Bergen di bulan Februari adalah dunia hitam-putih.
Hujan salju yang tidak berhenti—bukan salju yang tebal seperti di Antartika, tapi salju yang halus dan terus-menerus, seperti hujan yang lupa caranya jadi cair. Langit yang gelap dari pukul lima sore. Jalan-jalan batu yang berusia ratusan tahun, dengan lampu-lampu kuning yang menggantung di sudut-sudut bangunan kayu yang dicat putih, biru, atau kuning oker—warna-warna khas kota pelabuhan Norwegia yang Lara pernah lihat di kartu pos tapi tidak pernah ia bayangkan akan ia tinggali.
Lara turun dari taksi dengan jaket kutub yang sekarang terasa terlalu tipis. Bergen di Februari lebih basah daripada Antartika—dingin yang berbeda, dingin yang menempel di pakaian dan menyusup ke tulang lewat kelembapan, bukan lewat suhu. Aksel di sebelahnya, mengeluarkan koper dari bagasi dengan gerakan yang otomatis—gerakan seseorang yang sudah pulang ke kota ini ratusan kali.
Karen menunggu di pintu rumah keluarga—rumah putih kayu khas Norwegia, dua lantai, dengan jendela kecil yang menyala hangat di tengah malam yang berdesir. Atap rumah dilapisi salju setebal hampir setengah meter, ujung-ujungnya menggantung membentuk lapisan es yang berkilau di bawah lampu jalan.
"Aksel."
"Karen."
Mereka berpelukan singkat—pelukan yang bukan dramatis, tapi yang membawa beban dua tahun terakhir, beban telepon-telepon yang tidak terjawab, beban surat-surat yang Karen tulis dan Aksel tidak pernah balas.
Karen menatap Lara—mata biru pucat yang sama seperti Aksel, tapi lebih lembut, lebih tua, lebih sedih.
"Lara, terima kasih sudah datang. Aku tahu ini bukan keputusan kecil."
"Tentu saja, Karen. Aku tidak akan biarkan Aksel datang sendiri."
Karen mengangguk, lalu membuka pintu lebar. "Masuk. Mathias menunggu. Ia tahu papanya akan datang malam ini."
Mereka masuk. Rumah itu hangat dengan kehangatan yang bukan dari pemanas industri seperti stasiun Antartika, tapi kehangatan yang berlapis—pemanas radiator, perapian kayu yang masih menyala di ruang tamu, aroma kopi yang baru diseduh, aroma kayu pinus dari lantai yang baru dipoles. Aroma rumah yang sudah ditinggali generasi.
Di dinding koridor masuk, Lara melihat foto-foto bingkai kayu—foto pernikahan Aksel dan Maja, foto Karen dengan suaminya, foto orang tua Maja, foto bayi yang Lara tidak kenal. Lara bisa membaca sejarah keluarga ini dalam tiga puluh detik berdiri di koridor itu.
Di ruang tamu, di sofa besar di dekat perapian, seorang anak laki-laki kecil—mungkin lima tahun—duduk dengan selimut wol biru tebal yang membungkus sebagian besar tubuhnya. Rambutnya pirang seperti Maja di foto. Tapi mata cokelatnya... mata itu Aksel.
Lara berhenti di ambang ruang tamu. Tidak ingin terlalu cepat masuk. Ini momen Aksel.
"Mathias," panggil Karen pelan dari belakang Aksel. "Ini... papa kamu."
Anak itu mengangkat kepala dari buku kecil yang ia pegang—buku komik anak-anak, halamannya sudah agak kusut karena sering dibaca. Ekspresinya tidak terkejut. Seolah ia sudah menunggu seumur hidupnya untuk momen ini, dan akhirnya momen itu tiba dengan ketenangan yang Lara tidak siapkan dirinya untuk lihat di anak lima tahun.
"Halo, papa."
Suara Mathias kecil tapi jelas. Bahasa Inggris, dengan aksen Norwegia yang tipis.
Aksel jatuh ke lutut di lantai kayu di hadapan sofa. Mata birunya berkaca-kaca. Suaranya gemetar saat berkata:
"Mathias. Aku—aku baru tahu kamu ada minggu lalu."
"Iya, mama saya simpen rahasia." Anak itu tersenyum tipis. Senyum yang lebih tua dari umurnya—senyum anak yang sudah lama belajar membaca emosi orang dewasa. "Mama bilang itu kado. Kado untuk papa, supaya papa tidak sedih kalau mama pergi. Tapi kado yang ditemukan terlalu lama bukan kado lagi, ya, papa?"
Aksel menyentuh wajah Mathias dengan tangan gemetar. "Mathias..."
"Papa boleh peluk saya?"
"Iya, boleh."
Aksel memeluknya. Pelukan pertama seorang ayah pada anak yang ia tidak tahu ia punya. Mathias kecil di pelukan itu, tubuhnya rapuh di balik selimut—Lara bisa melihat dari posisinya bahwa anak ini terlalu kurus untuk umurnya, kakinya terlalu tipis di bawah celana piyama.
Lara berdiri di belakang Aksel, tidak ingin mengganggu. Tapi Mathias melihatnya dari balik bahu Aksel.
"Tante. Tante siapa?"
