Lima belas tahun setelah ekspedisi Antartika.
Lara empat puluh enam, Aksel lima puluh, Maya dua belas tahun—turun dari pesawat di Bandara Ngurah Rai. Penerbangan yang sama yang Lara dan Aksel lakukan lima belas tahun lalu—Singapore-Denpasar, malam menjelang pagi—tapi sekarang dengan gadis kecil di antara mereka yang baru pertama kali melihat negara ibunya.
"Sini panas banget!" keluh Maya dalam bahasa Norwegia yang dicampur Indonesia, mengipas wajahnya dengan paspor. "Mama, kenapa orang Indonesia bisa hidup di sini?"
"Kita beradaptasi, sayang. Kau juga akan, kalau cukup lama tinggal."
"Saya udah berkeringat di tangga pesawat. Itu tidak normal."
Aksel tertawa. Lawakan keluarga yang sudah Maya ulang sejak pertama keluar dari pesawat tadi. "Maya, kau ingat papa yang dulu bilang ke mama, ini neraka? Sekarang kau menyetujui papa."
"Iya, papa! Saya tim papa hari ini."
"Mama, papa, saya akan masuk tim mama besok kalau saya udah biasa. Hari ini saya tim papa karena kepala saya pusing."
Lara tertawa, meraih tangan Maya yang sudah berkeringat. Mereka bertiga—keluarga kecil yang lima belas tahun lalu hanya ada di pikiran Lara sebagai kemungkinan jauh—berjalan keluar terminal menuju taksi yang sudah Aksel pesan dari Bergen via aplikasi.
***
Mereka tinggal di rumah lama Lara di Sanur—rumah yang Lara sewa lima belas tahun lalu, dan akhirnya dia beli setelah pernikahan dengan Aksel. Rumah itu sudah direnovasi dua kali dalam sepuluh tahun terakhir—sekarang punya AC di setiap kamar, kolam renang kecil di belakang yang Maya akan langsung jatuh cinta, dan teras besar yang Lara minta dibangun supaya bisa menerima keluarga besar Indonesia ketika mereka liburan.
Bobby anjing tetangga sudah lama tidak ada—anjing tetangga generasi baru sekarang adalah Kaka, anak Bobby, yang sekarang sudah delapan tahun. Ibu Tuti, pemilik rumah induk, sudah meninggal dua tahun lalu, tapi anaknya yang Lara kenal sejak kuliah—Mas Wayan—menerima mereka di teras rumah induk dengan nasi tumpeng dan tarian Bali kecil yang Maya tatap dengan mata terbuka lebar.
"Maya, kamu tahu ini tarian Bali?"
"Saya tahu dari YouTube. Tapi tidak pernah lihat langsung."
"Bagaimana?"
"Lebih bagus dari YouTube. Suaranya juga... berbeda. Nyata."
Mas Wayan tersenyum dari sebelahnya. "Nona Maya, kapan-kapan saya ajarin sebagian tariannya."
"Mau, Pak!"
***
Hari ketiga, mereka pergi ke Antartika—maksud-nya, ke museum kelautan kecil di Sanur yang punya pameran Antartika. Pameran itu baru dibuka tahun lalu, ide dari kurator muda yang ingin menampilkan riset peneliti Indonesia di kutub. Buku Lara—yang akhirnya terbit delapan tahun lalu, judul *"Cinta di Negeri Salju"*, masuk dalam daftar buku referensi Indonesia tentang kutub—dipajang di vitrin di sudut.
Lara tidak memberitahu Maya bahwa bukunya ada di sana sampai mereka sampai. Maya berdiri di depan vitrin itu, menatap sampul buku—yang menampilkan foto Antartika yang Aksel ambil di ekspedisi mereka—dan ekspresinya berubah jadi ekspresi anak yang baru sadar orang tuanya adalah pahlawan.
"Mama. Mama nulis ini?"
"Iya, sayang."
"Tentang Antartika?"
"Tentang Antartika dan papa."
"Saya boleh baca pulang?"
"Iya. Mama udah siapin satu buat kau di kopor."
Maya berdiri di depan poster ekspedisi 2026 di sebelah vitrin. Foto kelompok ekspedisi—Lara di baris depan, Aksel di baris belakang, dengan jaket kutub yang sama. Marta di sebelah Lara dengan tato paus humpback-nya yang baru kelihatan. Ingrid di pojok kiri dengan rambut pirang pucatnya.
"Mama. Itu kalian?"
"Iya, sayang. Itu mama dan papa."
"Sebelum kalian saling kenal?"
"Iya."
"Mama, kalau kalian gak ke Antartika, kalian gak bakal ketemu."
