Maya Berg berumur enam belas tahun, dan dia tahu satu hal dengan pasti: dia akan pergi ke Antartika.
Dia tumbuh di rumah putih di pinggiran Bergen—rumah yang sama tempat mama dan papanya membangun hidup, tempat kakaknya Mathias dulu menempel bintang-bintang fluoresen di langit-langit, tempat lukisan tiga-orang-dan-satu-bayi tergantung di koridor.
Maya tidak pernah bertemu Mathias. Kakaknya pergi bertahun-tahun sebelum Maya lahir. Tapi Maya merasa mengenalnya—lewat cerita mama setiap malam, lewat tiga belas cerita pendek yang Mathias tulis dan disimpan di buku catatan kulit cokelat, lewat bintang-bintang di langit-langit kamarnya yang dulu kamar Mathias.
"Mama," kata Maya suatu sore, sambil membolak-balik buku mamanya—"Cinta di Negeri Salju," yang sudah dia baca tiga kali. "Apa Antartika sedingin yang mama tulis?"
Lara—sekarang lima puluh tahun, rambut mulai beruban, tapi mata masih tajam—menurunkan kacamata bacanya.
"Lebih dingin, sayang. Kata-kata tidak bisa menangkap dingin yang sebenarnya."
"Mama takut waktu pertama ke sana?"
"Mama lari ke sana, Maya. Karena hati mama patah. Mama pikir mama datang untuk membeku—untuk berhenti merasakan apa-apa."
"Lalu mama ketemu papa."
Lara tersenyum. "Lalu mama ketemu papa. Dan mama belajar—es tidak membekukan perasaan. Es menjernihkannya. Di tempat paling sunyi di dunia, mama mendengar hati mama sendiri untuk pertama kalinya."
Maya menutup buku itu dan memeluknya ke dada.
"Mama. Saya mau dengar es berbicara juga. Kayak mama. Kayak papa."
Lara menatap putrinya—mata cokelat seperti Aksel, rambut hitam seperti dirinya, dan di matanya, api yang Lara kenali. Api yang sama yang membawa Lara ke ujung dunia tiga puluh tahun lalu.
"Maya. Antartika itu keras. Berbahaya. Mama hampir mati di gua es di sana."
"Saya tahu, Mama. Saya baca. Tapi papa nyelamatin mama. Dan kalian jatuh cinta." Maya tersenyum nakal. "Mungkin saya juga ketemu seseorang di sana."
"Maya Berg." Lara tertawa. "Kau baru enam belas."
"Saya gak bilang sekarang, Mama. Nanti. Pelan-pelan." Maya mengulang kalimat yang dia ucapkan di Bali empat tahun lalu, kalimat yang sudah jadi lelucon keluarga.
Lara mengelus rambut putrinya.
Di koridor, lukisan Mathias menatap mereka—tiga orang dan satu bayi, digambar seorang anak yang tahu adiknya akan datang sebelum siapa pun tahu.
"Mama yakin, sayang," bisik Lara. "Kau akan dengar es berbicara. Suatu hari. Dan mama yakin—es akan punya sesuatu untuk dikatakan padamu, seperti es punya sesuatu untuk mama dulu."
Maya menatap lukisan kakaknya, lalu ke luar jendela, ke fjord yang membeku di kejauhan.
Antartika menunggu. Maya bisa merasakannya, jauh di dalam, seperti panggilan yang belum punya kata.
(bersambung...)