Mereka tidak bicara tentang gua es selama dua hari.
Lara mencoba menulis di jurnalnya, gagal di paragraf pertama, menutup buku, mencoba lagi keesokan paginya, gagal lagi. Setiap kali pena bertemu kertas, kalimat-kalimat yang keluar terlalu sopan, terlalu hati-hati, seperti laporan resmi dari peristiwa yang sebenarnya tidak resmi sama sekali. Lara akhirnya menutup jurnalnya dan menyimpannya di lemari logam.
Aksel kelihatan biasa—setidaknya di permukaan. Sehari-hari ia tetap profesional di laboratorium, mencatat sampel mineral dengan ketenangan yang sama, bertanya pada Lara dengan kalimat-kalimat fungsional yang tidak berbeda dari minggu-minggu sebelumnya. Tapi mata mereka bertemu lebih sering dari sebelumnya. Dan tiap kali bertemu, ada listrik kecil yang mengalir di antara udara stasiun yang seharusnya beku—listrik yang Marta dan Ingrid mungkin saja perhatikan, tapi memilih tidak komentar.
Hari kelima setelah badai, Aksel mengetuk pintu kamar Lara malam-malam.
Marta dan Ingrid sedang main kartu di ruang komunal—permainan Norwegia yang Ingrid coba ajarkan ke Marta selama dua minggu terakhir tanpa banyak kemajuan. Hanya Lara di kamar, sedang membaca ulang catatan sampel diatom dari minggu pertama.
Tiga ketukan pelan.
"Aksel?"
"Ada waktu? Aku mau tunjukkan sesuatu."
Lara membuka pintu. Aksel berdiri di koridor, sudah memakai jaket kutub dan boots tebal. Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa—tapi tangannya menggenggam sarung tangan ekstra di tangan kiri.
"Sekarang?"
"Sekarang. Pakai jaketmu. Kita keluar lima menit saja."
Lara tidak bertanya kemana. Ia memakai jaket, sarung tangan, dan boots, lalu mengikuti Aksel turun koridor menuju pintu utama stasiun.
Di luar, malam Antartika tidak benar-benar gelap. Ini bulan Mei, di mana matahari tengah malam masih ada di langit—rendah di horizon, tipis, oranye seperti telur yang baru pecah, tapi tetap menerangi hamparan es dengan cahaya yang aneh dan tidak bayangan.
"Aksel, kita gak boleh keluar tanpa tim—"
"Aku sudah dapat izin dari Romero. Sebentar saja. Lima ratus meter ke punggung bukit di belakang stasiun."
Lara mengangguk. Mereka berjalan mengikuti jalur yang sudah dirintis oleh peneliti sebelumnya—pita-pita merah yang dipasang di tongkat bambu setiap dua puluh meter, sebagai pengaman supaya tidak ada yang tersesat.
Bukit di belakang stasiun tidak tinggi—mungkin tiga puluh meter dari level dasar. Tapi pendakiannya tetap melelahkan karena salju tebal yang harus mereka injak. Lara hampir terpeleset dua kali. Setiap kali, tangan Aksel ada di sana untuk menahannya—tidak buru-buru, tidak protektif, hanya... ada.
Di puncak, Lara berhenti.
Di bawah mereka, hamparan es putih membentang sampai cakrawala. Di atas, langit biru-oranye-merah berbaur seperti lukisan minyak yang masih basah. Dan di kejauhan, di tepi laut beku yang kadang-kadang masih retak dan menampilkan air gelap di bawahnya, sekelompok anjing laut—mungkin dua belas, Lara tidak yakin—bermain di bibir air. Suara-suara mereka samar terdengar lewat angin: dengusan rendah, diselingi tangisan kecil yang Lara baru tahu dikeluarkan oleh anjing laut Weddell.
"Aksel..."
"Aku temukan tempat ini di ekspedisi pertama. Dua belas tahun lalu. Maja yang menemukannya pertama, sebenarnya. Ia bilang ini tempat paling indah di Antartika yang pernah ia lihat. Aku tidak pernah membawa siapa pun ke sini setelahnya."
Lara menoleh. Aksel menatapnya. Bukan ke pemandangan.
"Aksel."
"Lara."
"Kau membawa aku ke sini karena—"
"Karena aku mencintaimu."
Suara Aksel datar. Sederhana. Seperti membaca laporan sampel mineral di rapat pagi. Tidak ada ornamen. Tidak ada drama. Hanya pernyataan yang sudah lama ia pegang di dada, akhirnya dilepas ke udara kutub yang dingin.
Lara terdiam. Lalu, tanpa bisa menahan, ia tertawa.
"Norwegia bilang cinta seperti memesan makanan?"
"Norwegia bilang cinta dengan jujur. Tidak bunga-bunga. Tidak puisi."
"Aku suka itu."
