Musim panas Maya tujuh belas tahun, Aksel membawanya ke gletser pertamanya.
Bukan Antartika—itu masih mimpi yang jauh. Tapi Folgefonna, gletser besar di Norwegia barat, tiga jam dari Bergen. Aksel—sekarang enam puluh tujuh, sudah pensiun dari ekspedisi besar tapi masih mengajar dan membimbing—ingin putrinya merasakan es yang sebenarnya sebelum dia memutuskan apa pun tentang masa depannya.
"Maya. Aturan pertama di es," kata Aksel saat mereka mendaki dengan crampon di sepatu, tali pengaman menghubungkan keduanya. "Es itu hidup. Dia bergerak, dia retak, dia bernapas. Hormati dia, dan dia akan mengajarimu. Lalai, dan dia akan membunuhmu."
"Iya, Papa."
"Mama-mu lalai sekali. Di gua es. Dan papa harus menariknya keluar."
"Mama bilang itu cara kalian jatuh cinta."
Aksel tertawa, napasnya berasap di udara dingin. "Itu cara papa hampir kehilangan dia sebelum papa sempat mencintainya. Jangan ulangi, Maya."
Mereka mencapai dataran es di siang hari. Putih membentang sampai cakrawala, biru di celah-celah yang dalam, dengan suara retak pelan yang datang dari kedalaman.
Aksel berhenti. "Sekarang, Maya. Diam. Dengar."
Maya berlutut dan meletakkan tangan bersarungnya di permukaan es. Dia menunggu—seperti mama dulu menunggu, seperti papa dulu menunggu.
Dan dia mendengar.
Bukan dengan telinga. Dengan sesuatu yang lebih dalam. Keheningan yang begitu besar sampai dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Keagungan yang membuatnya merasa sangat kecil—dan, anehnya, sangat terhubung pada saat yang sama.
Es berbicara.
Air mata mengambang di mata Maya, membeku di bulu matanya.
"Papa," bisiknya. "Saya... saya dengar."
Aksel berlutut di sampingnya, tangan tua yang kuat di bahu putrinya.
"Iya, Maya. Es berbicara padamu. Seperti pada mama-mu. Seperti pada papa. Itu di darahmu."
"Apa yang dia katakan, Papa?"
Aksel menatap es yang membentang—es yang sudah dia pelajari seumur hidup, es yang membawanya pada Lara, pada Mathias, pada Maya.
"Es tidak mengatakan kata, sayang. Dia mengatakan kebenaran. Bahwa kita kecil, dan hidup kita pendek, dan justru karena itu—setiap cinta, setiap orang, setiap hari—berharga. Es sudah di sini ribuan tahun. Dia mengajari kita menghargai waktu kita yang singkat."
Maya tidak menjawab. Dia hanya menempelkan tangannya lebih erat ke es, mendengarkan, sampai dingin menembus sarungnya.
Saat mereka turun sore itu, Maya tahu—bukan lagi sebagai mimpi anak-anak, tapi sebagai keputusan.
"Papa. Saya akan jadi peneliti es. Kayak papa. Dan saya akan ke Antartika."
Aksel menatap putrinya lama. Bangga dan takut, dalam proporsi yang sama—persis seperti dia menatap surat Mathias bertahun-tahun lalu.
"Kalau itu yang es katakan padamu, Maya—papa tidak akan menghalangi. Papa hanya akan mengajarimu supaya kau pulang hidup-hidup."
(bersambung...)