Mei. Bergen. Hari yang langka di kota yang terkenal dengan tiga ratus hari hujan setahun—matahari penuh, langit biru tanpa awan, suhu cukup hangat untuk jalan tanpa jaket berat. Bunga-bunga tulip berjajar di taman-taman pinggir jalan. Orang-orang Bergen mengeluarkan kursi kafe ke trotoar untuk pertama kali dalam delapan bulan, duduk minum kopi sambil menatap matahari seolah itu kejadian astronomi langka.
Mathias hari itu sehat—lebih sehat dari biasanya. Dokter Eriksen bilang minggu lalu, "Tn. Berg, Mathias merespons baik dengan obat baru. Tapi jangan ekspektasi. Perbaikan ini mungkin sementara. Nikmati sekarang."
Aksel mengajak Lara dan Mathias ke fjord di luar kota. Naik perahu kecil—motor listrik, hampir tidak bersuara, yang Aksel sewa khusus dari teman lama. Tepi fjord dilingkari pegunungan yang masih bersalju di puncak, dengan pohon-pohon pinus hijau gelap yang naik dari tepi air sampai garis salju.
Mathias—yang sehat hari itu—berbaring di lantai perahu dengan bantal yang Lara siapkan, memakai topi rajut biru yang Karen buatkan minggu lalu. Ia menatap langit, mata cokelatnya yang lebar mencari pola di awan-awan tipis yang melintas.
"Mama, lihat awan itu mirip kelinci."
"Iya, Mathias."
"Yang sebelahnya mirip naga."
"Iya."
"Yang di belakang naga... mirip ikan paus. Yang besar."
"Iya, sayang."
Aksel menghentikan perahu di tengah fjord. Mesin listrik mati. Hening yang hanya diisi suara air yang menyentuh sisi perahu, suara burung laut di kejauhan, dan napas Mathias yang teratur di lantai.
Diam-diam, Aksel mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jaket. Kotak persegi, beludru biru tua, ukurannya pas di telapak tangan.
Lara, yang duduk di kursi penumpang depan, melihatnya. Jantungnya melonjak.
"Aksel..."
"Lara."
"Aksel, kau—"
"Tunggu. Aku sudah pikir-pikir sebulan ini untuk bicara sambil makan malam. Tapi Mathias ngotot ikut perahu hari ini. Jadi sekarang. Di tempat yang Maja juga akan suka—" Aksel tertawa kecil, "—Maja yang dulu suka fjord ini, dan yang aku pikir akan setuju ini tempat yang pas."
Mathias—yang sebenarnya sudah tahu sejak seminggu lalu, karena Aksel diam-diam tanya pendapatnya—memejamkan mata seolah dia tidur. Tapi sudut bibirnya terangkat.
"Lara." Aksel berlutut di lantai perahu, gerakan canggung karena perahu kecil dan ruangnya sempit. "Aku... aku bukan orang yang romantis. Kau sudah bilang sendiri. Norwegia tidak romantis, kau pernah bilang. Tapi aku tahu satu hal."
"Iya?"
"Aku tidak bisa hidup tanpa kau."
"Aksel."
"Aku tidak bisa hidup tanpa kau di rumah aku, di sebelah Mathias, di pelukan aku tiap pagi. Aku tidak bisa hidup tanpa kau di gua es, di Bali, di Bergen, di tempat manapun aku pergi. Aku sudah belajar—di tiga tahun setelah Maja meninggal—seperti apa rasanya hidup tanpa orang yang aku cintai. Aku tidak ingin merasakan itu lagi."
Aksel membuka kotak. Cincin sederhana—silver dengan satu batu biru kecil di tengah. Bukan cincin berlian besar. Bukan cincin yang bisa dilihat dari jauh. Cincin yang bisa dipakai sehari-hari, bahkan saat berkebun atau berlayar, tanpa khawatir hilang atau rusak.
"Lara. Mau menikah dengan aku?"
Mathias—yang masih pura-pura tidur—membuka satu mata.
"Mama harus bilang iya, ya?" katanya, dengan suara yang seharusnya berbisik tapi terdengar jelas di hening fjord. "Saya udah setuju, papa udah tanya saya minggu lalu di kamar saya. Papa bilang: 'Mathias, papa boleh tanya mama Lara mau jadi istri papa?' Saya bilang: 'Iya, papa, saya udah lama mau mama Lara jadi istri papa.'"
Lara tertawa di tengah air matanya.
