Maya pergi ke Tromsø di usia sembilan belas—ke Universitas Arktik Norwegia, untuk belajar glasiologi dan ilmu iklim.
Tromsø jauh di utara, di atas Lingkar Arktik, kota tempat malam berlangsung berbulan-bulan di musim dingin dan matahari tidak terbenam berbulan-bulan di musim panas. Kota yang dekat dengan es—lebih dekat dari Bergen.
Hari Maya berangkat, rumah putih terasa sunyi dengan cara yang Lara dan Aksel kenali, dan takuti.
"Aksel," kata Lara malam itu, setelah mereka mengantar Maya ke bandara. "Rumah ini sunyi lagi."
Aksel memeluk istrinya dari belakang, dagu di bahunya. "Iya. Tapi sunyi yang berbeda, Lara. Bukan sunyi karena kehilangan. Sunyi karena anak kita tumbuh dan pergi—seperti yang seharusnya."
"Aku tahu. Tapi tetap..."
"Tetap sepi. Iya."
Mereka berdiri di koridor, di depan lukisan Mathias, di rumah yang sudah menyaksikan begitu banyak—cinta, kelahiran, kematian, dan sekarang, anak yang dewasa dan pergi mengejar mimpinya.
"Aksel. Kau ingat saat Maya kecil bilang dia mau ke Antartika? Kita pikir itu cuma omongan anak-anak."
"Aku ingat. Dan aku takut, bahkan waktu itu."
"Takut apa?"
Aksel diam sebentar. "Takut es akan mengambilnya. Seperti es hampir mengambilmu. Antartika tidak mengampuni, Lara."
Lara membalik badan, menatap suaminya—rambut Aksel sekarang putih semua, garis-garis di wajahnya dalam, tapi mata biru pucat itu masih sama.
"Aksel. Es tidak mengambilku. Es memberiku kau. Mungkin es akan memberi Maya sesuatu juga."
"Atau mengambilnya."
"Aksel."
"Maaf. Aku hanya... aku ayah, Lara. Aku sudah kehilangan satu anak. Aku tidak—"
Lara meletakkan jari di bibir suaminya.
"Aku tahu. Aku ibu. Aku juga takut. Tapi kita tidak bisa menjaga Maya di rumah selamanya hanya karena kita takut. Mathias mengajari kita itu—hidup harus dijalani, bukan disimpan."
Aksel menarik napas panjang, lalu mengangguk.
Di Tromsø, Maya mengirim pesan malam itu: foto kamar asramanya yang kecil, dengan satu hal yang sudah dia tempel di langit-langit—bintang-bintang fluoresen, replika dari yang di kamarnya di Bergen.
"Supaya saya gak pernah benar-benar dalam gelap," tulis Maya. "Kayak mas Mathias. Kayak rumah."
Lara menunjukkan pesan itu pada Aksel. Dan untuk pertama kali sejak Maya pergi, mereka berdua tersenyum.
Anak mereka jauh dari rumah putih. Tapi dia membawa rumah putih bersamanya—bintang demi bintang.
(bersambung...)