Helikopter mendarat dua hari kemudian.
Tim peneliti tambahan dari Norwegia—lima orang, bagian dari kerja sama internasional yang sudah dijadwalkan jauh sebelum ekspedisi dimulai. Pengumuman datang lewat pengeras suara stasiun pukul sembilan pagi: *"Helikopter Norwegia ETA dua belas siang. Tim penyambutan ke landasan."*
Lara membantu menyiapkan ruang akomodasi tambahan. Marta dan Ingrid juga. Rutin yang sudah biasa di stasiun—setiap dua atau tiga minggu, ada pertukaran personel atau tim tambahan yang datang membawa supplai dan kabar dari dunia luar.
"Aksel, ada yang ingin bertemu kau," kata Direktur Romero sambil masuk ke laboratorium pukul setengah dua belas.
Aksel mengangkat kepala dari mikroskopnya. "Siapa, Direktur?"
"Lihat saja sendiri. Datang ke landasan."
Lara melihat ekspresi Aksel berubah sedikit—tidak banyak, hanya sedetak yang lebih lambat dari biasanya saat ia bergerak meletakkan slide mineral. Ia tahu sesuatu sebelum tahu apa pun. Lara mengikutinya keluar tanpa diminta, hanya karena instingnya berkata: ini momen yang Aksel mungkin butuh seseorang.
Helikopter sudah mendarat ketika mereka tiba di landasan. Lima orang turun dengan tas bahu masing-masing. Empat pria, satu perempuan.
Perempuan itu—rambut platina yang dipotong sebahu, mata biru pucat yang sama persis seperti Aksel sendiri, tinggi yang serupa—turun terakhir.
Aksel berhenti tiga langkah dari helikopter.
"Saudari Maja," bisiknya, hampir tidak terdengar. "Karen."
Karen melihat Aksel. Senyumnya muncul perlahan—senyum yang Lara kenali, walaupun belum pernah bertemu Karen, karena ia melihat senyum itu di sketsa Maja di buku catatan dua hari lalu. Mereka memang adik-kakak.
Karen melangkah cepat dan memeluk Aksel.
"Aksel. Sudah lama."
"Karen..." Suara Aksel parau. "Kenapa kau tidak bilang—"
"Surat ke email tidak akan dibaca, Aksel. Kau mute akun selama tiga bulan saat ekspedisi. Aku tahu kebiasaanmu."
Lara mundur satu langkah, tanpa sadar—memberi mereka ruang. Tapi Karen, dengan ketajaman seseorang yang sudah belajar membaca ruangan, menatap Lara dari atas bahu Aksel.
"Dan kau pasti Lara."
Lara mengerjap. "Ya. Maaf, kita belum—"
"Aksel cerita banyak tentang kau dalam emailnya." Karen melepaskan pelukannya pada Aksel, lalu melangkah ke arah Lara dengan tangan terulur. "Karen Strand. Saudari Maja."
Lara menjabat tangannya. Kuat, hangat, tegas—tangan perempuan yang biasa bekerja di luar ruangan.
"Aksel cerita ke kakak iparnya tentang aku?"
Karen tertawa pelan. "Kakak ipar dari pernikahan yang sudah berakhir, ya, secara teknis. Tapi Maja kakak saya—dan Aksel sudah jadi adik saya selama dua belas tahun. Itu tidak hilang karena Maja sudah pergi." Karen melihat Aksel sekilas, lalu kembali ke Lara. "Dan jangan khawatir. Saya bukan datang untuk meminta Aksel kembali ke masa lalu."
Lara mengangguk pelan. Tapi sesuatu di nada Karen—sopan, tegas, sedikit terlalu siap—membuat Lara waspada. Karen tidak datang ke Antartika hanya untuk mengantarkan supplai.
***
Malam itu, di ruang komunal, Lara melihat Karen dan Aksel duduk berdua sampai pukul satu pagi—kepala saling mendekat di meja sudut, suara pelan, dan sebagian besar percakapan dalam bahasa Norwegia yang Lara tidak mengerti satu kata pun. Sesekali, Karen mengeluarkan map dari tasnya dan menunjukkan dokumen ke Aksel. Aksel membaca, mengangguk, lalu menutup matanya.
Lara kembali ke kamar dengan dada yang aneh.
"Lara?" Marta bisik dari tempat tidurnya, sudah dalam piyama. "Kau gak apa-apa?"
"Iya. Tidur saja, Mar."
"Karen datang membawa sesuatu, ya?"
Lara duduk di tepi ranjangnya, melepas sepatu pelan. "Apa?"
"Aku pernah ekspedisi sama Karen lima tahun lalu, sebelum aku bertemu Aksel di stasiun ini." Marta duduk, menyalakan lampu kecil di samping tempat tidurnya. "Dia geolog juga. Sangat profesional. Sangat protektif terhadap Aksel."
"Itu kakak ipar yang baik."
"Lara, dengar aku sebentar." Suara Marta turun. Ingrid tidur lelap di ranjang ketiga, napas teratur. "Kalau Karen datang ke Antartika sekarang—di tengah ekspedisi, dengan tiga jam terbang dari Christchurch—pasti ada alasan. Karen tidak pernah jalan-jalan ke kutub tanpa misi spesifik."
