"Mama dulu juga takut," kata Lara di telepon.
Maya, di asramanya di Tromsø, memeluk lututnya. "Mama? Tapi mama berani. Mama lari ke Antartika sendirian."
Lara tertawa pelan. "Maya, lari ke Antartika itu justru karena takut. Mama takut mencintai lagi—pertunangan mama batal, hati mama hancur. Mama lari ke tempat paling dingin supaya mama bisa berhenti merasakan apa-apa. Itu bukan keberanian, sayang. Itu pelarian."
"Lalu apa yang berubah?"
"Papa-mu." Suara Lara melembut. "Aksel datang dengan beban yang lebih berat dari mama—dia duda, dia punya anak yang sekarat. Mathias. Kalau mama pikir mama punya alasan untuk takut mencintai, papa-mu punya alasan sepuluh kali lipat. Dia sudah kehilangan istri. Dia akan kehilangan anak. Kenapa dia membuka diri pada cinta baru—pada mama—padahal dia tahu lebih banyak kehilangan menunggu?"
"Kenapa, Mama?"
"Mama tanya itu pada papa-mu, dulu. Kau tahu apa jawabnya?"
"Apa?"
"Dia bilang: 'Lara, justru karena hidup penuh kehilangan, cinta jadi satu-satunya hal yang masuk akal. Kalau semua akan hilang—orang, waktu, bahkan es yang mencair—maka satu-satunya hal yang layak dilakukan adalah mencintai sepenuhnya selama kita masih bisa. Mencintai bukan karena tidak akan ada kehilangan. Mencintai karena akan ada.'"
Maya terdiam, air mata mengalir.
"Maya," lanjut Lara. "Mas Mathias-mu mengajari kami itu juga. Dia tahu dia akan pergi. Tapi dia mencintai kami sepenuhnya, sampai detik terakhir. Dia tidak menahan diri karena takut. Dia memberi semuanya. Dan karena itu—empat tahun bersama dia adalah empat tahun terindah dalam hidup mama dan papa, walaupun berakhir dengan kehilangan yang paling sakit."
"Tapi sakit, Mama. Kehilangan itu sakit."
"Iya, sayang. Sangat sakit. Mama tidak akan bohong. Tapi dengar mama—kalau mama bisa memilih, antara tidak pernah punya Mathias supaya tidak pernah kehilangan dia, atau punya dia empat tahun lalu kehilangan—mama akan pilih punya dia. Setiap kali. Tanpa ragu. Karena empat tahun cinta lebih berharga dari seumur hidup aman tanpa cinta."
Hening di telepon. Lalu Lara bertanya, lembut:
"Maya. Anak ini—Eirik. Dia membuatmu merasa apa?"
Maya tersenyum lewat air matanya. "Dia membuatku merasa... tidak sendirian, Mama. Kami berlutut di es bersama, dan kami dengar es berbicara, dan untuk pertama kali aku merasa ada orang yang dengar hal yang sama denganku."
Lara diam sejenak, lalu suaranya bergetar oleh sesuatu seperti haru.
"Maya. Itu... itu persis yang mama rasakan dengan papa-mu. Di Antartika. Es mempertemukan kami. Es mempertemukan orang yang bergerak ke arah yang sama."
"Mama. Kau pikir aku harus...?"
"Mama tidak akan bilang apa yang harus kau lakukan, sayang. Tapi mama akan bilang ini: jangan biarkan takut kehilangan mencuri cinta yang ada di depanmu sekarang. Mas Mathias tidak begitu. Papa tidak begitu. Mama belajar untuk tidak begitu. Dan mama harap—kau juga tidak."
Setelah telepon ditutup, Maya duduk lama di gelap kamarnya, di bawah bintang-bintang fluoresen.
Lalu dia mengambil teleponnya, dan mengetik pesan untuk Eirik.
(bersambung...)