Sepanjang pelajaran Bahasa Indonesia, Ram hanya bisa memperhatikan Zunaira. Setiap gerakannya, setiap kata yang diucapkannya, semuanya terasa sempurna di mata Ram. Zunaira menjelaskan materi dengan lugas dan menarik, sesekali tersenyum kecil yang membuat hati Ram bergetar. Ia memperhatikan cara Zunaira memegang buku, cara ia menulis di papan tulis, bahkan cara ia membetulkan rambutnya yang terurai—semuanya tampak begitu anggun dan memesona.
Setelah pelajaran selesai, Ram memberanikan diri untuk mendekati Zunaira. Ia melihat Zunaira sedang membereskan buku-bukunya di meja. Ram menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tak karuan.
"Bu Zunaira," panggil Ram, suaranya sedikit gemetar.
Zunaira menoleh, senyum tipisnya kembali terukir di bibirnya. "Ya, Ram?"
"Saya… saya ingin bertanya sesuatu," kata Ram, terbata-bata. Ia merasa gugup, perasaannya campur aduk antara rasa takut dan harapan.
"Silakan," jawab Zunaira, tatapannya lembut namun tetap menjaga jarak profesional.
"Apakah… apakah Bu Zunaira punya waktu luang setelah sekolah?" tanya Ram, mencoba sekuat tenaga agar suaranya terdengar tenang.
Zunaira mengerutkan kening sedikit, seakan berpikir. "Biasanya saya langsung pulang setelah sekolah," jawabnya. "Ada apa, Ram?"
Ram menggigit bibir bawahnya. Ia ragu-ragu untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung. "Saya… saya hanya ingin… berbicara dengan Bu Zunaira," katanya, suaranya hampir tak terdengar.
Zunaira memperhatikan Ram dengan saksama. Ia melihat keraguan dan kegugupan yang terpancar dari wajah pemuda itu. Ia menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar pertanyaan biasa.
"Baiklah," kata Zunaira, "Tapi hanya sebentar. Saya punya janji makan malam dengan Ibu saya."
Ram tersenyum lega. Ia merasa sedikit lebih berani sekarang. "Terima kasih, Bu Zunaira. Saya tunggu di kafe dekat sekolah."
Setelah Zunaira pergi, Ram merasa lega namun juga gugup. Ia langsung menuju ke kafe yang dimaksud, mencari tempat duduk yang strategis agar bisa melihat Zunaira dari kejauhan. Ia memesan secangkir kopi hitam, mencoba menenangkan diri. Aroma kopi yang harum sedikit meredakan kegugupannya.
Ia menunggu Zunaira sambil membaca buku novel yang dibawanya. Namun, matanya terus-menerus melirik ke arah pintu masuk kafe, menunggu kedatangan Zunaira. Ia berharap pertemuan ini akan menjadi awal dari sesuatu yang spesial di antara mereka. Ia berharap Zunaira merasakan hal yang sama dengannya. Namun, di sisi lain, ia juga khawatir akan konsekuensi dari perasaannya ini. Perbedaan status sosial dan posisi mereka sebagai guru dan murid adalah penghalang yang cukup besar.
Aroma kopi yang harum dan halaman-halaman buku yang dibaca Ram seakan menjadi saksi bisu dari awal kisah cinta terlarang ini.