"Iya."
"Berarti saya gak ada."
Lara tertawa pelan. "Iya."
Maya menatap foto itu lama. Lalu, dengan filosofi anak dua belas tahun:
"Mama, dunia kadang aneh ya?"
"Iya, Maya."
"Tante Karen pernah bilang, kalau hidup itu beruntun. Kalau ada yang sulit, kemudian akan ada yang manis. Itu benar?"
Lara meraih tangan Maya. "Untuk mama, iya. Tapi mama... harus rela melepas mas Mathias dulu sebelum kau ada."
Maya mengangguk pelan. Mathias—kakak yang dia tidak pernah ketemu, tapi yang fotonya selalu di kamarnya, yang ceritanya selalu dimasukkan dalam dongeng-mu sebelum tidur, yang lukisannya digantung di koridor rumah putih—adalah bagian dari hidup Maya seperti kakek yang tidak pernah ia temui. Ada, walaupun tidak hadir secara fisik.
"Mama. Mas Mathias akan suka saya, ya?"
"Mama yakin."
"Saya nanti ketemu dia di awan?"
Lara menatap putrinya. Mata cokelat seperti Aksel. Rambut hitam seperti dirinya.
"Iya, Maya. Tapi sangat sangat lama nanti. Kau hidup panjang. Kau akan lakukan banyak hal. Kau akan punya cerita-cerita sendiri yang bisa kau ceritakan ke mas Mathias suatu hari."
"Mama. Saya mau jadi peneliti es kayak papa."
Aksel—yang berdiri di samping mereka, mendengar—tersenyum.
"Maya. Kau bisa jadi apa pun. Kau pintar matematika. Kau bisa jadi insinyur. Kau bisa jadi penulis kayak mama. Kau bisa jadi dokter."
"Iya. Tapi saya mau kayak papa. Saya mau ke Antartika juga."
Lara dan Aksel saling tatap. Tertawa pelan. Maya yang berani meminta hal-hal yang Aksel sekitar belum siapkan.
"Kalau kau ke Antartika," bilang Aksel, "papa harap kau temukan seseorang juga di sana. Seperti papa."
"Papaaaa, saya baru dua belas. Saya mau cari orang nanti."
"Ya, ya. Tapi suatu hari."
Maya mengangguk dengan ekspresi serius.
"Iya. Suatu hari. Tapi pelan-pelan."
***
Mereka keluar dari museum sore itu. Berjalan ke pantai Sanur, di matahari yang masih panas, dengan sandal jepit yang Lara beli di pasar pagi tadi dan kaos pantai yang Maya pakai dengan canggung karena ia tidak biasa pakai pakaian yang terlalu sedikit.
Maya berlari ke ombak. Lara dan Aksel duduk di pasir, di atas tikar yang Mas Wayan pinjamkan dari rumah induk. Memandang putri mereka yang berlari naik turun di pantai dengan ombak kecil yang menyentuh kakinya.
"Lara."
"Iya, Aksel."
"Lima belas tahun."
"Iya."
"Kau pikir, kalau Maja masih hidup, dia akan suka semua ini?"
Lara berpikir lama. Memandang Maya yang sekarang sedang berbicara dengan anak Bali lokal seumurnya, dengan campuran bahasa Inggris dan Indonesia yang berantakan tapi cukup untuk bertukar nama.
"Iya. Saya pikir Maja senang. Saya pikir Mathias juga. Saya pikir mereka berdua, di mana pun mereka, melihat Maya berlari di Bali, dan tersenyum. Saya pikir Mathias akan komentar—'mama, papa, lihat tuh adik saya udah punya teman baru. Saya pernah bilang, anak yang baru bisa ke Antartika juga suatu hari. Tapi sekarang, lihat, dia udah ke Bali dulu. Itu juga bagus.'"
Aksel meraih tangan Lara.
"Saya cinta kau, Lara Berg."
"Saya cinta kau juga, Aksel Berg."
"Walaupun Bali masih panas."
"Walaupun Bergen masih dingin."
Mereka tertawa, di pasir Bali, dengan putri mereka berlari di ombak, dan dengan dua orang yang tidak terlihat tapi selalu mereka rasakan—satu di awan, satu di rumah putih di Bergen, dua-dua tersenyum.
***
Malam itu, mereka makan malam di teras rumah. Mas Wayan memasakkan ayam betutu khusus, ditambah dengan sambal matah yang Maya coba dengan ekspresi heroik.
"Mama. Saya mau nanya satu hal."
"Iya, Maya."
"Kalau saya ke Antartika suatu hari, saya boleh bawa abu mas Mathias?"
