampak memerah seperti menahan amarahnya.
"Ada apa nyonya kemari?" Nada bicara Ana terlihat santai meski sebenarnya ia sangat takut.
"Cih, sangat menjijikkan, apa begini caramu menyambut ibumu!? Sangat tidak sopan."
Ana hanya mampu menghembuskan napasnya pelan, ia merubah raut wajahnya dengan senyuman terpaksa. "Lalu apa yang nyonya inginkan? Bukankah selama ini nyonya tidak ingin menganggapku anak?"
Skak matt, wajah wanita paruh baya itu berubah semakin suram, urat-urat dilehernya tampak mulai terlihat jelas. "Kurang ajar! Kau sangat sombong, mentang-mentang dirimu sudah menjadi istri dari lelaki kaya raya, kau memperlakukan keluargamu dengan tidak sopan. Tidak tau diri! Susah-susah aku merawatmu dari saat ibumu sudah meninggal, dan sekarang kau berani kurang ajar padaku. Gadis tidak berguna!"
Ana tersenyum sinis, gadis itu melipat kedua tangannya di depan d**a. "Aku tidak berguna!? Apa selama ini nyonya tidak salah? Bahkan anakmu saja dan juga nyonya sendiri seringkali menghabiskan uangku, lalu siapa sekarang yang tidak tau diri!? Aku atau nyonya?" Katakanlah Ana tidak sopan dengan orang yang lebih tua, tapi saat ini kesabarannya sudah habis, ia benar-benar muak diperlakukan buruk oleh kakak tiri dan juga ibu tirinya.
"KAU, KURANG AJAR!"
PLAK!
Tamparan kerasa mendarat pada pipi Ana, tidak ada yang bisa mencegahnya meskipun pelayan-pelayan disana, karena Ana sendirilah yang sering melarang mereka untuk mencampuri urusan Ana dengan keluarganya.
"Tamparan itu pantas untukmu," Ujar Julia, Ibu tiri Ana.
Ana hanya bisa diam, ia mengelap sudut bibirnya yang berdarah.
"Oh ya, jangan lupa untuk mentransfer ke rekeningku 500 juta, jika tidak kau akan merasakan akibatnya." Setelah itu, mJulia melenggang meninggalkan ruangan santai milik Ana.
Ana terduduk lemas diatas kursinya, sampai Mia pelayan pribadinya menghampiri wanita itu.
"Nyonya, anda tidak apa-apa?"
Ana menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa, tenanglah."
Mia tidak percaya dengan nyonyanya itu, Mia mendekat, lalu membelalakkan matanya ketika melihat pipi sebelah kiri ana yang memburu dan sudut bibir wanita itu yang berdarah.
"Nyonya, tunggulah sebentar, aku akan saya akan mengobati luka anda." Tanpa aba-aba, Mia berlari untuk mencari obat yang akan digunakan mengobati memar di pipi Ana.
"Tuhan, kenapa nasibku masih seperti ini? Apa kebahagiaanku belum juga datang?" Tanya Ana dalam hati.
Tidak lama setelah itu, Mia kembali dengan salep di tangannya juga beberapa pelayan yang membawakan wadah berisi es batu dan juga kompresan.
"Nyonya, maafkan saya, saya akan mengobati memar di wajah nyonya Ana."
Ana hanya menurut saja, para pelayannya dengan telaten mengobati memar di wajahnya. Ana hanya bisa meringis pelan, namun wanita itu sama sekali tidak protes. Baginya hal yang ia rasakan belum seberapa, bahkan ia sudah pernah merasakan hal yang lebih menyakitkan lagi. Mia dan pelayan yang lainnya merasa kasihan dengan nasib malang nyonya mereka. Mungkin, orang diluar sana akan mengira jika kehidupan yang Ana jalani begitu sempurna, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Kehidupan Ana sangat malang, di benci keluarganya, dan tidak dianggap oleh suaminya sendiri.
"Selesai, sebaiknya nyonya Ana beristirahat, sebentar lagi akan memasuki jam makan malam, jadi sebaiknya nyonya Ana harus bersiap-siap."
"Terimakasih, aku beruntung memiliki kalian," Ujar Ana dengan tulus, wanita itu kemudian berjalan menuju lantai atas mansion mewahnya dan menuju kamar miliknya.
"Kasihan sekali nyonya kita, ia terlalu berhati lembut," Ujar Mia dan diangguki oleh pelayan lainnya.
***
Ana selesai membersihkan dirinya, wanita itu sudah mengenakan gaun tidur miliknya, tidak lupa riasan yang selalu tersemat di wajah cantik Ana.
Tok tok tok
"Masuk," Suruh wanita itu.
Ceklek
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Ana.
"Maaf Nyonya, makan malam sudah siap, anda ditunggu oleh Tuan Axel dan...."
"Ya, aku sudah tau, jangan lanjutkan ucapanmu. Katakan padanya aku akan menyusul."
Pelayan tadi mengangguk patuh, kemudian keluar dari kamar milik Ana. Ana menghembuskan napasnya pelan, merapikan penampilannya.
