Mereka kembali ke stasiun sebagai pahlawan kecil.
Direktur Romero memberi mereka libur dua hari, suatu hak istimewa yang ia jarang berikan dan yang membuat sebagian besar tim peneliti lain memandang Lara dan Aksel dengan tatapan yang campur antara hormat dan iri. Marta dan Ingrid menyambut Lara di kamar dengan pelukan dan secangkir kopi panas yang langsung mereka buat di kompor portabel kamar. Tidak ada yang menanyakan apa yang terjadi di gua es. Tapi cara Marta tersenyum pada Lara di malam pertama mereka kembali—senyum samar di sudut bibirnya, alis sedikit terangkat—Lara tahu. Marta sudah mengintip sesuatu. Mungkin dari bahasa tubuh mereka di pintu masuk. Mungkin dari cara Lara dan Aksel berdiri sedikit terlalu dekat saat menerima briefing post-insiden dari Direktur.
"Mar," Lara akhirnya bilang malam itu, sambil mengikat rambutnya untuk tidur. "Kalau kamu mau tanya sesuatu, tanyalah."
"Aku tidak akan tanya, La. Aku cuma mau bilang—hati-hati."
"Hati-hati apa?"
"Hati-hati sama hati orang yang masih berduka. Bukan karena dia akan menyakitimu. Karena kau mungkin yang menyakitinya, tanpa sengaja, kalau kau salah baca tanda."
Lara duduk di tepi ranjangnya. "Mar, aku belum—kami belum—"
"Aku tahu. Aku cuma kasih tahu untuk nanti."
***
Hari berikutnya, Aksel memintanya bertemu di laboratorium. Sendirian, lewat catatan kecil yang ia selipkan di buku jurnal Lara saat sarapan: *Lab kosong jam 14:00. Aku ingin tunjukkan sesuatu. — A.*
Lara datang tepat waktu. Aksel sudah di sana, dengan sebuah buku catatan tua di atas meja kerjanya. Sampul kulit cokelat yang sudah pudar di sudut-sudutnya. Tepi-tepi halamannya keemas-emasan karena waktu.
"Aksel?"
"Duduk, Lara. Silakan."
Lara duduk di kursi yang biasanya ia pakai untuk meneliti sampel diatom. Aksel mendorong buku itu pelan ke arahnya.
"Buka."
Lara membuka. Halaman pertama: tulisan tangan perempuan, miring, dengan tinta hitam yang sebagiannya sudah memudar menjadi cokelat. Halaman demi halaman penuh—sketsa peta es, catatan sampel mineral, koordinat GPS, dan di antara halaman-halaman teknis itu, entri jurnal pribadi.
"Ini buku catatan Maja," kata Aksel pelan. Suaranya tidak gemetar, tapi juga tidak biasa-biasa saja. "Dia juga geolog kutub. Ekspedisinya yang terakhir, sebelum penyakitnya didiagnosis. Tujuh tahun lalu."
Lara membalik halaman dengan hati-hati, seolah halaman-halaman itu bisa hancur karena tatapan terlalu lama. Di salah satu lembar di tengah buku, ia menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti bernapas: sebuah sketsa wajah Aksel yang masih muda. Rambut yang lebih panjang, mata yang lebih ringan, bahkan senyum yang Lara belum pernah lihat di pria itu—senyum lebar, terbuka, tanpa pertahanan.
Di samping sketsa itu, dalam tulisan Maja: *"Pria yang akan kunikahi suatu hari. Aku tahu dari hari pertama. Ia tidak tahu, tapi ia akan."*
Lara menutup matanya sebentar.
"Dia sangat... mencintaimu."
"Dan aku mencintainya. Tapi yang ingin aku tunjukkan padamu bukan itu."
Aksel meraih buku, membaliknya dengan pelan ke bagian akhir. Halaman kedua dari belakang. Sebuah surat, ditulis dengan tinta yang lebih gelap dari halaman lainnya—tinta yang sengaja dibedakan, seolah Maja ingin pembacanya tahu bahwa surat ini bukan bagian dari catatan sehari-hari.
Aksel mendorong buku itu kembali ke arah Lara.
"Baca."
