Mathias dirawat di Haukeland—rumah sakit terbesar di Bergen, kompleks bangunan modern di pinggiran kota dengan koridor-koridor berlapis kaca yang menampilkan view fjord di kejauhan.
Aksel dan Lara sudah datang ke sini empat kali dalam dua minggu sejak mereka tiba. Hari ini adalah pertemuan resmi pertama dengan tim dokter Mathias—untuk membahas transisi pengasuhan dari keluarga angkat ke Aksel sebagai ayah biologis, dan untuk menjelaskan kondisi medis Mathias dengan detail lengkap.
Dokter Eriksen menerima mereka di kantornya di lantai empat. Perempuan berkacamata bulat dengan rambut perak yang dipotong pendek seperti laki-laki, sekitar awal enam puluhan. Di dindingnya tergantung gambar-gambar anak yang ia rawat—Mathias salah satu dari mereka, dengan gambar krayon berjudul "Dokter Saya" yang Lara mengenali dari gaya garis yang sama dengan lukisan-lukisan lain di rumah Karen.
"Tn. Berg, Ms. Pratiwi, silakan duduk."
Mereka duduk di dua kursi di seberang meja Dokter Eriksen. Map medis Mathias terbuka di atas meja—setumpuk dokumen dengan grafik, hasil tes laboratorium, foto rontgen.
"Saya sudah merawat Mathias selama tiga tahun. Sebelumnya dokter dr. Jensen merawatnya, tapi dr. Jensen pensiun. Mathias, secara medis, kompleks. Tapi sebagai pasien—dia anak yang luar biasa. Saya akan jujur dengan Anda. Saya rasa Anda berhak."
"Iya, Dokter."
Dokter Eriksen menarik napas.
"Penyakit Mathias adalah dystrofi mitokondria—jenis langka yang sama dengan ibunya, Maja. Tubuhnya tidak bisa menghasilkan energi seluler dengan efisien. Ototnya akan terus melemah. Jantungnya, sebagai otot juga, akan terdampak. Yang membedakan kasus Mathias dari kasus Maja adalah—Mathias mendapatkan gennya dari Maja, bukan dari Anda. Saya tahu Anda sudah tes; hasil Anda negatif. Itu artinya, kalau Anda dan Ms. Pratiwi suatu hari memiliki anak biologis bersama, anak itu tidak akan punya gen dystrofi mitokondria dari pihak Anda."
Lara, yang duduk di sebelah Aksel, merasakan tangan Aksel mencengkeram tangannya tanpa sadar.
"Tapi untuk Mathias?" tanya Aksel, suaranya parau.
"Untuk Mathias, prognosis... terbatas." Dokter Eriksen melepas kacamatanya, mengelapnya dengan kain di mejanya. "Lima tahun, mungkin sepuluh kalau sangat beruntung. Beberapa pasien dengan kondisi yang sama bertahan sampai dua puluhan, tapi itu langka. Kami bisa kelola gejala—obat untuk membantu fungsi mitokondria, fisioterapi untuk menjaga otot, jadwal tidur dan diet yang ketat—tapi kami tidak bisa menyembuhkan."
Aksel menutup matanya. Lara mengeratkan genggaman di tangannya.
"Apa yang bisa kami lakukan untuk membuat dia... nyaman?"
"Tn. Berg, Mathias anak yang luar biasa. Saya rawat dia tiga tahun. Yang dia butuhkan paling utama bukan obat. Yang dia butuhkan adalah... waktu. Dengan keluarga. Dengan orang yang mencintainya. Mathias selalu sehat secara emosional di tahun-tahun terakhir karena keluarga angkatnya luar biasa. Tapi ia sering bertanya tentang ayahnya. Itu lubang yang tidak bisa diisi orang lain."
Aksel mengusap wajahnya dengan tangan bebas.
"Dokter, kalau saya pindah ke Bergen permanen, dengan Lara, dengan Mathias di rumah keluarga..."
"Itu yang terbaik, Tn. Berg. Keluarga angkat Mathias—keluarga Holm—mereka akan setuju, saya sudah bicara dengan mereka. Mereka bilang, Mathias selalu menyebut keluarga mereka sebagai 'keluarga semantara,' dan sekarang adalah waktunya 'pulang ke keluarga sebenarnya.' Itu kata-kata Bu Holm."
"Apa yang harus saya persiapkan?"
Dokter Eriksen mengangguk, lalu mengeluarkan map kedua dari laci.
"Semua di sini. Jadwal pengobatan harian, jadwal kontrol mingguan dan bulanan, daftar makanan yang harus dihindari, panduan untuk situasi darurat. Saya juga akan mengatur konsultasi dengan psikolog anak—Mathias sudah lima tahun, dan ia sudah cukup sadar akan kondisinya. Transisi keluarga akan butuh dukungan psikologis."
