Surat Mathias dibuka tiga minggu setelah pemakaman.
Lara dan Aksel sengaja menunda—tidak siap untuk membaca apa pun yang berasal dari Mathias, tidak siap untuk mendengar suaranya kembali lewat tulisan. Tapi malam itu, ketika hujan musim semi pertama mulai turun di Bergen dan rumah putih terasa lebih kosong dari malam-malam sebelumnya, Karen datang dengan amplop di tangannya.
"Kalian sudah siap?"
"Tidak," jawab Lara jujur.
"Tapi mungkin tidak akan pernah siap," tambah Aksel. "Mari buka saja."
Mereka duduk di sofa, di depan perapian yang menyala lemah, dengan kopi yang sudah dingin di tangan masing-masing. Karen di kursi di seberang. Ibu Lara di sebelah Karen—ia sudah pindah ke rumah putih beberapa hari setelah pemakaman, tidak ingin Lara sendirian di rumah yang sunyi.
Aksel membuka amplop. Tulisan tangan anak sebelas tahun. Berhati-hati. Sedikit miring ke kanan—seperti tulisan Aksel sendiri, Lara tidak pernah sadar sebelumnya. Mathias menulis seperti ayahnya.
Aksel membaca dengan suara yang gemetar:
*"Mama Lara dan Papa,*
*Kalau kalian baca surat ini, saya udah pergi. Tolong jangan terlalu sedih lama-lama. Saya bilang ke mama Lara dulu—jangan terlalu sayang sama saya. Ingat, mama? Saya minta itu sejak awal. Sejak hari pertama kita ketemu di rumah Tante Karen.*
*Tapi mama-papa terlalu sayang. Saya lihat. Saya terima. Saya cinta kalian juga.*"
Aksel berhenti, menarik napas. Lara meletakkan tangannya di lutut Aksel.
"Lanjutkan, Aksel."
*"Yang saya mau bilang sekarang adalah—rumah putih ini terlalu besar untuk dua orang. Tolong jangan tinggal sendirian terlalu lama.*
*Saya tahu mama-papa udah tua-an. (Mama 38, papa 42 saat saya nulis ini—bukan tua sebenernya, tapi untuk saya yang baru 11, tua banget.) Tapi keluarga butuh anak.*
*Saya minta kalian punya anak lagi.*"
Aksel berhenti lagi. Lara mengelus pipi Aksel.
"Aksel..."
"Sebentar."
*"Anak baru. Bukan untuk gantiin saya—saya tahu saya gak bisa diganti, hahaha. Tapi anak baru, supaya rumah ini terisi suara lagi. Supaya papa tidak masuk kamar saya tiap malam dan menatap kosong (saya pernah lihat papa lakuin itu, papa kira saya tidur, tapi saya cuma pura-pura).*
*Anak baru, biar mama Lara punya alasan untuk masak nasi kuning yang dia bikin sangat enak. Biar tante Karen punya cucu lain untuk dimanjakan. Biar nenek Pratiwi punya cucu yang ngomong bahasa Indonesia."*
Lara terisak. Mathias tahu—Mathias mengamati semuanya, lebih dari yang mereka tebak.
*"Saya sudah bilang sama mama Maja juga, di tempat saya akan pergi nanti. Mama Maja setuju. Dia bilang dia akan membantu kalian punya anak yang sehat, walaupun cara dia membantu itu adalah dari awan. Dia bilang juga: 'Mathias, bilang sama papa-mu, tidak usah merasa bersalah. Anak yang baru bukan pengkhianatan padaku. Anak yang baru adalah hadiah.'"*
Aksel tidak bisa lanjut beberapa detik. Karen menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ibu Lara mengelus rambut Lara dari belakang sofa.
