Ada beban yang Maya bawa sejak kecil, dan baru di usia delapan belas dia berani membicarakannya.
Dia adalah anak yang hidup.
Kakaknya Mathias pergi di usia sebelas. Mama pertama papanya, Maja, pergi sebelum itu. Maya lahir dari permintaan terakhir seorang anak yang sekarat—Mathias menulis surat, meminta mama dan papanya punya anak lagi. Maya tahu cerita itu. Maya membaca surat itu.
Dan kadang, beban itu terasa berat.
"Mama," kata Maya suatu malam, di dapur, saat Lara membuat teh. "Boleh saya tanya sesuatu yang mungkin aneh?"
"Tentu, sayang."
"Apa saya... apa saya ada cuma karena mas Mathias minta? Apa saya pengganti dia?"
Lara meletakkan cangkir tehnya pelan. Dia datang dan duduk di hadapan putrinya, mengambil kedua tangan Maya.
"Maya. Dengar mama baik-baik. Mas Mathias minta kami punya anak. Itu benar. Tapi dia menulis sesuatu di suratnya—dia bilang: 'Anak baru, bukan untuk gantiin saya. Saya tahu saya gak bisa diganti. Tapi anak baru, supaya rumah ini terisi suara lagi. Dia layak nama sendiri.'"
Maya menatap mamanya.
"Mas Mathias tahu, Maya. Bahkan di usia sebelas, dia lebih bijak dari kami semua. Dia tahu kau bukan penggantinya. Kau Maya. Kau dirimu sendiri. Dia memberimu hadiah—hidup—tapi hidup itu milikmu, untuk kau isi dengan caramu sendiri."
"Tapi kadang saya merasa... saya harus jadi luar biasa. Karena mas Mathias luar biasa. Karena saya 'anak yang hidup.'"
Lara menggenggam tangan putrinya lebih erat.
"Maya. Kau tidak harus jadi luar biasa untuk siapa pun. Kau tidak berutang apa-apa pada Mathias, atau pada mama, atau pada Maja. Hidupmu bukan utang. Hidupmu hadiah—dan hadiah tidak perlu dibayar. Hanya perlu dijalani."
Air mata turun di pipi Maya.
"Mama. Saya mau ke Antartika bukan karena mas Mathias. Bukan karena papa. Karena saya sendiri mau. Karena es berbicara pada saya."
"Mama tahu, sayang. Mama lihat itu di matamu. Sama seperti mama lihat di mata papa-mu dulu."
Malam itu, Maya naik ke kamarnya—kamar dengan bintang-bintang fluoresen. Dia mengambil buku catatan kulit cokelat berisi cerita-cerita Mathias dan membacanya lagi, pelan-pelan.
Cerita tentang anak yang punya dua mama. Cerita tentang beruang kutub yang mencari rumah. Cerita tentang bintang yang takut gelap dan menempel di langit-langit supaya tidak sendirian.
"Mas Mathias," bisik Maya pada bintang-bintang di langit-langit. "Terima kasih sudah minta saya ada. Saya akan hidup dengan baik—untuk saya sendiri. Tapi saya akan bawa kamu juga. Ke mana pun saya pergi. Termasuk ke es."
Bintang-bintang fluoresen bersinar redup di gelap, seperti menjawab.
(bersambung...)