Tes darah Aksel dikirim lewat helikopter ke Christchurch dua hari setelah Karen tiba.
Prosedurnya rumit. Sampel diambil di pagi hari—tabung kecil yang Lara saksikan diisi di klinik mini stasiun, kemudian disimpan dalam pendingin khusus, lalu dimasukkan ke kotak yang dikirim ke pesawat berikutnya yang menuju Christchurch. Dari sana, sampel akan diterbangkan lagi ke laboratorium genetika di Auckland. Hasilnya butuh dua minggu—bukan karena tesnya rumit, tapi karena logistiknya. Antartika tidak peduli pada urgensi pribadi.
Selama dua minggu itu, Aksel berubah.
Bukan dingin. Bukan menjauhi Lara. Tapi seperti seseorang yang mencoba mengukur—setiap hari, setiap kata, setiap sentuhan—seolah mungkin saja itu yang terakhir.
Pagi hari ia bangun sebelum Lara dan menyiapkan kopi di pantry. Ketika Lara turun, ia akan menemukan satu cangkir di mejanya yang biasa, masih mengepul, dengan cara persis yang Lara suka—dua sendok susu bubuk, tanpa gula. Lara tidak pernah memberitahunya cara membuatnya. Aksel mengamati, tiga puluh hari berturut-turut, dan menghafal.
Siang hari di laboratorium, Aksel duduk lebih dekat dari biasanya. Bukan menempel—hanya cukup dekat sehingga ketika Lara mengangkat pinset, lengannya bersentuhan dengan lengan Aksel. Tidak ada yang komentar. Tidak ada yang tampak.
Malam, mereka akan berjalan singkat di luar—lima belas menit, tidak lebih, karena Romero sudah tegas tentang aturan keluar setelah jam delapan malam. Mereka tidak banyak bicara. Hanya berjalan, bergandengan di bawah lapis-lapis sarung tangan, memandang horizon yang sudah Lara hafal tapi sekarang terlihat berbeda setiap malam.
Lara membiarkannya. Ia paham. Aksel sedang menyimpan kenangan—untuk berjaga-jaga, untuk kalau hasilnya datang dan ia harus menarik diri. Lara tidak ingin merampasnya.
***
Karen bertahan lima hari di stasiun lalu kembali ke Norwegia.
Sebelum pergi, ia memeluk Lara erat-erat di luar helikopter. Pelukan yang lebih panjang dari yang Lara siapkan dirinya untuk terima.
"Lara, terima kasih."
"Kenapa, Karen?"
"Karena kau membuat saudara aku hidup lagi. Apa pun hasil tesnya nanti, kau sudah memberikan dia sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh dokter mana pun. Ia sudah tertawa lagi. Aku dengar di teleponnya minggu lalu—pertama kali dalam tiga tahun."
Lara hampir menangis di pelukan Karen. "Karen, aku—"
"Tidak perlu janji apa-apa, Lara. Kalau hasilnya negatif, syukur. Kalau positif... saya tidak akan menyalahkan siapa pun yang mundur. Itu beban besar. Lebih besar daripada yang orang luar pikir."
"Aku tidak akan mundur."
Karen menatapnya lama, mencari sesuatu di matanya, dan akhirnya mengangguk pelan.
"Aku percaya."
Lalu Karen masuk ke helikopter. Pintu tertutup. Mesin meraung, dan helikopter naik dalam awan salju yang dipukul oleh baling-balingnya.
Lara berdiri di landasan sampai helikopter menjadi titik kecil di langit, lalu menghilang.
***
Hari kesepuluh, Aksel mulai tidak bisa tidur.
Lara tahu karena Marta cerita—Marta yang ke ruang komunal pukul tiga pagi untuk mengambil air, dan menemukan Aksel duduk di sofa sendirian, menatap ke jendela yang gelap.
"Mar, dia—dia gak apa-apa?"
"Dia tidak menjawab pertanyaan saya, La. Tapi dia tidak baik-baik saja. Aku rasa kau yang harus ke sana."
Lara turun pukul setengah empat. Menemukan Aksel persis di tempat Marta bilang.
"Aksel."
Pria itu mengangkat kepala. Mata birunya merah.
"Lara. Maaf, aku—"
"Aksel, jangan minta maaf."
Lara duduk di sebelahnya. Tidak menyentuhnya—hanya duduk cukup dekat sehingga lengan mereka bersentuhan. Aksel mengeluarkan napas panjang.
"Aku terus memikirkan—kalau positif, apa yang akan saya bilang ke kau? 'Maaf, Lara, aku akan sakit dalam sepuluh tahun'? 'Maaf, anak kita lima puluh persen kemungkinan akan kena juga'?"
"Aksel, kita belum bicarakan anak."
"Tapi suatu hari, Lara. Suatu hari kita akan. Dan aku tidak ingin membuat kau memilih antara aku dan keluarga yang sehat."
Lara meraih tangan Aksel.
"Aksel. Dengar aku. Kalau hasilnya positif, kita akan duduk dan bicara. Bersama. Kita akan pikirkan—adopsi, IVF dengan screening, atau memilih untuk tidak punya anak biologis. Kita akan pikirkan setiap kemungkinan. Dan apa pun yang kita putuskan, itu keputusan kita berdua. Bukan keputusan yang kau tanggung sendirian."