"Kau harus kuat Ana, jika kau lemah, maka semua orang akan dengan mudah menjatuhkanmu," Gumamnya pada diri sendiri.
Ana berjalan keluar kamarnya, menuruni satu persatu anak tangga dan menuju meja makan.
Di sana, Axel dan juga Sherly sudah duduk dengan tenang. Berbagai macam hidangan disiapkan oleh chef terkenal yang sengaja di bayar oleh Axel untuk bekerja di mansion miliknya itu.
"Maafkan atas keterlambatanku." Ana duduk disalah satu kursi yang sudah disiapkan, wanita itu memilih kursi yang berseberangan dengan Axel, karena ia tidak ingin berdekatan dengan Sherly.
"Tidak apa-apa Ana, kami belum menunggumu lama. Benarkan honey?"
Axel hanya berdehem saja, sedangkan Ana, wanita itu memasang wajah datarnya.
"Makan sekarang." Tidak ada yang membantah, baik Sherly maupun Ana patuj dengan apa yang Axel katakan, kedua wanita itu mulai menikmati makan malam mereka.
"Aku sudah selesai," Ana menyelesaikan makan malamnya, wanita itu kemudian langsung berdiri untuk menuju kamarnya, namun baru beberapa langkah, suara Sherly menghentikannya.
"Ana, apa kau tidak ingin berkumpul dengan kami dahulu. Aku rasa Axel tidak akan keberatan jika kekasih dan istrinya mengakrabkan diri. Benar tidak honey?"
Axel tersenyum menatap Sherly, tapi lelaki itu menatap kearah Ana dengan pandangan tidak suka.
"Tidak usah repot-repot, aku sedang sibuk. Habiskan saja waktumu itu dengan suamiku, aku sudah bosan. Lagipula statusku lebih tinggi darimu, jadi orang diluar sana hanya tau diriku, bukan dirimu." Tanpa aba-aba Ana mempercepat langkahnya menuju kamar miliknya, sedangkan Sherly terdiam, wanita itu mengepalkan tangannya kuat.
"Sial," Makinya dalam hati.
Ana menutup pintu kamarnya rapat-rapat, tidak lupa wanita itu menguncinya. Tubuh wanita itu merosot di balik pintu, tangisannya pecah, hatinya sakit tentu saja, wanita mana yang rela melihat suaminya sendiri bermesraan dengan wanita lain di hadapannya. Ana tau jika ia bukanlah wanita yang dicintai Axel, tapi apa harus Axel melakukannya di mansion mereka, Ana kadangkala tidak habis pikir.
"Mama , jika diizinkan Ana ingin menyusul Mama, Ana tidak sanggup."
Ana mengusap airmatanya, wanita itu berjalan keluar balkon kamarnya. Duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Langit malam saat itu dipenuhi dengan gemerlapan cahaya bintang, bulan purnama bersinar terang. Beberapa bunga milik Ana yang selalu dirawatnya dengan baik tampak begitu cantik.
Ana memandangi satu persatu bunga mawar merah miliknya, wanita itu memang sangat menyukai bunga mawar merah, sehingga ia menanam begitu banyak di mansion miliknya dan Axel.
"Aku tidak ingin meminta apapun lagi Tuhan, cukup berikan aku kebahagiaan karena aku pantas."
"Nyonya Ana." Ana terkejut bukan main mendengar suara seseorang yang tiba-tiba ada di belakangnya.
"Mia, ada apa kau di sini?"
"Maaf Nyonya, saya tidak sopan, tapi saya sudah memanggil nyonya berulang kali tapi Nyonya Ana tidak menjawabnya."
Ana menghembuskan napasnya pelan, "Maafkan aku Mia, aku tidak mendengar panggilanmu. Tapi bagaimana kau bisa masuk ke kamarku?" Tanya Ana bingung, karena setaunya ia sudah mengunci kamarnya.
"Saya menggunakan kunci cadangan, saya takut nyonya kenapa-kenapa."
Mia tersenyum, "Aku tidak kenapa-kenapa Mia, tenanglah. Lalu, ada apa kau mencariku?"
Mia tampak gugup, "Nyo--nyonya...."
Ana mengerutkan keningnya heran, "Tenanglah Mia, ada apa? Katakan padaku."
"Tuan Axel menitipkan kartu ini untuk Nyonya. Tadi Tuan Axel dan Sherly pamit pergi keluar negeri beberapa hari kedepan."
Deg
Ana hanya diam, pandangan wanita itu seketika membuyar, ia tidak tau lagi harus mengatakan apa. "Ke-kenapa, Kenapa Mia, kenapa dia tidak pernah menatapku sama sekali, aku istrinya, bukan wanita itu."
Mia hanya bisa menatap majikannya itu dengan pandangan kasihan. Hidup Ana benar-benar berat, sehingga seringkali membuat Mia bersyukur meskipun ia harus hidup dengan bekerja sebagai pelayan seperti sekarang, namun keluarganya begitu peduli dan menyayanginya.
Bersambung. . .