Musim semi datang ke Bergen pada akhir Maret.
Salju mulai mencair. Bukan secara dramatis—Bergen tidak pernah dramatis—tapi pelan, hari demi hari. Pertama, atap-atap rumah mulai meneteskan air. Lalu jalan-jalan batu di pusat kota muncul kembali dari balik selimut putih yang sudah delapan bulan menutupinya. Lalu sungai-sungai mengalir deras dengan air hijau dari pegunungan yang masih bersalju di puncak. Lalu pohon-pohon yang sudah hampir mati selama enam bulan tiba-tiba memunculkan tunas-tunas hijau muda di ujung ranting, kecil tapi tegas, seolah berkata: kami masih ada.
Lara memutuskan: dia akan tetap di Bergen. Bukan tiga bulan. Tidak setahun. Selamanya, kalau memang itu yang Aksel dan Mathias butuhkan.
Pekerjaan riset-nya bisa remote. Ia kontak universitasnya di Bali via Zoom—Pak Made, ketua jurusannya, kelihatan kaget tapi tidak menentang. "Lara, kalau kau bisa publikasi dari Bergen sama dengan dari Bali, kami tidak peduli kau di mana. Kirim laporan setiap tiga bulan."
"Iya, Pak. Terima kasih."
Ia juga mulai menulis—buku tentang Antartika, tapi yang sebenarnya tentang menemukan cinta di tempat yang paling tidak diduga. Penerbit di Jakarta yang Lara kontak via teman-teman di kampus tertarik. "Kirim outline-nya, kami bahas di rapat editorial bulan depan."
***
Mathias pergi ke sekolah pagi dua kali seminggu—itu yang dokter izinkan, dengan syarat ia tidak terlibat aktivitas fisik berat. Hari-hari lain dia di rumah, dengan tutor yang Aksel sewa—seorang perempuan paruh baya bernama Bu Solveig yang sudah bertahun-tahun mengajar anak-anak dengan kebutuhan khusus, dan yang langsung jatuh cinta pada Mathias di sesi pertama.
"Dia anak yang luar biasa, Tn. Berg. Otaknya seperti spons. Dan dia punya filosofi hidup yang lebih dewasa dari beberapa orang dewasa yang saya kenal."
"Iya. Mathias punya cara melihat dunia yang berbeda."
"Itu hadiah, bukan beban. Saya senang sekali bisa mengajarnya."
***
"Mama!" panggil Mathias suatu sore di akhir Maret. "Lihat ini!"
Lara—yang sedang menulis di meja kerja di sudut ruang tamu—mengangkat kepala. Mathias sudah mulai memanggilnya "mama" dua minggu lalu, dengan transisi yang Lara tidak siap untuk—tapi yang Mathias lakukan dengan begitu alami sampai Lara tidak punya pilihan selain menerima.
Anak itu membawa sebuah lukisan—krayon di atas kertas A4, masih hangat dari proyek seni siang itu dengan Bu Solveig.
Tiga orang berdiri di depan rumah putih, dengan pohon di sekeliling.
"Ini siapa, Mathias?"
"Ini saya, ini papa, ini mama Lara."
Lara melihat dengan teliti. Ada satu lagi—sosok kecil, putih, di awan di atas rumah, dengan rambut platina dan senyum besar.
"Yang ini?"
"Itu mama Maja. Mama selalu di atas, melihat kita. Tante Karen bilang seperti itu. Mama Lara di sini, mama Maja di awan. Saya punya dua mama."
Lara hampir menjatuhkan lukisan. Ia meletakkannya pelan di meja, lalu menarik Mathias ke pangkuannya. Anak itu sudah cukup besar untuk pangkuan yang lama, tapi ia masih cukup kecil untuk Lara peluk dengan satu lengan.
"Mathias..."
"Mama kenapa nangis?"
"Tidak apa-apa, sayang. Mama cuma... terharu."
Mathias mengangguk. "Iya. Saya juga sering terharu. Tapi saya gak nangis karena orangnya kuat."
Lara tertawa di tengah air mata. "Iya, Mathias. Kamu kuat."
"Mama nanti tunjukin lukisan ini ke papa pas papa pulang? Saya mau papa lihat juga."
"Iya. Mama tunjukin."
***
Aksel pulang sore itu dari rapat klien di pusat kota. Mereka makan malam bertiga—Aksel masak kentang dengan ikan salmon yang baru dibeli dari pasar pagi tadi, Lara membantu dengan salad yang ia bumbui dengan kecap manis dari botol yang ia bawa dari Bali sebagai eksperimen, Mathias setting meja dengan sangat fokus, mengatur posisi sendok dan garpu dengan presisi yang ia pelajari dari Bu Solveig.
"Mathias, salad ini campuran—Norwegia dan Indonesia," kata Aksel, mencobanya. "Lara, ini enak."
"Bener, papa? Mama Lara masak gak biasa-biasa banget kah?"
"Mama Lara masaknya terlalu banyak kecap manis. Tapi enak."
"Aksel, kau—"
"Bercanda, sayang. Salad-nya enak."