Aksel menarik diri dari pelukan, mengusap matanya dengan punggung tangan. "Mathias, ini—"
"Saya... saya teman papa kamu," Lara menjawab pelan, tidak ingin Aksel terlalu cepat menjelaskan.
"Pacar?"
Aksel tertawa di tengah air matanya. Tawa pendek yang terkejut. "Mathias, kau langsung-langsung."
"Mama Maja bilang harus tanya langsung-langsung. Karena hidup bisa pendek." Mathias menatap Lara dengan mata cokelat yang—Lara baru sadar—persis seperti mata Aksel. "Saya cuma punya empat tahun lagi mungkin. Itu yang dokter Eriksen bilang. Kalau mau kenal orang, harus cepat."
Lara merasa sesuatu pecah di dadanya. Tapi anak ini tidak butuh dia menangis. Anak ini butuh seseorang yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan jujur.
"Iya, sayang. Saya pacar papa kamu."
Aksel mengangguk pelan. "Iya. Lara pacar papa."
Mathias menatap Lara lama. Lalu mengulurkan tangan kecilnya dari balik selimut.
"Tante. Saya sakit. Tapi saya tidak takut."
Lara berlutut di samping Aksel di lantai kayu, dan menggenggam tangan kecil itu. Tangan yang dingin—suhunya rendah karena sirkulasi darah yang sudah tidak optimal, Lara baru baca tadi pagi di pesawat tentang dystrofi mitokondria—tapi yang menggenggam balik dengan kekuatan yang surprisingly tegas.
"Saya tahu, Mathias. Kamu kuat."
"Tante datang ke Norwegia untuk papa, ya?"
"Iya."
"Tante mau tinggal sebentar?"
"Selama yang papamu butuhkan."
Mathias mengangguk. Lalu, dengan pengamatan anak yang sudah lima tahun melihat lebih banyak rumah sakit daripada taman bermain:
"Kalau papa butuh tante, papa akan butuh lama. Papa orangnya keras kepala. Tante harus sabar."
Lara tidak bisa menahan tawa di tengah air matanya. "Iya, Mathias. Saya akan sabar."
"Papa juga harus sabar sama tante. Papa, dengar?"
Aksel mengangguk dari sebelah Lara. "Iya, anak. Papa dengar."
"Bagus." Mathias kembali ke buku komiknya, seolah pertemuan pertama dengan ayah biologisnya bukan hal besar. "Papa, tante, saya laper. Tante Karen, makan malamnya?"
Karen—yang berdiri di pintu ruang tamu sejak awal—tertawa pelan, mengelap mata dengan tisu. "Sebentar, Mathias. Sup salmonnya hampir jadi."
***
Mereka makan malam di meja bundar di ruang makan kecil. Sup salmon dengan kentang dan dill, roti gandum hitam yang Karen panggang sendiri di pagi hari, mentega Norwegia yang warnanya lebih kuning dari mentega yang Lara biasa lihat. Mathias makan pelan—dokter membatasi porsinya supaya tidak kelelahan mencerna—tapi ia makan semuanya, tanpa protes.
Aksel duduk di sebelah Mathias, mencoba tidak menatapnya terlalu intens, gagal. Setiap tiga puluh detik matanya kembali ke wajah anak itu, mempelajari setiap detail yang ia lewatkan selama lima tahun.
Mathias menangkap satu tatapan itu.
"Papa."
"Iya, Mathias."
"Jangan terlalu sayang sama saya."
Aksel terdiam. "Apa?"
"Saya minta. Mama Lara, papa, dengar saya. Saya tahu saya akan pergi suatu hari. Itu udah saya terima. Tapi kalau papa-mama terlalu sayang, papa-mama akan terlalu sedih nanti. Saya gak mau."
Lara meletakkan sendoknya pelan. "Mathias—"
"Saya minta tolong. Sayang biasa aja."
Karen di seberang meja menutup matanya. Lara merasa tenggorokannya sesak.
Aksel meraih tangan Mathias di atas meja. "Mathias. Anak. Papa tidak bisa janji itu."
"Kenapa?"
"Karena papa baru ketemu kau hari ini. Dan papa tahu—papa tahu sebanyak apa pun papa coba sayang biasa, hati papa tidak akan dengar. Hati papa akan sayang sebanyak yang ia bisa. Papa minta maaf, Mathias. Tapi papa tidak akan janji tidak terlalu sayang."
Mathias menatap papanya lama. Lalu, dengan kebijaksanaan anak lima tahun yang sudah hidup separuh hidupnya di rumah sakit:
"Papa, papa terlalu jujur. Mama Maja juga begitu, mama Lara bilang. Hahaha."
"Mama belum bilang itu pada Mathias—" Lara mulai, lalu sadar Karen pasti yang cerita.
"Mama bilang sama tante Karen, terus tante Karen bilang sama saya. Rumah ini gak ada rahasia, mama Lara. Tapi rahasia yang gak ada itu bagus. Saya suka."
Mathias kembali ke supnya.
Aksel memeluk anak itu lagi—pelukan dari samping, sambil duduk—dan Lara tahu, sebelum kata-kata diucapkan: hidupnya, mulai detik itu, akan berbeda selamanya. Dan ia tidak ingin yang lain.