Sementara Maya belajar di Tromsø dan Aksel memulihkan diri di rumah, Lara melakukan sesuatu yang sudah lama dia tunda.
Dia menulis buku keduanya.
Buku pertama—"Cinta di Negeri Salju"—tentang bagaimana dia menemukan cinta di Antartika. Ditulis bertahun-tahun lalu, terbit, dibaca, dicintai.
Tapi ada cerita yang belum dia tulis. Cerita yang lebih sulit. Cerita tentang Mathias.
"Aksel," kata Lara suatu pagi di teras, dengan jurnal kulit cokelat di pangkuannya. "Aku mau menulis tentang Mathias."
Aksel, yang sedang merawat mawar di kebun—kegiatan barunya sejak pensiun—berhenti.
"Apakah... apakah kau yakin, Lara? Itu akan menyakitkan."
"Iya. Tapi Mathias minta. Ingat suratnya? 'Jangan lupa cerita saya tetap. Saya mau hidup di cerita.' Aku sudah menundanya bertahun-tahun karena terlalu sakit. Tapi sekarang—aku sudah cukup tua untuk tahu, kalau aku tidak menulisnya sekarang, mungkin aku tidak akan pernah."
Aksel datang, duduk di samping istrinya di teras. Mereka berdua menatap fjord di kejauhan.
"Tulislah, Lara. Mathias akan senang. Dan aku—aku akan membacanya, walaupun aku mungkin menangis di setiap halaman."
Lara menulis selama satu tahun. Buku tentang seorang anak laki-laki yang takut gelap dan menempel bintang-bintang. Yang punya dua mama—satu di rumah, satu di awan. Yang menulis cerita, yang mengajari orang dewasa cara mencintai, yang pergi terlalu cepat tapi meninggalkan permintaan yang membawa kehidupan baru.
Judulnya: "Cinta yang Tidak Terbatas."
Diambil dari kalimat Maja—mama pertama Mathias—yang Lara dengar lewat rekaman: "cinta tidak terbatas." Kalimat yang sudah jadi jantung keluarga mereka.
Saat buku itu selesai, Lara membacakannya keras-keras untuk Aksel, di teras, di malam musim panas Bergen yang panjang. Aksel menangis—seperti yang dia janjikan. Tapi di akhir, dia memeluk istrinya.
"Lara. Kau membuat Mathias hidup lagi. Di halaman-halaman ini, dia hidup. Anak kita hidup."
"Itu yang dia minta, Aksel."
Buku itu terbit setahun kemudian. Lebih kecil dari buku pertama, lebih pribadi, lebih menyakitkan—dan lebih dicintai. Pembaca menulis surat pada Lara, bercerita tentang anak-anak mereka yang hilang, tentang bagaimana buku itu membantu mereka berduka.
Mathias—lewat tulisan mamanya—menyentuh orang yang tidak pernah dia temui.
Dan di rumah putih, lukisan tiga-orang-dan-satu-bayi tetap tergantung di koridor, dengan dua buku sekarang di rak di bawahnya: kisah cinta yang ditemukan di es, dan kisah anak yang mengajari mereka bahwa cinta tidak terbatas.
(bersambung...)