Tiga bulan berlalu seperti angin musim panas Bali.
Aksel pindah ke rumah Lara secara resmi—koper kedua tiba dari Bergen via FedEx, berisi buku-bukunya, beberapa pakaian musim hangat yang ibu Maja kirimkan dari lemarinya yang dulu, dan satu kotak kecil yang Aksel taruh di laci meja kerjanya tanpa pernah dibuka. Lara tidak pernah bertanya apa isinya. Mereka belajar, di tiga bulan itu, bahwa cinta bukan hanya tentang berbagi semua—tapi juga tentang menghormati ruang yang masing-masing perlu jaga sendiri.
Aksel belajar bahasa Indonesia dengan kecepatan seseorang yang sudah lama belajar bertahan di tempat asing. Pelan, dengan aksen Norwegia yang tidak pernah hilang—setiap "r" yang ia ucapkan terdengar seperti getaran tenggorokan ringan—tapi cukup untuk berbelanja di pasar, untuk menanyakan arah, untuk memesan bakso dari Pak Slamet di pojok jalan dengan pengucapan yang akhirnya benar setelah dua bulan koreksi.
Ia membuka konsultasi geologi remote untuk klien-klien Eropa—stasiun kerjanya di pojok ruang tamu, dengan dua monitor besar yang ia pasang sendiri dan jam dinding yang menunjukkan tiga zona waktu: Bali, Bergen, Stockholm. Ia bekerja pukul tiga sore sampai sebelas malam—jam kerja kantor Eropa—dan tidur larut, bangun siang. Lara, yang masih meneliti diatom Antartika untuk publikasinya, bekerja pagi. Mereka bertemu di tengah hari untuk makan siang bersama, lalu sore untuk jalan ke pantai, lalu malam untuk masak makan malam di dapur kecil yang mereka berdua sekarang panggil "rumah."
Mereka tidak pernah bicara tentang menikah. Tidak perlu. Setiap pagi yang dimulai dengan kopi bersama, setiap malam yang ditutup di balkon, setiap perjalanan ke pasar yang dilakukan tangan-bergandengan—semuanya seperti pernikahan tanpa surat. Ibu Maja datang sebulan setelah kedatangan, tinggal seminggu, dan saat ia pulang ke Bergen ia memeluk Lara di bandara dan berbisik dalam bahasa Inggris yang berat aksen: "Jaga dia, Lara. Ia anak yang baik. Tapi ia rapuh, walaupun ia tidak akan mengakuinya."
"Iya, Bu. Saya jaga."
***
Sampai telepon itu datang.
Pukul tiga sore. Lara sedang merapikan tanaman di teras—pot-pot anggrek yang ia beli minggu lalu, yang harus disiram dua kali sehari di musim kering. Aksel sedang menelepon klien Stockholm—percakapan tentang sampel mineral dari Greenland yang Lara dengar samar dari ruang tamu, sebagian besar dalam bahasa Inggris dengan istilah teknis Norwegia.
Telepon Aksel berdering—bukan dari klien. Dari nomor yang tidak dikenal, dengan kode area Norwegia yang Aksel kenal terlalu baik. Lara bisa lihat layar telepon Aksel dari teras lewat pintu kaca. Ia melihat Aksel terdiam sebelum mengangkat. Diam yang lebih panjang dari biasanya—satu detik, dua detik—seperti seseorang yang sudah tahu, tanpa tahu bagaimana ia tahu, bahwa telepon ini akan mengubah sesuatu.
"Halo?"
Suara perempuan Norwegia. Cepat. Panik. Lara tidak bisa mendengar kata-katanya, hanya nada—nada seseorang yang berbicara terlalu cepat karena ia takut kalau ia berhenti, ia tidak akan bisa mulai lagi.
Lara tidak mengerti satu kata pun, tapi melihat wajah Aksel cukup. Wajahnya pucat dalam tiga detik. Tangannya mencengkeram pinggir meja kerja sampai buku-buku jarinya memutih.
