Tahun kedua Maya di Tromsø, telepon datang di tengah malam.
Lara yang mengangkat. Suaranya berubah dalam tiga detik, dan Maya—yang sedang belajar untuk ujian di asramanya—tahu sesuatu salah bahkan sebelum mamanya selesai bicara.
"Maya. Papa-mu... papa di rumah sakit. Serangan jantung. Dia stabil sekarang, tapi—pulang, sayang. Pulang."
Maya naik penerbangan pertama dari Tromsø ke Bergen, dengan tangan yang tidak berhenti gemetar sepanjang perjalanan.
Aksel terbaring di Haukeland—rumah sakit yang sama tempat Mathias dulu dirawat, tempat Maya lahir. Pucat, dengan selang dan monitor, tapi hidup. Mata biru pucat itu terbuka saat Maya masuk.
"Maya," katanya, suaranya lemah. "Kau tidak perlu pulang. Ujianmu—"
"Papa." Maya menggenggam tangan ayahnya. "Diam. Ujian bisa diulang. Papa tidak bisa diulang."
Aksel tersenyum samar. "Kau bicara seperti mama-mu."
Serangan jantung itu peringatan, kata dokter. Aksel sudah tujuh puluh tahun. Jantungnya lelah—jantung yang sudah membawanya melalui ekspedisi kutub, kehilangan Maja, kehilangan Mathias, dan tiga puluh tahun mencintai Lara.
"Tn. Berg harus berhenti total dari kerja lapangan," kata dokter. "Tidak ada lagi gletser. Tidak ada lagi dingin ekstrem. Jantungnya tidak akan kuat."
Aksel menerima itu dengan tenang. Di tempat tidur rumah sakit, dia menggenggam tangan Lara dan tangan Maya.
"Lara. Maya. Papa sudah cukup melihat es seumur hidup. Sekarang papa akan duduk di rumah putih, merawat kebun, dan membiarkan kalian berdua yang membawa keluarga ini ke es."
"Papa tidak boleh bicara seperti itu," kata Maya. "Seperti papa menyerah."
"Bukan menyerah, Maya. Menyerahkan. Ada bedanya." Aksel menatap putrinya. "Papa menyerahkan es padamu. Itu warisan papa. Bawa dengan baik. Dengar es untuk papa, saat papa sudah tidak bisa lagi."
Maya menangis, memegang tangan ayahnya.
"Iya, Papa. Saya akan dengar es untuk papa."
Aksel pulang seminggu kemudian. Lebih lambat, lebih hati-hati, dengan obat-obatan dan pantangan. Tapi hidup.
Dan untuk pertama kalinya, Maya benar-benar mengerti apa yang papanya takutkan—bukan kematian, tapi waktu. Waktu yang habis. Waktu bersama keluarga yang terbatas.
Es sudah mengajarinya itu di Folgefonna: hidup pendek, justru karena itu berharga.
Sekarang Maya merasakannya di tubuh ayahnya sendiri.
Dia kembali ke Tromsø dua minggu kemudian—Aksel memaksa, "Kejar mimpimu, Maya, jangan tunggu papa"—tapi dia kembali sebagai orang yang berbeda. Lebih sadar. Lebih cepat menelepon rumah. Lebih lama di telepon.
Karena waktu, dia sekarang tahu, tidak terbatas seperti cinta. Waktu habis. Dan dia tidak mau menyia-nyiakan satu hari pun yang dia punya dengan papanya.
(bersambung...)