"Apa yang ingin kau bilang, Mar?"
"Mungkin dia tahu Aksel mulai jatuh cinta lagi. Dan dia datang untuk memastikan—orangnya pantas."
Lara menutup matanya. "Pantas?"
"Iya. Untuk Aksel. Dan untuk warisan Maja."
"Apa maksudnya warisan?"
Marta diam beberapa detik sebelum menjawab.
"Aksel pernah cerita tidak pada kau bahwa Maja meninggal karena penyakit yang berasal dari keluarga Berg?"
"Penyakit warisan?"
"Iya. Dystrofi mitokondria, kalau saya tidak salah ingat—Maja yang cerita di ekspedisi kami. Tidak semua keturunan Berg pasti kena, tapi probabilitasnya tinggi. Lima puluh-lima puluh, Maja bilang. Dan itu... itu hal kompleks. Bukan cuma soal Aksel sendiri sehat atau sakit. Ini soal anak yang dia mungkin punya suatu hari. Tanya Aksel langsung."
Marta mematikan lampu kecilnya.
Lara berbaring menatap langit-langit kamar yang pernah ia anggap menarik dengan retakan-retakan halusnya, tapi sekarang terasa terlalu rendah, terlalu menekan. Suara napas Marta dan Ingrid teratur di sekelilingnya. Di luar, angin Antartika mendesir di jendela kecil.
Lara tidak tidur.
***
Pagi berikutnya, Lara menemui Aksel di ruang penelitian sebelum sarapan.
"Aksel, kita perlu bicara."
Aksel mendongak dari laptopnya. Wajahnya kelelahan—matanya merah, ada lingkaran gelap di bawahnya. Ia tidak tidur sama sekali.
"Karen?"
"Iya."
Aksel menutup laptopnya. Mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Lara, ada hal yang aku belum sempat ceritakan kepadamu."
"Penyakit warisan."
Aksel mengangguk pelan. "Marta cerita?"
"Sebagian. Dia bilang aku harus tanya kau langsung."
"Marta benar." Aksel menarik napas dalam. "Lima puluh-lima puluh kemungkinan aku punya gennya. Penyakit mitokondria itu—Maja terdiagnosis di umur tiga puluh dua. Ia meninggal di tiga puluh empat. Penyakitnya bukan cepat seperti kanker—tapi tetap. Tubuhnya pelan-pelan kehilangan kemampuan menghasilkan energi. Dimulai dari otot, lalu ke jantung. Yang paling sulit adalah ia masih sadar penuh sampai minggu terakhirnya."
"Aksel..."
"Aku menolak tes selama bertahun-tahun. Karen sudah minta sejak Maja meninggal. Ibuku Maja yang menulis surat di buku catatan itu—yang aku tunjukkan padamu—dia juga minta lewat suratnya. Tapi aku tidak ingin tahu. Karena jika aku tahu hasilnya positif, aku tidak bisa menjalani hidup yang sama lagi. Aku tidak bisa pacaran. Aku tidak bisa punya anak. Aku tidak bisa berjanji apa-apa pada siapa pun."
"Karen mau kau tes."
"Iya."
"Sebelum kau berhubungan serius dengan aku."
"Sebelum aku berkomitmen pada siapa pun. Sekarang. Sebelum lebih jauh."
Lara terdiam. Ia tidak tahu harus bilang apa. Ada bagian dari dirinya yang ingin marah pada Karen—siapa kau, kenapa kau muncul tiba-tiba, kenapa kau menyodorkan tes ini di tengah-tengah saat semuanya baru mulai. Tapi ada juga bagian dari dirinya yang mengerti—Karen tidak salah. Karen adik perempuan dari perempuan yang meninggal karena penyakit yang sama. Karen punya hak untuk peduli.
"Aksel," akhirnya Lara berkata, suaranya stabil, "kau lakukan tes itu. Apa pun hasilnya, beri tahu aku. Aku... aku akan tetap di sini. Kita pikirkan setelah hasilnya datang."
Aksel menatapnya dengan ekspresi yang Lara baru pertama kali lihat di pria itu: ketakutan murni. Bukan ketakutan tertahan, bukan ketakutan yang disembunyikan di balik profesionalisme. Ketakutan terbuka.
"Kau yakin?"
"Iya."
"Walaupun mungkin... mungkin hasilnya bukan yang kita harapkan?"
"Iya, Aksel. Walaupun."
Aksel meraih tangan Lara di atas meja kerja dan menggenggamnya—seolah itu jangkar terakhir yang tersedia di laut yang sudah mulai bergelombang.
"Lara... terima kasih."
Lara tidak menjawab. Ia hanya menggenggam balik, sama eratnya, dan untuk pertama kalinya sejak ia tiba di Antartika—Lara tahu dirinya sedang masuk ke sesuatu yang lebih besar dari riset diatom dan cita-cita publikasi. Sesuatu yang akan menentukan bukan hanya tiga bulan, tapi mungkin sisa hidupnya.
Dan ia—untuk alasan yang ia sendiri tidak bisa jelaskan—sama sekali tidak ingin mundur.