Tiga puluh hari kemudian, ekspedisi resmi selesai.
Sembilan puluh hari yang Lara pikir akan menjadi sembilan puluh hari terpanjang dalam hidupnya, ternyata melewatinya begitu cepat di akhir. Tim berkemas dengan ritual yang Lara baru sadari ada—setiap orang melakukannya berbeda, tapi semua melakukannya. Marta mengemas sampelnya pertama, peralatan pribadi terakhir. Ingrid sebaliknya. Aksel mengemas dengan urutan yang sangat spesifik, mulai dari buku-bukunya, lalu pakaian, lalu sampel, lalu yang terakhir—Lara perhatikan—foto kecil Maja yang ia simpan di laci. Foto itu masuk ke saku dalam jaket, bukan ke koper. Selalu dekat tubuh.
Tas-tas berbaris di lobi stasiun pada pagi keberangkatan. Pesawat Hercules akan datang pukul sebelas. Seluruh tim bangun pukul lima untuk sarapan terakhir bersama—Romero menyiapkan kopi yang lebih kental dari biasanya, dan dapur stasiun menyajikan pancake dengan sirup maple yang dikirim dari Kanada minggu lalu sebagai hadiah perpisahan.
Lara dan Aksel berdiri di luar stasiun untuk terakhir kalinya. Memandang hamparan es yang mereka panggil rumah selama sembilan puluh hari.
"Aksel."
"Iya."
"Aku akan rindu tempat ini."
"Aku juga."
"Rasanya aneh, ya. Aku tidak siap untuk ini."
"Rumah baru, Lara. Itu yang menunggu. Kita tidak kehilangan tempat ini—kita bawa pulang."
Marta memeluk Lara dengan air mata yang tidak ia coba sembunyikan. "La, kalau kau ke São Paulo, jangan lupa cari aku. Aku kasih kau tur paus humpback gratis."
"Mar, aku akan ke São Paulo. Janji."
Ingrid menyodorkan kartu nama dengan nomor di Stockholm. Tidak banyak kata—Ingrid memang begitu—tapi ia memeluk Lara erat, dan itu cukup.
Direktur Romero—pria tua yang selama tiga bulan ini Lara kenal sebagai tegas dan jarang emosional—memberi tepukan di bahu Aksel dan berkata sesuatu pelan dalam bahasa Norwegia yang membuat mata Aksel berair.
"Apa yang dia bilang?" tanya Lara saat mereka berjalan ke helikopter penghubung yang akan membawa mereka ke pesawat besar di landasan utama.
"Dia bilang... 'Selamat menemukan musim semi-mu, Aksel.'"
Lara meraih tangan Aksel.
***
Penerbangan kembali ke Christchurch tujuh jam. Lalu dari Christchurch ke Auckland—malam itu mereka tinggal di hotel bandara, tidur yang pertama kali di kasur empuk dalam sembilan puluh hari, mandi air panas yang Lara berdiri di bawah selama hampir setengah jam karena tidak percaya ini nyata. Lalu Auckland ke Singapura. Lalu Singapura ke Denpasar.
Saat Lara akhirnya keluar dari Bandara Ngurah Rai, ia menemukan Bali yang ia tinggalkan tiga bulan lalu. Suhu tiga puluh derajat. Aroma melati dari pedagang bunga di luar terminal. Suara klakson taksi yang berebut penumpang. Bau aspal yang dipanaskan matahari siang.
Aksel di sebelahnya, mengenakan jaket kutub yang sekarang terasa seperti hukuman—berkeringat dalam tiga menit pertama, wajahnya merah, napas tersengal seolah ia baru lari maraton.
"Selamat datang di Bali," kata Lara, sambil menyeka peluh di dahi Aksel dengan tisu yang ia ambil dari tasnya.
"Lara, ini neraka."
"Neraka kecil yang indah."
Aksel menanggalkan jaket kutubnya dan mengikatnya di pegangan kopernya. Untuk pertama kali Lara melihat lengannya yang dulu tertutup kain tebal selama tiga bulan. Lengan yang pucat, dengan otot ramping yang berasal dari kerja lapangan tapi bukan gym. Dan di pergelangan tangan kanannya—
Tato tipis. Aksel tidak pernah menyebutnya. Inisial: M.
Maja.
Lara meraih tangan Aksel dan mencium tato itu.
"Aku tidak iri pada dia, Aksel."
"Aku tahu."
"Dia membuat kau jadi pria yang aku cintai. Aku berhutang padanya."
Aksel tidak bisa berkata-kata. Tapi air matanya yang turun di terik Bali—di tengah klakson dan turis dan supir taksi yang berteriak dalam bahasa yang ia tidak mengerti—mengatakan semua yang perlu dikatakan.