Lara akhirnya berbicara. "Dokter, untuk saya—apa yang saya bisa lakukan? Saya bukan ibunya secara biologis. Tapi saya akan menjadi bagian dari hidup Mathias."
Dokter Eriksen tersenyum—senyum yang jarang muncul di wajahnya, Lara tebak.
"Ms. Pratiwi, Mathias butuh figur ibu dalam hidupnya. Ia kenal mama-nya hanya dari rekaman. Keluarga Holm baik tapi mereka selalu menjaga jarak emosional—mereka tahu mereka 'sementara.' Anda... bisa menjadi sesuatu yang lebih permanen, kalau Anda mau."
"Saya mau."
"Maka itu sudah cukup. Mathias akan tahu cara menerima Anda. Ia anak yang pandai membaca cinta yang tulus."
***
Mereka keluar dari kantor itu dalam diam. Berjalan ke kamar Mathias—anak itu sedang membaca buku komik dengan Karen di samping ranjangnya. Hari ini Mathias diopname untuk kontrol rutin tiga hari—pemeriksaan darah lengkap, ECG, pemeriksaan saraf. Bukan karena kondisinya memburuk, tapi karena prosedur standar setiap dua bulan.
"Papa! Lihat, Karen bawakan komik baru!"
Aksel duduk di tepi ranjang. Wajahnya masih tegang dari pertemuan dengan dokter, tapi ia memaksa senyum.
"Komik apa, Mathias?"
"Tin Tin di Tibet. Saya udah baca dua kali, tapi suka."
"Bagus. Papa juga suka Tin Tin waktu kecil."
Mathias meletakkan komiknya. "Papa kenapa?"
"Papa baru bicara sama Dokter Eriksen."
"Oh." Mathias mengangguk. "Iya. Dokter selalu bikin orang sedih. Tapi dokter Eriksen orangnya baik. Jangan marah sama dia."
"Papa tidak marah, Mathias."
"Papa." Mathias duduk lebih tegak di ranjang. "Ada yang papa harus tahu."
"Apa?"
"Kalau papa tinggal di Bergen sekarang, papa tinggal sama saya?"
Aksel menatap anak itu. Lara di belakangnya menahan napas.
"Iya, Mathias. Saya pindah ke Bergen. Tinggal sama kamu."
Mata Mathias membesar. "Beneran?"
"Beneran."
"Sama Tante Lara?"
Aksel menatap Lara. Lara mengangguk pelan, lalu maju mendekati ranjang.
"Iya, Mathias. Sama Tante Lara."
Mathias meletakkan komiknya. Mengulurkan kedua tangan kecilnya—satu ke Aksel, satu ke Lara.
"Papa. Tante. Saya senang."
Mereka memegang tangan kecil itu. Bertiga, di kamar rumah sakit Norwegia, membentuk lingkaran kecil yang tidak akan pernah Lara lupakan—sebuah keluarga yang tidak biasa, tapi keluarga yang nyata.
Karen di sudut kamar, mengelap mata diam-diam.
Mathias melihatnya. "Tante Karen, jangan nangis. Sekarang waktu yang bagus."
"Iya, Mathias. Iya."
"Tante Karen, kalau tante sedih, tolong tidur saja. Kalau tante bangun nanti, sedihnya udah berkurang. Itu trik saya."
Karen tertawa di tengah tangisnya. "Mathias, kau lebih bijak dari aku."
"Tante. Saya cuma punya pengalaman."
***
Mereka pulang ke rumah Karen pukul tujuh malam—Mathias akan tinggal di rumah sakit dua hari lagi untuk kontrol selesai. Aksel mengemudi mobil pinjaman dari Karen. Lara di kursi penumpang, memandang lampu-lampu kuning Bergen yang melewati jendela.
"Aksel."
"Iya."
"Lima tahun. Mungkin sepuluh."
"Iya."
"Kita harus pakai setiap detik dengan baik."
"Iya, Lara."
"Aku tidak akan pernah meninggalkan kau. Kau tahu itu, kan?"
Aksel meraih tangannya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
"Aku tahu."
Mereka tiba di rumah putih malam itu. Ibu Maja—yang sudah tinggal di sebelah Karen sejak Maja meninggal—sudah menyiapkan makan malam. Sup ikan. Roti hitam. Kopi yang diseduh dengan presisi yang hanya keluarga Norwegia tahu cara melakukannya.
Lara dan Aksel makan dengan diam. Tapi diam itu bukan kosong.
Di luar, salju Bergen terus turun, halus dan tidak berhenti.
Di dalam, sebuah keluarga sedang dirakit ulang—dari potongan-potongan yang kelihatannya tidak akan pernah cocok, tapi yang ternyata, kalau disatukan dengan kesabaran dan cinta, membentuk sesuatu yang baru.
Sesuatu yang biasa orang sebut: harapan.