Mathias tertawa. "Papa, mama, saya mau tunjukin sesuatu setelah makan."
"Apa, anak?"
"Lukisan saya."
Setelah makan, Mathias menarik papanya ke ruang tamu, menunjukkan lukisan yang Lara taruh di meja. Aksel berdiri lama di depan lukisan itu. Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa—Lara sudah belajar membaca pria ini, dan ia tahu, ekspresi datar Aksel sebenarnya tanda emosi terdalam.
"Mathias."
"Iya, papa."
"Lukisan ini... papa simpan ya. Papa pasang di kamar papa."
"Boleh, papa. Tapi mama Lara juga mau lihat tiap hari."
"Papa pasang di koridor, supaya semua orang bisa lihat."
"Bagus."
***
Setelah Mathias mau cerita sebelum tidur. Aksel yang baca—buku petualangan tentang seorang anak yang menjadi penjelajah es. Buku itu dipilih Aksel sendiri dari toko buku di pusat kota, karena—Aksel bilang ke Lara—ia ingin menanam mimpi yang baik di kepala anak itu, mimpi yang tidak terbatas oleh tubuh yang lemah.
Lara mengamati dari ambang pintu kamar Mathias. Aksel duduk di tepi ranjang Mathias, dengan satu kaki yang terjulur ke lantai dan satu kaki yang ditekuk. Anak itu sudah terkantuk-kantuk di bawah selimut motif kapal. Aksel pelan-pelan menutup buku.
"Papa."
"Iya, Mathias."
"Cerita lagi."
"Mathias, kau perlu tidur."
"Cerita lagi yang lain. Yang papa buat sendiri. Bukan dari buku."
Aksel diam beberapa detik. Lalu mulai bercerita—suara pelan, dengan aksen Norwegia yang berbeda dengan saat dia bicara dengan dokter atau klien. Suara yang Lara hanya dengar di kamar ini, di malam-malam sebelum Mathias tidur.
"Dahulu kala, ada seorang ahli geologi yang pergi ke Antartika untuk lupa pada sesuatu yang menyakitkan. Ia berpikir, kalau ia pergi cukup jauh, ia akan bisa lari dari semua yang menyakitkannya. Tapi yang ia tidak tahu adalah—Antartika tidak membuat orang lupa. Antartika hanya membuat orang... lebih jujur dengan diri sendiri."
Mathias matanya hampir tertutup tapi mendengarkan.
"Suatu hari, ahli geologi itu bertemu seorang ahli biologi. Perempuan dari pulau yang panas, jauh sekali dari Antartika. Mereka hampir mati di gua es saat badai datang—tapi gua es itu juga yang menyelamatkan mereka. Bukan dari badai saja. Dari lari yang terlalu lama."
"Dan?" bisik Mathias.
"Dan akhirnya mereka tidak lari lagi. Ahli geologi itu ikut ahli biologi pulang ke pulau yang panas. Lalu suatu hari—" suara Aksel sedikit pecah, "—suatu hari, ahli geologi itu mendapat telepon. Tentang anak laki-laki kecil yang ia tidak tahu ia punya. Anak laki-laki yang kuat, dan pintar, dan punya filosofi hidup yang lebih bijak dari banyak orang dewasa."
Mathias tersenyum di matanya yang terkatup.
"Anak itu adalah hadiah terbesar yang ahli geologi pernah dapat. Lebih besar dari semua sampel mineral yang pernah ia kumpulkan, lebih besar dari semua publikasi jurnal, lebih besar dari semua hal yang ia pikir penting sebelum ia bertemu anak itu."
"Papa..."
Tapi Mathias sudah tertidur sebelum cerita selesai.
Aksel berdiri pelan, menutup pintu kamar Mathias dengan hati-hati. Di koridor, ia menemukan Lara—yang mendengarkan cerita itu dari ambang pintu, dengan air mata yang sudah lama mengalir tanpa ia sadari.
"Aksel."
"Iya, Lara."
"Kau menulis cerita kita untuk Mathias."
"Iya."
"Aksel..."
Lara tidak bisa selesaikan kalimatnya. Aksel menarik dia ke pelukan, di koridor rumah putih, dengan suara hujan musim semi pertama Bergen di luar jendela. Hujan yang halus, yang menetes di atap dengan ritme yang Lara baru sadari ia sudah mulai mengenal—ritme rumah yang akhirnya, untuk pertama kali sejak ia tinggalkan Bali, terasa seperti rumah.
"Aksel."
"Iya."
"Saya tidak akan ke mana-mana."
"Saya tahu, Lara."
"Tapi saya ingin kau dengar lagi. Tidak ke mana-mana. Tidak peduli seberapa lama Mathias bisa tinggal dengan kita. Tidak peduli seberapa sulit musim dingin Bergen. Tidak peduli seberapa rindu saya pada Bali. Saya di sini."
Aksel mengangguk pelan, kepalanya di atas rambut Lara.
"Itulah yang saya butuhkan dengar, Lara. Itulah yang saya butuhkan dengar."