Hari ketiga puluh, badai datang.
Peringatan keluar pukul dua siang—sirene pendek yang berbunyi tiga kali di seluruh kompleks, diikuti pengumuman di radio internal bahwa semua tim lapangan harus kembali dalam dua jam. Tapi Lara dan Aksel sudah berada empat kilometer dari stasiun, di titik bor yang sudah dipetakan minggu sebelumnya, mengambil sampel inti es dari kedalaman delapan meter.
Lara mendengar sirene pertama kali lewat radio yang tergantung di bahu Aksel. Ia masih menahan tabung sampel di posisinya, tangannya dibungkus dua lapis sarung tangan dan jari-jarinya sudah mulai mati rasa.
"Kita harus balik," kata Aksel, dan suaranya sudah berubah—bukan datar lagi, tapi tegas, jenis ketegasan yang tidak menerima diskusi.
"Lima menit lagi—aku hampir selesai—"
"Sekarang, Lara."
Lara mendongak. Aksel sudah menatap horizon dengan ekspresi yang ia tidak pernah lihat di pria itu sebelumnya. Bukan takut. Sesuatu yang lebih dingin dari takut—pengetahuan.
Lara mengikuti tatapannya. Di selatan, langit yang tadi cerah pucat sekarang berubah menjadi tembok putih solid yang bergerak ke arah mereka dengan kecepatan yang seharusnya tidak mungkin. Bukan awan. Tembok—setinggi tiga ratus meter, panjang yang tidak terukur, mengikis cakrawala seperti penghapus raksasa.
"Astaga..."
"Kemas peralatan. Sekarang. Tinggalkan yang berat."
Lara bergerak tanpa berpikir. Tangan-tangannya terasa terlalu lambat. Setiap detik yang ia pakai untuk menggulung kabel sensor terasa seperti mencuri dari sisa hidupnya. Aksel di sebelahnya sudah memasang ransel dan menyiapkan snowmobile.
Empat menit kemudian mereka sudah duduk di snowmobile. Aksel di depan, Lara di belakang, pegangan tangannya melingkari pinggang Aksel karena tidak ada pegangan lain yang cukup kuat. Mesin meraung. Salju yang sebelumnya hanya berupa serpihan kecil sekarang turun dengan kecepatan yang seperti pasir yang dilempar ke wajah.
Mereka separuh jalan ketika badai menghantam.
Salju turun seolah gravitasi tidak ada. Lara tidak bisa melihat lebih dari sepuluh meter ke depan. Sepuluh meter menjadi lima, lima menjadi dua, dan ketika snowmobile akhirnya tersangkut di gundukan salju yang baru terbentuk dalam hitungan menit, Lara sudah tidak bisa melihat kepalanya sendiri.
Aksel mematikan mesin. Hening yang aneh—bukan sunyi, tapi suara angin yang memekik di telinga seperti teriakan tertahan.
"Aksel—"
"GPS-nya rusak. Sinyal radio mati."
Lara merasakan panik mulai naik di tenggorokan, mendesak dada, membuat napasnya pendek. Suhu eksternal sudah minus tiga puluh dua. Dalam dua jam, hipotermia akan membunuh mereka. Dalam empat, mereka sudah menjadi salah satu cerita yang dibisikkan di koridor stasiun setiap kali ekspedisi baru tiba.
Aksel meraih lengannya. Cengkeramannya tidak menyakitkan, tapi tegas. Cara seseorang yang menarik perhatian seseorang yang sedang tenggelam.
"Lara. Dengar."
Lara menatap matanya. Mata biru pucat itu—di antara kabut salju yang menutupi sebagian wajah mereka—adalah satu-satunya titik fokus yang ia punya.
"Ada gua es lima ratus meter ke utara dari sini. Aku pernah ke sana di ekspedisi kedua. Kita bisa berlindung di dalam, tunggu badai reda. Kau ikut aku, dan jangan—jangan—lepas tanganku. Kalau kau lepas, kau akan hilang dalam tiga detik."
"Iya."
"Lara, lihat aku. Kau dengar?"
"Iya, Aksel. Aku dengar."
