Mereka terjebak di gua es selama dua belas jam.
Di luar, badai mengamuk dengan kekuatan yang Lara hanya bisa dengar lewat dengung rendah yang terus-menerus di luar terpal—seperti lautan yang marah, tapi terbuat dari salju. Di dalam, hanya ada cahaya redup lampu portabel dan suara napas mereka yang teratur, bertukar di udara yang perlahan menghangat oleh panas tubuh.
Lara duduk dengan punggung menempel di dada Aksel. Pria itu di belakangnya, lengannya melingkari Lara dengan jarak yang dijaga—cukup dekat untuk panas, cukup jauh untuk tidak melanggar batas. Lara bisa merasakan detak jantung Aksel di tulang belikat. Tetap. Lambat. Seperti metronom yang mengingatkan tubuhnya bahwa hidup masih berlangsung.
Setelah hampir dua jam diam, Lara bisikkan: "Aksel."
"Iya."
"Ceritakan tentang dirimu."
"Apa yang ingin kau tahu?"
"Apa pun. Aku tidak tahan diam terus."
Aksel diam beberapa detik. Lara bisa merasakan dadanya bergerak naik turun, lalu berhenti sebentar—seperti seseorang yang sedang memutuskan sesuatu. Kemudian ia mulai bercerita, pelan, hati-hati, seperti melepas perban dari luka lama yang sudah lama dilewatkan.
"Aku lahir di Bergen, Norwegia. Pelabuhan kecil di pantai barat. Ayahku pelaut—kapal kargo yang berlayar ke Skotlandia, Belanda, kadang sampai Islandia. Ia di rumah tujuh hari, di laut tiga puluh hari. Itu pola yang aku tahu dari kecil."
"Ibumu?"
"Ibuku menjual kain wol di pasar Sabtu. Ia lebih sering di rumah daripada ayah, tapi tidak selalu di sana untukku—kalau kau mengerti maksudku. Ia perempuan yang pikirannya jauh, walaupun tubuhnya di dapur."
Lara mengangguk pelan, kepalanya menggesek bahu Aksel.
"Ia akhirnya pergi waktu aku enam belas. Bukan dengan pria lain. Hanya... pergi. Suatu pagi ia menulis catatan, dan ketika ayah pulang dari laut tiga minggu kemudian, kami berdua harus belajar memasak."
"Kau pernah ketemu dia lagi?"
"Sekali. Lima tahun kemudian. Di toko buku di Oslo. Ia bekerja sebagai kasir." Aksel menghela napas. "Kami minum kopi. Bicara empat puluh menit. Lalu aku pergi dan tidak menghubunginya lagi. Bukan marah. Hanya... aku tidak punya tempat untuknya di hidupku."
"Itu sedih."
"Itu jujur. Yang sedih bukan ibuku pergi, tapi bahwa aku tidak merindukannya."
Lara terdiam. Ia tidak tahu harus jawab apa.
Aksel melanjutkan setelah jeda yang lebih panjang.
"Aku bertemu Maja di universitas. Geolog kutub seperti aku. Kami satu tim dalam ekspedisi pertamaku, dua belas tahun lalu—Antartika, stasiun yang sama ini. Ia perempuan yang tertawanya bisa terdengar tiga koridor jauhnya. Yang pertama kali aku tahu tentang Maja sebelum bertemu wajahnya: tawanya."
Lara merasakan sesuatu menukik di dadanya, tapi ia menahan diri untuk tidak menanyakannya.
"Kami menikah dua tahun kemudian. Tidak besar—di gereja kecil di pinggiran Bergen, dengan dua belas tamu. Ibuku tidak datang. Aku tidak mengundangnya. Maja punya seorang kakak perempuan—Karen—yang menjadi saksi pernikahan kami."
"Maja..." Lara akhirnya bertanya, suaranya hampir tidak terdengar di atas dengung badai. "Dia di Norwegia sekarang?"
"Dia tidak ada di mana-mana, Lara." Suara Aksel datar, terlalu datar. "Dia meninggal tiga tahun lalu."
Hening yang lama. Lara merasakan dadanya menukik seperti pesawat jatuh.
"Aksel..."
"Kau tidak perlu minta maaf."