Aksel menangis. Diam-diam, tanpa suara—hanya air mata yang turun di pipi yang sudah kering oleh udara stasiun yang dehidrasi. Lara memeluknya. Mereka duduk di sofa ruang komunal yang sepi sampai pukul lima pagi, ketika Aksel akhirnya tertidur dengan kepala di bahu Lara.
***
Hari ketigabelas, ia bekerja terlalu keras—mencoba mengisi setiap detik dengan riset, sampai tidak ada ruang untuk pikirannya sendiri.
Hari keempatbelas, hasil tes datang dalam email enkripsi.
Aksel membuka di kamarnya sendirian. Menolak Lara masuk.
"Sebentar saja, Lara. Aku perlu sendirian untuk—untuk apa pun reaksinya."
"Iya, Aksel. Aku tunggu di luar."
Lara duduk di lantai koridor, di luar pintu kamar Aksel, dengan punggung bersandar di dinding logam. Empat puluh menit. Empat puluh menit dengan jantung yang berdetak terlalu keras, dengan napas yang terlalu pendek, dengan pikiran yang berputar di antara tiga puluh skenario yang masing-masing menyakitkan dengan cara berbeda.
Akhirnya, pintu terbuka.
Aksel berdiri di sana. Wajahnya... Lara tidak bisa baca. Tidak ada air mata. Tidak ada senyum. Hanya... datar.
"Aksel."
"Hasilnya negatif, Lara."
Lara berhenti bernapas.
"Negatif?"
"Aku tidak punya gen penyakit itu."
Lara membuka mulut. Menutup. Membuka lagi. Tidak ada kata-kata yang cukup besar untuk muat di mulut yang masih kering oleh empat puluh menit menahan napas.
Aksel menariknya ke dalam pelukan dan mereka berdua menangis—bukan sedih, bukan lega murni, tapi sesuatu yang lebih dalam dari keduanya. Sesuatu yang seperti: *kita tidak harus kalah lagi pada masa lalu. Kita boleh membangun.*
Mereka berdiri di koridor itu mungkin lima menit, mungkin sepuluh. Aksel akhirnya menarik diri, menatap Lara, dan tertawa pelan.
"Aku perlu menelepon Karen."
"Iya. Telepon dia sekarang."
"Aku perlu menelepon ibu Maja juga. Ia—ia sudah menjadi seperti ibu untuk aku setelah Maja pergi. Ia berhak tahu."
"Iya, sayang."
***
Malam itu Aksel duduk di ranjang Lara untuk pertama kali. Tidak melakukan apa-apa. Hanya memeluknya. Lara bisa mendengar detak jantungnya yang akhirnya tenang setelah dua minggu kacau—ritme yang stabil, tidak tergesa-gesa, ritme seseorang yang akhirnya bisa beristirahat.
"Lara."
"Iya."
"Kau pernah pikir... apa yang akan kita lakukan setelah ekspedisi ini selesai?"
"Iya."
"Dan?"
"Aku tidak tahu. Aku takut bertanya, jujur. Karena setiap kali aku coba pikirkan—jarak Bali-Bergen, pekerjaan kita masing-masing, keluarga kita yang belum saling kenal—kepala aku mendadak penuh."
Aksel mengangkat dagunya supaya melihat Lara dengan benar.
"Datang ke Norwegia bersama saya."
"Aksel—"
"Bukan untuk selamanya. Untuk tiga bulan dulu. Untuk kau coba musim dingin Bergen, makanan ibu Maja yang masih mau saya panggil 'ibu' walaupun dia secara teknis bukan, dan kota saya tumbuh besar."
"Tiga bulan?"
"Iya. Lalu kalau kau benci, kita pulang ke Bali. Aku yang menetap di sana. Aku bisa bekerja remote dari Bali—konsultasi geologi tidak harus dilakukan dari kantor."
Lara tertawa di pelukannya—tawa yang sebagian besar lega, sebagian kecil bingung. "Kau mau pindah ke Bali untuk aku?"
"Aku sudah pindah ke Antartika untuk Maja. Jelas aku bisa pindah ke Bali untuk kau. Bali bahkan punya matahari."
"Aksel, itu hal paling tidak romantis yang pernah aku dengar."
"Aku sudah bilang. Norwegia tidak romantis. Norwegia jujur."
Lara menciumnya. Lalu menangis lagi—kali ini bukan dari ketegangan, tapi dari kelegaan yang akhirnya bisa keluar setelah dua minggu ditahan. Lalu tertawa lagi. Lalu mencium lagi.
Di luar, salju Antartika terus turun. Tidak peduli pada cinta atau hidup atau mati.
Tapi di kamar kecil itu—dengan Marta dan Ingrid yang sudah tidur di ranjang lain, pura-pura tidak mendengar pembicaraan di ranjang Lara—dua orang yang seharusnya hanya peneliti es sedang memutuskan, dengan senyum dan air mata, untuk membangun sesuatu di luar kutub yang semua orang katakan kosong.
Sesuatu yang akan punya dapur, jendela yang menghadap laut, mungkin nanti anak.
Sesuatu yang biasa orang sebut: rumah.