Pernikahan di akhir Juni. Hari terlama matahari di Bergen—matahari tidak benar-benar terbenam sampai pukul sebelas malam, dan bahkan pukul dua belas masih ada cahaya samar di horizon barat, seperti senja yang menolak pergi.
Gereja tua kecil di puncak bukit, tiga puluh menit di luar kota Bergen. Dibangun pada tahun 1890-an dari kayu pinus yang dicat putih, dengan menara kecil dan jendela kaca patri yang masih asli. Aksel memilihnya karena dua alasan: Maja juga menikah di sini dua belas tahun lalu, dan Mathias menyukai cara cahaya matahari sore menembus kaca patri membuat lantai gereja berwarna-warni seperti pelangi.
"Saya tidak akan menggantikan Maja, Aksel," kata Lara sebulan sebelumnya, ketika Aksel pertama kali mengusulkan gereja itu. "Tapi saya tidak takut menikah di tempat yang sama. Cinta tidak terbatas, ingat? Maja sendiri yang bilang."
"Iya. Aku ingat."
Hanya dua belas tamu hari itu—Karen, Henrik, ibu Maja, beberapa teman keluarga Berg yang Aksel kenal sejak kecil, Marta dari Brasil yang terbang khusus dari São Paulo (dia bilang ke Lara di telepon, "La, kalau aku tidak hadir di pernikahanmu, aku akan menyesal sampai mati. Aku datang."), Ingrid dari Stockholm dengan pacar barunya—seorang arkeolog Denmark yang Lara baru ketemu dua hari sebelumnya.
Ibu Lara di Bali—yang awalnya tidak suka anaknya menikah dengan duda Norwegia, yang awalnya bertanya apakah Lara sudah cukup pikir-pikir, yang awalnya bilang "anak ini bawa tiga beban: cinta yang baru, anak yang sakit, dan negara yang dingin"—akhirnya datang juga. Dibujuk Aksel lewat video call selama tiga bulan dengan kemampuan bahasa Indonesia-nya yang masih kacau—Aksel akan mengulang kata yang salah pengucapan sampai ibu Lara tertawa, dan akhirnya luluh karena Aksel "ya, anak ini mungkin gak romantis, tapi dia ulet."
Ibu Lara tiba seminggu sebelum pernikahan. Di hari pertamanya di rumah putih, ia memeluk Mathias selama lima menit penuh, lalu memeluk Aksel, lalu—untuk pertama kalinya sejak undangan dikirim—memeluk Lara dan menangis.
"Mama maaf, La. Mama tidak percaya kau sampai liat sendiri. Sekarang mama mengerti."
"Mengerti apa, Mama?"
"Anak ini—Mathias—anak yang luar biasa. Dan Aksel—dia laki-laki yang baik. Mama bangga. Mama maaf untuk semua yang mama bilang dulu."
Lara memeluk ibunya tanpa berkata-kata.
***
Mathias yang antar cincin. Mengenakan jas kecil yang dia pilih sendiri dari toko anak-anak di pusat Bergen seminggu sebelumnya—jas hitam dengan dasi kupu-kupu biru yang ia pilih karena, kata Mathias, "Biru itu warna mama Maja. Saya mau bawa mama Maja juga ke pernikahan ini."
Aksel hampir menangis ketika Mathias bilang itu di toko. Lara menyentuh bahu Aksel pelan, dan mereka berdua mengangguk pada penjual baju yang menunggu dengan jas di tangan.
Di ruang persiapan gereja, Mathias duduk di sebelah Lara di kursi kayu kecil yang Karen siapkan. Lara mengenakan gaun putih sederhana—bukan gaun pengantin yang besar, hanya gaun katun panjang dengan renda halus di kerah, yang ia jahit setengahnya sendiri di Bergen dengan bantuan Karen.
"Mama," bisik Mathias.
"Iya, sayang."
"Saya boleh bilang sesuatu?"
"Iya."
"Mama itu mama saya yang kedua."
Lara hampir menjatuhkan rangkaian bunga yang ia pegang—bunga liar Norwegia yang Aksel kumpulkan di kebun rumah putih pagi itu, diikat dengan pita biru tipis.
"Mathias..."
"Mama Maja itu mama yang pertama. Mama Lara mama yang kedua. Dua-dua sayang sama saya. Saya udah pikir lama. Saya gak bingung soal ini."
"Iya, Mathias."
"Boleh saya panggil mama 'mama' tanpa Lara di belakang? Selama-lamanya? Bukan cuma di pernikahan?"
Lara berlutut di lantai gereja, di samping kursi Mathias, memeluk anak itu dengan hati-hati supaya tidak merusak gaunnya atau jas Mathias.
"Mathias. Kapan pun kau siap, sayang. Saya tunggu. Saya tunggu seumur hidup kalau perlu."
"Saya udah siap."
"Kalau begitu, mulai sekarang."
***
Pernikahan dimulai.
Ibu Lara duduk di baris depan dengan hijab biru—warna yang ia pilih khusus untuk hari ini. Karen menangis tiap dua menit di kursi seberang. Marta dan Ingrid saling pegang tangan di baris kedua, keduanya dengan air mata yang tidak mereka coba sembunyikan.
Aksel menunggu di altar, dalam jas hitam sederhana dengan dasi biru tua. Saat Lara berjalan menyusuri lorong gereja—Mathias di sampingnya, kursi rodanya didorong oleh Karen—Aksel mengangkat tangan ke wajahnya untuk menutupi air mata.
