Maya bertemu Eirik di hari ketiga, di tepi gletser Nordenskiöld.
Tim sedang memasang sensor untuk mengukur laju pencairan. Maya, sebagai yang termuda, ditugaskan membantu mencatat data. Dan orang yang memegang alat ukur di sampingnya adalah seorang pemuda yang tidak dia kenal—tinggi, kurus, dengan rambut cokelat gelap yang keluar dari topi wol dan mata abu-abu yang serius.
"Kau pegang ujung yang itu," kata pemuda itu, tanpa basa-basi, menyerahkan ujung pita ukur. "Jangan biarkan kendur. Es di sini menipu—kelihatan padat, padahal ada celah di bawah."
"Saya tahu," kata Maya, sedikit tersinggung. "Saya sudah belajar tentang celah gletser."
Pemuda itu meliriknya. "Belajar di kelas dan tahu di lapangan itu beda. Tahun lalu seorang mahasiswa hampir jatuh ke celah karena dia 'sudah belajar.'"
Maya mengatupkan rahang dan memegang pita ukur dengan kuat. Mereka bekerja dalam diam selama satu jam, mengukur, mencatat, bergerak ke titik berikutnya.
"Eirik," kata pemuda itu akhirnya, saat mereka istirahat dengan termos kopi panas. "Namaku Eirik. Mahasiswa pascasarjana. Tahun kedua."
"Maya."
"Maya Berg?"
Maya menghela napas. "Iya. Anak Aksel Berg. Sebelum kau tanya."
Eirik mengangkat alis. "Aku tidak mau tanya itu. Aku mau tanya kenapa kau memegang pita ukur seperti kau marah padanya."
Maya terkejut, lalu—tanpa bisa menahan—tertawa. "Karena kau bilang aku tidak tahu apa-apa."
"Aku tidak bilang itu. Aku bilang lapangan beda dari kelas. Itu benar untuk semua orang, termasuk aku tahun pertamaku." Eirik menyeruput kopinya. "Aku hampir jatuh ke celah dulu. Itu kenapa aku galak soal pita ukur."
Maya menatapnya, kemarahannya menguap. "Oh."
"Iya. 'Oh.'"
Mereka duduk dalam diam, menatap gletser yang membentang ke laut beku. Dan kali ini, diamnya berbeda—bukan diam yang canggung, tapi diam yang nyaman, diam dua orang yang sama-sama mencintai es dan tidak perlu menjelaskannya.
"Kenapa es?" tanya Maya akhirnya. "Kenapa kau pilih ini?"
Eirik berpikir lama sebelum menjawab. "Karena di es, dunia diam. Aku tumbuh di kota yang ribut, keluarga yang ribut. Pertama kali aku ke gletser, semuanya diam. Untuk pertama kalinya, aku bisa mendengar pikiranku sendiri." Dia melirik Maya. "Konyol, ya?"
"Tidak," kata Maya pelan. "Mama saya bilang hal yang hampir sama. Bahwa di es, dia mendengar hatinya sendiri untuk pertama kalinya."
Eirik menatapnya, dan untuk pertama kali, ekspresinya yang serius melembut.
"Mama-mu orang bijak."
"Mama saya menulis buku tentang itu." Maya tersenyum. "Tentang menemukan cinta di es."
"Menemukan cinta di es," ulang Eirik pelan, menatap gletser. "Kedengarannya... tidak mungkin. Es itu dingin. Mati."
"Es tidak mati," kata Maya, mengulang ayahnya. "Es hidup. Dia bergerak, dia retak, dia bernapas. Dan dia berbicara—kalau kau mau dengar."
Eirik menoleh padanya, dan ada sesuatu di mata abu-abu itu—rasa ingin tahu, mungkin, atau awal dari sesuatu yang belum punya nama.
"Ajari aku mendengarnya, kalau begitu," katanya pelan.
Dan Maya, tanpa tahu kenapa, merasa pipinya menghangat di udara minus dua puluh.
(bersambung...)