"Itu... yang membuatmu datang ke Antartika?"
Aksel tertawa pelan. Tawa yang lebih mirip helaan napas yang patah di tengah-tengah.
"Iya. Pertama kali aku datang ke sini setelahnya, enam bulan setelah pemakaman. Aku pikir, kalau aku pergi cukup jauh dari semua hal yang mengingatkanku padanya—kasur yang kami beli bersama, kafe tempat kami sarapan, bahkan teman-teman yang melihat kami menikah—mungkin sakitnya akan hilang."
"Dan?"
"Sakitnya tidak hilang. Tapi di sini—di tempat di mana semua hal putih dan kosong—aku bisa mendengar diri sendiri lagi. Aku bisa membedakan suara duka dengan suara hidup. Itu cukup."
Lara menatap dinding kristal di hadapannya. Cahaya lampu memantul di lapisan-lapisan es purba—lapisan yang berusia ratusan ribu tahun, jauh lebih tua dari kesedihan satu pria.
"Aku juga datang ke sini untuk lari," Lara akhirnya berkata.
"Dari apa?"
"Dari pertunangan yang batal sebulan sebelum hari pernikahan."
Lara mendengar Aksel bernapas perlahan—pengakuan tanpa kata bahwa ia mendengarkan.
"Dia pergi dengan teman aku. Daffa namanya. Sahabat aku dari kuliah, namanya Leila. Mereka berdua. Aku memergoki mereka di apartemen aku sendiri. Aku pulang lebih cepat dari kondangan keluarga karena lelah, dan—begitulah."
"Berapa lama kalian sebelum itu?"
"Lima tahun. Tunangan sembilan bulan. Undangan sudah dicetak. Gedung sudah dibooking. Ibuku sudah memilih kebaya."
Aksel menarik Lara sedikit lebih dekat. Tidak romantis—seperti pelukan yang berkata: aku mendengarmu, aku tidak akan minta lebih dari yang kau mau berikan.
"Bodoh," kata Aksel.
"Aku bodoh karena percaya?"
"Bukan kau. Dia. Pria mana pun yang melepasmu adalah pria paling bodoh di dunia."
Lara terdiam. Hangat tiba-tiba menjalar di pipinya yang seharusnya beku—hangat yang bukan dari panas tubuh, tapi dari sesuatu yang lebih dalam, lebih asing, lebih menakutkan daripada hipotermia.
Mereka tidak bicara setelah itu. Bukan karena tidak ada yang mau dibicarakan—justru sebaliknya, terlalu banyak yang ingin dibicarakan, dan diam terasa lebih jujur daripada kata.
Tapi tangan Aksel—yang sebelumnya hanya merangkulnya untuk panas tubuh—pelan-pelan menggenggam tangan Lara di bawah jaket. Bukan dengan urgensi. Bukan dengan ekspektasi. Hanya menggenggam, seperti seseorang yang menemukan jangkar di tempat yang ia tidak tahu butuh jangkar.
Dan Lara tidak melepasnya.
***
Ketika tim penyelamat akhirnya menemukan mereka pukul enam pagi—setelah dua belas jam, setelah radio darurat akhirnya menangkap sinyal dari beacon Aksel—badai sudah reda.
Pintu gua dibuka. Cahaya matahari kutub yang rendah masuk, menyilaukan setelah berjam-jam dalam kuning lampu portabel.
Lara dan Aksel berdiri pelan-pelan, memisahkan diri seperti dua benda yang sudah lama menjadi satu dan harus belajar menjadi dua lagi.
Tapi sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih dingin dari salju Antartika dan lebih tua dari gua kristal mereka—telah mulai mencair di dada dua orang yang seharusnya hanya rekan kerja.
Dan ketika mereka berjalan keluar, kembali ke snowmobile penyelamat yang menunggu di luar, Aksel masih memegang tangan Lara di bawah sarung tangannya. Tidak ada yang melihat. Atau mungkin—Lara curiga—Marta dan Ingrid melihat, tapi memilih tidak komentar.
Antartika menyimpan rahasia. Itu yang Aksel bilang di malam pertama.
Sekarang Antartika menyimpan satu rahasia baru.