Selama tiga minggu di Svalbard, Maya dan Eirik bekerja berdampingan.
Mengukur gletser. Mencatat data. Berjalan di atas es dengan tali pengaman yang menghubungkan mereka—aturan keselamatan, tapi juga, Maya sadar, semacam ikatan. Hidupnya di tangan Eirik; hidup Eirik di tangannya.
Mereka bicara. Tentang es, lalu tentang segalanya. Eirik bercerita tentang keluarganya yang ribut di Oslo, tentang bagaimana dia kabur ke utara untuk mencari keheningan. Maya bercerita tentang rumah putih, tentang mama yang menulis, tentang papa yang mengajarinya mendengar es, tentang kakak yang tidak pernah dia temui.
"Mathias," kata Eirik pelan, saat Maya bercerita tentang kakaknya. "Anak yang menempel bintang karena takut gelap."
"Iya."
"Dan kau menempel bintang yang sama di kamar asramamu."
Maya terkejut. "Bagaimana kau tahu?"
"Kau cerita kemarin. Aku ingat hal-hal yang kau ceritakan." Eirik mengalihkan pandang, sedikit malu. "Maksudku—itu cerita yang bagus. Susah dilupakan."
Di hari terakhir mereka di lapangan, badai mendekat dan tim memutuskan kembali ke stasiun lebih awal. Tapi Maya dan Eirik, yang menyelesaikan pengukuran terakhir, punya beberapa menit sebelum harus turun.
Mereka berdiri di tepi gletser, menatap es biru yang turun ke laut.
"Eirik," kata Maya. "Diam. Dengar."
Eirik menatapnya, lalu mengerti. Dia berlutut dan meletakkan tangan bersarungnya di es. Maya berlutut di sampingnya, melakukan hal yang sama.
Mereka menunggu, berdua, di tepi gletser, dengan badai berkumpul di cakrawala.
Dan es berbicara.
Keheningan yang besar. Keagungan yang membuat keduanya merasa kecil. Dan—karena mereka berlutut bersisian, tali pengaman menghubungkan mereka, tangan mereka di es yang sama—Maya merasakan sesuatu yang lebih.
Tidak sendirian. Mendengar es bersama seseorang.
"Aku dengar," bisik Eirik, suaranya hampir hilang ditelan angin. "Maya. Aku dengar."
Maya menoleh padanya. Wajah Eirik, biasanya serius, sekarang terbuka—penuh keheranan, seperti anak yang baru menemukan sesuatu yang ajaib.
"Apa yang dia katakan padamu?" tanya Maya pelan.
Eirik menatapnya—bukan es, tapi Maya.
"Dia bilang... aku tidak sendirian lagi."
Untuk satu momen panjang, mereka hanya saling menatap, berlutut di es, dengan angin badai mulai bertiup dan aurora samar mulai muncul di langit yang menggelap.
Lalu Dr. Haugen berteriak dari kejauhan: "Maya! Eirik! Badai datang! Turun, sekarang!"
Momen itu pecah. Mereka bangkit, melepas tali dari jangkar es, dan turun bergegas.
Tapi Maya tahu—sesuatu telah berubah. Sesuatu telah dimulai. Di tepi gletser di Svalbard, di atas es yang berbicara untuk mereka berdua.
Persis seperti mama tiga puluh tahun lalu, di Antartika.
Es mempertemukan orang-orang yang bergerak ke arah yang sama.
(bersambung...)