"Iya, Mathias."
"Iya untuk papa juga?"
"Iya, Aksel. Iya."
Aksel memasangkan cincin itu di jari Lara. Tangannya gemetar—Aksel yang biasanya stabil di setiap situasi, tangannya gemetar di momen ini. Cincin masuk pas di jari manis Lara. Karen yang sudah memberi ukurannya ke Aksel diam-diam minggu lalu, Lara tebak.
Mathias—dengan ekspresi anak lima tahun yang sangat puas—berdiri dari tempat berbaringnya dan mendekap mereka berdua dalam pelukan keluarga di tengah fjord Bergen yang biru. Pelukan yang membuat perahu sedikit bergoyang, tapi tidak ada yang peduli.
"Sekarang papa, mama, dan saya keluarga yang resmi."
"Iya, Mathias. Resmi."
"Saya boleh manggil mama Lara 'mama' di pernikahan?"
"Iya, sayang. Itu yang saya inginkan."
***
Pulang dari perahu, mereka bertiga duduk di tepi fjord, di bangku kayu kecil yang sengaja Lara siapkan. Makan sandwich keju yang Lara buat pagi tadi—keju gouda Norwegia, roti gandum, tomat ceri, daun arugula. Aksel membawa kopi dalam termos. Mathias minta jus apel.
Mathias tertidur di pangkuan Aksel setelah makan. Aktivitas hari itu—naik perahu, lamaran yang ia tahu akan terjadi, peluk-pelukan—membuat tubuhnya lelah. Aksel meletakkan tangannya di rambut anak itu, mengelusnya pelan.
Lara memandang fjord—pegunungan yang masih bersalju di puncak, awan-awan tipis yang berarak ke arah laut, air yang tenang dan hijau.
"Aksel. Saya pikir, kalau Maja bisa lihat ini..."
"Dia melihat, Lara."
"Iya?"
"Mathias bilang. Setiap pagi waktu dia bangun, dia bilang ke saya: 'Papa, mama Maja kasih saya mimpi tadi malam. Mama Maja senang sama mama Lara.' Saya tidak tahu apakah itu benar atau imajinasi anak. Tapi saya pilih percaya."
"Aksel. Saya juga percaya."
"Iya?"
"Iya. Karena kalau tidak, bagaimana aku bisa duduk di sini, di Bergen, dengan cincin di jari, dengan anak Maja tertidur di pangkuan suami—" Lara tertawa, "—calon suami—saya, dan merasa damai? Restu Maja yang membuat ini mungkin."
Aksel meraih tangan Lara di atas bangku kayu. Cincin baru di jari Lara berkilau di matahari Mei.
"Lara."
"Iya, Aksel."
"Saya cinta kau. Dan Mathias. Dan rumah putih. Dan Bergen yang dingin sialan ini."
Aksel tertawa pelan—tawa yang lebih ringan dari biasanya. "Saya cinta Bali yang panas sialan itu juga. Walaupun saya komplain terus tentang panasnya."
"Saya tahu."
Mereka tersenyum, di tepi fjord, dengan anak yang tidur di pangkuan Aksel, dan cincin perak yang baru terpasang di jari Lara, dan matahari Bergen yang langka membakar kulit mereka pertama kali dalam delapan bulan.
***
Ketika mereka pulang ke rumah putih sore itu, Karen menunggu di beranda dengan suaminya, Henrik, dan ibu Maja yang pakai sweater wol biru dengan tongkat kayu. Karen sudah tahu—Aksel meminta restu Karen dan ibu Maja seminggu lalu, sebelum membeli cincin.
Lara menunjukkan tangannya yang bercincin. Karen memeluknya. Ibu Maja, yang berusia tujuh puluhan dan tidak banyak bicara, mengelus pipi Lara dengan tangan yang sudah keriput.
"Anak baik," bisik ibu Maja dalam bahasa Inggris yang tertatih. "Maja akan senang. Saya sudah bicara dengannya dalam doa minggu lalu."
Lara tidak bisa berkata apa-apa. Hanya memeluk perempuan tua itu, di beranda rumah putih, di matahari sore Bergen yang langka.
Mathias—yang masih tertidur di gendongan Aksel—membuka mata sebentar dan tersenyum samar, lalu kembali tidur.
Dan rumah putih itu, untuk pertama kali sejak tahun-tahun yang kelam, terasa seperti rumah yang sedang merayakan, bukan yang sedang berduka.