Di tahun ketiga kuliahnya, Maya mendapat kesempatan yang dia impikan: ekspedisi lapangan ke Svalbard.
Svalbard—kepulauan Arktik jauh di utara, setengah jalan antara Norwegia dan Kutub Utara. Tempat gletser bertemu laut, tempat beruang kutub berburu di atas es, tempat para peneliti dari seluruh dunia datang untuk mempelajari es yang mencair.
Bagi Maya, ini bukan sekadar ekspedisi. Ini langkah pertama menuju Antartika. Ini es yang sebenarnya, jauh dari rumah, dengan tanggung jawab yang sebenarnya.
Dia terbang ke Longyearbyen—pemukiman paling utara di dunia—di akhir musim dingin, saat matahari baru mulai kembali setelah berbulan-bulan malam kutub.
Pemandangan pertama Svalbard membuat Maya terdiam. Gunung-gunung putih. Gletser yang turun ke laut beku. Langit yang, di siang hari, berwarna biru-ungu pucat seperti senja yang tidak pernah selesai.
"Indah," bisik Maya pada dirinya sendiri saat bus dari bandara melewati gletser pertama. "Indah yang membuat takut."
Dia tidak tahu—belum tahu—bahwa kalimat itu adalah kalimat yang sama yang akan menentukan hidupnya, seperti kalimat serupa pernah menentukan hidup keluarganya.
Di stasiun penelitian, Maya bertemu timnya: peneliti senior dari berbagai negara, mahasiswa pascasarjana, teknisi lapangan. Dia yang termuda, mahasiswa S1 yang beruntung dapat tempat karena nilainya yang cemerlang dan—dia curiga—nama belakangnya. Berg. Nama ayahnya masih dihormati di kalangan glasiolog.
"Kau anak Aksel Berg?" tanya pemimpin ekspedisi, seorang perempuan Norwegia paruh baya bernama Dr. Solveig Haugen. "Aku belajar dari makalah-makalahnya. Glasiolog terbaik generasinya. Bagaimana kabarnya?"
"Pensiun, Dokter. Jantungnya. Tapi masih membimbing dari rumah."
"Sayang sekali. Es kehilangan telinga terbaiknya." Dr. Haugen menatap Maya. "Tapi mungkin telinga itu diwariskan, ya? Kita lihat apakah kau bisa mendengar es seperti ayahmu."
Maya tersenyum. "Saya sudah dengar, Dokter. Di Folgefonna. Papa yang ajari."
Dr. Haugen mengangguk, dan ada sesuatu seperti rasa hormat di matanya.
Malam pertama di Svalbard, Maya tidak bisa tidur. Dia keluar ke udara dingin—minus dua puluh—dan menatap langit. Aurora menari di atas, hijau dan ungu, persis seperti yang mama tulis di bukunya, persis seperti yang papa lihat saat melamar Maja di Svalbard.
"Mama. Papa. Mas Mathias," bisik Maya pada aurora. "Saya di Svalbard. Langkah pertama. Saya di jalan ke Antartika."
Dia mengeluarkan dari sakunya foto kecil—foto lukisan tiga-orang-dan-satu-bayi, yang dia bawa dari rumah, seperti mama dulu membawa foto yang sama ke es.
"Mas Mathias. Kita di es bersama sekarang."
Aurora menari di atas, dan Maya merasa—untuk pertama kalinya jauh dari rumah—bahwa dia tidak sendirian.
(bersambung...)