"Karen, pelan-pelan. Pelan-pelan."
"..."
"Kapan? Kapan kau tahu?"
"..."
"Berapa lama?"
"..."
"Aku pulang besok. Aku—iya, aku besok. Telepon Mama. Bilang aku akan langsung ke Bergen."
Aksel menutup telepon. Berdiri lama di balkon. Tidak menoleh.
Lara meletakkan gunting tanamannya pelan, mencuci tangan di kran teras, lalu masuk ke ruang tamu. Langkahnya lambat—seolah ia bisa memperlambat apa pun yang akan datang dengan cara tidak buru-buru menuju Aksel.
"Aksel."
"Lara."
"Apa yang terjadi?"
Aksel menoleh akhirnya. Wajahnya sudah berubah jadi wajah pria yang tiga tahun lalu—wajah yang Lara temui di pesawat Hercules. Wajah pria yang membawa kesedihan seperti orang lain membawa koper. Tiga bulan kebahagiaan di Bali tampak seperti rias yang baru saja dilap dari wajah, mengungkap kulit yang sebenarnya di bawahnya—kulit yang belum sembuh sepenuhnya.
"Anak Maja."
"...Apa?"
"Maja punya anak, Lara. Dia tidak pernah bilang pada aku. Karen baru tahu minggu lalu. Anak laki-laki, sekarang umur lima tahun. Tinggal di Bergen dengan keluarga angkat."
Lara merasakan seluruh tubuhnya dingin. Walaupun udara Bali tiga puluh derajat. Walaupun ia memakai kaos tanpa lengan dan rok katun. Dingin yang berasal dari dalam—dari tempat di mana ia pikir ia sudah aman, sudah selesai dengan semua kejutan masa lalu.
"Aksel..."
"Lara, anak itu sakit. Sama dengan Maja. Penyakit yang Karen tes aku untuk itu."
"Tapi tes kau—"
"Negatif. Iya. Tapi anak itu... anak itu Maja. Dan Maja meninggalkan surat untuk Karen, supaya kalau anak itu sakit suatu hari, Karen yang menghubungi aku. Karena aku—"
Aksel berhenti. Tidak bisa selesaikan kalimat. Menelan sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan.
"Karena kau anak biologisnya," Lara menyelesaikan untuknya.
Aksel menutup mata.
"Iya. Aku ayahnya."
Hening yang panjang. Suara cicak di kebun terus berbunyi seolah dunia masih biasa-biasa saja. Di luar, suara klakson sepeda motor berbunyi di gang kecil di samping rumah. Bobby anjing tetangga menggonggong sebentar pada apa pun yang lewat. Hidup di sekitar mereka berjalan dengan kecepatan yang tidak peduli pada gempa kecil yang baru saja terjadi di ruang tamu Lara.
"Kapan—" Lara mencoba bertanya, tapi suaranya tidak keluar dengan baik. Ia membersihkan tenggorokan. "Kapan Maja melahirkannya? Kau tidak tahu Maja hamil sama sekali?"
"Aku—aku tidak tahu, Lara." Aksel duduk di sofa, tubuhnya seolah baru saja kehilangan tulang. "Karen baru saja kasih saya tanggal lahirnya. Lima tahun dua bulan. Berarti Maja hamil sekitar—sekitar enam bulan setelah ia didiagnosis. Saat itu kami sudah berhenti hubungan suami-istri. Dokter bilang stres tubuhnya tidak bagus untuk kehamilan. Maja sangat patuh. Ia tidak pernah—aku pikir tidak pernah—"
"Mungkin sekali, Aksel. Mungkin sekali saja, dan ia hamil."
"Iya. Mungkin. Dan ia memutuskan tidak memberitahu aku."
"Kenapa?"
"Karen bilang surat Maja menjelaskan. Maja tidak ingin aku menjaga seorang anak yang sakit setelah ia pergi. Ia pikir, kalau anaknya lahir sehat—berarti tidak punya gen mitokondria—anak itu bisa dititipkan ke keluarga angkat, dan aku tidak perlu tahu. Tapi kalau anaknya sakit suatu hari, Karen yang menghubungi aku. Karena sakit ini—Karen bilang—butuh ayah."