***
Mereka pulang ke rumah Lara di Sanur. Rumah kecil yang Lara sewa dari pemilik—seorang nenek bernama Ibu Tuti, yang tinggal di rumah induk di belakang. Rumah Lara yang paviliun: dua kamar, satu dapur kecil dengan kompor gas dua tungku, kamar mandi dengan bak yang harus diisi pakai gayung, dan balkon menghadap kebun yang berisik dengan suara cicak dan jangkrik di malam hari.
Aksel memasuki rumah seperti seseorang yang masuk ke museum. Memandang setiap detail—lampu gantung dari rotan, foto Lara dan ibunya di dinding, lukisan kecil dari pasar Sukawati yang Lara beli sepuluh tahun lalu.
"Ini... ini rumahmu."
"Iya. Selama lima tahun."
"Aku suka."
"Belum lihat kamar mandinya."
"Kamar mandi tidak penting."
Lara tertawa. "Kau akan bilang berbeda setelah hari pertama."
***
Malam pertama mereka di Bali, Aksel berdiri di balkon malam itu, memegang gelas kopi panas walaupun udara malam Bali masih hangat. Kebiasaan Norwegia, ia bilang—kopi panas bahkan di musim panas, karena Bergen tidak pernah benar-benar panas.
"Lara, aku pikir aku akan benci ini."
"Tapi?"
"Tapi aku tidak benci. Aku... ingin tinggal."
"Tiga bulan?"
"Mungkin lebih."
Lara berdiri di sebelahnya, melihat ke kebun yang sama. Bintang-bintang di Bali tidak sebanyak di Antartika—polusi cahaya kota terlalu kuat. Tapi yang ini lebih hangat. Lebih sederhana. Bintang yang berbeda di langit yang berbeda untuk bab yang berbeda.
"Aksel, kalau kau tinggal lebih lama dari tiga bulan..."
"Iya?"
"Kau harus belajar bahasa Indonesia. Dan makan sambal. Dan tidak komplain soal panas. Dan tahu cara tawar di pasar tanpa diketawain."
"Sambal aku sudah coba di Christchurch. Tidak terlalu pedas."
"Itu sambal lokal Christchurch, bukan sambal asli."
"Oh."
"Itu sambal yang sudah dijinakkan untuk orang putih."
Aksel tertawa pelan. Tawa yang Lara dengar untuk pertama kali tanpa ada sisa kesedihan di dalamnya. Tawa pria yang sedang bersantai di balkon di kota yang ia tidak pernah pikir akan ia tinggali, dengan perempuan yang ia tidak pernah pikir akan ia cintai lagi.
Mereka duduk di balkon sampai tengah malam. Aksel menanyakan bahasa-bahasa Indonesia yang Lara coba ajarkan dengan hati-hati—*selamat malam, terima kasih, berapa harga ini, saya tidak mengerti.* Aksel mengulanginya dengan aksen Norwegia yang membuat Lara tertawa setiap kata, dan Aksel pura-pura tersinggung, tapi sebenarnya senang membuat Lara tertawa.
Di kebun di bawah, cicak-cicak terus berisik. Jangkrik membentuk paduan suara malam yang Lara hafal. Anjing tetangga—Bobby, yang Lara kenal sejak masih anak anjing—tidur di teras rumah induk, sesekali terbangun untuk menggonggong pada bayangan yang hanya ia lihat.
"Aksel."
"Iya."
"Apa kau sudah hubungi ibu Maja? Tentang tinggal di Bali?"
"Sudah. Tadi pagi waktu kau mandi. Ia... senang. Ia bilang ia akan datang ke Bali sebulan lagi. Untuk ketemu kau."
Lara membeku. "Ibu Maja datang?"
"Iya. Karen juga bilang begitu. Mereka berdua—keluarga Berg dan keluarga Strand—mau bertemu kau secara langsung. Sebelum komitmen apa pun yang lebih jauh."
"Aksel, aku—"
"Mereka akan suka kau, Lara. Karen sudah suka kau. Dan ibu Maja... ia perempuan yang baik. Ia akan suka."
"Aku takut."
"Aku tahu."
Di kejauhan, di langit malam Bali, sebuah bintang jatuh dengan ekor panjang—seperti pesan dari tempat yang sangat jauh, dari seseorang yang sudah menyaksikan semua ini, mengatakan:
*Akhirnya, aku bisa istirahat.*
Lara meraih tangan Aksel di balkon. Aksel menggenggam balik. Di kebun, cicak berisik. Di langit, bintang yang baru saja jatuh sudah hilang di balik pohon kelapa.
Dan di Bali yang panas, di rumah kecil yang sederhana, dua orang yang telah pulang dari tempat paling dingin di dunia sedang membangun kehangatan yang tidak akan diukur dengan suhu mana pun.