*"Mama-papa, terima kasih untuk empat tahun yang luar biasa. Saya tidak akan pernah lupa rumah putih ini, fjord di luar jendela, dan suara hujan yang mama-papa baca cerita di malam saya tidak bisa tidur.*
*Beberapa pesan terakhir:*
*1. Kepada mama Lara: tolong selesaikan buku tentang Antartika. Saya tahu mama udah hampir selesai. Jangan berhenti karena sedih. Mama Maja juga mau baca, lewat mama Lara nulisnya.*
*2. Kepada papa: tolong jangan berhenti pergi ke Antartika. Saya tahu papa pikir Antartika cuma tempat lari. Tapi sekarang, Antartika juga tempat kerja papa. Anak baru mama-papa bisa ikut suatu hari. Saya udah bayangkan—anak itu akan main snowmobile di sana, sama kayak papa.*
*3. Kepada keluarga: tante Karen, makasih udah jadi tante terbaik di dunia. Henrik, makasih udah ngajarin saya catur. Nenek Pratiwi, makasih udah masakin saya gulai (saya tahu mama Lara udah ngajarin nenek bahasa Norwegia kasar buat ngomelin saya kalau saya gak makan, hahaha).*
*Saya cinta kalian, lebih dari yang saya bisa tulis.*
*Mathias Berg.*
*P.S. Kalau anak baru-nya laki-laki, jangan kasih nama saya. Dia anak baru. Dia layak nama sendiri.*
*P.P.S. Kalau anak baru-nya perempuan, kasih nama yang ada artinya. Mama Maja namanya artinya 'permata Romawi.' Saya rasa itu cocok untuk adik perempuan saya nanti—nama yang berarti permata juga."*
Aksel menutup surat itu dengan tangan gemetar. Lara sudah menangis tanpa henti sejak paragraf kedua. Karen—yang biasanya tegar—menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ibu Lara menangis pelan di kursi di belakang.
Hening yang panjang.
Akhirnya Aksel berkata, dengan suara serak:
"Lara."
"Iya, Aksel."
"Anak kita bilang minta adik."
"Iya."
"Kau mau?"
Lara menatap Aksel. Pria yang ia sudah bersama sembilan tahun. Pria yang ia sudah saksikan jadi ayah, lalu kehilangan, lalu bertahan. Pria yang sekarang menatapnya dengan mata biru pucat yang penuh dengan harapan dan ketakutan, dalam proporsi yang seimbang.
"Iya, Aksel. Saya mau."
"Walaupun kita mungkin terlambat? Saya 42, kau 38. Dokter mungkin bilang sulit—"
"Aksel, dengar saya. Mathias minta. Maja setuju. Karen mendukung. Ibu Lara akan langsung pesen tiket mudik kalau kita bilang. Kita akan coba. Apa pun hasilnya, kita akan coba."
Aksel menarik Lara ke pelukannya. Karen, ibu Lara—mereka semua bergabung di sofa, pelukan empat orang dewasa yang baru saja menerima permintaan terakhir dari anak laki-laki sebelas tahun yang mereka cintai dengan seluruh hidup mereka.
Di luar, hujan musim semi terus turun. Bergen yang biasa hujan. Tapi malam itu, hujan terasa berbeda—seperti restu dari atas, bukan dari awan biasa.
Karen akhirnya berkata, suaranya parau:
"Mathias bahkan dari sana mengatur kita semua."
Mereka tertawa di tengah air mata. Mathias yang kecil, yang lebih bijak dari mereka semua, yang bahkan setelah pergi masih memberikan keluarga ini arah.
***
Malam itu, Aksel duduk lama di kamar Mathias—kamar yang sudah tiga minggu tidak ada yang masuk. Ia membuka pintu pertama kali sejak pemakaman. Lampu bintang fluoresen di langit-langit masih ada—ia menyalakan saklar, dan bintang-bintang tahun 1980-an itu menyala di atas ranjang yang sudah kosong.
Lara berdiri di ambang pintu.
"Aksel."
"Iya."
"Kau baik-baik saja?"
"Saya baik-baik saja, Lara. Saya... saya cuma mau pamit ke kamar ini. Sebagai 'kamar Mathias'. Karena suatu hari, ini akan jadi kamar adiknya."
Lara masuk, duduk di samping Aksel di tepi ranjang yang sudah tidak ada penghuninya.
"Kita biarkan bintang-bintang ini tetap di sini."
"Iya. Mathias mau itu. Dan adiknya—siapa pun dia—juga akan suka."
"Iya, sayang. Akan suka."
Mereka duduk di kamar itu sampai larut, di bawah bintang-bintang fluoresen tua, dan untuk pertama kali sejak pemakaman, Lara merasa—sesuatu yang baru sedang dimulai. Bukan di tempat sesuatu yang hilang, tapi di sebelahnya. Bersamaan.