Ekspedisi Svalbard berakhir, dan Maya pulang ke Tromsø dengan sesuatu yang dia tidak siap hadapi: dia jatuh cinta pada Eirik.
Dan itu membuatnya takut.
Eirik mengiriminya pesan. Sering. Tentang penelitian, lalu tentang hal-hal kecil—lagu yang dia dengar, kopi yang dia minum, gletser yang dia rindukan. Maya membalas, tapi pelan, hati-hati, dengan jarak yang sengaja dia jaga.
Karena Maya tahu sesuatu tentang cinta yang Eirik mungkin tidak tahu: cinta berarti kehilangan.
Dia tumbuh di rumah yang dibangun di atas kehilangan. Papanya kehilangan Maja. Keluarganya kehilangan Mathias. Mamanya menulis dua buku tentang cinta dan kehilangan. Setiap cinta dalam hidup Maya datang berpasangan dengan duka.
Dan papanya sekarang tujuh puluh, dengan jantung yang lelah. Maya sudah menghitung—diam-diam, menyakitkan—berapa tahun lagi mungkin dia punya dengan ayahnya.
Mencintai Eirik berarti membuka diri pada kehilangan lain. Dan Maya tidak yakin dia kuat.
"Maya," kata Eirik di telepon suatu malam—mereka sudah mulai menelepon, suara lebih nyata dari teks. "Kau menjauh. Aku rasakan. Apa aku salah bicara?"
Maya menutup mata. "Tidak, Eirik. Kau tidak salah apa-apa."
"Lalu kenapa?"
Hening lama.
"Eirik. Keluargaku... keluargaku penuh kehilangan. Mama pertama papaku meninggal. Kakakku meninggal umur sebelas. Papaku sakit jantung. Aku tumbuh dengan duka di setiap sudut rumah." Suara Maya bergetar. "Aku takut. Aku takut mencintai, karena setiap cinta yang aku lihat—berakhir dengan kehilangan."
Eirik diam di ujung telepon. Lalu, pelan:
"Maya. Boleh aku bilang sesuatu?"
"Iya."
"Mama-mu menulis buku judulnya 'Cinta yang Tidak Terbatas,' kan? Tentang kakakmu yang meninggal?"
"Iya."
"Kalau mama-mu, setelah kehilangan anak, masih percaya cinta tidak terbatas—kalau dia masih menulis tentang cinta setelah semua duka itu—mungkin dia tahu sesuatu yang kau belum tahu. Bahwa cinta tetap layak. Bahkan dengan risiko kehilangan. Mungkin justru karena kehilangan, cinta jadi lebih berharga."
Maya menangis pelan di teleponnya.
"Aku tidak memintamu apa-apa, Maya," lanjut Eirik. "Aku tidak buru-buru. Aku cuma... aku di sini. Saat kau siap. Kapan pun itu. Aku belajar bersabar dari es—es bergerak lambat, tapi dia tidak pernah berhenti."
Setelah telepon ditutup, Maya menelepon orang lain.
"Mama," katanya, saat Lara mengangkat. "Mama, aku perlu tanya sesuatu. Tentang... tentang takut mencintai."
Dan Lara, di rumah putih di Bergen, duduk di teras dengan teleponnya, dan bersiap menceritakan pada putrinya hal yang dia pelajari tiga puluh tahun lalu, di tempat paling dingin di dunia.
(bersambung...)