Lara membaca, suaranya sendiri di kepalanya:
*"Aksel sayang,*
*Kalau kau membaca ini, mungkin saya sudah pergi. Penyakit ini lebih cepat dari yang dokter prediksi—mereka bilang sepuluh tahun, tapi tubuh saya sepertinya tidak punya kesabaran sebanyak itu.*
*Saya tidak akan menulis panjang. Saya tahu kau tidak suka surat panjang—kau bilang sendiri, surat panjang itu untuk orang yang tidak bisa bicara langsung. Tapi karena saya tidak akan ada untuk bicara langsung lagi, izinkan saya satu kali ini.*
*Saya hanya ingin satu hal: jangan biarkan kematian saya membuat kau mati juga. Kau masih punya banyak musim panas untuk dilewati. Banyak gua es untuk dijelajahi. Banyak orang untuk dicintai.*
*Cinta tidak terbatas, Aksel. Saya tahu kau pikir itu—saya pernah mengintip jurnal kau waktu kita awal-awal pacaran—'orang hanya bisa mencintai satu orang dengan benar dalam hidupnya.' Itu bohong, sayang. Kau menulis itu karena kau belum pernah betul-betul mencintai. Sekarang kau sudah. Dan kau tahu, kalau kau jujur pada diri sendiri, bahwa hati kau lebih besar dari satu nama saja.*
*Saya akan marah—sangat marah—kalau saya melihat kau dari atas sana, sendirian sampai tua. Saya akan marah kalau saya melihat kau menolak perempuan baik yang muncul di hidup kau, hanya karena kau merasa itu pengkhianatan pada saya. Itu bukan pengkhianatan. Itu hidup. Saya menikah dengan kau karena saya ingin kau hidup. Bukan karena saya ingin kau berhenti hidup setelah saya pergi.*
*Carilah seseorang yang membuat kau tertawa lagi. Saya akan tersenyum dari mana pun saya berada. Saya janji.*
*Selalu milikmu, walau tak lagi di sisimu,*
*Maja.*
*P.S. Karen tahu di mana saya simpan buku ini. Kalau kau lupa membacanya, biar Karen yang ingatkan."*
Lara menutup buku itu pelan. Air matanya tidak bisa ditahan—turun di pipi, menetes di sampul kulit cokelat.
"Aksel..."
"Lara." Aksel menatapnya dengan mata biru yang berkaca-kaca tapi tegar. "Selama tiga tahun, aku pikir mencintai orang lain sama dengan mengkhianati Maja. Aku tahu surat ini. Aku sudah baca berkali-kali. Tapi membacanya dan mempercayainya adalah dua hal yang berbeda."
"Aksel—"
"Setelah dua belas jam di gua es itu... aku sadar, aku sudah lama tidak tertawa seperti itu. Aku tidak tertawa keras—kau tahu aku, aku tidak pernah tertawa keras. Tapi di dalam, di tempat yang hanya aku bisa rasakan, aku tertawa. Aku merasa sesuatu yang bukan kesedihan untuk pertama kali sejak Maja meninggal."
Lara meletakkan kedua tangannya di atas meja.
"Aksel, apa yang ingin kau bilang?"
"Aku tidak akan melamarmu. Belum. Mungkin tidak dalam waktu dekat. Tapi aku ingin kau tahu—aku tidak takut lagi mencintai seseorang. Pertama kali dalam tiga tahun. Dan aku tidak ingin kau pikir, di akhir ekspedisi ini, bahwa apa yang terjadi di gua es itu hanya... hanya panas tubuh dan adrenalin."
Lara meraih tangan Aksel di atas meja. Tangan yang dua hari lalu menahan tubuhnya supaya tidak hilang di badai. Tangan yang sekarang gemetar pelan—bukan dari dingin, tapi dari ketakutan yang berbeda.
"Aksel."
"Iya."
"Aku juga. Aku juga."
Di luar jendela laboratorium, salju Antartika turun pelan, indah, abadi—tidak peduli pada kesedihan dua manusia di dalam ruangan kecil dengan buku catatan tua di antara mereka.
Tapi di dalam ruangan itu, sesuatu yang lebih hangat dari musim panas Bali sedang lahir di antara dua orang yang sebelumnya hanya nama di lembar peserta ekspedisi.
Cinta yang—mungkin—terlarang oleh masa lalu.
Tapi tidak oleh masa depan.
Dan jauh di dalam, di tempat yang hanya Lara sendiri tahu, ia berbisik pada perempuan yang ia tidak pernah ketemu: *Maja, tolong izinkan. Aku akan jaga dia. Aku janji.*
Salju di luar terus turun. Tidak ada yang menjawab.
Tapi entah dari mana, Lara merasa—seperti tepukan halus di bahunya—jawabannya iya.