Aksel melangkah lebih dekat. Wajah mereka terpisah satu jengkal. Lara bisa melihat detail-detail yang biasanya hilang di balik jarak profesional—garis tipis di sudut matanya yang berasal dari bertahun-tahun memicingkan mata melawan silau es; bekas luka kecil di pelipis kanan yang Lara tidak pernah berani tanyakan asal-usulnya; cara nafasnya membuat uap kecil yang melayang sebentar di antara mereka sebelum menghilang.
"Aku tidak berjanji," kata Aksel pelan. "Aku tidak siap melamar. Aku tidak tahu bagaimana semuanya akan jadi setelah ekspedisi selesai—kau pulang ke Bali, aku pulang ke Bergen, kita berdua punya pekerjaan dan keluarga dan tanggung jawab yang tidak peduli pada apa pun yang terjadi di sini. Aku hanya... ingin kau tahu, sebelum hari ini selesai, bahwa aku mencintaimu. Itu bukan hal kecil bagi aku. Pertama kali dalam tiga tahun aku berani mengucapkannya."
Lara meraih jaket Aksel di kerah. Sarung tangan tebalnya membuat genggamannya canggung—seperti seseorang yang sudah lupa cara memegang kerah baju.
"Aksel."
"Iya?"
"Cium aku."
Aksel tidak ragu. Tangannya yang memakai sarung tangan menangkup wajah Lara, dingin tapi lembut, dan ciuman pertama mereka terjadi di puncak bukit yang menghadap es Antartika, dengan matahari tengah malam membakar langit di belakangnya.
Ciuman itu lambat. Bukan tergesa-gesa, bukan menuntut. Seperti dua orang yang menyadari mereka akhirnya sampai di tempat yang sudah lama mereka tuju, walaupun tidak tahu sedang menuju ke sana—setelah tahun-tahun lari dari hal yang sama, setelah malam-malam panjang di kamar yang berbeda di kota yang berbeda, setelah dua belas jam di gua es yang seharusnya membunuh mereka tapi malah menyelamatkan.
Saat mereka berpisah, Lara melihat air mata di mata Aksel. Bukan banyak—satu di sudut, hampir tidak terlihat di antara butiran salju yang menempel di bulu matanya.
"Aksel?"
"Maja akan tertawa kalau dia melihat aku seperti ini."
"Tertawa?"
"Iya. Tertawa karena aku akhirnya... bisa lagi. Ia selalu bilang aku terlalu serius. Kalau aku menangis di puncak bukit hanya karena seorang perempuan menyuruhku menciumnya, ia akan tertawa keras dan bilang, 'Aksel Berg, kau payah.'"
Lara meraih wajah Aksel dengan kedua tangan. Sarung tangannya menyentuh pipi pria itu dengan lembut.
"Kalau begitu, biarkan dia tertawa. Dari mana pun dia berada, biarkan Maja tahu kau sudah menemukan napasmu lagi."
Aksel mengangguk pelan. Lalu menciumnya lagi, lebih dalam kali ini. Ciuman yang tidak meminta izin, tidak menahan diri—ciuman yang berkata: aku sudah memutuskan, aku tidak akan mundur.
Lara membalasnya dengan kekuatan yang sama.
Di kejauhan, anjing-anjing laut terus bersuara di bibir laut beku. Di atas, matahari tengah malam pelan-pelan bergerak ke barat, mengubah warna langit dari oranye menjadi merah-jambu yang lebih gelap. Angin pelan membawa serpihan salju kecil yang menempel di rambut Lara dan jaket Aksel.
Mereka berdiri di puncak bukit itu selama hampir setengah jam—sebagian besar dalam diam, bersandar satu sama lain, memandang horizon yang terus berubah warna.
"Aksel."
"Iya, Lara."
"Aku takut."
"Aku juga."
"Tapi aku tidak akan mundur."
"Aku juga tidak."
Mereka turun bukit dengan tangan yang masih bergandengan, walaupun sarung tangan tebal mereka membuat bergandengan terasa lebih simbolik daripada nyata. Di pintu masuk stasiun, sebelum mereka memasuki koridor yang akan memaksa mereka menjadi profesional kembali, Aksel berhenti sebentar.
"Lara."
"Iya."
"Apa pun yang terjadi di stasiun ini—rahasia, atau gosip, atau apa pun—aku tidak peduli. Aku ingin kau tahu itu."
"Aku juga, Aksel. Aku juga."
Mereka masuk. Marta dan Ingrid masih main kartu di ruang komunal. Marta mendongak saat mereka lewat, dan—untuk pertama kalinya sejak Lara mengenal perempuan Brasil itu—Marta tersenyum lebar, tanpa menyembunyikan apa-apa.
"Selamat malam, La. Aksel."
"Malam, Mar."
Lara dan Aksel berpisah di koridor—Aksel ke kamarnya, Lara ke kamarnya. Tapi Lara tahu, malam itu, tidur akan menjadi hal yang berbeda dari malam-malam sebelumnya.
Antartika—dengan semua dinginnya—untuk pertama kali terasa seperti tempat yang bisa menampung kehangatan.