Lara duduk di sofa di sebelah Aksel. Tangannya gemetar.
"Aksel, kau harus pulang."
"Lara—"
"Kau harus pulang, Aksel. Anak itu butuh ayahnya."
"Tapi kita—rumah ini—Bali—"
"Aku ikut kau."
Aksel menatap Lara. Mata birunya yang pucat itu—untuk pertama kali sejak Lara mengenalnya—penuh dengan permintaan yang ia tidak sanggup ucapkan dengan kata.
"Lara, ke Norwegia? Tinggal di sana? Mengurus anak yang bukan anakmu? Anak Maja?"
"Aksel."
"Itu permintaan terlalu besar. Aku tidak bisa minta itu darimu."
Lara meraih wajah Aksel dengan kedua tangannya, memaksa pria itu menatapnya.
"Aksel Berg. Dengar aku. Kau membawa aku ke gua es saat aku hampir mati. Kau membawa aku ke puncak bukit untuk menunjukkan tempat paling indah yang kau pernah lihat. Kau pindah ke negara yang panas dan bising untuk aku. Berapa kali aku harus mengulang ini supaya kau paham?"
"Apa, Lara?"
"Aku mencintai kau. Bukan setengah. Bukan sampai mudah. Aku mencintai kau termasuk anak yang tidak kau tahu kau punya. Termasuk Norwegia yang gelap di musim dingin. Termasuk masa lalu yang akan terus muncul tiba-tiba lewat telepon di sore hari yang seharusnya biasa."
Aksel menarik Lara ke pelukannya. Tubuh Lara gemetar di tengah panas Bali—gemetar yang ia sendiri tidak mengerti, gemetar yang bukan dari takut atau sedih, tapi dari sesuatu yang lebih besar dari emosi tunggal.
"Lara..."
"Beli tiket. Kita berangkat besok pagi."
"Iya."
"Bersama-sama."
"Iya, Lara. Bersama-sama."
***
Di pesawat ke Norwegia hari berikutnya—penerbangan transit Singapore-Frankfurt-Bergen, dua puluh dua jam total—Lara duduk di samping jendela. Aksel di sebelahnya. Tangan mereka saling bergenggaman seperti di gua es enam bulan lalu.
Tapi sekarang ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dingin dari Antartika, lebih panas dari Bali, lebih tua dari mereka berdua.
Lara tidak tahu apa yang menunggu di Bergen. Anak yang sakit. Keluarga angkat yang asing. Kenangan Maja yang akan kembali dalam setiap sudut kota—di toko buku tempat ia bekerja, di gereja tempat ia menikah dengan Aksel, di pemakaman tempat ia dikebumikan tiga tahun lalu.
Lara juga tidak tahu apakah ia siap menjadi—apa yang akan ia jadi? Ibu tiri? Tante? Pacar Papa? Anak itu lima tahun. Anak itu sakit. Anak itu kenal ibunya hanya dari foto dan rekaman suara—Karen menjelaskan di telepon, Maja merekam pesan terakhir untuk anaknya seminggu sebelum ia meninggal.
Tapi Lara tahu satu hal:
Cinta yang terlarang oleh masa lalu—cinta yang ia kira akan tetap di Antartika—ternyata mengikuti mereka ke setiap tempat. Termasuk ke kota dingin yang akan menguji apakah mereka kuat menahan beban dua hidup, dua masa lalu, dan satu anak laki-laki kecil yang sekarang membutuhkan ayahnya.
Pesawat lepas landas. Bali menjauh di balik jendela—lampu-lampu kuning di sepanjang pantai, lalu hanya laut hitam yang luas.
Lara memejamkan mata.
Bab baru—yang bahkan lebih dingin dari Antartika—baru saja dimulai.
***
[Bab 11+ adalah Premium]