Suara langkah kaki yang terdengar begitu anggun memenuhi lorong sebuah perusahaan besar. banyak pasang mata yang menatap pemilik dari langkah kaki itu. seorang wanita dengan mini dress berwarna merah muda memasang wajah dengan senyum manisnya. menyapa satu persatu orang yang ditemuinya meski tidak mengenal sama sekali.
Dia Ana, Gerhana Charlotte Jason, wanita yang merupakan istri dari seorang CEO dia perusahaan itu. wanita baik yang bagi semua orang sangat tidak sesuai dengan penampilannya. kebanyakan dari mereka ketika bertemu pertama kali dengan Ana, pasti menganggap jika Ana adalah wanita yang tidak pantas dengan Axel.
"Nyonya Ana, adakah hal yang bisa saya bantu?"
Ana tersenyum kepada resepsionis yang menyapanya itu. Seorang wanita yang kira-kira seumuran dengan kakak tirinya, wanita ramah yang juga sudah memiliki suami dan anak yang lucu.Wanita itu adalah satu wanita yang tidak pernah menjelekkannya.
"Elfira, panggil saja aku Ana, jangan terlalu formal seperti itu. lagipula kau lebih tua 2 tahun diatasku, jadi harusnya aku yang memanggilmu dengan sebutan kakak."
Elfira, wanita tadi tersenyum canggung, rasanya tidak pantas sekali ia memanggil Ana tanpa embel-embel Nyonya.
"Maaf Nyonya, rasanya tidak pantas jika seorang karyawan seperti saya ini lancang memanggil istri dari bos besar seperti anda tanpa embel-embel Nyonya."
Ana berdecak kesal, lalu meletakkan makanannya di atas meja resepsionis. "Aku akan marah padamu jika kau tidak menuruti keinginanku. Aku tidak suka memandang seseorang dari status sosialnya. Kau bisa berteman denganku Elfira, aku sangat kesepian selama ini."
Elfira menatap kearah Ana, wajah gadis itu murung sehingga membuat Elfira tidak tega. Wanita yang sudah bekerja bertahun-tahun di perusahaan milik Axel itu menghela napasnya pelan.
"Baiklah Nyo---, Emb, maksudku Ana, aku akan menuruti keinginanmu, tapi hanya saat hanya ada kita berdua saja, jika ada orang lain di perusahaan ini, aku akan memanggilmu dengan sebutan nyonya."
Ana menatap kearah Elfira, wajah muram gadis itu mendadak berubah menjadi terang. Mata berbinar Ana membuat Elfira tertawa.
"Aku sangat senang karena sekarang aku memiliki teman, terimakasih banyak Elfira."
"Apa yang sedang kalian lakukan."
Tubuh kedua wanita yang tadinya sedang berbicara itu mendadak menjadi tegang. Suara dingin itu berasal dari lelaki yang sekarang berdiri di belakang mereka, lelaki dengan jas berwarna hitam.
"Elfira, lanjutkan pekerjaanmu! Apa aku menggajimu untuk berbicara dengannya!?"
Elfira menunduk, wanita dengan satu anak itu kembali melanjutkan pekerjaannya. Kemudian, tanpa aba-aba Axel menarik tangan Ana untuk masuk kedalam ruangannya. Ana hanya pasrah saja, wanita itu juga sudah membawa kembali kotak bekalnya yang tadi ia letakkan di meja resepsionis tadi.
Ana meringis karena merasakan pergelangan tangannya yang tadi di cengkram oleh Axel. "Lepaskan tanganku." Nafa lirih itu keluar dari mulut mungil Ana.
Axel yang menyadari hal yang ia lakukan akhirnya melepaskan tangan Ana yang sudah memerah akibat cengkramannya.
Lelaki itu duduk di kursi kebanggaannya, meninggalkan Ana yang masih berdiri sambil menentang kotak bekalnya.
"Apa yang kau lakukan disini!?" Tanya Axel, lelaki itu menatap tajam sang istri.
Ana berjalan pelan menghampiri meja kerja Axel, wanita itu meletakkan kotak bekal yang ia bawa disana. "Aku hanya ingin membawakan ini untukmu."
Axel menatap datar kotak yang tergeletak diatas meja itu. "Aku tidak membutuhkannya."
"Aku mengetahui jika kau tadi pagi tidak sempat sarapan bukan? Untuk itu aku berinisiatif membuatkannya untukmu."
Axel terkekeh, kemudian wajah lelaki itu berubah menjadi sinis. "Kau tidak perlu repot-repot menyulitkan dirimu seperti itu, aku tidak akan luluh sama sekali meskipun kau berusaha."
Ana hanya menghela napasnya, berbicara dengan orang seperti Axel dirinya memang harus ekstra sabar.
"Tidak bisakah kau menghargai usahaku? Tidak bisakah kau menganggapku sebagai istrimu meskipun kita menikah karena sebuah perjodohan?"
Axel hanya menatap datar wajah Ana, "Aku sampai kapanpun tidak akan pernah Sudi menganggap wanita jalang sepertimu sebagai istriku. Bukankah sudah kukatakan berulang kali jika pernikahan ini tidak pernah diharapkan, pernikahan ini hanyalah pernikahan bisnis."
"Ax---"
"Sudahlah, lebih baik kau pulang saja, keluar dari kantorku. Aku sangat muak melihat wajahmu itu, aku tidak ingin membuat moodku menjadi buruk dan mengabaikan semua pekerjaanku."