Pendeta, seorang perempuan tua bernama Pendeta Solveig (kebetulan nama yang sama dengan tutor Mathias), membacakan sumpah dalam bahasa Norwegia. Lalu Aksel mengulanginya dalam bahasa Inggris untuk Lara dan ibunya. Lalu, dengan canggung yang membuat seluruh gereja tertawa hangat, satu kalimat dalam bahasa Indonesia:
"Saya cinta kamu, Lara. Sampai akhir."
Lara—yang biasanya berani—sekarang menangis seperti anak kecil. Air matanya turun ke gaun, ke rangkaian bunga, ke tangan Aksel yang menggenggamnya. Dia tidak bisa selesaikan sumpahnya tanpa berhenti dua kali.
"Saya, Lara Pratiwi—" jeda, napas berat, "—berjanji untuk—" jeda lagi, Marta di baris kedua menangis lebih keras, "—untuk mencintai Aksel Berg, dan Mathias, dan rumah ini, dan Bergen, sampai akhir hidup saya."
Akhirnya pendeta berkata: "Dengan kuasa yang dipercayakan kepada saya oleh gereja Norwegia dan negara Norwegia, saya nyatakan kalian suami-istri. Anda boleh mencium pengantin."
Aksel mencium Lara. Bukan ciuman yang lama atau dramatis—ciuman yang sederhana, tepat, mengakhiri sumpah dengan tindakan. Tapi Mathias—di samping mereka di kursi roda—berseru:
"YEAY MAMA!"
Semua tertawa, terkejut. Bahkan ibu Lara—yang sebelumnya khusyuk—mengelap air mata dan mulai tertawa bersama.
Pendeta Solveig tersenyum. "Saya pikir anak kecil itu lebih bahagia dari kalian berdua."
***
Resepsi di kebun rumah keluarga. Lampu-lampu kuning kecil di antara pepohonan apple yang baru berbunga. Musik violin pelan dari pemain lokal yang Karen sewa—seorang gadis remaja Bergen yang baru lulus konservatorium. Makanan—mix dari Norwegia (salmon panggang, kentang dengan dill, blueberry pie yang Karen panggang sendiri) dan Indonesia (nasi kuning, ayam betutu yang Lara dan ibunya masak dua hari sebelumnya, pecel sayur dengan bumbu kacang yang Lara bikin).
Ibu Lara duduk di sebelah Karen di meja taman. Dua perempuan tua yang dulu skeptis, sekarang minum wine bersama dan tertawa atas sesuatu yang Lara tidak bisa dengar dari kejauhan. Henrik—suami Karen—main catur dengan suami salah satu teman keluarga Berg di sudut kebun.
Mathias tertidur di pangkuan ayahnya pukul sembilan malam, exhausted dari emosi dan adrenalin. Aksel menggendong anak itu ke kamar di lantai atas, menanggalkan jasnya pelan-pelan supaya tidak membangunkan, lalu memberi Mathias selimut wol biru yang ia suka.
Aksel turun lagi ke kebun. Mendapati Lara duduk di tepi taman, kaki terjuntai, melepaskan sepatu hak tinggi yang membuatnya tidak nyaman selama enam jam terakhir.
"Sayang."
"Iya, Aksel."
"Mathias tidur lelap."
"Bagus."
Aksel duduk di sebelah Lara. Karen, di kejauhan, melihat mereka berdua dan datang membawa dua gelas wine.
"Untuk pengantin baru," kata Karen, lalu duduk di rumput di seberang.
"Karen."
"Iya, Lara."
"Maja akan senang."
"Saya berharap."
"Saya tahu. Saya kakaknya lima belas tahun. Saya tahu dia—sekarang—bahagia. Saya bisa rasakan dia di sekitar kita malam ini. Bukan dengan cara mistis, hanya... rasa. Rumah ini terasa berbeda hari ini. Lebih ringan."
Lara meraih tangan Karen yang memegang gelas wine.
"Karen, terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk menelepon Aksel waktu itu. Untuk Mathias. Untuk semua."
Karen tertawa pelan, mengelap mata dengan tangan bebas.
"Lara, kalau saya tahu Mathias akan dapat ibu sehebat kau, saya akan menelepon lebih cepat. Maafkan saya."
"Tidak ada yang harus dimaafkan."
Mereka bertiga memandang fjord di kejauhan—dari kebun rumah putih, fjord terlihat sebagai garis biru gelap di antara bukit-bukit. Matahari yang seharusnya tenggelam masih ada di horizon, lampu kuning besar yang menolak pergi karena hari ini hari paling panjang dalam setahun.
"Aksel."
"Iya."
"Saya pikir, kalau Maja pernah melihat ini—malam ini, kebun ini, kita berdua di sini—dia akan bilang, 'akhirnya, Aksel, kau bisa istirahat.'"
Aksel meraih tangan Lara di atas rumput. Cincin perak baru di jari Lara berkilau di bawah lampu kuning kecil yang tergantung di pohon apple di belakang mereka.
"Iya, Lara. Akhirnya, saya bisa."
Mereka berdua memandang fjord, di musim panas Bergen yang lembut, dan Lara mengerti—keluarga, kalau benar-benar dipilih dengan cinta, bisa muncul dari tempat yang paling tidak diduga.
Termasuk dari kutub paling dingin di dunia.
Termasuk dari telepon yang seharusnya tidak boleh dijawab.
Termasuk dari surat yang ditulis perempuan yang sudah tidak ada, untuk anak yang ia tidak bisa lihat tumbuh.
Cinta tidak terbatas.
Dan malam itu, di kebun rumah putih di pinggiran Bergen, Lara percaya kalimat itu sepenuh hati untuk pertama kalinya dalam hidupnya.