Lara dan Aksel terdiam. Mathias dimakamkan di pemakaman keluarga di Bergen—abu tidak ada. Tapi Maya tidak tahu detail itu, dan ide di balik permintaannya jelas.
"Maya, sayang. Mas Mathias dimakamkan di Bergen, bukan dikremasi. Tapi kalau kau mau—kau bisa bawa sesuatu yang lain ke Antartika. Foto. Atau salah satu lukisannya yang masih ada."
"Saya mau bawa lukisan tiga orang dan satu bayi. Yang ada di kamar saya."
"Iya, sayang. Kau bisa bawa."
Maya mengangguk. Lalu menoleh ke Aksel.
"Papa, kalau saya ke Antartika nanti, tolong ajarin saya supaya saya tidak mati di gua es kayak mama hampir."
Aksel tertawa. "Iya, Maya. Papa akan ajarin."
"Bagus."
***
Kembali ke Bergen dua minggu kemudian, di pesawat yang sama yang membawa mereka pulang lima belas tahun lalu—tapi bukan lagi pulang ke Bali. Pulang ke Bergen.
Maya tidur di kursi sebelah Lara setelah lepas landas. Aksel di sebelah Maya, juga tidur—pria itu yang dulu insomnia di pesawat, sekarang bisa tidur di mana saja. Usia, mungkin. Atau ketenangan yang akhirnya datang.
Lara tidak tidur. Ia membuka jurnalnya—jurnal kulit cokelat yang ia simpan sejak Mathias meninggal, yang ia tulis sesekali, dengan catatan-catatan pendek tentang Maya, tentang Aksel, tentang diri sendiri.
Malam itu, di pesawat di atas Samudra Hindia, ia menulis:
*"Lima belas tahun.*
*Aku berangkat ke Antartika untuk lari dari pertunangan yang batal. Aku pulang dengan suami, anak yang sudah pergi, dan anak yang hidup. Aku tidak tahu mana yang lebih ajaib—bahwa aku menemukan cinta di tempat paling dingin di dunia, atau bahwa cinta itu cukup kuat untuk membawa aku melewati kehilangan yang tidak aku pikir aku bisa selamati.*
*Mathias, kakak yang Maya tidak pernah ketemu, kau benar. Rumah ini butuh suara baru. Suara baru ada sekarang. Maya bicara terus-menerus, kau akan tertawa. Dan papa-mu masih kadang menatap kosong di kamar yang sekarang adalah kamar Maya, tapi sekarang dia menatap kosong dengan senyum, bukan dengan air mata.*
*Cinta tidak terbatas. Maja, aku akhirnya percaya kalimatmu sepenuh hati.*
*Kita semua—Aksel, Maya, aku, kau, Mathias, Maja—adalah satu cerita yang sangat panjang. Cerita yang dimulai di gua es Antartika, yang melewati telepon di sore hari Bali, yang tertulis di rumah putih di pinggiran Bergen, dan yang akan terus ditulis selama Maya hidup—dan mungkin lebih panjang lagi, lewat anak-anaknya nanti, kalau ia mau.*
*Cerita yang tidak terlarang lagi.*
*Cerita yang—seperti Maja bilang—adalah hidup."*
Lara menutup jurnalnya, meletakkannya di kantong kursi depan. Maya bergerak pelan di sebelahnya, tidak bangun, hanya mengubah posisi kepalanya supaya lebih dekat ke bahu Lara.
Lara mengelus rambut hitam Maya pelan.
Di luar jendela pesawat, awan-awan di malam—putih di atas, hitam di bawah—membentang sampai cakrawala. Di antara dua warna itu, garis tipis cahaya: matahari yang akan terbit di Eropa lima jam lagi.
Bergen menunggu di ujung penerbangan. Rumah putih. Karen. Henrik. Ibu Lara dengan masakannya. Bintang-bintang fluoresen di kamar Maya yang sekarang, yang dulu kamar Mathias.
Dan kuburan kecil di pinggir kota, tempat kakak yang tidak pernah Maya ketemu menunggu.
Tapi kuburan itu tidak sedih lagi. Karena di kuburan itu, ada bunga segar setiap minggu—bunga yang Aksel, Lara, atau Maya bawa bergantian, bunga yang berkata: *kau tidak hilang, kau ada di kami.*
Cinta tidak terbatas.
Cerita ini—tidak akan pernah berakhir.
***
[TAMAT — Bagian 1]
[Bab 21+ adalah Premium Tier 2 — coming soon: kisah Maya yang dewasa, ekspedisi Antartika-nya sendiri, dan generasi baru yang akan menemukan cinta di tempat-tempat yang ia tidak pernah duga]