Ana tidak jadi melanjutkan kata-katanya karena Axel memotongnya. Wanita itu menatap lelaki dihadapannya dengan pandangan sendu. "Axel, aku ha---"
"Keluar!"
Hanya satu kalimat, tapi hal itu membuat Ana terdiam. "Kenapa kau justru diam!? Apa kau tuli!?"
Mata Ana mulai berkaca-kaca, meskipun ia sering mendapatkan perlakuan kasar dari keluarganya, tapi kadangkala Ana tidak menerimanya, kadangkala ada perasaan sakit dihatinya mendengar cacian dan hinaan dari orang-orang disekitarnya.
"Gerhana, jangan membuat aku semakin marah, kau benar-benar tidak tau malu, lebih baik sekarang kau keluar dari ruangan ku! KELUAR!" Hati Axel sudah dipenuhi dengan emosi, pikirannya tidak bisa bersabar lagi karena Ana yang terus diam di dalam ruangan miliknya itu.
Ana meletakkan bekal makanan yang ia bawakan untuk Axel, "Aku akan keluar, tapi tolong tetaplah terima makanan ini." Setelahnya, Ana berjalan keluar ruangan milik Axel.
Axel memandangi kotak bekal yang Ana buatkan untuknya, lelaki itu mengambil kotak bekal yang tergeletak itu, kemudian membawanya keluar ruangan.
"Elfira."
Elfira, resepsionis yang merupakan orang yang berjaga di depan ruangan milik Axel itu menoleh kearah bos besarnya. "Ada apa Tuan Axel?"
Axel menghampiri Elfira, lalu menyerahkan kotak bekal dari Ana kepadanya. "Tolong buang ini."
Elfira menatap bosnya itu dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana bisa dengan gampangnya membuang makanan yang sudah di bawakan oleh istrinya sendiri.
"Tap----"
Belum selesai Elfira menyelesaikan kalimatnya,Axel sudah terlebih dahulu meninggalkan wanita itu.
Elfira menghembuskan napasnya pelan, wanita itu kembali duduk, lalu melekatkan kotak bekal yang ada di tangannya. "Kasian sekali Ana, sepertinya Tuan Axel tidak menyukainya. Tapi, jika memang Tuan Axel tidak menyukainya bagaimana bisa mereka menjadi suami istri?" Gumam Elfira pelan, takut-takut jika ada orang lain yang mendengarnya maka akan bahaya.
***
Sedangkan disisi lain, Ana keluar dari gedung tinggi perusahaan Chaniago Group, perusahaan besar yang merupakan milik keluarga suaminya. Wanita itu masuk ke dalam mobil miliknya seorang diri.
Tatapan Ana beralih pada bagian depan mobilnya. Wanita itu terlihat murung, kemudian ia menghembuskan napasnya perlahan.
"Apa sebegitu bencinya kau padaku? Apa sebegitu tidak adanya rasa yang kau miliki untukku Axel?" Entahlah, Ana mungkin saja seperti orang yang putus asa, wanita benar-benar sudah tidak tau lagi bagaimana caranya meluluhkan hati Axel, hati lelaki itu dan pikirannya hanya dipenuhi dengan Sherly. Bahkan pandangan lelaki itu hanya tertuju pada Sherly.
Saat Ana sedang asik dengan lamunannya, pandangan mata wanita itu tanpa sengaja dikejutkan dengan pemandangan menyakitkan di depannya. Di sana, ia melihat Sherly dan juga Axel suaminya, sepasang kekasih itu terlihat sangat bahagia, tawa Axel bahkan terlihat lepas.
Tes
Tanpa sadar, airmata Ana menetes, wanita itu tersenyum miris. "Andaikan jika bersamaku kau seperti itu, andaikan aku yang ada disana, bukan Sherly. Tapi semuanya hanya seandainya."
Ana mengusap air matanya yang turun. Wanita itu kemudian menjalankan mobilnya keluar dari perusahaan milik suaminya itu.
Disisi lain, sebenarnya Axel mengetahui jika mobil Ana melewati dirinya dan Sherly, namun Axel mengabaikannya.
"Kau sendiri yang memilih jalan hidupmu, kau yang mengganggu kehidupanku, harusnya aku dengan Sherly hidup bahagia sekarang, tapi kau menghancurkan semuanya," batin Axel sambil memandang mobil milik Ana yang sudah menghilang dari balik gerbang masuk perusahaan miliknya.
"Sayang, ada apa?" Sherly menyerngitkan keningnya heran, ia menatap kewajah laki-laki yang merupakan kekasihnya itu.
Axel tersadar dari lamunannya, lelaki itu tersenyum lembut membalas pertanyaan Sherly. Kemudian Axel menggelengkan kepalanya pertanda jika tidak ada apapun.
"Tadi aku melihatmu melamun, apa yang sebenarnya kau pikirkan?"
"Tidak ada sayang, aku hanya sedang bingung tentang suatu hal, hanya saja tidak terlalu penting."
Sherly hanya menganggukkan kepalanya saja, "Kalau begitu, apakah kau bisa menemani aku berbelanja apapun yang aku mau?"
Axel mengelus surai rambut milik kekasihnya itu, "Tentu saja, mari kita beli apapun yang kau inginkan."
Axel dan Sherly akhirnya menaiki mobil Axel, sepasang kekasih itu menikmati kebahagiaan bersama tanpa memikirkan orang lain yang terluka.
Bersambung. . .