Mereka turun dari snowmobile. Aksel mengikat tali pendek antara sabuk Lara dan sabuknya sendiri—pengaman ganda. Lalu mereka mulai berjalan ke utara, menentang angin yang memukul mereka dengan kekuatan yang seperti tembok yang bisa berjalan.
Setiap langkah seperti melawan gravitasi. Tangan Lara baku di sarung tangannya. Air matanya membeku di pipi, membentuk lapisan tipis yang menarik kulit setiap kali ia mengernyit.
Tapi Aksel tidak melepaskan tangannya. Tidak pernah. Bahkan ketika ia harus menyeret Lara melewati gundukan-gundukan es yang lebih tinggi dari tubuh mereka—gundukan yang baru terbentuk dalam dua puluh menit terakhir, gundukan yang akan hilang lagi dalam dua puluh menit ke depan.
Lima belas menit. Tiga puluh menit. Mungkin satu jam—Lara tidak tahu lagi. Waktu di Antartika tidak bekerja seperti di tempat lain. Tubuhnya sudah berhenti gemetar—itu tanda buruk, ia tahu itu dari briefing—dan otaknya mulai memutar bayangan-bayangan yang seharusnya tidak muncul. Ibunya di Bali. Dinda di kafe Sanur. Daffa di apartemen yang sudah lama bukan miliknya lagi.
Lalu, tiba-tiba, Aksel berhenti.
"Sini. Ke sini. Tunduk."
Sebuah lubang gelap di tengah dinding gletser. Aksel mendorong Lara masuk lebih dulu, lalu mengikuti dan menutup pintu masuk dengan terpal darurat dari ranselnya.
Di dalam, gelap. Dingin. Tapi—untuk pertama kali dalam satu jam terakhir—tanpa angin.
Aksel menyalakan lampu portabel. Cahayanya tipis, kuning, tidak cukup untuk menerangi seluruh gua—tapi cukup untuk Lara melihat bahwa tempat ini tidak sederhana. Dinding-dindingnya terbuat dari kristal es purba yang berlapis-lapis seperti halaman buku, biru-hijau di tempat cahaya menembus, gelap di tempat tidak. Atapnya membentuk kubah pendek, dengan stalaktit es kecil yang menggantung seperti taring lembut.
Indah. Lebih indah dari yang Lara siapkan dirinya untuk lihat.
"Kau baik-baik saja?" tanya Aksel, sambil menanggalkan sarung tangan luarnya.
Lara mengangguk—lalu menyadari ia tidak baik-baik saja sama sekali. Tubuhnya yang sudah berhenti gemetar tiba-tiba mulai gemetar lagi, kali ini lebih hebat. Giginya berdetak. Ia tidak bisa mengendalikan rahangnya.
"Hipotermia ringan. Stadium awal. Duduk."
Aksel membuka jaketnya, lalu mengeluarkan selimut darurat foil dari ransel. Ia menggelarnya di lantai gua.
"Sini. Duduk dekat aku. Berbagi panas tubuh. Itu protokolnya."
"Aksel—"
"Ini bukan tentang romantis, Lara. Ini tentang bertahan hidup. Kau sudah baca briefing-nya. Kau tahu."
Lara mendekat. Aksel menyelimutinya dengan jaketnya sendiri, lalu membuka jaket dalamnya dan menariknya supaya Lara duduk menempel di dada—dada tipis di balik dua lapis baju thermal yang berdenyut dengan napas yang lebih cepat dari biasanya.
Tubuh mereka saling bersandar di dinding kristal gua. Aksel melingkarkan lengannya di sekeliling Lara, tidak ketat, hanya cukup untuk mengikat panas. Lara bisa merasakan detak jantung pria itu di belakang punggungnya—cepat di awal, lalu pelan-pelan tenang menjadi ritme yang teratur.
Untuk pertama kali dalam tiga puluh hari di Antartika, Lara merasakan sesuatu selain dingin.
Detak jantung pria yang ia bahkan tidak benar-benar kenal. Tapi pria yang—di hutan salju yang seharusnya membunuh mereka—memilih untuk tidak melepaskan tangannya, satu kali pun.